
Nadirsyah Hosen
@na_dirs • 465,531 subscribers
Associate Professor @MelbLawSchool and Adjunct Professor at @HasanuddinUniv Views are my own
Shorts
Videos

TRANS7 MENAMPAR WAJAH SANTRI MENJELANG HARI SANTRI NASIONAL Menjelang Hari Santri Nasional, TRANS7 justru memberi kado pahit bagi dunia pesantren. Tayangan mereka melecehkan para kiai—khususnya Romo Kiai kami, KH Anwar Manshur, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo sekaligus Rais Syuriah PWNU Jawa Timur. Beliau adalah sosok sepuh yang setiap hari masih mengajar dengan penuh kasih dan ketulusan. Dan saya yakin, beliau tidak pernah menyinggung Trans7, apalagi pemiliknya, Bapak Chairul Tanjung. Namun apa yang dilakukan Trans7 bukan sekadar “salah tayang.” Ini penghinaan. Narasinya ngawur, dibacakan dengan gaya yang merendahkan, disertai visual dan caption yang secara sistematis membangun framing jahat terhadap para kiai. Saya tidak bisa tinggal diam. Saya tumbuh dalam tradisi kritik dan kebebasan berpendapat ala akademik Barat, tetapi yang dilakukan Trans7 bukan kebebasan pers — ini serangan terencana terhadap kehormatan pesantren. Saya menuntut langkah tegas: Produser acara harus dipecat. Pembaca naskah dipecat. Trans7 wajib menayangkan program tandingan yang menampilkan konsep barokah, adab, disiplin, dan pendidikan karakter ala pesantren agar publik memperoleh gambaran yang berimbang. Lihatlah, rumah KH Anwar Manshur begitu sederhana—jauh dari kemewahan. Tapi Trans7 justru membingkai seolah beliau hidup dari amplop dan kemewahan. Itu fitnah! Itu penghinaan terhadap orang yang seluruh hidupnya diabdikan untuk ilmu dan umat. Saya menangis menonton tayangan itu. Bukan karena Kiai kami diserang, tapi karena media sebesar Trans7 tega memproduksi penghinaan semacam ini di bulan ketika bangsa ini semestinya menghormati para santri. Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia jangan diam. Ini ujian bagi kredibilitas lembaga Anda. Pak Chairul Tanjung, benahi manajemen Trans7 Anda. Dan kepada para pengiklan, saya menyerukan: jangan pasang iklan di Trans7 sampai lembaga ini bertanggung jawab penuh. Permintaan maaf atau sowan belaka tidak cukup. Luka yang mereka goreskan terlalu dalam. Ini bukan hanya soal satu Kiai — ini soal kehormatan seluruh dunia pesantren. Salam penuh duka dan amarah, Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen393,060 次观看 • 8 个月前

Tanda Ilahi Menunggu tanda dari Allah adalah bagian paling sunyi dari iman. Saat usaha sudah kita kerahkan, doa tak pernah absen, tetapi jawaban belum juga menampakkan diri. Di fase ini, kita tidak lagi bersandar pada kepastian apa pun, selain keyakinan sederhana: Allah tidak pernah lalai akan permohonan hambaNya. Diam bukan hampa, sering kali ia adalah ruang tempat Allah merapikan hati kita sebelum Dia menunjukkan arah. Dalam hidup, tanda itu jarang datang dengan suara keras. Ia bisa berupa pertemuan singkat yang membuka cara pandang baru, kegagalan yang memaksa kita berhenti lalu berbelok, atau rasa tenang yang turun tiba-tiba saat tubuh dan jiwa sama-sama lelah. Bahasa Allah sering samar, tapi bagi hati yang jujur, ia terasa nyata. Tanda ilahi juga tidak selalu dramatis. Kadang ia hadir setelah shalat, dalam ketenangan yang tak bisa dijelaskan. Kadang lewat jalan yang sengaja dimacetkan, agar kita tidak sampai ke tujuan yang salah. “Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat” (QS. Al-Baqarah [2]: 45). Seolah Allah berkata: menunggu tanda ilahi dengan sabar pun adalah ibadah. Menunggu tanda berarti belajar berhenti memaksa hasil. Belajar percaya bahwa Allah tahu kapan kita siap. Bukan hanya kapan kita ingin. Pada akhirnya, tanda dari Allah bukan sekadar jawaban. Ia adalah cara-Nya membesarkan jiwa, melapangkan dada, dan menjaga harapan tetap hidup, bahkan ketika segalanya terasa diam dan kelam. Terima kasih, Yura, untuk lagu yang menemani penantian tanda-tanda ilahi ini. 🙏🏻 Tabik, Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen98,074 次观看 • 4 个月前

Matinya Roda Jam’iyyah Kami Jam’iyyah ini sedang berjalan terbalik. Ketua Umum berkonflik dengan Sekjen dan Bendum. Ketua Umum juga tidak akur dengan Rais ‘Am. Sementara Rais ‘Am sendiri tidak sreg dengan Katib ‘Am (yang kebetulan masih keluarga dekat Ketum). Akhirnya, surat resmi Syuriyah hanya ditandatangani Rais ‘Am. Surat Tanfidziyah hanya diteken Ketum. Padahal aturan mengharuskan empat tanda tangan: Rais ‘Am, Katib ‘Am, Ketum, dan Sekjen. Ini bukan lagi soal organisasi yang macet. Ini soal mesin yang mati dan dibiarkan karatan selama berbulan-bulan. Masing-masing kubu berjalan sendiri. Jama’ah Nahdliyin bergerak tanpa arahan, tanpa bimbingan, tanpa kepemimpinan PBNU. Roda terkunci mati. Wa ba’du, jam’iyyah ini sakit parah. Kehilangan marwah, kehilangan arah. Bukan melayani jama’ah, bahkan menggerakkan roda organisasi saja sudah tak sanggup. AD/ART sudah jadi dokumen mati. Tagline ingin “menghidupkan kembali Gus Dur”, nyatanya sikap kritis justru hilang sama sekali. Mengaku ingin “governing NU”, tapi tata kelola PBNU sendiri remuk redam. Mengibarkan bendera khittah, malah tercebur dalam kubangan dukung-mendukung Pilpres. Mengaku berkhidmat untuk bangsa, malah gaduh sendiri soal tambang. Bicara ingin membangun peradaban dunia, tapi yang diundang justru tokoh zionis perusak peradaban. Satu Abad NU bukan dirayakan dengan kejayaan, tapi dilewati dengan perih dan prihatin yang menyesakkan dada. Mau sampai kapan kondisi jam’iyyah dibiarkan begini…. Al-fatihah untuk Hadratus Syekh Mbah Hasyim Asy’ari dan para muassis NU lainnya 🙏🏻😰 Tabik, Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen61,558 次观看 • 6 个月前

Tiga Pemeluk Agama Ibrahim yang Hobi Bertikai Bayangkan Tuhan membuka percakapan, bukan dengan perintah, tapi dengan sumpah yang hangat: “Demi tin dan zaitun, demi Ṭūr Sīnīn, demi negeri yang aman.” (QS. At-Tīn [95]:1–3). Ini bukan sekadar pembuka puitis. Ini seperti kode lintas iman. Tin dan zaitun mengarah ke tanah Syam, ruang spiritual Isa. Ṭūr Sīnīn adalah Sinai, tempat Musa menerima Taurat. Dan negeri yang aman itu Makkah, pusat risalah Nabi Muhammad. Tiga simbol, tiga tradisi, tiga saudara, satu panggilan: listen carefully—ini pesan langit untuk kalian semua, anak-anak Ibrahim. Lalu punchline-nya universal: “Kami ciptakan al-insān dalam bentuk terbaik.” (QS. At-Tīn [95]:4). Diksinya al-insān (bukan Muslim, bukan Yahudi, bukan Nasrani). Semua manusia. Artinya, martabat itu default setting kita. Tapi plot twist: “lalu Kami kembalikan ke serendah-rendahnya.” (QS. At-Tīn [95]:5). Bukan karena Tuhan berubah, tapi kita yang rusak. Ketika iman jadi identitas kosong, ketika “kebenaran” dipakai buat menghapus yang lain. Sejarah Abrahamik pun pernah jatuh di titik ini: saling klaim, saling benci, bahkan saling melukai. Perselisihan ini nyata. Lihat deh video satir dari akun aref.merhi, yang, kalau kita paham, harusnya sih nampol kesadaran kemanusiaan kita yah. Terus ada exit clause di ayat berikutnya: “kecuali yang beriman dan beramal saleh.” (QS. At-Tīn [95]:6). Iman itu bukan label, tapi relasi hidup dengan Tuhan. Amal saleh bukan sekadar ritual, tapi aksi nyata: adil, welas asih, jaga manusia dan bumi. Ini yang bikin nilai kita naik lagi. Lalu pertanyaan yang agak nyeletuk tapi dalam: “apa lagi yang bikin kamu dustakan hari pembalasan?” (QS. At-Tīn [95]:7). Hari ketika semua klaim diuji, semua luka diadili. Dan penutupnya: “Bukankah Allah seadil-adilnya hakim?” (QS. At-Tīn [95]:8). Dia nggak bias label. Yang dinilai itu hati dan perbuatan. Surat ini seperti DM dari langit: kita semua diciptakan mulia jangan jatuh karena ego kolektif. Balik ke fitrah. Iman yang hidup. Amal yang nyata. Keyakinan yang merangkul, bukan memukul. Selamat Jumatan dan selamat hari Paskah 🙏🏻 Tabik, Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen16,632 次观看 • 2 个月前

💌 Surat Cinta Gus Nadir – Peluk Hangat dalam Kata-Kata Alhamdulillah telah resmi terbit di hari Jumat yang penuh berkah, tepat saat kita menyambut bulan Ramadan—bulan cinta, bulan penuh cahaya. Buku “Surat Cinta Gus Nadir” hadir bukan sekadar sebagai bacaan, tetapi sebagai teman perjalanan spiritualmu, mengisi waktu sahur dan berbuka dengan renungan yang menenangkan hati. Buku ini bisa menjadi hadiah istimewa untuk sahabat, kekasih, atau pasangan tercinta. Bisa juga menjadi teman setia saat mudik, menyusup dalam koper dan menemani perjalananmu pulang ke pelukan keluarga. Bukan hanya untuk dibaca, setiap kalimat dalam buku ini layak diabadikan—sebagai kutipan dalam unggahanmu, sebagai cahaya yang kau sebarkan di media sosial, sebagai bisikan lembut yang menghangatkan relung jiwa. 📖 Dapatkan sekarang di seluruh marketplace resmi Bentang Pustaka! Nikmati bonus eksklusif buklet “Edisi Cinta dari Tanah Suci”, hanya dalam periode promo 28 Februari–14 Maret 2025. Pesan online di sini: Bagi yang akan berangkat umrah di Ramadan ini, biarkan buku dan buklet ini menemani langkahmu di tanah suci—merekam doa, mencatat rindu, dan menuntun hati lebih dekat kepada-Nya. “Cinta itu seperti embusan angin di malam Ramadan—tak terlihat, tapi selalu bisa dirasakan. Ia tak perlu berteriak, cukup hadir dengan kelembutan, menggetarkan jiwa yang rindu.” 🌙 Sebarkan getaran cinta ini. Jadikan Ramadan tahun ini lebih bermakna. #SuratCintaGusNadir #GusNadir #BentangPustaka #RamadanBersamaCinta #KutipanCinta #BukuNonfiksi #BukuSpiritual #SelfLove #BukuRamadan
Nadirsyah Hosen60,870 次观看 • 1 年前

Dato’ Seri Mohd Shuhaily bin Mohd Zain, seorang petinggi polisi diraja Malaysia, yang menjabat sebagai Ketua Pengarah Agensi Kawalan dan Perlindungan Sempadan Malaysia (AKPS), mengakhiri pidatonya bukan dengan pantun tapi dengan membaca tulisan saya soal Alif Lam Mim. Demikian seorang sahabat di Malaysia memberitahu saya. Tentu sebuah kehormatan bagaimana postingan saya di medsos menyebar sampai ke negeri jiran. Ini artinya polisi di sana memang gemar membaca artikel bermutu untuk meningkatkan pemahaman dan wawasannya. Semoga postingan-postingan saya juga dibaca oleh para petinggi polisi kita juga yah biar ikutan ngaji di medsos sama saya 🙏🏻😊 Tabik, Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen44,824 次观看 • 11 个月前

Jurang Gaji: Ketidakadilan yang Kita Ciptakan Sendiri Di Australia, seorang satpam atau teller bank mungkin hanya berjarak sepuluh hingga dua puluh kali lipat dari gaji bos mereka. Angka ini besar, tetapi pekerja kecil masih bisa hidup layak—membayar sewa, menyekolahkan anak, bahkan berlibur sederhana. Struktur gaji memang menegaskan hierarki, namun tidak merampas martabat orang kecil. Sebaliknya, di Indonesia, jurang itu bisa ratusan kali lipat. Satpam menerima Rp4 juta sebulan, sementara direktur di perusahaan besar bisa mengantongi Rp1–2 miliar. Mereka bekerja di gedung yang sama, tetapi satu bergelut dengan cicilan motor, satu sibuk dengan investasi luar negeri. Jurang ini bukan sekadar angka; ia adalah potret distribusi kesejahteraan yang timpang. Di Australia, meski CEO bisa 50 kali lipat gaji karyawan, sistem pajak progresif dan jaring sosial membuat yang bawah tetap bertahan. Di Indonesia, kenaikan harga beras atau listrik bisa langsung menjerat jutaan pekerja kecil, sementara eksekutif nyaris tak terganggu. Yang perlu disadari: ketidakadilan ini bukan takdir. Perusahaan yang memilih memberi bonus miliaran kepada segelintir orang, pemerintah yang menetapkan upah minimum jauh dari biaya hidup, serikat pekerja yang lemah. Kita sendiri yang membuat sistem ini. Kesenjangan sosial itu salah satunya tercipta dari gap dalam sistem penggajian kita. Itu sebabnya rakyat terluka setiap ada berita bagi-bagi jabatan timses di BUMN, rangkap jabatan, atau kenaikan gaji dan tunjangan DPR. Padahal Al-Qur’an telah mengingatkan: “…agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian” (QS. Al-Ḥasyr [59]: 7). Langkah Pemerintah untuk menghapus tantiem sudah tepat. Tapi tinjau ulang juga tunjangan & fasilitas berlebihan, dana taktis pejabat, dan ketimpangan struktur gaji yang sampai 300 kali lipat itu. Inilah ujian untuk benar-benar mengamalkan sila kelima Pancasila. Mudah dituliskan, tetapi butuh komitmen dan keberanian seorang pemimpin untuk memperbaikinya, bukan? Tabik, Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen39,664 次观看 • 9 个月前

Panutan Kita sering mengidolakan seseorang sebagai panutan. Tetapi ketika satu tindakannya tidak sesuai harapan, kita langsung meradang, seolah keteladanan yang kita bayangkan runtuh seketika. Padahal hidup adalah soal pilihan, termasuk memilih sisi mana yang ingin kita kenang dari seseorang: pencapaiannya yang menginspirasi, atau kekurangannya yang membuatnya tampak jatuh di mata kita. Ambil contoh Diego Maradona. Kita bisa memilih mengingatnya sebagai pencipta “Gol Tangan Tuhan”, ketika ia dengan sadar melakukan kecurangan di Piala Dunia 1986. Ia merayakan kecurangan itu, wasit mengesahkannya, dan rakyat Inggris tentu punya alasan kuat untuk mengingat sisi buruk tersebut. Gol curang Maradona membuat tim Inggris tersingkir. Namun dunia lebih memilih untuk mengingat gol keduanya pada pertandingan yang sama, gol yang sering disebut sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah sepak bola. Maradona menggiring bola melewati lima atau enam pemain Inggris dengan kelincahan dan kontrol yang nyaris tak masuk akal. Pada momen itu, ia tampil sebagai seorang jenius sepak bola. Satu pertandingan, dua sisi: sebuah kesalahan dan sebuah kejayaan. Lalu, yang mana yang ingin kita kenang? Mungkin yang keliru bukan Maradona, tetapi cara kita membingkai kebesaran seorang panutan. Kita kerap lupa bahwa mereka juga manusia, memiliki potensi untuk tergelincir, sekaligus kemampuan untuk bangkit dan menciptakan kebaikan. Itu sebabnya salah satu tafsir terhadap firman Allah QS Baqarah: 222 “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang terus-menerus bertaubat”—adalah bahwa Allah menyukai hamba yang pernah melakukan kesalahan, tetapi tidak berhenti kembali, yang taubatnya berulang-ulang karena ia sadar bahwa dirinya manusia yang mudah jatuh tetapi tak pernah menyerah untuk bangkit. Dengan kata lain, kebesaran itu bukan milik yang tidak pernah salah, tetapi milik mereka yang tidak berhenti memperbaiki diri.
Nadirsyah Hosen20,163 次观看 • 6 个月前

Bolehkah Pemerintah Naikkan Gaji Hakim dan Anggota DPR di Tengah Jabatan? Pertanyaan ini sering bikin rakyat geregetan: kok bisa pejabat naikin gajinya sendiri, padahal rakyatnya masih susah? Di negara demokrasi, isu ini memang sensitif. Masalah utamanya: jangan sampai kenaikan gaji berubah jadi “suap halus” untuk membeli loyalitas DPR atau hakim. Ada dua model besar. Pertama, model konstitusional. Di Amerika Serikat, Konstitusi (Pasal I Ayat 6) dan 27th Amendment mengatur bahwa kenaikan gaji Kongres baru berlaku setelah pemilu berikutnya, sehingga mencegah self-enrichment. Rakyat diberi kesempatan lebih dulu untuk menghukum mereka di bilik suara. Untuk hakim, Pasal III melarang penurunan gaji agar tetap independen, tapi kenaikan sah untuk memperkuat posisi mereka. Kedua, model komisi independen. Australia punya Remuneration Tribunal untuk menentukan gaji parlemen dan hakim. Inggris memakai Independent Parliamentary Standards Authority (IPSA) dan Judicial Salaries Review Body. Jadi politisi tak bisa seenaknya menaikkan gaji sendiri. Indonesia agak unik. Gaji pokok DPR diatur lewat undang-undang, tapi tunjangan cukup lewat Peraturan Presiden. Inilah celah yang bikin kenaikan bisa terjadi di tengah periode, yang langsung menuai kritik publik. Untuk hakim pun mirip: gaji lewat UU, tapi tunjangan bisa dinaikkan eksekutif—menimbulkan kesan pemerintah berusaha “mengamankan” putusan. Kasus nyata menunjukkan jurang antara aturan dan rasa keadilan rakyat. Di Inggris, kenaikan gaji sah secara prosedur, tapi publik marah karena waktunya pasca skandal biaya. Di Indonesia, hampir setiap kenaikan tunjangan DPR dianggap bukti elite tak peka pada penderitaan rakyat. Di AS, publik lebih tenang karena aturan konstitusional kenaikan gaji tak bisa dinikmati anggota Kongres periode saat ini. Kesimpulannya, menaikkan gaji di tengah jabatan tidak otomatis ilegal. Tapi secara etika politik, waktunya sangat menentukan. Jika dilakukan saat pemerintah butuh suara DPR atau sedang menghadapi perkara besar di pengadilan, publik wajar menilainya sebagai political bribery by salary. Akhirnya fungsi pengawasan DPR dan penegakan hukum Pengadilan bisa dpertanyakan. Tabik, Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen16,589 次观看 • 9 个月前

Petarung, Bukan Pewaris Zaman sekarang, istilah “privilege” sering dilempar buat ngecilin orang lain. Padahal, nggak semua sukses datang dari warisan keluarga; banyak yang lahir dari luka dalam dan perjuangan panjang yang bikin capek jiwa raga. Beasiswa ke luar negeri, artikel di Oxford-Cambridge, dua PhD, sampe jadi dosen tetap di kampus top dunia—semua itu bukan gara-gara nama abah saya lho. Mereka bahkan nggak kenal siapa abah saya. Di dunia akademik global, yang dihargai cuma merit, kerja keras, dan integritas. Titik. Saya lahir dari keluarga Kiai, ya. Tapi realita alam: yang belajar serius dan gigih pasti maju, entah santri biasa, Gus, Ning, atau siapa pun. Man jadda wa jada. Yang males? Ya stuck aja. Beasiswa saya? Bukan titipan Kemenag atau lobi-lobi gelap. Saya perang mati-matian, jatuh bangun, baru bisa dapet beasiswa S3 langsung dari kampus Australia dan Singapura. Saingannya? Calon dari seluruh dunia, bukan cuma lokal. Saya nggak nolak privilege—itu ada, dan harus diakui biar kita sadar ketimpangan sosial. Tapi pake itu buat ngebasmi perjuangan orang lain? Itu iri buta dan buruk sangka banget, mas bro! Kunci sukses itu, pertama, kerendahan hati buat terus belajar meski udah tahu banyak, dan, kedua, keteguhan buat nggak nyerah walau pintu dunia keliatan nutup rapet. Dua hal ini nggak bisa diwarisin, harus dibangun sendiri cuy 🤣 Saya ini petarung tulen, bukan pewaris. Anda? Tukang nyinyir? Komentar-komentar merendahkan, bahkan melecehkan, seolah bilang: “Santri? Kolot, kampungan, mana bisa tembus internasional. Kalo ada yang sukses, pasti anomali doang—atau karena lo Gus dengan jalur VIP.” Mereka nggak tahu: banyak santri biasa (bukan Gus/Ning) lagi ngajar di Jerman, Amerika, Belgia, Kanada, Jepang, dst. Belum lagi ratusan santri yang rebut PhD lewat beasiswa dengan susah payah. Kebencian dan kurang wawasan lo jangan dipamerkan di depan umum. Lo lagi ngejek akal sehat lo sendiri, lho 😏 Santri-santri, ayo gaspol maju dengan senyum dan doa. Balas caci maki dengan prestasi nyata 👍👏 Tabik, Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen13,910 次观看 • 7 个月前

Treat Culture: Bahagia Versi Generasi Lelah Pernahkah kamu merasa hidup terlalu serius, lalu tiba-tiba masuk ke kafe mahal, memesan latte dan croissant hanya untuk merayakan “hidup”? Nah, di situlah treat culture lahir. Sebuah tren yang diawali Gen Z dan kini menjalar ke semua usia — merayakan momen kecil lewat indulgensi sederhana: kopi enak, kue lucu, lip balm baru, atau sekadar menonton tiktok live shopping. Ini bukan sekadar impuls belanja, tapi cara memberi jeda bagi diri di tengah tekanan hidup. Fenomena ini punya akar panjang. Dalam serial Parks and Recreation (2011), ada episode legendaris “Treat Yo Self” — dua tokoh memanjakan diri seharian dengan barang-barang mewah kecil. Gen Z menjadikannya kebiasaan harian, terutama setelah pandemi. Di dunia yang tak pasti — ekonomi goyah, perubahan iklim, masa depan suram — mereka memilih mencari kebahagiaan kecil sekarang, bukan nanti. Sebuah investasi untuk diri sendiri. Secara psikologis, ini mekanisme bertahan hidup yang manis sekaligus berisiko. Di era digital serba cepat, dopamin datang dari “klik beli sekarang”. Ada pula lipstick effect — saat krisis, orang mengganti kemewahan besar dengan yang kecil agar tetap merasa berdaya. Tak heran, survei Bank of America (2025) mencatat 57% Gen Z membeli “treat” tiap minggu, walau 60% sadar mereka overbudget. Namun di baliknya ada paradoks. Treat bisa menjadi bentuk self-care, tapi juga pelarian. Ia memberi kendali sesaat, tapi tak menyentuh akar kelelahan. Maka nikmati, tapi sadari. Jadikan treat sebagai jeda, bukan pelarian. Islam pun mengajarkan keseimbangan. Allah berfirman: “Carilah dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) akhirat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari dunia.” (QS al-Qashash [28]:77) Ayat ini seolah berbisik lembut: boleh menikmati dunia, asal tidak melupakan arah. Semua pencapaian layak untuk dirayakan. Semua hal-hal kecil bisa jadi cara kita memvalidasi hidup. Semua rasa lelah, bahkan yang tak terlihat, pantas mendapat penghargaan — asal tidak membuat kita lupa pada siapa sumber segala nikmat. Tabik, Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen13,212 次观看 • 8 个月前

Penjarahan itu haram Kita memahami kemarahan rakyat atas arogansi sejumlah pejabat negara, namun properti, harta dan penjarahan yang dilakukan sebagian pihak itu tidak dapat dibenarkan dalam kacamata hukum Islam. Sebagian dari mereka di medsos beralasan ini adalah harta fa’i atau ghanimah pampasan perang, sehingga dibenarkan. Ini jelas ngawur. Harta musuh yang masuk ke tangan kaum Muslimin tanpa peperangan, misalnya karena musuh menyerah, lari meninggalkan harta, atau melalui perjanjian damai, itu disebut fa’i. Tapi harta fa’i tidak dibagikan ke tentara, melainkan masuk baitul mal. Distribusinya untuk kepentingan umum bukan pribadi. Ghanimah hanya berlaku dalam perang syar‘i melawan musuh dan dibagikan oleh otoritas yang sah. Jarahan dari sesama warga itu bukan pampasan perang. Yang tepat jadi bagaimana? Kitab Fatḥ al-Bārī (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, cet. 1379 H), Juz 12 hlm. 84–85 menjelaskan قوله (عن النَّهْبَةِ) النَّهْبَةُ: أَخْذُ المالِ جَهْرًا بغيرِ إذنٍ، وهو حرامٌ بإجماعِ المسلمين. قال ابن عبد البر: النَّهْبَةُ عند جميع العلماء لا تجوز، قليلاً كان أو كثيرًا. وقال النووي: وأجمعوا على أن النَّهْبَةَ من الكبائر Sabda Nabi ‘larangan dari nahbah’: nahbah adalah mengambil harta secara terang-terangan tanpa izin. Hukumnya haram berdasarkan ijma‘ kaum Muslimin.” Ibn ‘Abd al-Barr berkata: “Nahbah menurut seluruh ulama tidak boleh, baik sedikit maupun banyak.” Imam al-Nawawī berkata: “Mereka sepakat bahwa nahbah termasuk dosa besar.” Jadi jelas yah: Barang siapa mengambil harta orang lain pada masa kekacauan atau kerusuhan, maka ia wajib mengembalikannya melalui pihak yang berwenang. Marah dan berunjuk rasa dengan pejabat boleh, tapi merusak dan menjarah properti dan harta mereka di luar aturan hukum itu jelas tindakan kriminal. Jangan yah kawan-kawan. Jangan diteruskan. Jangan dinormalisasi. Mari kembalikan harta yang dijarah itu. Gak berkah… Tabik, Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen12,497 次观看 • 9 个月前

Rasa Sakit Rasa sakit tidak selalu berupa luka di tubuh. Kadang ia hadir lebih halus, lebih menusuk, karena merenggut sesuatu yang kita cintai. Jon Bongiovi, vokalis Bon Jovi, merasakannya ketika suara emasnya perlahan melemah. Nada tinggi yang dulu ia panjat dengan gagah kini terasa berat, bahkan mustahil. Kabarnya karena tahunan menyanyi dengan teknik keliru. Namun ia tak berhenti. Ia beradaptasi, mengubah aransemen, membiarkan band-nya tumbuh bersama keterbatasannya. Kuncinya: berdamai dan beradaptasi. Whitney Houston pernah menjadi lambang keindahan suara. Namun menjelang akhir hidupnya, ia ditinggalkan penonton kecewa karena suaranya porak-poranda. Penyebabnya bukan sekadar waktu, melainkan jeratan drugs yang merusak. Dari Whitney kita belajar pahitnya kenyataan: anugerah sehebat apa pun bisa runtuh bila tak dijaga. Ini adalah luka yang lahir dari tangan sendiri. WS Rendra, sang Burung Merak, menghadapi rasa sakit lain. Ia berkata bahwa yang hilang darinya bukan tenaga atau suara, melainkan rasa keindahan. Bayangkan, seorang penyair yang tak lagi mampu merasakan indahnya kata-kata. Itu lebih pedih dari sekadar demam. Ia pulih setelah meneguk air putih yang difatehahi. Dari Rendra kita belajar: ada sakit yang hanya bisa disembuhkan oleh doa, oleh keyakinan, oleh hubungan dengan Yang Maha Indah. Rasa sakit punya wajah beragam. Ada yang lahir dari tubuh, ada dari kelalaian, ada dari jiwa yang kehilangan arah. Namun semua sakit punya benang merah: mengingatkan kita akan rapuhnya manusia, dan betapa berharganya anugerah yang masih kita miliki. Jangan remehkan apa yang ada pada diri hari ini. Do not underestimate what you already have. Semuanya bisa hilang dalam sekejap. Yang tak boleh hilang adalah rasa syukur. اللَّهُمَّ اشْفِ صُدُوْرَنَا مِنْ كُلِّ وَجَعٍ، وَأَلْهِمْ قُلُوْبَنَا صَبْرًا جَمِيْلًا، وَارْزُقْنَا شُكْرَ النِّعْمَةِ قَبْلَ أَنْ تَزُوْلَ. Ya Allah, sembuhkanlah dada kami dari segala sakit, ilhamkanlah hati kami dengan kesabaran indah, dan anugerahkanlah kami rasa syukur sebelum nikmat itu Engkau cabut. Tabik, Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen11,855 次观看 • 9 个月前

Ketika Allah yang Mencari “Akulah para pencari-Mu, ya Allah” — lirik lagu Ungu itu menggema di hati banyak orang. Betapa indah membayangkan diri sebagai musafir yang berjalan di padang luas kehidupan, menelusuri jejak menuju Sang Kekasih. Kita memohon, kita mengetuk, kita berlari, berharap menemukan Dia di balik kabut takdir. Namun, pernahkah kita merenung bahwa ada kisah yang lebih dahsyat dari sekadar manusia mencari Tuhan? Bahwa ada hamba-hamba tertentu yang justru Allah-lah yang mencari mereka. Para pecinta biasanya mencari yang dicinta, tapi dalam cinta Ilahi, terkadang Sang Kekasih yang lebih dahulu mendekat, mengetuk hati, dan menyingkap tabir rahasia. Ibn ‘Aṭā’illāh as-Sakandarī mengajarkan, إِذَا فَتَحَ لَكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلَا تُبَالِ مَعَهَا أَنْ قَلَّ عَمَلُكَ، فَإِنَّهُ مَا فَتَحَهَا لَكَ إِلَّا وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يَتَعَرَّفَ إِلَيْكَ Jika Allah membukakan bagimu satu jalan untuk mengenal-Nya, maka janganlah resah jika amalmu terasa sedikit. Sebab, Dia tidak membukanya kecuali karena Dia ingin memperkenalkan diri-Nya kepadamu Kalimat ini mengguncang kesadaran. Betapa sering kita mengukur hubungan dengan Allah lewat hitungan amal, jumlah rakaat, panjang wirid, atau banyaknya sedekah. Padahal, di balik segala hitungan itu, ada satu rahmat agung yang tidak pernah bisa kita pesan atau rencanakan: dibukanya pintu ma‘rifat. Itu adalah undangan langsung dari-Nya. Bukan hasil tawar-menawar, bukan sekadar upah dari jerih payah. Ada hamba yang tak menonjol di mata manusia, amalnya sederhana, doanya lirih, tapi hatinya tiba-tiba tercerahkan — karena Allah ingin dikenal olehnya. Maka, jika suatu hari dada terasa lapang saat mengingat-Nya, air mata menetes tanpa sebab ketika nama-Nya disebut, atau hati tenang meski dunia berguncang, ketahuilah: itu bukan kebetulan. Itu tanda Dia sedang mendekat. Itu pesan cinta yang dibisikkan ke relung jiwa: Aku mencarimu Dan di titik itu, kita belajar bahwa perjalanan menuju Allah bukan hanya soal kaki yang melangkah, tapi hati yang dijemput. Bukan hanya soal kita mencari, tapi soal merasakan ketika Dia sendiri yang mendatangi Allah Karim 🙏🏻 Tabik, Nadirsyah Hosen
Nadirsyah Hosen11,371 次观看 • 10 个月前
没有更多内容可加载