sya's banner
sya's profile picture

sya

@arsenatasyas8,971 subscribers

dm for business inquiries

Shorts

Eh.. karena dulu sempet bahas fashion pelatih, setelah diliat-liat Vincent Kompany ini pelatih paling unik & fashionable deh sekarang. Setuju nggak guys? 😝 Kalau kita perhatiin, outfit manager di touchline tuh basically salah satu personal branding yang paling gampang diinget. Ada beberapa “kubu” sih kalo kita ngomongin fashion-nya manager tuh: The Suit Guy, The Tracksuit Loyalist, Slim-Fit Casual Enthusiast, sama Streetwear ala Kompany gini. Kalian paling cocok sama style yang mana? Tapi gweh pribadi emang paling suka stylenya Pep, Arteta, Xabi dll sih karena clean & minimalist aja gitu 🙂‍↕️

Eh.. karena dulu sempet bahas fashion pelatih, setelah diliat-liat Vincent Kompany ini pelatih paling unik & fashionable deh sekarang. Setuju nggak guys? 😝 Kalau kita perhatiin, outfit manager di touchline tuh basically salah satu personal branding yang paling gampang diinget. Ada beberapa “kubu” sih kalo kita ngomongin fashion-nya manager tuh: The Suit Guy, The Tracksuit Loyalist, Slim-Fit Casual Enthusiast, sama Streetwear ala Kompany gini. Kalian paling cocok sama style yang mana? Tapi gweh pribadi emang paling suka stylenya Pep, Arteta, Xabi dll sih karena clean & minimalist aja gitu 🙂‍↕️

87,940 Aufrufe

aku kira diving tuh harganya jutaan, ternyata start from 600 ribu udah bisa ngeliat view bawah laut secakep ini. harus cobain sih menurutku! 😍 📍lets dive tulamben, bali

aku kira diving tuh harganya jutaan, ternyata start from 600 ribu udah bisa ngeliat view bawah laut secakep ini. harus cobain sih menurutku! 😍 📍lets dive tulamben, bali

54,728 Aufrufe

Videos

arsenatasyas's profile picture

Arsenal dan Pressure waktu Title Race Lo pernah nggak ngerasa pressure yang berat di hidup lo, tapi ternyata lo bisa ngelewatin itu semua? Beberapa hari lalu, gue nonton interview super inspiratif dari Tom Hiddleston tentang title race Arsenal dan City. Salah frasa yang cukup sering dia bilang adalah “Pressure is a privilege.” Jujur, gue udah pernah denger frasa ini dari lama, it took me some time to really understand it. Gue jadi keinget sama tim kesukaan gue, Arsenal, yang sering crumble under pressure di akhir-akhir musim. Semalam Man City menduduki peringkat 1 setelah sekian lama Arsenal yang mimpin di klasemen liga. Mungkin ada banyak fans yang merasa takut, pasrah, tapi ada juga yang masih optimis untuk mendukung tim ini. Gue jadi inget rasanya waktu Arsenal pertama kali bikin semua orang percaya di musim 22/23. Mereka memimpin liga hampir sepanjang musim. Fans Arsenal untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama berani berharap. Tapi sejak itu, Man City dan Liverpool selalu datang dan Arsenal runtuh. Di beberapa musim setelahnya, Arsenal mencoba lagi, dengan pendekatan berbeda dan skuad yang lebih dalam, tapi belum berhasil. Jujur aja, ini yang mungkin membuat Arsenal terus-terusan menghadapi pressure karena tanggung finish di posisi dua terus. Pressure itu datang dari dua arah sekaligus. Fans Arsenal sendiri yang menunggu gelar, ada yang sebagian sabar, ada yang sebagian nggak. Tapi mereka menunggu karena mereka sebenarnya percaya sama kapasitas tim ini. Mereka sudah cukup tahu kalau di atas kertas, Arsenal bukan tim yang kebetulan bisa memimpin klasemen sepanjang musim. They have the capability to win it. Dan rasa kepercayaan itu beratnya luar biasa karena mengecewakan orang yang percaya jauh lebih menyakitkan dari mengecewakan orang yang nggak mengharapkan apa-apa. Di sisi lain, rival menunggu downfall Arsenal. Banyak alasannya kenapa mereka begitu, tapi yang jelas salah satunya penampilan Arsenal cukup menjanjikan untuk membuat kejatuhan mereka terasa memuaskan. Dua-duanya pressure. Dua-duanya karena Arsenal dianggap cukup menarik untuk diperhatikan. Gue jadi keinget sama interview-nya Hiddleston lagi, dia bilang kalau rasa takut dan excited itu reaksi kimianya sama di tubuh. Gue jadi penasaran sama Arteta dan pemain Arsenal, apakah mereka masih takut? Kalau gue yang ada di posisi itu, gue akan menganggap pressure ini adalah privilege. What a privilege to be expected to win by your own fans. What a privilege to be waited on to fall by everyone else. Sekarang City ada di atas. Hanya ada produktivitas gol aja yang memisahkan, it’s not even the goal difference. Gue berharap Arteta dan pemain Arsenal harus punya mindset positif dalam melihat ini. Pressure means you’ve earned your spot where the bar is high and the challenge is real. Kalau Arsenal bisa memenangkan battle ini, mereka akan mengenang cara kemenangan yang mungkin aja paling memorable. I hope they actually think “Oh this period is exciting and we feel most alive to beat those challenges.” Di aspek mana pun, pressure seberat ini nggak datang kepada semua orang, nggak datang kepada semua tim. Ini datang kepada mereka yang sudah cukup besar untuk membuat orang percaya dan cukup berbahaya untuk membuat musuh menunggu mereka jatuh. Kalau bukan privilege, namanya apa? Prove us that you are born for this Arsenal. (source pict & video: ESPN, Sky Sports & Pinterest)

sya

144,987 Aufrufe • vor 2 Monaten

arsenatasyas's profile picture

Arsenal bakal dibantai PSG di final? Arsenal masuk final UCL tanpa predikat tim unggulan, terlepas mereka belum kalah di UCL musim ini dan baru kebobolan 6 kali. Alasannya karena katanya rute Arsenal menuju final lebih gampang, “cuma” lawan Leverkusen, Sporting, Atletico. Arsenal belum teruji melawan giants, they said. Aku jadi keinget sama salah satu buku yang aku baca, “David and Goliath: Underdogs, Misfits, and the Art of Battling Giants” karya Malcolm Gladwell. Goliath tuh prajurit raksasa, sedangkan David cuma anak gembala yang dikirim buat ngelawan Goliath berbekal ketapel dan batu. Buku ini tuh tentang gimana seseorang yang nggak diunggulin tapi tetap bisa menang lawan musuh terkuat. Mungkin, pertandingan final nanti bisa jadi ajang pembuktian tesis di buku ini. PSG datang ke Budapest dengan cara seorang pemenang datang ke pesta yang bakal dia kuasai. Gimana nggak, PSG udah lolos ujian ngelawan klub-klub besar kayak Liverpool, Chelsea, Bayern dengan cara meyakinkan. PSG tuh tesis bola yang bergerak kayak nyala api: cepat, lapar, menyebar ke segala arah, membakar siapapun yang terlambat membaca pergerakannya. Mereka diunggulin karena mereka juga pernah menang lawan Arsenal di semifinal musim lalu. Jadi, “angin” memang mengarah ke PSG yang berambisi buat back to back juara UCL. Di sisi lain lapangan Budapest, Arsenal hadir dan kehadirannya justru dipertanyakan karena sepanjang knock out, Arsenal cuma menang dengan skor tipis. Tapi, kalau dari buku ini, aku belajar bahwa hal yang dilihat sebagai kekurangan justru bisa jadi kelebihan. Menjadi tim dengan defense terbaik dan masih cukup produktif, tim ini jelas masih punya kans untuk juara UCL pertama kali. Bahan bakar untuk menang juga diperkuat memori pahit semifinal musim lalu yang secara data dan xG, Arsenal tampil lebih baik. Plus, musim lalu Arsenal juga main tanpa line up terbaik waktu lawan PSG. Gladwell banyak nulis soal gimana seseorang yang nggak diunggulkan dengan motivasi “dendam” sering perform di luar ekspektasi. Tapi Gladwell juga ngingetin kalau seseorang yang nggak diunggulkan bukan berarti selalu menang. Salah satu kuncinya tuh apakah si David mengubah aturan main atau nggak. Kalau Arsenal coba mengimbangi PSG dalam adu gol dan eksplosivitas, mereka mungkin bakal kesulitan. Tapi kalau mereka menggunakan sistem dan cara mereka sendiri, seperti David yang menolak duel pedang dan memilih ketapel, ceritanya bisa aja berbeda. Arsenal harus bisa ngajak PSG untuk main dengan cara Arsenal. Final di Budapest ini tuh pembuktian yang pas sama tesis Gladwell. PSG adalah Goliath dengan semua tanda-tanda kemenangan. Arsenal adalah David, tim yang nggak diunggulin karena cara mereka bermain berbeda. When the world wanted to make David king, the world didn’t send him a crown. The world sent him Goliath. Arsenal seharusnya nggak boleh merasa inferior karena bermain nggak se-ofensif lawan dan lawan lebih diunggulkan. Don’t misread “weakness” as defeat. Apapun bisa terjadi di final.

sya

78,886 Aufrufe • vor 1 Monat

arsenatasyas's profile picture

Menjelang final UCL PSG dan Arsenal nanti, gue jadi keinget sama rivalitas kota Paris dan London. Persaingan dua kota itu tuh udah berlangsung berabad-abad. Secara historis, Inggris dan Prancis tuh bisa dibilang rival abadi; dari Perang Seratus Tahun (1337–1453), Napoleon vs Wellington di Waterloo (1815), sampe persaingan kolonial di Afrika dan Asia. Bahkan ada istilah “Perfidious Albion” (Albion yang khianat) dari mulut orang Prancis untuk menggambarkan Inggris karena Inggris berkali-kali dianggap main dua kaki secara diplomatik. Secara kultural, London dan Paris selalu bersaing jadi ibu kota dunia karena dua kota ini tuh sama-sama punya pengaruh di fashion, seni, sastra, kuliner, dan sepakbola itu sendiri. Lucunya, Arsenal tuh klub besar di Inggris yang ramah sama pemain asal Prancis waktu era Wenger. Pemain-pemain jago Arsenal di 2000an kayak Thierry Henry, Patrick Vieira, Robert Pires, Sylvain Wiltord itu pemain asal Prancis semua. Arsenal juga cukup punya fanbase besar di Prancis karena Henry. Ya, meskipun di bawah Arteta influence Prancis ini mulai memudar sih ya.. Jadi ketika Arsenal dan PSG ketemu di final Budapest 30 Mei ini, rasanya keren aja sih kalo liat dari kacamata di luar taktik bola. Paris dan London, arguably two biggest cities in the Western Europe. Arsenal yang belum juara UCL dan PSG yang nyoba mempertahankan gelarnya. Arsenal yang heavily influenced by the French culture ngelawan tim terbesar dari Prancis. Kira-kira siapa yang berkuasa di Eropa, London atau Paris?

sya

30,107 Aufrufe • vor 1 Monat

arsenatasyas's profile picture

Aku beberapa kali kritik Arteta, tapi aku sangat apresiasi cara dia membangun kultur di Arsenal. Banyak pelatih yang ditugasin untuk rebuild klub tapi gagal. Bukan karena pelatihnya nggak pernah menangin trofi, bukan karena pemainnya nggak jago, tapi karena nggak ada culture di dalamnya. I am talking this as an HR professional, culture is one of the most fundamental aspects that every organization needs to have. Pemain bisa cedera, pemain bisa turun form, taktik bisa dibaca lawan. Tapi tim yang punya culture kuat tetap bisa menang bahkan di kondisi yang nggak ideal karena setiap orangnya tau perannya, percaya satu sama lain, dan mau berjuang untuk sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Waktu interview pertamanya sebagai manajer Arsenal, hal pertama yang Arteta bahas tuh nggak tactical sama sekali. Arteta langsung ngebahas tentang energy dan culture yang mau ia bangun. Ada satu kalimat yang Arteta bilang waktu itu cukup ngejelasin cara ia ngeliat tim: “If you don’t have the right culture, when difficult moments arrive, the tree is going to shake.” Ini menurutku penting karena PASTI momen sulit itu pasti datang dan tim yang punya “akar” kuat bakal survive. Terus gimana cara Arteta untuk nemuin the right person for the culture? Beberapa tahun kemudian, aku nonton interview Arteta lainnya dan jadi tau gimana cara simple Arteta untuk nge-filter rekrutan pemain dan staff. Ada tiga pertanyaan: • Can he do it? • Does he know how to do it? • Does he want to do it? Yang terakhir paling penting karena willingness itu salah satu drivers terbesar dalam diri seseorang buat ngelakuin sesuatu. Arteta juga bilang kalau setiap orang yang masuk ke klub harus merasa privileged jadi bagian dari Arsenal, mereka harus punya 3 values: respect, commitment, dan passion. Nggak ada orang yang merasa klub butuh dia lebih dari dia butuh klub karena begitu satu orang merasa lebih penting dari kolektif, culture itu bisa retak. Arteta memang belum membawa trofi selain FA Cup dan Community Shield. Tapi mungkin kita lupa betapa messy-nya Arsenal sebelum dia datang. Mungkin kita nggak tau betapa sulitnya mengubah culture sebuah klub besar yang sudah lama kehilangan identitasnya. That is not an easy job, bahkan banyak pelatih yang nggak tau harus mulai dari mana.

sya

29,569 Aufrufe • vor 1 Monat

Keine weiteren Inhalte verfügbar