
ega
@fluoxetan • 4,998 subscribers
neurodivergent learner
Shorts
Videos

pernah dengerin tedtalk dan baca soal ini. cantik itu sebenernya pola biologis yang dikenali manusia, meski banyak orang bilang cantik itu relatif kenyataannya most people across cultures and times bakal setuju deh kalau Snejana Onopka itu cantik wkwkw. katanya, cantik itu kombinasi dari banyak ciri fisik yang otak manusia tangkap sebagai sinyal healthy, balanced dan genetically good. mulai dari symmetrical face yang diasosiasiin sama healthy biological development, facial harmony yang bikin fitur wajah keliatan balance, skin quality yang sering dianggap sebagai sign of health, harmonious facial proportions, youthful features yang punya korelasi sama vitality, sampe ekspresi yang calm n warm juga berpengaruh. otak manusia kita ya cenderung nyaman melihat sinyal-sinyal ini karena secara evolusi diasosiasikan dengan kesehatan dan survival. kayak in subconscious mind otak tuh nangkep “oh this person looks healthy, biologically fit, and likely to survive well” jadi definisi “pretty” ini emang gak sepenuhnya random atau sesimple “semua orang cantik dengan caranya masing-masing kokk”. ada juga pola biologis yang consistently dianggap attractive dari zaman baheula nepi ka ayeuna. tapi tetep ada pengaruh culture, life experience dan juga emotional attachment. penelitian lain juga nyebutin kl attractionnya manusia gak cuma dipengaruhi fisik, tapi ada non fisik juga. kayak dari suara, kecerdasan, humor, the way they talk, smell, kindness, sampe familiarity dan emotional connection sama seseorang. makanya kadang ada orang yang objectively attractive tapi gak srek aja gitu sama kita, dan ada juga orang yang makin dikenal malah makin cantik di mata kita, ya gitu, ceunah beauty is partly biologically driven, partly socially constructed and heavily emotionally contextual
ega203,255 views • 1 month ago

titik kritisnya dari manifestasi law of attraction tuh ngajarin orang buat bisa yakin bahwa alam semesta atau pikiran kita “yang mengabulkan” padahal kl islam, hanya Allah lah yang menentukan hasil, terus mencampurkan takdir dgn ilusi “bayangkan dan rasakan”, ada potensi cognitive bias yg buat org cmn fokus ke yg mereka harapkan dan ignore realita, trs org bukan malah berdoa minta sm Allah tapi affirmasi ke diri sendiri, arah ibadahnya jd gk sesuai
ega75,309 views • 3 months ago

kalau lah yang ditampilkan itu white lib family homeschooling 10 anak di countryside sambil baking sourdough dan living “slow life”, kemungkinan besar quote tweet-nya bakal penuh dengan “goals”, “intentional living”, “trad family aesthetic”, atau “this is so wholesome”. tapi karena ini keluarga muslim lokal dengan framework hidup berbeda, langsung diasumsikan backward, jahiliyah, dan gak berpendidikan 😹😹😹😹 udah liat tiktoknya and honestly framing “pabrik anak” itu jahat sih. the wife is clearly loved and respected as a mother, sampe anak-anaknya lined up buat salim gitu, the husband is present taking care of the kids, keluarganya hangat, anak-anaknya well behaved dan berakhlak baik. but apparently none of that matters karena mereka punya banyak anak dan dont fit certain urban middle class standards, jadi otomatis harus dijulidin. people can have concerns soal kesehatan atau life choices mereka, that’s fine. masalahnya, seorang ibu direduksi jadi “pabrik anak”, seorang ayah langsung diasumsikan gak beradab atau gak peduli pendidikan, padahal kita sendiri gak idup bareng mereka dan gak tau realita kesehariannya. haduh bukannya edukasi itu merangkul, bukan memukul, kalau julid gini malah menghilangkan sisi kemanusiaan mereka. ironically, people who are usually the loudest about consent, empathy, anti body shaming, dan respecting women’s choices malah dengan gampang merendahkan perempuan lain hanya because her life choices dont align with their worldview and preferred lifestyle framework. turns out “my body my choice” only applies when the choice still fits your ideology
ega16,666 views • 2 months ago
No more content to load