Video wird geladen...

Video konnte nicht geladen werden

Zur Startseite

Ada banyak tutorial coding. Tapi banyak orang tetap stuck bangun coding career. Bukan karena malas atau gak bakat. Most of the time karena belajar tanpa arah, tanpa feedback, dan gak tahu bagian mana yang benar2 penting. Dan itulah kenapa gue bikin Panduan Coding 🧵

46,590 Aufrufe • vor 3 Monaten •via X (Twitter)

0 Kommentare

Keine Kommentare verfügbar

Kommentare vom Original-Post werden hier angezeigt

Ähnliche Videos

Ini gue setuju banget sama Jerry Arvino. Tiap ngomongin pelatih hebat, top of mind orang langsung ke nama-nama kayak Cruyff atau Guardiola di era sekarang. Pelatih dengan filosofi yang jelas, bisa dijelasin lewat papan taktik, dibedah di buku sepak bola, sampai dijadiin blueprint banyak tim modern. Seolah-olah definisi pelatih hebat cuma itu doang. Padahal ya gak juga. Sir Alex Ferguson ada di level yang sama tanpa harus dikenal sebagai pelatih yang super filosofis. Bukan berarti beliau gak ngerti taktik, tapi kekuatan terbesarnya memang bukan disitu. Ferguson hebat karena otoritas yang dia bangun hampir 30 tahun di Man United. Gak ada pemain yang boleh merasa lebih besar dari klub. Dan di era ruang ganti penuh ego besar, melakukan itu tuh luar biasa sulit. Coba lihat nama-nama yang dia handle: Cantona, Keane, Beckham, van Nistelrooy, Jaap Stam. Karakter besar semua. Tapi pada akhirnya, kontrol tetap ada di tangan Ferguson. Mourinho juga mirip. Dia bukan tipe pelatih yang identik dengan sepak bola indah atau filosofi romantis. Tapi di medio 2000-an, dia jadi sosok paling ditakuti karena ngerti kalau Ini gak cuma 90 menit di lapangan doang. Ruang pers juga medan tempur yang mesti dimenangkan. Dia ambil semua tekanan ke dirinya sendiri, ganggu mental lawan sebelum kick-off, dan lindungi pemainnya dari sorotan media. Dan buat gue, itu juga bentuk kehebatan. Dan benar yang dibilang Bang Jerry, bahwa pelatih hebat itu gak punya satu definisi baku, karena sepak bola juga gak sesederhana itu. #utdfocusid

United Focus Indonesia

76,539 Aufrufe • vor 3 Monaten

Apa itu kesetiaan? Sifat yang gak akan pernah ninggalin kamu dalam kondisi apapun. Bener banget kata itu. Tapi kadang definisi secantik itu cuma terdengar bagus di caption atau status, padahal realitanya jauh lebih berat dan lebih sederhana sekaligus lebih nyesek. Bapak itu duduk di samping ranjang istrinya di IGD, gak kemana-mana, sholat di situ juga, nungguin istrinya dengan tenang. Gak ada drama besar, gak ada kata-kata manis yang direkam, cuma kehadiran yang konstan Kesetiaan itu bukan cuma janji di depan penghulu atau di pelaminan pas ucap “saya terima nikahnya”. Itu juga bukan cuma setia secara fisik (gak selingkuh). Kesetiaan yang bener-bener dalam itu muncul pas situasi udah gak enak lagi: pas duit pas-pasan, pas salah satu sakit kronis, pas anak rewel terus, pas kerjaan lagi ancur-ancuran, pas badan udah gak sebagus dulu, pas muka udah penuh keriput dan rambut rontok. Saat itu, orang yang setia tetep milih stay. Bukan karena gak ada pilihan lain, tapi karena dia memang memilih itu setiap hari, berulang-ulang Kesetiaan itu mahal karena gak bisa dibeli, gak bisa dipaksain, dan gak selalu kelihatan hasilnya di dunia. Tapi justru karena itu, dia jadi bukti cinta yang paling murni. Bukan yang cuma muncul pas lagi happy atau pas lagi mesra di story IG, tapi yang tetep berdiri di samping ranjang pas badai dateng Semoga atmint semua dikasih kekuatan buat jadi orang yang setia, atau ketemu orang yang setia sama kita. Karena di zaman yang serba cepet ganti ini, orang yang stay pas semuanya berantakan itu langka banget. Dan itu indahnya luar biasa. 💐

Catholic 𐕣

25,062 Aufrufe • vor 6 Monaten

dari dulu heeseung selalu ngutamain orang lain dibanding dirinya sendiri. di iland tempat yang literally ngajarin dia buat egois biar survive, dia malah kebalikannya… orang lain sibuk ngepush diri sendiri, dia malah sibuk ngejagain orang lain biar gak jatuh… malah ngasih arahan, nemenin latihan, nguatin mental… kayak dia lupa kalau dia juga lagi fight buat mimpi yang sama dari pre-debut sampe sekarang, narasi tentang dia gak pernah berubah yaitu “heeseung anak baik.” terlalu baik malah… dia respect semua orang, ngerti batasan, gak pernah keliatan tinggi hati, selalu ngeapresiasi hal kecil, selalu bilang makasih, selalu nunduk walaupun dia punya alasan buat berdiri lebih tinggi tapi di balik itu semua dia keras banget sama dirinya sendiri. dia gak pernah ngasih dirinya ruang buat terbuka dan yang paling keliatan ketika dia jarang nunjukin sisi rapuhnya.. bukan karena dia gak punya, tapi karena dia gak mau jadi beban. jadi ya udah, semuanya dia simpen sendiri. padahal aslinya capek, overthinking, pressure di segala arah sedangkan yang orang lain lihat cuma versi dia yang chill, suka ngegame, banyak tidur, makan mulu… padahal realitanya? dia cuma orang yang terlalu sering jadi sandaran, sampe lupa gimana rasanya disandarin dan sekarang, pas dia mulai milih jalan yang berbeda dan memulai fokus ke dirinya sendiri…. dikit aja, orang-orang langsung mengambil kesimpulan. ada yang bilang dia berubah, ada yang bilang dia jadi egois, bahkan ada yang ngerasa dia “ninggalin” grupnya lucu aja menurut aku karena orang-orang yang sekarang nuduh dia egois itu, dulu juga yang nikmatin semua hal yang dia kasih. mereka terbiasa lihat dia selalu ada buat orang lain, sampe pas dia mundur satu langkah buat dirinya sendiri, itu dianggap salah… seolah-olah dia gak punya hak buat milih dirinya sendiri, seolah-olah semua yang dia lakuin dulu itu kewajiban. padahal kalau dipikir-pikir, ini mungkin pertama kalinya dia bener-bener ngasih dirinya ruang. pertama kalinya dia gak cuma jadi “orang baik” buat semua orang, tapi juga coba jadi manusia buat dirinya sendiri dan ironisnya, justru di titik itu dia dibilang egois. heeseung bukan berubah jadi egois. dia cuma berhenti jadi seseorang yang terus-terusan mengorbankan dirinya tanpa batas dan mungkin, buat orang-orang yang terbiasa nerima tanpa mikir, itu emang kelihatan kayak perubahan besar. padahal sebenarnya, itu cuma dia… yang akhirnya belajar untuk gak selalu jadi nomor dua dalam hidupnya sendiri aku cuma berharap ke depannya makin banyak orang yang bisa lihat heeseung bukan cuma dari surface, bukan cuma karena skill atau visual, tapi juga karena siapa dia sebagai pribadi. karena jujur, dia punya banyak hal yang layak buat diapresiasi. semoga dia selalu dikelilingi orang-orang yang baik dan support dia dengan tulus. karena orang kayak dia pantas dapet itu. semoga juga makin banyak yang notice effort dia, bukan cuma pas dia lagi bersinar banget, tapi pada saat dia berproses. semoga di fase solo kariernya heeseung bisa berjalan dengan langkah yang lebih ringan, semoga dia menemukan versi dirinya yang lebih bebas yang gak selalu harus sempurna di mata siapapun 🩷

ؘ

127,985 Aufrufe • vor 4 Monaten

Ada alasan kenapa banyak orang tidak pernah benar-benar bisa meninggalkan tribun. Karena sebagian hidup mereka tertinggal di sana. “Sleman, kota kecil kebanggaan” Bagi banyak orang, itu bukan cuma lirik chant, tapi tentang rumah yang selalu berhasil membuat rindu. Tentang kota kecil yang membesarkan begitu banyak kenangan. Tentang perjalanan menuju stadion yang rasanya tidak pernah membosankan. Tentang ribuan suara yang selalu terdengar lebih tulus ketika dinyanyikan bersama-sama. “Di sudut kaki Merapi, kutanam harapan” Dan benar, di bawah kaki Merapi ini banyak harapan tumbuh bersama PSS. Harapan dari mereka yang sejak kecil hidup bersama suara tribun. Harapan dari orang-orang yang tetap datang walau timnya jatuh berkali-kali. Karena bagi mereka, mendukung PSS bukan soal hasil akhir. Tapi soal menjaga rasa memiliki yang sudah terlalu dalam untuk ditinggalkan. “Kutuliskan tawa, tangis, dan kenangan” Sebab di tribun ini, banyak hidup pernah singgah. Ada tawa setelah kemenangan yang tak terlupakan. Ada tangis saat keadaan tidak berjalan sesuai harapan. Ada kenangan tentang orang-orang yang dulu berdiri dan bernyanyi bersama, lalu hari ini hanya bisa dikenang. Dan mungkin itu alasan kenapa chant ini selalu terasa begitu emosional, karena setiap baitnya seperti menyimpan potongan hidup banyak orang. “Di gang dan di ujung jalan, kita rayakan” Karena PSS tidak hidup cuma di stadion. Ia hidup di jalanan kota ini. Di gang-gang kecil yang penuh cerita. Di obrolan larut malam selepas pertandingan. Di setiap orang yang diam-diam menjadikan Sleman sebagai bagian dari hidupnya. Dan mungkin itu alasan kenapa banyak orang tidak pernah benar-benar bisa meninggalkan Sleman, karena sebagian hatinya sudah tinggal di tribun itu. #PSS #BCSxPSS

404Vids

10,333 Aufrufe • vor 2 Monaten