Загрузка видео...

Не удалось загрузить видео

На главную

Adangommala

72,242 просмотров • 7 месяцев назад •via X (Twitter)

Комментарии: 13

Фото профиля apdi thanda pesuven
apdi thanda pesuven7 месяцев назад

Deiii avan shooting ey poga maatraan. Ithula pakistan povana🤣🤣🤣

Фото профиля ✯Ⱨ₳Ɽł✯
✯Ⱨ₳Ɽł✯7 месяцев назад

Ultimate star Ajith Vaalga...🔥🔥😭

Фото профиля Dhanush
Dhanush7 месяцев назад

Vendhu thanindhadhu kaadu simbu looks like if javed khanani had a son like him

Фото профиля GK
GK7 месяцев назад

Ultimate Star Ajith Vaazhga 😂💥

Фото профиля The Batman
The Batman7 месяцев назад

Besttt 🔥🔥🔥

Фото профиля STR PUNK
STR PUNK7 месяцев назад

@karthiuyirae3 Shocking 😮

Фото профиля Srikanth02
Srikanth027 месяцев назад

Good

Фото профиля Manohar
Manohar7 месяцев назад

Norukkal edit 💥🙌🏾

Фото профиля Bhavani P
Bhavani P7 месяцев назад

what did I just witnesss😆😆😆

Фото профиля Shawn
Shawn7 месяцев назад

wommala 🤣🤣🤣🤣

Фото профиля Vj_Aship
Vj_Aship7 месяцев назад

0.40 😂🤣 Eley Editor ey

Фото профиля Harish M
Harish M7 месяцев назад

🤯🤯🤯🤯

Фото профиля இசை விரும்பி 🎼
இசை விரும்பி 🎼7 месяцев назад

SimbuDhar 😅

Похожие видео

LOGIKA BERBAHAYA YG DIBANGUN CICIE INA LIEM Logika berbahaya dari Cicie Ina Liem di video ini bukan di kalimat "Saya setuju Gibran mundur" nya. Itu hak dia berpendapat. Logika berbahayanya ada di framing yang dia bangun setelahnya. Dia bilang: "Supaya rakyat bisa melihat siapa dalang di balik isu ijazah ini, siapa yang bernafsu menduduki kursi wapres tanpa dipilih rakyat." Kedengarannya seperti pembelaan untuk Gibran. Padahal itu jebakan logika. Mari kita bedah: 1. Dia menciptakan musuh imajiner. Isu ijazah Gibran ini adalah isu hukum administrasi. Putusan MA soal surat keterangan itu murni soal legalitas dokumen. Tapi oleh Cici Ina Liem dibelokkan menjadi drama perebutan kekuasaan, seolah ada dalang yang mau merebut kursi wapres. 2. Dia menormalisasi penggantian konstitusional sebagai makar. Bahaya dari pernyataan ini adalah ketika benar Gibran mundur lalu ada penggantinya yang sesuai dengan aturan dan undang-undang, maka semua yang mengidolakan Cici Ina Liem ini akan menganggap dia yang melakukan makarnya. Padahal konstitusi kita sudah sangat jelas mengatur mekanisme penggantian Wapres. Itu bukan makar. Itu bukan kudeta. Itu prosedur ketatanegaraan yang sah. Tapi dengan narasi Cici Ina Liem, apapun penggantinya nanti akan otomatis dicap sebagai "si bernafsu yang merebut kursi tanpa dipilih rakyat". 3. Dia membangun kultus pahlawan palsu. Jika nanti Gibran tetap bertahan, dia akan bilang "lihat, berkat kita yang membela". Jika Gibran mundur dan diganti secara sah oleh MPR, dia dan pengikutnya akan bilang "lihat, terbukti ada makar seperti yang saya bilang". Dalam dua skenario itu, Cici Ina Liem selalu menang. Ini logika yang tidak bisa kalah, karena dia sudah menempatkan dirinya sebagai peramal kebenaran. Padahal yang dia lakukan adalah meracuni nalar publik. Dia mengubah persoalan hukum soal PKPU Pasal 18 ayat 3 dan keabsahan surat keterangan menjadi sinetron politik tentang perebutan kekuasaan. Pertanyaan terakhirnya "apa enggak malu gagal mendapatkan mandat rakyat tapi berharap bisa berkuasa lewat gugatan administratif" justru berbalik kepada dirinya sendiri. Karena justru dialah yang sedang mencoba mempertahankan kekuasaan lewat penggiringan opini, bukan lewat adu argumentasi hukum. Ini bukan pembelaan terhadap Gibran. Ini adalah upaya membangun legasi seolah-olah dialah pembela demokrasi, padahal yang dia lakukan adalah membuat rakyat curiga kepada mekanisme konstitusionalnya sendiri.

𝕸𝖔𝖓𝖎𝖈𝖆 ᴼᶠᶠⁱᶜⁱᵃˡ

37,439 просмотров • 1 день назад