Загрузка видео...

Не удалось загрузить видео

На главную

Astagfirullahaladzim

666,196 просмотров • 2 лет назад •via X (Twitter)

Комментарии: 0

Нет доступных комментариев

Здесь появятся комментарии из оригинального поста

Похожие видео

Kalau orang Batak sudah bilang begini Apalagi Batak satu ini sungguh tidak kaleng kaleng Pakar Teknologi Digital kelas Internasional Jadi kita ikut saja apa kata si Abang Rismon Rismon Hasiholan Sianipar ini atas hasil risetnya. Apalagi tambah pakar Telematika mas Doktor KRMT Roy Suryo Saya menambahi dari analisis berdasar domain Kedokteran Anatomi Fisiologi dan Behavior Neuroscience Epidemiologi. Jadi saya kebagian menganalisis jarak antar mata, tulang hidung, gigi, rahang, telinga, miopia kacamata, dan garis kumis, dan tentu saja perilaku psikopatologinya. Satu lagi dalam Ilmu saya, ada namanya Gene -Environment Interaction Jadi jika behavior atau perilaku seorang Pemimpin itu mencerminkan kepengecutan, kebiasaan berbohong kronis atau Mythomania, maka jika tidak segera dihentikan, masyarakat banyak akan mengikuti perilaku tersebut, dan cacat moral seperti ini akan menghancurkan bangsa di kemudian harim Apa jadinya, jika negara ini dibangun atas dasar kebohongan pemimpin yang kemudian menerus kepada rakyatnya, yang membuat rakyatnya menerima kebohongan sebagai hal yang oke oke saja bahkan menjadi sebuah nilai baru? Negara ini akan hancur tak bersisa! Inilah yang membuat kita terus bicara kebenaran. Karena rasa cinta kita kepada bangsa dan negara ini! Horas! Kata orang Batak. Monggo sami kita mlampah majeng kanthi leres! Kata orang Jawa, hehehe. Kelamaan kan kalo orang Jawa yang pimpin. Dah lah orang Batak ini saja. Senang banget punya sahabat baru kayak dia ini. Yang sekali maju pantang surut kembali!

Dokter Tifa

199,490 просмотров • 1 год назад

Renungan dr Tifa BANJIR SUMATERA: KETIKA ALAM MENJADI SAKSI BISU KEJAHATAN 10 TAHUN Bismillahirrahmanirrahim Sebagai dokter, aku memandang Sumatera hari ini seperti pasien yang tubuhnya membiru dan membengkak, karena dipaksa menanggung beban bertahun-tahun. Bagiku, banjir yang terjadi bukan sekadar banjir. Ini adalah Edema Ekologis, pembengkakan yang lahir dari kebijakan rezim 10 tahun, yang memukul jantung pulau ini dan merusak ginjalnya tanpa pernah merasa bersalah. Ketika air naik, menghasilkan kolam-kolam raksasa yang membenamkan desa demi desa, menenggelamkan sebagian penduduknya, aku melihat sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar genangan. Aku melihat jejak tangan kekuasaan. Karena banjir tidak datang dari langit begitu saja. Ia datang dari tanah yang dilukai dengan sengaja. Dalam satu dekade lalu, Sumatera diperlakukan seperti papan operasi dengan pasien tanpa anestesi: hutan dibelah, bukit dibongkar, izin diteken tanpa informed consent. Setiap hektare yang hilang bukan hanya angka statistik; ia adalah hilangnya kemampuan bumi untuk menahan air, menyaring bencana, menjaga nyawa. Aku mengatakan ini sebagai seorang dokter: Jika organ vital dirusak bertahun-tahun, jangan salahkan tubuh ketika akhirnya kolaps. Dan kolaps itulah yang terjadi. Multi organ damage. Kerusakan banyak organ. Rezim dulu bicara tentang investasi, pembangunan, dan “masa depan Indonesia”. Tapi di balik kalimat manis itu, rakyat hari ini berdiri di depan rumah yang tenggelam sambil bertanya: “Sebelumnya kami punya hutan. Sekarang kami hanya punya banjir. Apa ini yang namanya kemajuan?” Sumatera menangis bukan karena hujan, tapi karena pengkhianatan. Pengkhianatan yang terjadi ketika: hutan dibuka demi konglomerat, sungai disempitkan demi proyek cepat jadi, tambang dibiarkan menggali sampai bumi menganga, perkebunan sawit dihamparkan tanpa memikirkan daya tampung DAS, dan setiap kritik dibungkam dengan kalimat klasik: “ini pembangunan.” Lalu ketika bencana datang, rezim lalu dengan mudah berkata: “Ini alam. Ini cuaca ekstrem.” Tidak. Ini bukan cuaca ekstrem. Ini adalah keserakahan ekstrem. Ini bukan musibah semesta. Ini adalah kerakusan yang merajalela. Banjir hari ini sedang mengungkap apa yang dulu ditutup rapat oleh kekuasaan. Banjir sedang berbicara dengan bahasa yang tidak bisa disensor: bahwa Sumatera telah dicabik-cabik demi ambisi politik, demi kepentingan modal, demi citra penguasa yang dibangun di atas tanah yang perlahan mati. Aku tidak pernah melihat banjir semasif ini tanpa melihat sekaligus peta kebijakan rezim sebelumnya. Dan dari peta itu, aku hanya melihat satu hal: Rezim lalu mengizinkan bumi dirusak sampai ia tak mampu lagi menolak. Sekarang harga yang harus dibayar adalah: rumah hilang, ladang hanyut, Penduduk mengungsi, nyawa melayang. Dan semua itu lahir dari tangan pejabat yang dulu begitu mudah memberikan izin, seperti menandatangani kuitansi, tanpa pernah mau melihat bahwa di baliknya ada jutaan manusia yang akan menanggung akibat. Banjir Sumatera adalah amputasi terakhir dari tubuh ekologis yang telah disiksa terlalu lama. Dan kita—rakyat—dipaksa menjadi saksi. Saksi yang tahu bahwa banjir ini tidak datang sendiri. Ia lahir dari kebijakan yang salah, dari keserakahan yang dilegalkan, dari penguasa yang lebih mencintai pencitraan daripada tanah airnya sendiri. Kali ini sejarah mencatat: bencana ini bukan sekadar bencana. Ia adalah vonis alam terhadap rezim yang telah menggali lubang bagi rakyatnya sendiri. Semoga Presiden Prabowo Subianto bisa menghentikan semua kejahatan ini, dan memberikan solusi cepat bagi rakyat Sumatera. Amiin. Hasbunallah wani'mal wakil, nikmal maula wani'man nashiir. La haula wala quwwata ila billah. Salam takzim dr Tifauzia Tyassuma,

Dokter Tifa

56,782 просмотров • 6 месяцев назад

lewaaaatttt
0:57

Sensitive content

lewaaaatttt

pengen jadi sapi

66,422 просмотров • 23 дней назад