Загрузка видео...

Не удалось загрузить видео

На главную

Banjir bandang menghantam Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh pada 24-26 November 2025. Ada satu pemandangan unik: kayu gelondongan ikut terbawa arus banjir. Apakah hujan deras merupakan satu-satunya sebab banjir bandang ini terjadi? Temuan Forest Watch Indonesia menyebut deforestasi yang kian masif, turut berperan menjadi penyebab bencana. Geser slide-nya...

141,631 просмотров • 8 месяцев назад •via X (Twitter)

Комментарии: 0

Нет доступных комментариев

Здесь появятся комментарии из оригинального поста

Похожие видео

Mensesnag Akui Pemerintah Tolak Bantuan Bencana Alam dari Negara Asing: Kita Masih Mampu Bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia turut menjadi perhatian dunia. Bahkan, Indonesia mendapatkan banyak tawaran bantuan dari negara lain terkait bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera. Namun, pemerintah belum menerima bantuan asing tersebut karena mengaku masih sanggup mengatasinya. Hal itu disampaikan oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, kepada awak media di Jakarta, Rabu (3/12/2025). Prasetyo Hadi awalnya mengucapkan terima kasih kepada negara-negara sahabat yang menaruh keprihatinan dan bahkan menawarkan bantuan kepada Indonesia. Namun, ia menyebut pemerintah masih mampu mengatasi bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera yang berdampak kepada 3,3 juta jiwa. "Untuk sementara ini belum, meskipun kami juga mewakili Pemerintah Republik Indonesia menyampaikan terima kasih karena banyak sekali atensi dari negara-negara sahabat. Baik yang mengucapkan keprihatinan maupun yang ingin memberikan bantuan kami ucapkan terima kasih. Namun demikian, kami merasa bahwa pemerintah dalam hal ini, kita semua, masih sanggup untuk mengatasi seluruh permasalahan yang kita hadapi," ujar Prasetyo. Prasetyo Hadi pun menambahkan bahwa Indonesia memiliki stok pangan serta BBM yang cukup. Hal itu membuat pemerintah merasa belum perlu menerima bantuan asing. "Dari sisi pangan, alhamdulillah kita punya stok yang cukup. Kami juga intens berkoordinasi dengan Pertamina untuk memastikan pasokan BBM segera terdistribusi ke seluruh wilayah, termasuk harus menggunakan cara-cara yang mungkin tidak normal, ya. BBM kita usahakan bisa dilakukan dropping dari udara karena memang menyesuaikan dengan kondisi bencana yang kita hadapi di lapangan," papar Prasetyo Hadi. Meski begitu, Indonesia tidak menutup kemungkinan untuk menerima bantuan dari negara lain. Prasetyo Hadi menyebut pemerintah akan mempertimbangkan hal tersebut jika memang diperlukan. "Ya, nanti kita lihatlah, kalau pada waktunya kita memerlukan, kita akan menerima bantuan asing," pungkas Prasetyo Hadi. (ist) #BanjirBandang #TanahLongsor #Aceh #SumateraUtara #SumateraBarat

Tribunnews.com

19,403 просмотров • 8 месяцев назад

Renungan dr Tifa BANJIR SUMATERA: KETIKA ALAM MENJADI SAKSI BISU KEJAHATAN 10 TAHUN Bismillahirrahmanirrahim Sebagai dokter, aku memandang Sumatera hari ini seperti pasien yang tubuhnya membiru dan membengkak, karena dipaksa menanggung beban bertahun-tahun. Bagiku, banjir yang terjadi bukan sekadar banjir. Ini adalah Edema Ekologis, pembengkakan yang lahir dari kebijakan rezim 10 tahun, yang memukul jantung pulau ini dan merusak ginjalnya tanpa pernah merasa bersalah. Ketika air naik, menghasilkan kolam-kolam raksasa yang membenamkan desa demi desa, menenggelamkan sebagian penduduknya, aku melihat sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar genangan. Aku melihat jejak tangan kekuasaan. Karena banjir tidak datang dari langit begitu saja. Ia datang dari tanah yang dilukai dengan sengaja. Dalam satu dekade lalu, Sumatera diperlakukan seperti papan operasi dengan pasien tanpa anestesi: hutan dibelah, bukit dibongkar, izin diteken tanpa informed consent. Setiap hektare yang hilang bukan hanya angka statistik; ia adalah hilangnya kemampuan bumi untuk menahan air, menyaring bencana, menjaga nyawa. Aku mengatakan ini sebagai seorang dokter: Jika organ vital dirusak bertahun-tahun, jangan salahkan tubuh ketika akhirnya kolaps. Dan kolaps itulah yang terjadi. Multi organ damage. Kerusakan banyak organ. Rezim dulu bicara tentang investasi, pembangunan, dan “masa depan Indonesia”. Tapi di balik kalimat manis itu, rakyat hari ini berdiri di depan rumah yang tenggelam sambil bertanya: “Sebelumnya kami punya hutan. Sekarang kami hanya punya banjir. Apa ini yang namanya kemajuan?” Sumatera menangis bukan karena hujan, tapi karena pengkhianatan. Pengkhianatan yang terjadi ketika: hutan dibuka demi konglomerat, sungai disempitkan demi proyek cepat jadi, tambang dibiarkan menggali sampai bumi menganga, perkebunan sawit dihamparkan tanpa memikirkan daya tampung DAS, dan setiap kritik dibungkam dengan kalimat klasik: “ini pembangunan.” Lalu ketika bencana datang, rezim lalu dengan mudah berkata: “Ini alam. Ini cuaca ekstrem.” Tidak. Ini bukan cuaca ekstrem. Ini adalah keserakahan ekstrem. Ini bukan musibah semesta. Ini adalah kerakusan yang merajalela. Banjir hari ini sedang mengungkap apa yang dulu ditutup rapat oleh kekuasaan. Banjir sedang berbicara dengan bahasa yang tidak bisa disensor: bahwa Sumatera telah dicabik-cabik demi ambisi politik, demi kepentingan modal, demi citra penguasa yang dibangun di atas tanah yang perlahan mati. Aku tidak pernah melihat banjir semasif ini tanpa melihat sekaligus peta kebijakan rezim sebelumnya. Dan dari peta itu, aku hanya melihat satu hal: Rezim lalu mengizinkan bumi dirusak sampai ia tak mampu lagi menolak. Sekarang harga yang harus dibayar adalah: rumah hilang, ladang hanyut, Penduduk mengungsi, nyawa melayang. Dan semua itu lahir dari tangan pejabat yang dulu begitu mudah memberikan izin, seperti menandatangani kuitansi, tanpa pernah mau melihat bahwa di baliknya ada jutaan manusia yang akan menanggung akibat. Banjir Sumatera adalah amputasi terakhir dari tubuh ekologis yang telah disiksa terlalu lama. Dan kita—rakyat—dipaksa menjadi saksi. Saksi yang tahu bahwa banjir ini tidak datang sendiri. Ia lahir dari kebijakan yang salah, dari keserakahan yang dilegalkan, dari penguasa yang lebih mencintai pencitraan daripada tanah airnya sendiri. Kali ini sejarah mencatat: bencana ini bukan sekadar bencana. Ia adalah vonis alam terhadap rezim yang telah menggali lubang bagi rakyatnya sendiri. Semoga Presiden Prabowo Subianto bisa menghentikan semua kejahatan ini, dan memberikan solusi cepat bagi rakyat Sumatera. Amiin. Hasbunallah wani'mal wakil, nikmal maula wani'man nashiir. La haula wala quwwata ila billah. Salam takzim dr Tifauzia Tyassuma,

Dokter Tifa

56,978 просмотров • 8 месяцев назад

📢SUMATERA HANCUR ⚠️⚠️⚠️ Ribuan Kayu Ilegal Asal Labura Terbongkar, Publik Murka: APH dan Pemerintah Diduga “Tidur” Saat Hutan Dijarah Labuhanbatu Utara Terbongkarnya dugaan peredaran 1.677 batang kayu ilegal asal Labuhanbatu Utara (Labura) menjadi tamparan keras bagi pemerintah daerah dan aparat penegak hukum. Masyarakat menilai mustahil kayu sebanyak itu bisa keluar dari kawasan hutan tanpa adanya dugaan pembiaran, lemahnya pengawasan, atau bahkan permainan oknum tertentu. Kayu-kayu tersebut ditemukan tim gabungan Gakkum Kehutanan Wilayah Sumatera, BPHL Wilayah II Medan, dan Dinas LHK Sumut di lima perusahaan pengolahan kayu di Kisaran Timur, Kabupaten Asahan. Sejumlah mesin bandsaw turut disita karena diduga digunakan mengolah kayu ilegal tanpa dokumen resmi. Namun yang membuat publik geram, praktik dugaan illegal logging ini disebut bukan cerita baru. Aktivitas keluar-masuk kayu dari wilayah Labura sudah lama menjadi pembicaraan warga dan berkali-kali viral di media sosial. Anehnya, hingga kasus ini meledak, masyarakat menilai tidak ada tindakan tegas yang benar-benar terlihat di lapangan. “Kalau kayu ribuan batang bisa lolos, masyarakat wajar bertanya: aparat sebenarnya bekerja atau pura-pura tidak tahu?” ujar salah seorang warga dengan nada kesal. Warga juga menyinggung tragedi banjir bandang tahun 2019 yang menghantam Desa Pematang dan Desa Hatapang. Peristiwa itu dinilai harusnya menjadi peringatan keras bahwa kerusakan hutan bukan sekadar persoalan kayu, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan masyarakat. Alih-alih memperketat pengawasan pascabencana, masyarakat justru menilai dugaan pembalakan liar masih terus berlangsung hingga sekarang. Kondisi ini memunculkan kecurigaan publik bahwa ada pihak-pihak tertentu yang diduga menikmati keuntungan dari hancurnya hutan Labura. “Jangan sampai rakyat kecil jadi korban bencana, sementara mafia kayu hidup enak dari hasil merusak alam,” tegas warga lainnya. Masyarakat mendesak aparat penegak hukum agar tidak bermain sandiwara dalam penanganan kasus ini. Publik meminta seluruh aktor di balik dugaan mafia illegal logging dibongkar habis, termasuk jika ada oknum yang diduga membekingi jalur distribusi kayu ilegal

Sumatera Adil & Federal

21,815 просмотров • 2 месяцев назад

Pertanyaan dr Tifa kepada Negara Bencana Sumatera & Negara Bangkrut?” Bismillahirrahmanirrahiim Saya ingin bertanya, adakah satu kebenaran pahit yang tidak berani diucapkan pemerintah, tetapi rakyat sudah merasakannya dengan naluri mereka sendiri: Apakah bencana besar di Sumatera tidak bisa diantisipasi bukan karena cuacanya ekstrem, tetapi karena uang negara sudah habis? Karena, Ketika sungai meluap, ketika tambang ilegal menggerus hutan, ketika proyek-proyek mercusuar menenggelamkan anggaran publik, rakyat dibiarkan menghadapi air bah sendirian. Apakah Pemerintah tidak hadir bukan karena tidak tahu, tetapi Pemerintah tidak hadir karena tidak mampu? Apakah sesungguhnya, APBN sudah kering. Defisit makin lmelebar. Utang untuk bayar utang. Transfer daerah dipotong. Belanja publik dikerdilkan demi proyek-proyek yang menguntungkan segelintir elite, terutama 10 tahun terakhir. Dan ketika Sumatera runtuh oleh banjir, longsor, dan runtuhan ekologis bertahun-tahun, negara hanya bisa mengirim kalimat template: “Kami sedang memantau situasi. Kami sedang mengkalkulasi” Mengapa? Karena yang seharusnya menjadi anggaran mitigasi, pencegahan, rehabilitasi, dan perlindungan rakyat, sudah disedot habis 10 tahun ini: Proyek IKN, Proyek Whoosh, alias kereta tanpa penumpang, Konsesi tambang untuk kroni dan oligarki, belanja politik dinasti, subsidi pencitraan, dan jaringan korupsi yang merayap seperti kanker yang menghabisi tubuh negara. Maka terjadilah tragedi: bencana alam berubah menjadi bencana kebijakan. Sungai yang meluap adalah geologi. Tetapi negara yang membisu adalah politik. Dan di balik semua itu, ada satu fakta keras: Indonesia 10 tahun ini dikelola seperti keluarga yang memaksakan gaya hidup mewah padahal tabungan sudah nol dan kartu kredit sudah over limit. Itulah mengapa negara panik menghadapi bencana. Bukan karena hujan. Tetapi karena uangnya sudah habis. Ketika uang hilang, kemampuan negara runtuh. Ketika kemampuan runtuh, rakyat dikorbankan. Sumatera tidak menjadi porak poranda dalam semalam. Bukan karena iklim, badai siklon, dan segudang kambing hitam alam. Sesungguhnya, Sumatera terutama 10 tahun ini, dihancurkan oleh: Konsesi tambang yang diberikan tanpa kendali, Hutan yang ditebang dengan nafsu tanpa batas, Kawasan resapan yang dijual ke korporasi, Dan pemerintah yang sibuk mengurus agenda politiknya sendiri. Hari ini, alam memberikan tagihannya. Dan negara tidak punya uang untuk membayar. Maka jangan heran jika bencana Sumatera terasa seperti bangsa ditinggalkan. Karena memang rakyat sedang ditinggalkan oleh negara yang bangkrut tetapi pura-pura kuat? Hasbunallah wani'mal wakil. Ni'mal maula wani'mannashiir. La haula wala quwwata ila billah.

Dokter Tifa

35,310 просмотров • 8 месяцев назад

Satu sakit, sakit semua. Itulah makna saudara kandung. Dan itulah juga makna sesama anak negeri ini, meski terpisah ribuan kilometer dan puluhan dialek. 26 Desember 2004. Gempa 9,3 SR mengguncang dasar Samudra Hindia. Tsunami menyapu Aceh, menelan lebih dari 170 ribu nyawa dalam hitungan jam. Di saat yang sama, di perantauan Jawa, ribuan mahasiswa Aceh tak bisa tidur. Mereka menangis di kos-kos-an sempit, tak tahu apakah ibu, bapak, adik, kakak masih bernapas. Tapi malam itu juga, ribuan orang Jawa yang tak pernah ke Aceh, yang bahkan tak tahu bedain Meulaboh sama Lhokseumawe, berdiri berjam-jam di Stasiun Gambir dan Senen, membawa kardus bertuliskan “Untuk Saudaraku di Aceh”. Ada yang menyumbang beras, ada yang menyumbang darah, ada yang cuma bisa menyumbang doa sambil memeluk erat anaknya sendiri. Satu sakit, sakit semua. September 2009. Gempa 7,6 SR menggoyang Padang dan Pariaman. Rumah-rumah bergaya Rumah Gadang yang megah itu runtuh seperti kue kering. Di Jakarta, di Surabaya, di kampus-kampus negeri, mahasiswa Minang yang biasanya sombong dengan rendang dan dendengnya, tiba-tiba jadi pendiam. Mereka tak bisa pulang. Tiket habis. Jalan putus. Tapi malam itu juga, truk-truk berplat B dan D berjejer di pelabuhan Merak, membawa tenda, selimut, mie instan, dan obat-obatan. Sopirnya orang Jawa tulen. Mereka tak diminta. Mereka cuma bilang, “Orang Sumbar lagi susah. Kita bantu.” Satu sakit, sakit semua. Maret 2024, November 2025. Banyaknya banjir bandang dan longsor di Sumatera Utara, di Sumatera Barat lagi. Kampung-kampung di Tanah Karo, di Pesisir Selatan, di Toba, lenyap ditelan tanah. Orang-orang di Jakarta, di Bandung, di Semarang, yang selama ini sibuk mengolok-olok “Jawasentris”, tiba-tiba berhenti bicara. Mereka buka dompet. Mereka buka posko. Mereka rela antre berjam-jam di bandara hanya untuk jadi relawan. Tak ada yang bilang, “Bukan urusan gue.” Karena saat saudara di ujung barat pulau ini menangis, rasa itu menjalar sampai ke ujung timur, melewati Selat Sunda, melewati gunung-gunung, melewati semua cemoohan “Jawa terlalu dominan” yang biasa kita lempar-lemparan di medsos. Satu sakit, sakit semua. Bukan karena darah yang sama. Tapi karena rasa yang sama: rasa yang membuat kita sadar, bahwa garis imajiner bernama “provinsi” itu tak pernah bisa memisahkan hati yang sudah terlanjur terikat sejak 17 Agustus 1945. Jadi kalau ada yang masih bertanya, “Kenapa sih orang Jawa ikut repot kalau Aceh atau Sumatera kena musibah?” Jawab saja dengan kalimat sederhana ini, Karena satu sakit, sakit semua. Itulah makna saudara sebangsa. Bukan karena suku, bukan karena agama, bukan karena pulau. Tapi karena kita terpaksa saling mencintai, dan anehnya, justru karena terpaksa itu, cinta kita tak pernah benar-benar pergi. Meski kadang berisik. Meski kadang saling sindir. Tapi saat bencana datang, kita tetap satu. Satu sakit, sakit semua. Satu bangkit, kita bangkit bersama.

Miss Tweet |

18,102 просмотров • 8 месяцев назад