
dr. Gamal
@Gamal_Albinsaid • 284,696 subscribers
Business/Invite 082345001500. Dari Sociopreneur ke Politik Pemberdayaan. Anggota DPR RI Dapil Malang Raya.
Shorts
Videos

CATATAN KRITIS PENDIDIKAN INDONESIA Oleh : dr. GAMAL (Anggota DPR RI) Sistem pendidikan yang efektif akan membentuk SDM unggul. SDM Unggul akan mewujudkan negara maju. SDM yang berkualitas dan produktif akan memperkuat pertumbuhan ekonomi. Lalu, bagaimana sistem pendidikan kita hari ini? Numbers never lie. Mari kita lihat angka-angkanya. 1. HASIL PISA TERENDAH SEPANJANG SEJARAH INDONESIA MENGIKUTI PISA Capaian nilai PISA kita tertinggal jauh dari rata-rata negara OECD dan ASEAN. Skor membaca 356 jauh dibawah target RPJMN 392. Skor matematika 366 jauh dibawah target RPJMN 392. Skor sains 383 jauh dibawah target RPJMN 402. Tahun 2022, Indonesia peringkat 69 dari 81 negara. Jika kita membuat proyeksi skor Indonesia dan merujuk pada rata-rata neagra OECD, maka kita bisa mencapai rata-rata skor OECD pada tahun 2089 untuk literasi dan 2063 untuk numerasi. 2. TINGKAT KESEJAHTERAAN GURU YANG SANGAT RENDAH Merujuk pada laporan IDEAS pada Mei 2024, 42% guru dan 74% guru honorer memiliki penghasilan di bawah 2 juta rupiah, serta 13% guru dan 20,5% guru honorer memiliki penghasilan di bawah 500rb. 89% guru merasa penghasilan mereka pas-pasan atau kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. 55,8% guru memiliki pekerjaan sampingan, serta 79,8% guru memiliki hutang. Kita juga dikejutkan oleh riset NoLimit yang mengatakan 42% masyarakat yang terjerat pinjol ilegal berprofesi sebagai guru. Jika kita bandingkan dengan negara ASEAN, maka rata-rata terendah gaji guru dengan menggunakan perbandingan Purchasing Power Parity, maka Indonesia 2,4 juta, Malaysia 5,54 juta, Filipina 6,97 juta, Thailand 9,52 juta, serta Singapura 11,93 juta. Bahkan jika kita bandingkan dengan gaji negara-negara OECD, guru SD di Australia memiliki penghasilan 620-883 juta per tahun, guru SMP di Belanda memiliki penghasilan 606 juta hingga 1,06 milyar per tahun, serta gaji guru SMA di Prancis memiliki penghasilan 454-550 juta per tahun. Yang perlu kita apresiasi bersama, 93,5% guru mengatakan akan terus mengajar hingga pensiun. Jika kesejahteraan guru masih minim, bagaimana mereka bisa mengajar dengan tenang tatkala hutang membebani dan keperluan rumah tangga belum terpenuhi. 3. 71% ANAK-ANAK INDONESIA MEMILIKI FIXED MINDSET Dalam laporan PISA 2018, menyatakan mayoritas siswa di negara OECD memiliki mindset berkembang. Hasil kuisioner dalam angket mereka tidak setuju atau sangat tidak setuju dengan pernyataan "Kecerdasan seseorang merupakan sesuatu yang tidak dapat diubah". Sedangkan di Indonesia hanya 29% anak-anak Indonesia yang memiliki growth mindset. Sebagian besar, 71%, masih menganggap bahwa kecerdasannya tak bisa diubah. Anggapan tersebut mempengaruhi mindset yang akan mengantarkan pada perilaku dan hasil yang berbeda dalam hal pengembangan diri secara signifikan. 4. AKSES PENDIDIKAN TINGGI TERBATAS Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi tidak pernah melampaui target renstra Kemendikbudristek dan jauh dari target RPJMN. Capaian APK PT tahun 2023 adalah 31,45% dimana Target renstra Kemendikbud adalah 36,64%. Padahal kita memiliki target APK PT tahun 2035 adalah 45% dan 2045 dalah 60%. Jika kita bandingkan dengan negara tetangga, Malaysia memiliki APK PT 43%, Thailand 49,29%, dan singapura 91,09%. Selain itu ada disparitas yang tinggi antara kelompok pengeluaran terendah dan tertinggi. Masyarakat dengan ekonomi baik mampu mencapai angka 52,65% dan masyarakat dengan kelas ekonomi terendah hanya 17,54% yang berkesempatan kuliah. 5. KRISIS LITERASI UNESCO menilai minat baca Indonesia memprihatinkan, dari 1.000 orang Indonesia hanya 1 yang rajin membaca. Penelitian World's Most Literate Nation Ranking oleh CCSU menyatakan Indonesia peringkat 60 dair 61 negara untuk minat baca. 6. KRISIS NUMERASI Berbagai asesmen menunjukkan stagnansi atau kemajuan yang lambat kemampuan numerasi. Hasil tes IFLS menunjukkan rendahnya probabilitas siswa usia sekolah dalam penguasaan materi perhitugan dasar. Kemudian kenaikan jenjang pendidikan tidak menaikkan kemampuan literasi secara signifikan. Misalkan dalam tes IFLS anak kelas 1 mendapatkan skor 26,5% dan anak kelas 12 mendapat skor 38,7%. Jadi, walaupun siswa tersebut naik kelas, peningkatan kemampuan siswa antara jenjang satu dengan jenjang berikutnya tidak memiliki kenaikan yang signifikan. 7. MISMATCH BAKAT, PENDIDIKAN, DAN PEKERJAAN Berdasar penelitian Indonesia Career Center Network (ICCN), 87% mahasiswa di indonesia salah jurusan dan 71,7% pekerja memiliki profesi yang tidak sesuai pendidikannya. Oleh karena itu, penting design kurikulum untuk memberikan kesempatan anak mengeksplorasi minat dan bakatnya. 8. LULUSAN SMK PALING BANYAK MENGANGGUR Lulusan SMK menjadi menjadi penyubang terbesar pengangguran terbuka. Kita butuh link and match antara dunia pendidikan dan kebutuhan pasar. Kita juga harus melatih skill-skill yang dibutuhkan di dunia kerja ke depan, sesuai rekomendasi World Economic Forum misalkan, analytical thinking, creative thinking, serta resiliensi, fleksibilitas, dan agility. 9. GAP BESAR ANTARA RATA-RATA LAMA SEKOLAH (RLS) DENGAN HLS (HARAPAN LAMA SEKOLAH) Laporan BPS menunjukkan HLS Indonesia adalah 13,15 tahun. Artinya anak-anak yang berusia 7 tahun memiliki harapan pendidikan sampai jenjang Diploma 1. Saat ini RLS (Rata-Rata Lama Sekolah) pelajar Indonesia adalah 8,77. Artinya penduduk yang berusia 25 tahun telah menempuh pendidikan hingga SMP kelas 9. Hal ini menunjukkan RLS lebih rendah 4,38 tahun dari HLS (Harapan Lama Sekolah). Oleh karena itu, kita harus melakukan beberapa solusi strategis : 1. Memprioritaskan peningkatan kemampuan literasi dan numerasi, 2. Memberikan dukungan kesejahteraan dan peningkatan kualitas guru, 3. Realokasi anggaran fokus pada peningkatan kualitas pendidikan berbasis indikator kinerja pendidikan. Saya memiliki ide dan mimpi, bagaimana kita mampu menghadirkan program 1 desa 10 mahasiswa. 10 mahasiswa ini harus kembali untuk membangun desanya. Dengan begitu akan terjadi akselerasi peningkatan kualitas SDM yang merata yang berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan desa. Desa-desa yang unggul akan mewujudkan kota/kabupaten unggul. Kota/Kabupaten unggul akan mewujudkan Indonesia unggul.
dr. Gamal465,106 views • 1 year ago

Jumlah kampus Indonesia 4.014, AS 3.931, dan China 3.074. Jumlah dosen di China 1.960.000, AS 1.500.000, dan Indonesia 326.554. Dari pengeluaran NUS pada tahun 2018 sebesar 29,47 T, dukungan pemerintah untuk NUS sebesar 14,01 T. Di Indonesia kampus banyak, dosen sedikit, anggaran minim. Sedangkan negara maju kampus lebih sedikit, dosen banyak, anggaran besar. Oleh karena itu, framework berpikir kita ke depan adalah mengurangi jumlah kampus, serta meningkatkan jumlah dosen dan anggaran untuk perguruan tinggi.
dr. Gamal176,080 views • 1 year ago

Waktu saya SD, Bapak saya bilang nanti SMP masuk SMP 3 Malang yang dikenal sebagai SMPN favorit kala itu. Alhamdulillah saya diterima peringkat 371 dari 377 siswa. Ayah dan Ibu saya syukuran nasi kuning untuk 1 RT. Waktu saya SMP, Bapak saya bilang nanti SMA masuk SMAN 3 Malang yang dikenal SMA favorit kala itu. Alhamdulillah saya diterima di kelas Akselerasi. Ketika itu saya memutuskan ingin masuk Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya tanpa tes. Di sekolah saya, biasanya setiap tahun hanya 1 siswa yang diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya tanpa tes. Karena saya ingin sekali masuk kedokteran Brawijaya, saya jaga supaya juara kelas. Sampai suatu ketika ada ujian lari di sekolah, lari saya tidak pernah paling cepat sebelumnya dan hari itu saya sedang sakit. Tapi karena saya begitu ingin masuk Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya saya bisa lari paling cepat ketika itu. Saya bersyukur selesai Ujian Nasional, kami seluruh siswa dikumpulkan di aula SMA Tugu dan Kepala Sekolah Bapak Drs. H. Tri Suharno, M.Pd mengumumkan bahwa saya diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya tanpa tes. Saat itu, ayah saya sampai menjual tanahnya supaya saya anaknya yang namanya Gamal bisa kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Tentunya, apa yang saya raih hari ini tidak lepas dari mindset ayah saya yang benar-benar memberikan yang terbaik yang beliau bisa untuk pendidikan kami anak-anaknya. Oleh karena itu, saya memulai Malang Cerdas untuk mengembangkan pendidikan di Malang Raya. Dalam perjalanan politik saya kali ini pun, saya ingin menghadirkan ribuan bahkan puluhan ribu beasiswa untuk pelajar-pelajar di Malang Raya. Semoga Allah mudahkan dan limpahkan keberkahan. Pendidikan bukanlah beban, tapi investasi terbaik untuk masa depan. Karena investasi untuk pengetahuan senantiasa menghasilkan keuntungan terbaik.
dr. Gamal121,868 views • 2 years ago

Anggaran 6 miliar dari APBD untuk 900 anak yang disebut nakal itu perlu kita bandingkan dengan data yang menunjukkan 658.831 anak di Jabar yang tidak bersekolah. 164.631 anak di Jabar drop out (DO), 198.570 anak di Jabar lulus tidak melanjutkan (LTM), 295.530 anak di Jabar belum pernah bersekolah (BPB). Gubernur Jabar punya tanggung jawab moral dan konstitusional untuk menyelesaikan lebih dari setengah juta anak di Jabar yang putus sekolah.
dr. Gamal59,708 views • 1 year ago

Tahun 2026, saya merekomendasikan pergeseran paradigma BGN : From Feeding to Nourishing (Dari Memberi Makan ke Memberi Gizi) Tidak hanya memastikan makanan sampai ke meja atau mulut (Feeding), tetapi memastikan makanan tersebut memberikan dampak kesehatan, pertumbuhan, dan perkembangan otak (Nourishing). Mengapa Pergeseran Paradigma Ini Penting? Anak bisa makan tiga kali sehari tapi tetap mengalami stunting, Anak bisa makan tiga kali sehari tapi tetap mengalami"hidden hunger” (kekurangan zat gizi mikro). Ini akan menekankan bahwa keberhasilan program bukan diukur dari : Berapa puluh milyar porsi yang dibagikan, Berapa SPPG yang dibangun Berapa puluh juta penerima manfaat, Melainkan diukur dari Seberapa signifikan penurunan angka stunting Seberapa signifikan kenaikan skor kognitif anak bangsa. Seberapa signifikan perbaikan skor antropometeri. Bagaimana paradigma ini bergeser? Jika biasanya BGN mengukur tahap input, proses, dan output. Kini BGN harus mengukur outcome. Tahap Input dan proses (Feeding): makanan dibagikan, anak kenyang, kalori terpenuhi. Tahap Output : Jumlah anak yang makan, Tahap Outcome (Nourishing): Nutrisi terserap, stunting turun, IQ meningkat, Angka Kecukupan Gizi (AKG), perbaikan BMI dan Status Antropometri, Bagaimana menerapkan paradigma ini secara praktis? 1. Bukan lagi food security (ketahanan pangan), tapi nutrition security (ketahanan gizi). - Food Security (Ketahanan Pangan): Menekankan pada ketersediaan dan akses terhadap makanan secara kuantitas agar tidak lapar. - Nutrition Security (Ketahanan Gizi): Menekankan pada kualitas makanan (mikronutrien), air bersih, sanitasi, dan pola asuh. 2. Bukan lagi quantity, tapi quality dan diversity Bukan lagi soal "yang penting kenyang" (karbohidrat dominan), melainkan keberagaman pangan (protein hewani, sayur, buah) untuk mencapai gizi seimbang. 3. Bukan lagi distribution, tapi consumption and absorption Fokus tidak berhenti saat logistik makanan sampai di lokasi (distribusi), tapi memastikan makanan itu dimakan (konsumsi) dan nutrisinya mampu diserap tubuh (absorpsi) tanpa hambatan infeksi atau sanitasi buruk. Saya merekomendasikan kita melakukan rekalkulasi anggaran Rp 15.000 per porsi MBG dan melibatkan ahli gizi independen atau akademisi lokal untuk melakukan audit berkala terhadap kualitas gizi yang disajikan.
dr. Gamal24,369 views • 6 months ago

Tiga Dosa Besar Anggaran Pendidikan, antara lain : 1. Anggaran pendidikan 20% APBN dibagi ke Kementerian/Lembaga dan mencakup anggaran bagi pendidikan kedinasan dan K/L lain. Hal ini tidak sesuai dengan : • pasal 49 ayat (1) UU No.2 Tahun 2023 tentang sisdiknas “Dana Pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari APBN pada sektor pendidikan dan minimal 20% dari APBD” • Putusan MK No 024/PUU-V/2007 tanggal 20 Februari 2008 “Dana Pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari APBN pada sektor pendidikan dan minimal 20% dari APBD” • Pasal 15 Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2022 tentang penyelenggaraan PTKL menegaskan biaya penyelenggaraan PTKL kedinasan pada jalur pendidikan formal tidak termasuk dalam 20% APBN yang dialokasikan ke sektor pendidikan. 2. Bukan hanya ABPBN, APBD juga harus memprioritaskan anggaran pendidikan minimal 20% dari APBD. Hal ini merujuk pada UUD RI Tahun 1945 amandemen IV pasal 31 ayat (4) : “Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangya 20% dari APBN serta dari APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelengagraan pendidikan nasional” Sayangnya hanya 6 provinsi yang anggarkan 20% APBD untuk pendidikan di luar dana transfer daerah, yaitu DIY, Kalabr, Sumbar, Kalsel, Sulteng, dan Bali. Dibutuhkan kerjasama dengan kemendagri yang memiliki kapasitas untuk memastikan realisasi anggaran tersebut, serta kerjasama pelaporan APBD pendidikan dengan kemenkeu. Ini bukti lemahnya koordinasi pembangunan pendidikan kita. Tidak ada reward dan punishment bagi daerah yang sudah atau belum memenuhi 20% APBD untuk pendidikan. Selain itu, kita tidak memiliki alat, metode, dan database yang memonitor kinerja daerah. 3. Menteri pendidikan kurang diberikan peran dalam pengambilan keputusan alokasi anggaran di luar pengajuan anggaran kementerian pendidikan. Hal ini bertentangan dengan pasal 80 ayat (3) PP No. 18 tahun 2022 tentang perubahan atas PP No.48 tahun 2008 tentang pendanaan pendidikan diatur bahwa Mendikbudristek, Menkeu, Menteri PPN secara bersama-sama menyetujui pengalokasian anggaran pendidikan minimal 20% dari APBN sesuai kewenangannya untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. Berbagai regulasi yang ada seyogyanya perlu dipatuhi dalam penganggaran pendidikan di Indonesia.
dr. Gamal48,306 views • 1 year ago

PAPUA PEGUNUNGAN 0%. ADILKAH INI? Data ini harusnya bikin kita malu. Data tidak bisa berbohong. Di balik angka-angka capaian nasional, ada saudara kita di Papua Pegunungan yang mendapatkan angka 0% dalam berbagai indikator capaian kesehatan. Mulai dari obat diabetes hingga pencegahan TB. Konsistensi "Rapor Merah" di Papua Pegunungan bukan lagi sebuah kebetulan, melainkan pola yang harus segera diputus. Ini bukan sekadar "anomali geografis", ini adalah alarm bagi keadilan sosial kita. Jika ketimpangan ini terus dibiarkan, bukan hanya kesehatan yang terancam, tapi juga kepercayaan rakyat terhadap pemerataan pembangunan kesehatan. Kita bicara tentang akses obat TB hingga layanan diabetes. Jika angkanya terus berada di dasar klasemen, artinya ada yang salah dengan cara kita mendistribusikan keadilan. Kita tidak boleh merasa sehat, selama saudara kita di Timur masih kesulitan bernapas. Mereka adalah saudara kita yang sedang bertaruh nyawa karena keterbatasan akses dan fasilitas. Keadilan kesehatan adalah hak konstitusional.
dr. Gamal19,264 views • 5 months ago

Biaya politik mahal adalah akar masalah korupsi. Kami hadirkan 2 gagasan The New Way Politics sebagai solusinya. Pertama, lawan politik uang dengan politik pemberdayaan. Kedua, Pahlawan Demokrasi, yaitu gerakan moral anak-anak muda menggunakan gadget untuk mengamankan TPS.
dr. Gamal63,906 views • 2 years ago

Dulu waktu saya diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya tanpa tes, ayah saya menjual tanahnya agar saya anaknya yang bernama Gamal ini bisa kuliah di kedokteran. Oleh karena itu, hari ini kami bermimpi bisa menghadirkan puluhan ribu beasiswa untuk membantu pelajar meraih cita-citanya. Bersama sahabat, kini kami mengembangkan untuk membersamai banyak anak muda Indonesia meraih beasiswa dan mewujudkan cita-cita akademiknya.
dr. Gamal49,435 views • 2 years ago

Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, Dengan mengharap ridlo Allah SWT, Dengan do’a restu orang tua, Dengan dukungan Bapak, Ibu, & anak-anak muda sekalian, Saya dr. Gamal bersama ratusan Tim Pemenangan, Hari ini menyatakan maju sebagai calon anggota DPR RI Dapil Malang Raya.
dr. Gamal57,706 views • 3 years ago

Setelah 21 tahun penantian panjang, Alhamdulilah RUU PPRT (Pelindungan Pekerja Rumah Tangga) kembali dibahas di Baleg DPR. Kami mengupayakan agar RUU ini mampu menjadikan PRT sebagai decent work (pekerjaan yang layak) dan dignified work (pekerjaan yang bermartabat).
dr. Gamal23,084 views • 1 year ago

Apakah adil dan fair, masyarakat luar jawa atau daerah terpencil yang fasilitas kesehatannya jauh sangat tertinggal membayar iuran BPJS sama dengan masyarakat Jabodetabek dengan fasilitas yang ekstra lengkap? Hari ini, masyarakat luar jawa mensubsidi masyarakat jawa dalam konteks layanan kesehatan. Indeks gini distribusi dokter spesialis kita adalah 0,53, jauh lebih tinggi dari koefisien gini kita. Tenaga kesehatan di daerah terpencil memiliki workload berlebih 60-80 jam per minggu (standard internasional 40-48 jam per minggu), dengan burn out 75-85% (umumnya di kota besar 30-40%) dengan turn over daerah terpencil 25-35% (Rata-rata industri kesehatan 10-15%). Hal ini berdampak pada ketimpangan indikator-indikator kesehatan Nasional kita. Kementerian Kesehatan harus segera menghadirkan Roadmap Pemerataan Distribusi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Indonesia yang jelas, spesifik, dan terukur dalam 5 tahun ke depan.
dr. Gamal11,869 views • 8 months ago

7 CARA MENINGGIKAN BADAN DENGAN SEHAT DAN OPTIMAL 1. Tidur Cukup Kekurangan tidur dapat menurunkan produksi human growth hormone (hGH) yang merupakan hormon yang berperan mengoptimalkan pertumbuhan tinggi anak yang diproduksi oleh kelenjar hipofisis. Disisi lain, hormon ini akan diproduksi optimal dalam tubuh pada malam hari. 2. Gizi Seimbang Konsumsi makanan yang kaya akan kandungan kalsium dan vitamin D sangat bagus untuk pertumbuhan tulang. Asupan vitamin D dapat Anda peroleh pada ikan tuna, salmon, kuning telur, susu fortifikasi, dan berbagai makanan lainnya. Untuk mendapatkan semua nutrisi yang dibutuhkan tubuh, makanan yang anak konsumsi harus mencakup buah-buahan, sayuran, biji-bijian utuh, protein, produk susu. 3. Rutin Olah Raga Optimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak dengan rutin olah raga. Olahraga dapat menstimulasi hormon pertumbuhan dalam tubuh yang mengoptimalkan pertumbuhan badan. Selain itu, olah raga dapat memperkuat otot dan tulang pada tubuh yang berkaitan dengan pertumbuhan tinggi badan. Lakukan olahraga yang dapat meninggikan badan, seperti: Berenang, bersepeda, basket. 4. Jaga Postur Tubuh Postur tubuh seseorang berpotensi semakin membungkuk seiring bertambahnya usia. Tubuh yang membungkuk dapat memengaruhi tinggi badan yang sebenarnya dimana seseorang terlihat lebih pendek. Oleh karena itu, perhatikan cara Anda berdiri, duduk, dan tidur. 5. Optimalkan Kesehatan Anak Penyakit pada anak dapat menyebabkan penurunan nafsu makan yang berpengaruh pada asupan gizi dan nutrisi yang pada akhirnya memperburuk pertumbuhan anak. Pastikan kesehatan anak dalam kondisi yang baik, terjaga, dan optimal. Gangguan penyakit atau keluhan kesehatan yang tidak membaik pada anak dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. Ketika anak mengalami keluhan kesehatan, kondisi ini dapat menyebabkan penurunan nafsu makan yang berpengaruh pada asupan gizi dan nutrisi, yang pada akhirnya membuat pertumbuhan anak menjadi memburuk. Jika kesehatan anak terganggu, segera lakukan pemeriksaan kesehatan untuk mengatasi kondisi tersebut. 6. Hindari Obat yang Menghambat Pertumbuhan tubuh Gangguan pertumbuhan tinggi anak bisa terjadi akibat penggunaan obat-obatan seperti penggunaan steroid jangka panjang, pengobatan kemoterapi, atau radiasi. Obat-obatan tersebut dapat menyebabkan gangguan tinggi anak karena mempengaruhi pertumbuhan tulang. 7. Konsumsi Suplemen dengan Cermat Setelah masa pertumbuhan selesai, penambahan tinggi badan tidak dapat terjadi lagi. Oleh karena itu, hindari konsumsi suplemen yang menjanjikan penambahan tinggi badan berlebihan. Orang dewasa atau orang tua disarankan untuk mengonsumsi suplemen vitamin D atau kalsium untuk mengurangi risiko osteoporosis. Cita-citamu boleh tinggi, tapi jangan lupa tinggi badanmu. Tinggikan badanmu setinggi cita-citamu.
dr. Gamal23,829 views • 2 years ago