Salim A. Fillah's banner
Salim A. Fillah's profile picture

Salim A. Fillah

@salimafillah • 582,144 subscribers

Pengharap ampunan Allah, pendamba syafa'at Nabi ﷺ, pencinta para shalihin. @proumedia @sahabatalaqsha @JejakNabi @JejakImani. CP: +6281328086636

Shorts

Ahlan wa Sahlan, sugeng rawuh di Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu, Mas Anies Rasyid Baswedan. Terimakasih berkenan berbagi inspirasi bersama para santri di pelosok ini.

Ahlan wa Sahlan, sugeng rawuh di Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu, Mas Anies Rasyid Baswedan. Terimakasih berkenan berbagi inspirasi bersama para santri di pelosok ini.

144,230 views

Layanan baru di Masjid Masjid Jogokariyan Yogyakarta. Antar jemput para lansia yang masih sangat bersemangat shalat berjama'ah ke Masjid dengan kendaraan listrik. Semoga menjadi keberkahan berlimpah. Rumah Allah menyambut ramah semua tamunya...

Layanan baru di Masjid Masjid Jogokariyan Yogyakarta. Antar jemput para lansia yang masih sangat bersemangat shalat berjama'ah ke Masjid dengan kendaraan listrik. Semoga menjadi keberkahan berlimpah. Rumah Allah menyambut ramah semua tamunya...

218,277 views

Hanya punya satu durian yang tersisa, dan ia memberikan ke kami. Semoga Allah membalas dengan banyak kebaikan. Cepat pulih, cepat bangkit Gayo dan Aceh.

Hanya punya satu durian yang tersisa, dan ia memberikan ke kami. Semoga Allah membalas dengan banyak kebaikan. Cepat pulih, cepat bangkit Gayo dan Aceh.

69,816 views

KOPI TUNGKU by KOPI MENOREH PAK ROHMAT dan JOGJA COFFEE WEEK 6 Sepuluh tahun lalu, Pak Rohmat, pemilik Kedai Kopi Menoreh di Madigondo, Sidoharjo, Kec. Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjamu kami dengan kopi istimewanya. Kopi Suroloyo, merujuk pada salah satu puncak perbukitan Menoreh, pernah disebut oleh seorang pakar kopi sebagai 'the best ever after' dari berbagai kopi yang pernah dicicipnya. Ini karena karakternya yang "fruity", baik yang berjenis Arabika, Robusta, Liberika, Excelsa, maupun Mocha, asal sangrainya tepat. Kali ini Pak Rohmat berinovasi, beliau menyajikan Kopi Tungku, diseduh dalam kendi tanah liat di atas anglo yang kebul-kebul, menciptakan sensasi istimewa. Ayo, yang belum, segera kita coba. Perjalanan 1 jam dari kota Jogja, tertebus dengan nikmat. Yang istimewa lagi, masih seperti sepuluh tahun lalu, Pak Rohmat menyajikan kopinya dengan penampin kayu yang di atasnya tersaji juadah, juadah goreng, gebleg, tempe kemul, tape goreng, ubi goreng, singkong rebus, kacang rebus, & pisang rebus. Dahsyatnya, semua dalam ukuran sak-emplok, alias sesuap habis, menjadikannya teman ngopi yang menggemaskan. Saya teringat Viennese Coffehouse yang juga masuk dalam daftar 'Warisan Dunia Tak Benda' oleh UNESCO. Kebudayaan kafe ala Austria ini dideskripsikan sebagai, "Sebuah tempat di mana ruang & waktu dikonsumsi, tapi hanya kopi yang dicantumkan dalam nota tagihan." Meja marmer, air putih, & koran adalah pelengkapnya. Dengan kue manis khas seperti Apfelstrudel atau Sachertorte, tart cokelat yang diisi selai aprikot sesekali menemani, gaya hidup berkopi ini mendunia. Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat kita harapkan juga mampu membentuk sebuah budaya kopi baru, sebagaimana telah masyhurnya Warung Kopi bermadzhab Solong semisal di Ulee Kareng, Aceh yang menyertakan timphan, bingkang, kue adee, kue bhoi, & lainnya. Para penikmat kopi yang shalih & shalihah, ketika 'budaya warung kopi' ataupun 'kafe' menjadi identik dengan buang waktu & bincang kesia-siaan bahkan dosa; penting juga kita mengembalikan kopi kepada ashalah nilainya ketika dibawa dari Dataran Tinggi Etiophia ke kota Mukha' di Yaman oleh muslimin permulaan abad ke-8. Kopi, sejak itu adalah sahabat ahli ibadah dan ahli ilmu. Ia menegakkan punggung para 'abid agar kuat berlama qiyamullail. Ia pula menyangga mata para 'ulama serta pelajar untuk mendaras kitab & berdiskusi. Nanti petang, saya akan berbincang tentang budaya ngopi ini di Jogja Coffee Week VI di Jogja Expo Center. Ayo gabung, ya!

KOPI TUNGKU by KOPI MENOREH PAK ROHMAT dan JOGJA COFFEE WEEK 6 Sepuluh tahun lalu, Pak Rohmat, pemilik Kedai Kopi Menoreh di Madigondo, Sidoharjo, Kec. Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjamu kami dengan kopi istimewanya. Kopi Suroloyo, merujuk pada salah satu puncak perbukitan Menoreh, pernah disebut oleh seorang pakar kopi sebagai 'the best ever after' dari berbagai kopi yang pernah dicicipnya. Ini karena karakternya yang "fruity", baik yang berjenis Arabika, Robusta, Liberika, Excelsa, maupun Mocha, asal sangrainya tepat. Kali ini Pak Rohmat berinovasi, beliau menyajikan Kopi Tungku, diseduh dalam kendi tanah liat di atas anglo yang kebul-kebul, menciptakan sensasi istimewa. Ayo, yang belum, segera kita coba. Perjalanan 1 jam dari kota Jogja, tertebus dengan nikmat. Yang istimewa lagi, masih seperti sepuluh tahun lalu, Pak Rohmat menyajikan kopinya dengan penampin kayu yang di atasnya tersaji juadah, juadah goreng, gebleg, tempe kemul, tape goreng, ubi goreng, singkong rebus, kacang rebus, & pisang rebus. Dahsyatnya, semua dalam ukuran sak-emplok, alias sesuap habis, menjadikannya teman ngopi yang menggemaskan. Saya teringat Viennese Coffehouse yang juga masuk dalam daftar 'Warisan Dunia Tak Benda' oleh UNESCO. Kebudayaan kafe ala Austria ini dideskripsikan sebagai, "Sebuah tempat di mana ruang & waktu dikonsumsi, tapi hanya kopi yang dicantumkan dalam nota tagihan." Meja marmer, air putih, & koran adalah pelengkapnya. Dengan kue manis khas seperti Apfelstrudel atau Sachertorte, tart cokelat yang diisi selai aprikot sesekali menemani, gaya hidup berkopi ini mendunia. Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat kita harapkan juga mampu membentuk sebuah budaya kopi baru, sebagaimana telah masyhurnya Warung Kopi bermadzhab Solong semisal di Ulee Kareng, Aceh yang menyertakan timphan, bingkang, kue adee, kue bhoi, & lainnya. Para penikmat kopi yang shalih & shalihah, ketika 'budaya warung kopi' ataupun 'kafe' menjadi identik dengan buang waktu & bincang kesia-siaan bahkan dosa; penting juga kita mengembalikan kopi kepada ashalah nilainya ketika dibawa dari Dataran Tinggi Etiophia ke kota Mukha' di Yaman oleh muslimin permulaan abad ke-8. Kopi, sejak itu adalah sahabat ahli ibadah dan ahli ilmu. Ia menegakkan punggung para 'abid agar kuat berlama qiyamullail. Ia pula menyangga mata para 'ulama serta pelajar untuk mendaras kitab & berdiskusi. Nanti petang, saya akan berbincang tentang budaya ngopi ini di Jogja Coffee Week VI di Jogja Expo Center. Ayo gabung, ya!

12,602 views

Tolong maafkan kami yang terlambat datang... Maafkan kami 😭

Tolong maafkan kami yang terlambat datang... Maafkan kami 😭

31,134 views

Ini kami Ya Rasulallah; yang rindu tapi malu, membaca shalawat dengan lidah kelu; adakah kami layak jadi ummatmu, dan beroleh syafaa’atmu? Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam pada kekasihMu, junjungan kami Muhammad ﷺ. RidhaMu atas semua sahabat; jadikan kami bersama mereka.

Ini kami Ya Rasulallah; yang rindu tapi malu, membaca shalawat dengan lidah kelu; adakah kami layak jadi ummatmu, dan beroleh syafaa’atmu? Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam pada kekasihMu, junjungan kami Muhammad ﷺ. RidhaMu atas semua sahabat; jadikan kami bersama mereka.

19,054 views

Ya Allah; jadikan sebaik-baik umur kami ialah akhirnya, sebaik-baik 'amal kami di penutupnya, sebaik-baik hari kami ialah saat menghadapMu.

Ya Allah; jadikan sebaik-baik umur kami ialah akhirnya, sebaik-baik 'amal kami di penutupnya, sebaik-baik hari kami ialah saat menghadapMu.

18,661 views

Videos

Ada yang terasa pahit dan menyesakkan dalam kalimat-kalimat Mas Uceng..
1:58

Sensitive content

This media may contain sensitive content.

Respect Sheikh تميم بن حمد
0:21

Sensitive content

This media may contain sensitive content.