Загрузка видео...

Не удалось загрузить видео

На главную

Ajiiiib.....

13,231 просмотров • 1 год назад •via X (Twitter)

Комментарии: 16

Фото профиля Toufik Imtikhani
Toufik Imtikhani1 год назад

Membumikan " nusantara" Quran. Jadi terasa menjadi bgan inheren diri kita.

Фото профиля Solar Heavy
Solar Heavy1 год назад

this one is such a vibe

Фото профиля Cak Nas Modin
Cak Nas Modin1 год назад

Ayo tebak, ini athiril berapa?

Фото профиля IG: Pak Dhe Moel🇮🇩🇮🇩(Akun Lawas)
IG: Pak Dhe Moel🇮🇩🇮🇩(Akun Lawas)1 год назад

👍🙏

Фото профиля zaini
zaini1 год назад

🤩🤩

Фото профиля RIZAL___ not BuzzeRp. I AM A FREE MAN 🇯🇴
RIZAL___ not BuzzeRp. I AM A FREE MAN 🇯🇴1 год назад

Nggak masalah mau langgam apapun yang penting tak ada dalam pembacaannya di tempat saya juga sering di lakukan pembacaan deba dalam langgam daerah saya sejak dari dulu

Фото профиля Hanamichi sakuragi
Hanamichi sakuragi1 год назад

enak dengarnya 🙏🏼

Фото профиля Elis_Elis
Elis_Elis1 год назад

Saya Kristen, tp suka denger ibu itu baca qur'an dgn langgam daerah 🥰

Фото профиля 𝕸 𝕸𝖆𝖘𝖆𝖇𝖎 🇮🇩
𝕸 𝕸𝖆𝖘𝖆𝖇𝖎 🇮🇩1 год назад

Asyik... tapi saya gak bisa, maklum biasa baca cepet kayak orang kebelet sih 🤣

Фото профиля kang waqfi
kang waqfi1 год назад

Sami gus ...

Фото профиля Dullah NUsantara
Dullah NUsantara1 год назад

Ibu nya keren… 😍

Фото профиля arifin as (cak ipin)
arifin as (cak ipin)1 год назад

Mantap

Фото профиля Toni wardana
Toni wardana1 год назад

Alhamdulillah ..alhamdulillah taseh wonten , mirengaken saget ayem ten manah 😊👍👍👏👏

Фото профиля Mrplenton
Mrplenton1 год назад

Gak bikin tenang

Фото профиля Ratri Seto Respati
Ratri Seto Respati1 год назад

katanya sebaiknya menutup aurat. lha koq si ibu malah diumbar.

Фото профиля bensin eceran
bensin eceran1 год назад

Lah jadi kaya orang ngidung😂😂

Похожие видео

Rabu, 28 Januari 2026, lahan garapan petani seluas 83 hektare di Desa Padang Halaban, Kecamatan Aek Kuo, Kabupaten Labuhanbatu Utara, dieksekusi secara paksa. Ratusan aparat bersenjata lengkap diterjunkan untuk mengawal kepentingan sebuah korporasi, sementara rumah dan tanaman warga diratakan alat berat. Sejak pagi, ribuan warga datang menyaksikan apa yang mereka sebut sebagai “penggusuran legal”. Belasan eskavator milik perusahaan bekerja tanpa jeda, merobohkan rumah kayu, kebun pangan, dan tanaman produktif milik kelompok tani KTPH-S. Dalam hitungan jam, ruang hidup petani lenyap—tanpa kompensasi yang jelas, tanpa kepastian masa depan. Aparat Negara vs Rakyatnya Sendiri Eksekusi dikawal personel gabungan dari Polda Sumatera Utara, Polres, Polsek, Brimob, Polwan, hingga Satpol PP Pemerintah Kabupaten Labura. Kekuatan negara dikerahkan secara masif, bukan untuk melindungi warga, melainkan memastikan proses penggusuran berjalan mulus. Akibatnya, sedikitnya enam warga dilaporkan diamankan aparat. Sejumlah lansia tumbang akibat trauma. Anak-anak menangis histeris menyaksikan rumah dan tempat bermain mereka hancur. Ambulans mondar-mandir mengangkut korban pingsan. Seorang nenek berlutut di hadapan Kapolres Labuhanbatu, memohon agar rumah dan tanaman tidak dihancurkan. “Biarlah kami bongkar sendiri, supaya sisa bangunannya bisa kami pakai,” pintanya dengan suara gemetar. Permohonan itu tak menghentikan kerja alat berat. Menang Tanpa Kepastian Hukum Eksekusi ini dimenangkan oleh PT Smart. Namun kemenangan tersebut berdiri di atas dasar hukum yang dipertanyakan. Sejumlah pihak menyebut Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan belum sepenuhnya jelas. Ironisnya, di lokasi eksekusi terpampang spanduk bertuliskan: “Tanah Ini Milik Negara Eks HGU PT Smart yang Dikuasai Rakyat sebagai Lokasi Reforma Agraria – Pansus DPR RI.” Tulisan itu justru menegaskan konflik mendasar: jika lahan tersebut merupakan eks HGU dan masuk agenda reforma agraria, mengapa negara justru berdiri di belakang korporasi? Ketika dimintai penjelasan, Kapolres Labuhanbatu AKBP Wahyu Endrajaya menolak memberikan keterangan substansial.

Never

886,291 просмотров • 9 месяцев назад