Dina Sulaeman's banner
Dina Sulaeman's profile picture

Dina Sulaeman

@dina_sulaeman36,142 subscribers

Pengamat Timur Tengah, analis geopolitik, dosen HI. https://t.co/cqJKpzpUiL

Shorts

Orang2 Zionis ga bisa lagi bela Israel selain dengan BOHONG. Di video ini, Monique Rijkers (influencer pro-Israel) ngeyel (=bohong) saat aktivis pro-Palestina, M. Husein berkata bhw sejak 7 Okt, sudah lebih 6.000 warga Gaza diambil paksa dari rumahnya (diculik/ditawan) Israel. Padahal info ini valid, media Israel pun memberitakannya. #PrayForPalestine #SaveTheChildren

Orang2 Zionis ga bisa lagi bela Israel selain dengan BOHONG. Di video ini, Monique Rijkers (influencer pro-Israel) ngeyel (=bohong) saat aktivis pro-Palestina, M. Husein berkata bhw sejak 7 Okt, sudah lebih 6.000 warga Gaza diambil paksa dari rumahnya (diculik/ditawan) Israel. Padahal info ini valid, media Israel pun memberitakannya. #PrayForPalestine #SaveTheChildren

219,487 views

VENEZUELA: POLA YANG BERULANG Setiap kali ada negara yang berani menguasai sumber daya alamnya sendiri, dan kebijakan itu merugikan perusahaan Amerika, pola yang sama selalu muncul: tekanan politik, propaganda, sanksi ekonomi… lalu upaya penggulingan rezim. Venezuela hari ini adalah bab terbaru dari pola yang telah berlangsung lama ini. Venezuela bukan tentang narco-terrorism seperti kata AS. Trump sudah berterus-terang, "They took our oil rights. We had a lot of oil there. They threw our companies out. And we want it back." ["Mereka mengambil hak minyak kami. Kami memiliki banyak minyak di sana. Mereka mengusir perusahaan kami. Dan kami menginginkannya kembali."] Venezuela adalah negara dengan cadangan minyak terbesar sedunia. AS merasa BERHAK atas minyak & sumber daya alam di sana, dan di negara-negara lain. Lihat polanya: Iran, 1953. Perdana Menteri Mohammad Mossadegh menasionalisasi minyak Iran. CIA mendalangi kudeta, lalu rezim pro-Barat (Shah Pahlavi) berkuasa. Chile, 1973. Presiden Salvador Allende menasionalisasi tambang tembaga. Perusahaan AS dirugikan. Hasilnya? Kudeta berdarah. Allende tewas. AS mendukung rezim Pinochet yang sangat kejam pada rakyatnya. Kongo, 1961 Patrice Lumumba dibunuh karena ingin rakyatnya berdaulat atas mineral mereka sendiri. Libya 2011 Muammar Qaddafi ingin membuat mata uang bersama Afrika, melawan dominasi dolar, dan berusaha mengontrol sebagian besar sumber minyaknya. AS bersama NATO membombardir negeri termakmur di Afrika itu. Guatemala 1954, Afghanistan 2001, Irak 2003, Suriah 1949, 1957, 2011-2024, Mesir 2013, Iran pasca-1979 [AS mengupayakan berbagai aksi untuk penggulingan pemerintah], dst. Daftarnya masih sangat banyak... Jangan lupa, Indonesia pun tidak lepas dari pola ini. Presiden Soekarno dulu mendorong kedaulatan ekonomi, menasionalisasi aset asing, dan menolak tunduk pada blok Barat. Hasilnya? AS di balik layar membantu operasi perubahan rezim tahun 1965. Ada yang menghitung, AS terlibat langsung atau tidak langsung dalam lebih 70 upaya perubahan rezim sejak 1945. Angka pastinya bisa diperdebatkan. Tapi polanya SANGAT JELAS: -jika pemimpin sebuah negara tunduk dan berbaik-baik, ia akan aman dan kebagian -jika ia melawan, AS akan melakukan berbagai upaya untuk menggulingkannya. Dan hari ini, lihat Palestina. Israel dengan didukung penuh AS melakukan segala bentuk kekejian dan pembantaian massal di sana. Padahal, ini bukan soal Hamas; bukan soal “keamanan Israel.” Ini soal kontrol wilayah. Ingat, ada ladang gas yang sangat kaya di lepas pantai Gaza. Ingat, Trump bicara soal menjadikan Gaza sebagai pusat pelesiran pantai ("Riviera in Middle East") dan mendorong warga Gaza untuk keluar saja dari tanah air mereka. Jadi setiap kali AS bicara tentang “demokrasi” dan “hak asasi”, lihat satu hal dulu: -Ada sumber daya alam apa di sana? -Siapa yang menguasai sumber daya alam itu? -Siapa yang diuntungkan? #StopUSTerrorism

VENEZUELA: POLA YANG BERULANG Setiap kali ada negara yang berani menguasai sumber daya alamnya sendiri, dan kebijakan itu merugikan perusahaan Amerika, pola yang sama selalu muncul: tekanan politik, propaganda, sanksi ekonomi… lalu upaya penggulingan rezim. Venezuela hari ini adalah bab terbaru dari pola yang telah berlangsung lama ini. Venezuela bukan tentang narco-terrorism seperti kata AS. Trump sudah berterus-terang, "They took our oil rights. We had a lot of oil there. They threw our companies out. And we want it back." ["Mereka mengambil hak minyak kami. Kami memiliki banyak minyak di sana. Mereka mengusir perusahaan kami. Dan kami menginginkannya kembali."] Venezuela adalah negara dengan cadangan minyak terbesar sedunia. AS merasa BERHAK atas minyak & sumber daya alam di sana, dan di negara-negara lain. Lihat polanya: Iran, 1953. Perdana Menteri Mohammad Mossadegh menasionalisasi minyak Iran. CIA mendalangi kudeta, lalu rezim pro-Barat (Shah Pahlavi) berkuasa. Chile, 1973. Presiden Salvador Allende menasionalisasi tambang tembaga. Perusahaan AS dirugikan. Hasilnya? Kudeta berdarah. Allende tewas. AS mendukung rezim Pinochet yang sangat kejam pada rakyatnya. Kongo, 1961 Patrice Lumumba dibunuh karena ingin rakyatnya berdaulat atas mineral mereka sendiri. Libya 2011 Muammar Qaddafi ingin membuat mata uang bersama Afrika, melawan dominasi dolar, dan berusaha mengontrol sebagian besar sumber minyaknya. AS bersama NATO membombardir negeri termakmur di Afrika itu. Guatemala 1954, Afghanistan 2001, Irak 2003, Suriah 1949, 1957, 2011-2024, Mesir 2013, Iran pasca-1979 [AS mengupayakan berbagai aksi untuk penggulingan pemerintah], dst. Daftarnya masih sangat banyak... Jangan lupa, Indonesia pun tidak lepas dari pola ini. Presiden Soekarno dulu mendorong kedaulatan ekonomi, menasionalisasi aset asing, dan menolak tunduk pada blok Barat. Hasilnya? AS di balik layar membantu operasi perubahan rezim tahun 1965. Ada yang menghitung, AS terlibat langsung atau tidak langsung dalam lebih 70 upaya perubahan rezim sejak 1945. Angka pastinya bisa diperdebatkan. Tapi polanya SANGAT JELAS: -jika pemimpin sebuah negara tunduk dan berbaik-baik, ia akan aman dan kebagian -jika ia melawan, AS akan melakukan berbagai upaya untuk menggulingkannya. Dan hari ini, lihat Palestina. Israel dengan didukung penuh AS melakukan segala bentuk kekejian dan pembantaian massal di sana. Padahal, ini bukan soal Hamas; bukan soal “keamanan Israel.” Ini soal kontrol wilayah. Ingat, ada ladang gas yang sangat kaya di lepas pantai Gaza. Ingat, Trump bicara soal menjadikan Gaza sebagai pusat pelesiran pantai ("Riviera in Middle East") dan mendorong warga Gaza untuk keluar saja dari tanah air mereka. Jadi setiap kali AS bicara tentang “demokrasi” dan “hak asasi”, lihat satu hal dulu: -Ada sumber daya alam apa di sana? -Siapa yang menguasai sumber daya alam itu? -Siapa yang diuntungkan? #StopUSTerrorism

52,177 views

Regime change sedang melanda AS, bukan Iran Tanggal 28 Februari: Trump mendeklarasikan agresi terhadap Iran, antara lain ia berkata, "Kepada rakyat Iran yang hebat, saya katakan malam ini bahwa saat kebebasan Anda telah tiba. Tetaplah berlindung. Jangan meninggalkan rumah Anda. Di luar sangat berbahaya. Bom akan berjatuhan di mana-mana. Setelah kami selesai, ambil alih pemerintahan Anda. Itu akan menjadi milik Anda. Ini mungkin satu-satunya kesempatan Anda untuk generasi mendatang. Selama bertahun-tahun, Anda telah meminta bantuan Amerika, tetapi Anda tidak pernah mendapatkannya. Tidak ada presiden yang bersedia melakukan apa yang saya bersedia lakukan malam ini." Tanggal 28 Maret: demo besar-besaran di AS, di 3200 titik, di 50 negara bagian, kabarnya jumlah total lebih dari 7 juta orang memprotes Trump. Ada yang membawa poster foto Jubir IRGC yang berkata, "Trump, ente dipecat!"

Regime change sedang melanda AS, bukan Iran Tanggal 28 Februari: Trump mendeklarasikan agresi terhadap Iran, antara lain ia berkata, "Kepada rakyat Iran yang hebat, saya katakan malam ini bahwa saat kebebasan Anda telah tiba. Tetaplah berlindung. Jangan meninggalkan rumah Anda. Di luar sangat berbahaya. Bom akan berjatuhan di mana-mana. Setelah kami selesai, ambil alih pemerintahan Anda. Itu akan menjadi milik Anda. Ini mungkin satu-satunya kesempatan Anda untuk generasi mendatang. Selama bertahun-tahun, Anda telah meminta bantuan Amerika, tetapi Anda tidak pernah mendapatkannya. Tidak ada presiden yang bersedia melakukan apa yang saya bersedia lakukan malam ini." Tanggal 28 Maret: demo besar-besaran di AS, di 3200 titik, di 50 negara bagian, kabarnya jumlah total lebih dari 7 juta orang memprotes Trump. Ada yang membawa poster foto Jubir IRGC yang berkata, "Trump, ente dipecat!"

20,935 views

Videos

dina_sulaeman's profile picture

Mengapa Iran Bikin Video Lego? Ada ga, yang terpikir, alasan mengapa setelah serangan AS-Isr ke Iran, justru muncul video-video propaganda dari Iran yang bergaya animasi Lego dengan musik rap? Bagi sebagian orang, ini terlihat seperti propaganda yang kekanak-kanakan. Padahal, kemungkinan besar ini memang strategi komunikasi yang dilakukan dengan sangat sadar dan diriset dengan baik. Iran tampaknya memahami satu hal penting: perang modern bukan hanya perang militer, tetapi juga perang narasi dan opini publik, terutama opini publik Amerika Serikat. Dalam sistem politik AS, tekanan publik bisa memengaruhi Kongres, media, dan akhirnya kebijakan luar negeri. Karena itu, memengaruhi opini publik AS sama pentingnya dengan menghadapi militer Amerika. Di sinilah strategi media menjadi menarik. Data studi literasi di AS menunjukkan bahwa sekitar 54% orang dewasa di AS memiliki tingkat literasi di bawah level kelas 6 SD, dan sebagian bahkan di bawah level kelas 5 SD. Artinya, banyak orang dewasa di Amerika lebih mudah memahami informasi visual sederhana, video pendek, animasi, dan musik, dibandingkan tulisan panjang atau analisis geopolitik yang rumit. Selain itu, berbagai survei di AS juga menunjukkan bahwa banyak warganya tidak bisa menunjukkan Iran di peta, tidak tahu perbedaan Iran, Irak, Afghanistan; tidak memahami sejarah konflik Timur Tengah; tidak memahami kebijakan luar negeri negaranya sendiri. Karena itu, jika Iran ingin berbicara langsung kepada publik Amerika, tidak bisa berupa pidato panjang atau artikel serius, ga akan "nyampe." Akan lebih efektif jika pesan dari Iran dikemas dalam video pendek, visual sederhana, musik, humor, karakter kartun, narasi hitam-putih (siapa jahat, siapa korban). Videonya pun musti dalam format yang cocok untuk TikTok, X, Instagram, dan YouTube Shorts. Mungkin, ini pula yang membuat akun-akun medsos (terutama X) kedutaan-kedutaan besar Iran di berbagai negara dunia, akhir-akhir ini lebih banyak nge-troll (ga "jaga image" ala-ala diplomat lagi). Misalnya, akun X Kedubes Iran di Zimbabwe mencuit, "Trump, please talk. We are bored" [Trump ngomong dong, kita bosen neh]. Hasilnya: 5,5 juta view, 2200 komen, 96 ribu share. Jika dulu perang ditentukan oleh siapa yang punya tank dan pesawat lebih banyak, sekarang perang juga ditentukan oleh "siapa yang lebih pandai menguasai narasi di internet." ---- Video 1: berjudul "Khamenei Lagi", bercerita soal Trump yang mendaptkan tekanan dari Zionis dan gank Epstein lalu menyerang Iran; membunuh Ayatullah Ali Khamenei; tapi rakyat Iran melawan, dipimpin "Khamenei" lagi (Ayatullah Mojtaba Khamenei). Video 2: Hari Sabtu (4 April), Trump mengancam Iran agar segera membuka Selat Hormuz, batas waktunya 48 jam lagi, kalau enggak, akan ada "neraka." Eh, Ahad (5 April), 2 helikopter militer Black Hawk dan satu pesawat angkut C-130 dihancurkan oleh Iran. Lalu, di hari yang sama sudah ada video lego ini, yang mengejek batas waktu "48 jam" Trump.

Dina Sulaeman

24,829 views • 3 months ago