ๆญฃๅจๅ ่ฝฝ่ง้ข...
่ง้ขๅ ่ฝฝๅคฑ่ดฅ
๐ Base Verify Onchain Demo secara resmi LANGSUNG! Base Baseapp Coinbase ๐ก๏ธ Pertarungan melawan peternakan bot Sybil baru saja berjalan sepenuhnya onchain. Alih-alih memberi penghargaan kepada dompet kosong, protokol sekarang dapat dengan mulus memberi penghargaan kepada individu yang terverifikasi dan unik. Inilah cara Anda dapat mencoba demo langsung sekarang... show more
10,959 ๆฌก่ง็ โข 1 ไธชๆๅ โขvia X (Twitter)
0 ๆก่ฏ่ฎบ
ๆๆ ่ฏ่ฎบ
ๅๅงๅธๅญ็่ฏ่ฎบๅฐๆพ็คบๅจ่ฟ้
็ธๅ ณ่ง้ข
1:43
Sensitive content
Melancong Ke Malaysia Membawa Pelakon Filem Dewasa Rae Lil Black Dari Dunia Hiburan ke Jalan Islam 1. Permulaan Pencarian Makna Hidup Sebelum memeluk Islam, Kae Asakuraโyang lebih dikenali sebagai Rae Lil Blackโadalah seorang figura terkenal dalam industri hiburan dewasa. Kehidupannya dipenuhi dengan populariti, kemewahan, dan kebebasan tanpa batas. Namun, di sebalik semua itu, dia mula merasakan kekosongan yang tidak dapat diisi dengan wang atau kejayaan. Dalam beberapa temu bual sebelum ini, Rae pernah menyatakan bahawa sejak kecil, dia sering tertanya-tanya tentang tujuan hidup. Namun, persekitaran di mana dia dibesarkan tidak banyak memberi ruang untuk pencarian spiritual. 2. Titik Perubahan: Perjalanan ke Malaysia Pada pertengahan tahun 2024, Rae memutuskan untuk melancong ke Malaysia, sebuah negara yang kaya dengan budaya Islam. Pada awalnya, perjalanan ini hanyalah untuk bersantai dan menikmati makanan tempatan. Namun, ketika berada di Kuala Lumpur, dia bertemu dengan seorang rakan lama yang telah memeluk Islam. Perbualan dengan rakannya membuka mata Rae tentang Islam sebagai agama yang membawa kedamaian. Dia tertarik dengan konsep keseimbangan hidup, kesabaran, serta hubungan langsung dengan Tuhan tanpa perantara. Suatu hari, rakannya menjemputnya untuk melawat sebuah masjid di Putrajaya. Ketika melihat orang-orang beribadah dalam keheningan dan ketulusan, dia merasakan ketenangan yang belum pernah dia alami sebelum ini. Inilah detik permulaan rasa ingin tahunya terhadap Islam. 3. Mula Mempelajari Islam Secara Mendalam Selepas kembali dari Malaysia, Rae mula membaca tentang Islam. Dia menonton ceramah daripada pelbagai ulama, membaca terjemahan Al-Qur'an, dan berdiskusi dengan Muslim yang ditemuinya. Pada Oktober 2024, Rae mengejutkan para pengikutnya apabila dia memuat naik sebuah video di TikTok. Dalam video tersebut, dia mengenakan hijab dan pakaian Muslim ketika mengunjungi sebuah pusat komuniti Islam di Tokyo. Video ini segera menjadi viral, dengan pelbagai reaksi daripada peminat dan media. 4. Menghadapi Cabaran dan Kritikan Keputusan Rae untuk mendekati Islam tidak diterima dengan mudah oleh semua pihak. Ada yang menyokong, tetapi ada juga yang mengkritik dan mempersoalkan keputusannya. Sebagai seorang yang pernah berada dalam industri hiburan dewasa, ramai yang meragui keikhlasannya. Namun, Rae tidak mudah terpengaruh dengan pandangan negatif. Dia terus mendalami ajaran Islam, menghadiri kelas agama, dan mula mengamalkan solat serta berpuasa. Pada awal tahun 2025, dia berkongsi satu lagi video di mana dia menunjukkan ruang solat di rumah ibu bapanya di Kyoto. Ini menandakan bahawa perjalanannya dalam Islam bukan sekadar fasa sementara, tetapi sebuah perubahan yang mendalam dan penuh makna. 5. Fasa Baru Kehidupan Kini, Rae Lil Black meneruskan kehidupannya dengan cara yang lebih bermakna. Dia menggunakan platform media sosialnya untuk berkongsi pengalaman dan perjalanan spiritualnya. Walaupun perjalanan ini tidak mudah, dia tetap istiqamah dalam mencari kebenaran dan ketenangan dalam Islam. Kisah Rae Lil Black menjadi inspirasi bagi ramai orangโbahawa hidayah boleh datang kepada sesiapa sahaja, tanpa mengira latar belakang dan masa lalu. -MYNEWSHUB
MYNEWSHUB
997,426 ๆฌก่ง็ โข 1 ๅนดๅ
0:58
Sensitive content
"Halah, cuma karakter 2D fiksi ini, bebas lah mau diapain juga." "Saya tidak pernah dengar suaranya, apalagi beli bantalnya, gesek-gesek [kelamin] saya sambil nonton, saya ga pernah, JADI STOP HIPOKRIT!" Kalimat-kalimat di atas jujur bikin darahku mendidih. Sebagai orang yang hidup di dua dunia sekaligus, yaitu sebagai VTuber dan juga seorang sutradara, opini kayak gitu enggak cuma salah kaprah secara logika, tapi juga nyenggol ranah personal aku. Aku tahu gimana rasanya berdarah-darah bangun persona di balik avatar. Berapa jam yang abis buat persiapan, seberapa terkurasnya energi tiap kali live, dan seberapa nyatanya ikatan yang kebentuk sama penonton. Avatar itu bukan tembok pembatas antara fiksi dan realita. Justru sebaliknya, itu jembatannya. Makanya, pembelaan Dera itu bener-bener enggak masuk akal. Buat yang ketinggalan info, kemarin Dera ini bikin tier list VTuber Indonesia. Masalahnya, ini bukan tier list soal kualitas konten atau skill streaming. Kategorinya beneran seksual secara terang-terangan, bahkan Dera memperlakukan avatar & art vtubernya dengan tidak pantas. Pas komunitas VTuber protes, dia malah bikin live stream "klarifikasi" yang sama sekali gak bikin suasana adem, isinya malah makin ngaco. Di stream itu, argumen dia intinya bilang kalau ini kan cuma karakter 2 dimensi, dia enggak pernah ngelakuin hal aneh-aneh pas nonton mereka, dan malah nuduh netizen yang nonton VTuber tuh sebenernya gooner semua, dan dia yang benar. Dilanjut dengan instagram story dengan isi serupa, video terlampir. Pertama, yang Dera lakukan itu namanya logical fallacy tu quoque, atau dalam bahasa yang lebih membumi: "kamu juga begitu." Argumen "kalian juga gooner" tidak membuat tindakannya jadi benar. Lagipula, banyak sekali vtuber dan viewers yang kontennya jauh dari hal-hal seksual sekarang. Sebagian besar konten VTuber yang beredar sekarang, apalagi di skena vtuber Indonesia, isinya tuh main game bareng penonton, belajar bahasa asing sambil ngasbun, masak-masakan, atau sekadar ngobrol santai tentang hari yang berat. Ada VTuber yang jadiin channel-nya tempat belajar sejarah. Ada yang fokus ke komedi murni. Bahkan ada para v-doctor, baik dokter biasa, dokter gigi, dan dokter hewan, bahas soal kesehatan. Kebanyakan bahkan enggak pernah sekalipun nyentuh topik dewasa, karena memang bukan itu yang ingin mereka bangun. Penonton dateng bukan karena libido. Mereka dateng karena butuh temen ngobrol jam dua pagi, karena pengen ketawa setelah hari yang melelahkan, atau karena ada kreator yang bikin mereka merasa diterima tanpa harus jadi siapa-siapa dulu. Menyamaratakan semua itu sebagai "gooner" bukan cuma salah secara faktual, itu juga penghinaan terhadap jutaan orang yang menemukan sesuatu yang genuine di skena ini. Kedua, soal "cuma 2D." Sebagai sutradara, waktu aku nulis naskah, karakter di atas kertas itu emang fiksi murni. Aku bebas mau matiin karakternya, mau disiksa, atau mau diapain aja, karena mereka enggak punya perasaan, enggak punya jadwal, dan enggak punya penonton yang nungguin tiap minggu. VTuber itu beda. Avatar 2D itu lebih mirip kostum panggung daripada karakter fiksi. Di baliknya ada talent nyata, manusia beneran yang membangun reputasi bertahun-tahun, menanggung konsekuensi psikologis dan finansial kalau nama baiknya rusak, serta punya relasi parasosial yang nyata sama audiensnya. Bedanya sama karakter anime biasa jelas banget. Naruto enggak punya jadwal live streaming. Rem dari Re:Zero enggak bakal bales komentar lu pas lagi mabar. Tapi VTuber itu interaktif dan nyata. Ketika kamu bikin konten seksual tanpa consent atau izin pake identitas mereka, yang kena dampaknya bukan cuma piksel di layar, tapi manusia di baliknya. Ini Namanya Pembunuhan Karakter Orang yang baru pertama kali denger nama si VTuber lewat tier list mesum itu bakal langsung punya persepsi buruk. Mereka bakal inget si VTuber dari cap seksualnya, bukan dari karya, skill, atau konten aslinya. Ini beneran pembunuhan karakter secara harfiah. Lebih parahnya lagi, hal ini memicu normalisasi pelecehan. Penonton yang ngerasa konten begitu "lucu" atau "biasa aja" bakal bawa kebiasaan itu ke mana-mana. Mereka bakal nge-chat mesum di kolom komentar streamer lain, bikin jokes enggak pantes di forum, dan ngerasa itu hal yang wajar Normalisasi itu enggak dateng tiba-tiba kayak meteor; dia menjalar pelan-pelan akibat pembiaran dan kebiasaan. Klaim dia yang bilang "cuma mau membuka mata penonton" juga kocak sih. Mau buka mata soal apa? Sisi gelap parasosial di dunia VTuber? Bahasan itu sih udah sering didiskusiin sama orang-orang dengan cara yang jauh lebih berkelas dan elegan. Membuat tier list seksual cuma ragebait murahan yang dibungkus dengan pembenaran biar kelihatan lebih baik dari orang yang dia hina. Komunitas terbentuk dari apa yang kita normalisasi bersama. Setiap hal yang kita tertawakan, setiap konten yang kita biarkan lewat tanpa reaksi, setiap kreator yang kita pilih untuk didukung atau tidak, itu semua adalah suara. Dan suara-suara kecil itu, kalau cukup banyak yang searah, bisa membentuk seperti apa industri ini di masa depan.
Kalanara Mahardika ๐ฌ
319,783 ๆฌก่ง็ โข 3 ไธชๆๅ
