Video wird geladen...

Video konnte nicht geladen werden

Zur Startseite

Breaking — Juru Bicara KPA "Komite Peralihan Aceh" Pusat, Jack Libya, menegaskan tidak ada perintah pengibaran bendera bulan bintang pada 25 Desember 2025. Ia mengimbau seluruh pihak tidak terprovokasi dan tetap menjaga ketenangan karena Aceh sedang berduka.

28,723 Aufrufe • vor 8 Monaten •via X (Twitter)

0 Kommentare

Keine Kommentare verfügbar

Kommentare vom Original-Post werden hier angezeigt

Ähnliche Videos

Prajurit TNI menurunkan bendera bulan bintang yang dikibarkan massa di tiang halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Bendera tersebut diturunkan setelah TNI-Polri membubarkan dan memecah konsentrasi massa yang terlibat kericuhan. Kapendam Iskandar Muda Kolonel Inf Teuku Mustafa Kamal mengatakan kegiatan doa tolak bala dan zikir akbar yang diikuti massa dari berbagai daerah awalnya berlangsung khidmat. Namun, situasi berubah setelah diduga ada pihak yang memprovokasi massa dengan mengibarkan bendera bulan bintang. Aparat TNI-Polri kemudian melakukan pendekatan persuasif dan mengimbau massa agar tidak mengibarkan bendera bulan bintang serta tetap menjaga ketertiban. Namun, imbauan tersebut ditolak sehingga terjadi aksi saling dorong antara sebagian massa dan aparat keamanan. Selain mengibarkan bendera bulan bintang, massa juga menurunkan bendera Merah Putih dari tiang di halaman masjid dan menggantinya dengan bendera bulan bintang. Sejumlah bendera Merah Putih yang terpasang di sekitar masjid juga dicopot. Tim gabungan kemudian mengambil langkah tegas dan terukur untuk membubarkan massa yang dinilai telah melakukan tindakan anarkis. Massa kemudian mundur ke sejumlah lokasi. "Setelah memecah konsentrasi massa, aparat TNI menurunkan bendera bulan bintang yang dikibarkan di halaman Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga ketertiban," jelas Mustafa. 📸: Dok. TNI AD. Baca selengkapnya dengan klik link di bio. Cari tahu berita update lainnya dengan download aplikasi kumparan di App Store atau Google Play.⁠ 📝: newsupdate | update | news | vidol | R073 | E023 I E154 #bicarafaktalewatberita #kumparan

kumparan

29,386 Aufrufe • vor 14 Tagen

21 Tahun Damai Aceh, Ketika Bendera Kembali Menjadi Persoalan Peringatan 21 tahun perdamaian Aceh di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15 Agustus 2026), diwarnai kericuhan antara aparat keamanan dan sebagian peserta setelah pengibaran Bendera Aceh dilarang. Sejumlah laporan kemudian menyebut bendera Bulan Bintang sempat dikibarkan di lokasi. Padahal, MoU Helsinki 2005 menjadi dasar penting bagi lahirnya perdamaian Aceh. Kesepakatan tersebut antara lain memberikan ruang bagi Aceh untuk memiliki dan menggunakan simbol wilayah, termasuk bendera dan lambang, serta memberikan kewenangan yang luas dalam pengelolaan ekonomi dan sumber daya alam. MoU juga menyebut Aceh berhak mempertahankan 70% pendapatan dari cadangan hidrokarbon dan sumber daya alam lainnya. Karena itu, bagi sebagian masyarakat Aceh, persoalan bendera bukan sekadar soal selembar kain. Ia dipandang sebagai simbol dari komitmen terhadap kesepakatan damai yang ditandatangani Pemerintah Indonesia dan GAM pada 15 Agustus 2005. Setelah 21 tahun, muncul kembali pertanyaan besar: sejauh mana seluruh butir kesepakatan Helsinki benar-benar telah dilaksanakan? Sebagian pihak menilai Jakarta belum sepenuhnya memenuhi komitmen yang telah disepakati, terutama terkait simbol Aceh, kewenangan ekonomi, dan pengelolaan sumber daya alam. Tuduhan tersebut tentu merupakan pandangan politik yang masih menjadi perdebatan, tetapi persoalan implementasi MoU Helsinki memang tetap menjadi salah satu isu utama dalam perjalanan perdamaian Aceh. Ironisnya, pada hari yang seharusnya menjadi simbol perdamaian, perbedaan tafsir mengenai salah satu simbol Aceh justru kembali memicu ketegangan. Perdamaian bukan hanya tentang berhentinya konflik bersenjata. Perdamaian juga tentang menepati kesepakatan. Aceh telah memilih jalan damai. Kini yang dibutuhkan adalah memastikan bahwa seluruh komitmen perdamaian dihormati dan dilaksanakan secara adil.

Aceh 🇮🇩🇹🇷🇵🇸

2,124,490 Aufrufe • vor 15 Tagen

Gilang Dirga menyampaikan pendapat-nya melalui video yang ia unggah di Threads. 1.⁠ ⁠Gilang menyampaikan pendapat pribadinya mengenai kondisi Indonesia saat ini, khususnya terkait orang-orang yang merasa Indonesia belum sepenuhnya merdeka. 2.⁠ ⁠Ia menyinggung adanya sebagian orang yang tidak mengibarkan bendera Merah Putih, termasuk kasus di Aceh ketika bendera Aceh dikibarkan menggantikan Merah Putih. 3.⁠ ⁠Ia memahami bahwa masyarakat memiliki pandangan yang berbeda mengenai apakah Indonesia sudah benar-benar merdeka atau belum. 4.⁠ ⁠Menurutnya, bendera Merah Putih tetap harus dikibarkan meskipun seseorang sedang kecewa terhadap pemerintah. 5.⁠ ⁠Mengibarkan Merah Putih bagi dirinya merupakan bentuk kecintaan kepada Indonesia, bukan berarti mendukung pemerintah atau seluruh kebijakannya. 6.⁠ ⁠Ia tetap menghargai orang-orang yang memiliki pandangan berbeda mengenai persoalan tersebut. 7.⁠ ⁠Menurutnya, Merah Putih merupakan simbol Indonesia yang tetap layak diperjuangkan dan dikibarkan, minimal di depan rumah. 8.⁠ ⁠Ia mengakui bahwa banyak masyarakat ingin Indonesia maju, tetapi kemajuan tersebut terkadang terhambat oleh oknum-oknum tertentu. 9.⁠ ⁠Ia mencontohkan adanya dugaan oknum di tingkat desa yang menghambat pembangunan jalan karena memiliki kepentingan pribadi. 10.⁠ ⁠Menurutnya, mentalitas seperti itu masih banyak terjadi dan membuat masyarakat kecewa terhadap kondisi Indonesia. 11.⁠ ⁠Ia menegaskan bahwa kekecewaan terhadap pemerintah atau oknum tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan rasa cinta kepada Indonesia. 12.⁠ ⁠Gilang menilai perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang sehat selama disampaikan dengan argumen yang tepat. 13.⁠ ⁠Ia mengingatkan bahwa para founding fathers Indonesia juga memiliki banyak perbedaan pendapat mengenai cara mengelola negara. 14.⁠ ⁠Ia mengajak masyarakat untuk berdiskusi secara sehat dan tidak mudah terprovokasi hingga menimbulkan keributan. 15.⁠ ⁠Ia berharap orang-orang yang tidak mengibarkan Merah Putih karena kecewa tidak langsung dimarahi atau dibentak, tetapi diberikan pemahaman dengan cara yang baik. 16.⁠ ⁠Namun, menurutnya, ketika bendera Merah Putih diturunkan dan digantikan dengan bendera lain, hal tersebut merupakan sesuatu yang perlu dipertanyakan. 17.⁠ ⁠Bagi Gilang, 17 Agustus tetap merupakan momen yang spesial karena ia lahir sebagai orang Indonesia dan mencintai negaranya. 18.⁠ ⁠Ia tetap mencintai Indonesia meskipun kecewa terhadap perilaku oknum, baik pejabat tinggi maupun pihak-pihak di tingkat bawah. 19.⁠ ⁠Ia mendoakan agar Indonesia menjadi lebih baik dan masyarakat dapat menghadapi perbedaan dengan cara yang lebih bijak. 20.⁠ ⁠Ia menegaskan bahwa dirinya merasa perlu menyampaikan pendapat tersebut sebagai bentuk kecintaannya kepada Indonesia.

folkative

247,560 Aufrufe • vor 15 Tagen

21 Tahun Damai Aceh, Tiga Tuntutan Masyarakat: Tuntaskan MoU Helsinki, Percepat Rehabilitasi Bencana, dan Perpanjang Dana Otsus BANDA ACEH, 15 Agustus 2026 — Peringatan 21 tahun perdamaian Aceh di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026), kembali memunculkan perdebatan mengenai implementasi MoU Helsinki. Kericuhan terjadi setelah aparat keamanan melarang pengibaran Bendera Aceh, yang kemudian dilaporkan sempat dikibarkan oleh sebagian peserta. Bagi sebagian masyarakat Aceh, persoalan tersebut bukan sekadar mengenai simbol, tetapi menyangkut sejauh mana komitmen perdamaian yang ditandatangani Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 15 Agustus 2005 telah dilaksanakan. Setelah 21 tahun, masyarakat Aceh kembali menyuarakan sejumlah tuntutan agar perdamaian tidak berhenti pada penghentian konflik bersenjata, tetapi diwujudkan melalui pemenuhan seluruh komitmen yang telah disepakati. 1. Tuntaskan seluruh komitmen MoU Helsinki Pemerintah diminta menyelesaikan seluruh persoalan yang masih tertunda dalam implementasi MoU Helsinki, termasuk persoalan Bendera dan Lambang Aceh. Bagi masyarakat Aceh, legalisasi dan penggunaan simbol daerah merupakan bagian penting dari penghormatan terhadap kekhususan Aceh dan komitmen perdamaian. Persoalan tersebut diharapkan diselesaikan melalui dialog politik dan mekanisme hukum, bukan melalui tindakan yang dapat memicu ketegangan di tengah masyarakat. Selain persoalan simbol, masyarakat juga menuntut agar kewenangan Aceh dalam bidang ekonomi dan pengelolaan sumber daya alam sebagaimana menjadi bagian dari kesepakatan damai dapat diwujudkan secara lebih nyata. 2. Pemerintah diminta lebih serius dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Masyarakat juga meminta Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh mempercepat serta memperkuat program rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) pascabencana banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dan menjadi salah satu bencana hidrometeorologi terbesar yang berdampak luas di Sumatra. Penanganan bencana tidak cukup hanya dengan bantuan tanggap darurat. Masyarakat membutuhkan pembangunan kembali infrastruktur, rumah, fasilitas umum, jalan, jembatan, serta pemulihan ekonomi masyarakat yang terdampak. 3. Dana Otsus diminta diperpanjang secara permanen Masyarakat Aceh juga meminta agar Dana Otonomi Khusus (Otsus) diperpanjang secara permanen. Dana Otsus dinilai memiliki peran penting dalam mengejar ketertinggalan pembangunan Aceh. Namun, berbagai regulasi dan persoalan implementasi dinilai masih menghambat optimalisasi manfaat Otsus bagi masyarakat. Karena itu, masyarakat berharap Pemerintah Pusat memberikan kepastian jangka panjang mengenai Dana Otsus sebagai bagian dari komitmen untuk memperkuat perdamaian dan meningkatkan kesejahteraan Aceh. Perdamaian Harus Menghasilkan Kesejahteraan 21 tahun setelah MoU Helsinki, pertanyaan yang semakin kuat di tengah masyarakat bukan lagi sekadar apakah Aceh telah damai, tetapi apakah perdamaian tersebut telah menghasilkan keadilan, kesejahteraan, dan terpenuhinya seluruh komitmen yang disepakati. Persoalan bendera yang kembali muncul pada peringatan Hari Damai Aceh menjadi pengingat bahwa masih terdapat persoalan yang membutuhkan penyelesaian politik dan hukum secara serius. Perdamaian bukan hanya tentang berhentinya konflik bersenjata. Perdamaian juga tentang menepati kesepakatan. Aceh telah memilih jalan damai. Kini, yang dibutuhkan adalah keseriusan semua pihak untuk memastikan seluruh komitmen perdamaian dihormati, dilaksanakan secara adil, dan memberikan manfaat nyata bagi rakyat Aceh. Tiga tuntutan utama masyarakat Aceh: tuntaskan MoU Helsinki, percepat rehab-rekon pascabencana, dan berikan kepastian Dana Otsus untuk masa depan Aceh.

Aceh 🇮🇩🇹🇷🇵🇸

18,246 Aufrufe • vor 15 Tagen

Petani jagung,padi dan pelawija lari terbirit birit lintang pungkang di amuk massa. APA YANG TERJADI JIKA ACEH MERDEKA? Membayangkan Aceh merdeka adalah kebanggaan besar bagi orang Aceh, terlepas dari penjajahan. Mungkin bagi orang di luar Aceh, Aceh merasa tidak dijajah. Sama seperti hal nya pandangan orang Jepang sekarang mereka tidak merasa pernah menjajah Indonesia, tapi merasa MEMBANTU Indonesia melawan Belanda agar merdeka. LALU BAGAIMANA JIKA ACEH MERDEKA? Jawaban simpel wak, Aceh akan jauh lebih sejahtera. Aceh bisa leluasa mengembangkan seluruh potensinya. Aceh kaya minyak dan gas, kaya hasil pertanian, kaya hasil laut, dan yang paling berharga, letak geografisnya wak. Dulu, semasa Samudra Pasai berdiri, bangsa Aceh sudah tersohor ke penjuru dunia. Menjalin hubungan bilateral dengan negara-negara Eropa, bahkan kerja sama dengan Utsmaniyah. Aceh itu bangsa besar. Tapi sejak bergabung dengan Indonesia, Aceh hanya dipandang sebagai suku kecil yang tak perlu diperhatikan. Bayangkan kekayaan Aceh untuk kemakmuran rakyat Aceh sendiri. Sepuluh tahun merdeka, rakyat Aceh langsung sejahtera. Bayangkan juga jika Aceh merdeka dan membangun hub laut internasional di Sabang. Aceh bisa merebut ceruk pasar dari Singapura dan Port Klang, bahkan bisa menguasai hingga 50%. Karena Aceh terletak di pintu gerbang Selat Malaka, lokasi paling strategis di dunia untuk pelabuhan internasional. Belum lagi SDA, hasil pertanian, dan hasil laut. Belum lagi Blok Andaman yang potensinya bisa mencapai Rp5.400 triliun. Aceh bisa langsung kerja sama dengan negara luar untuk majunya, tanpa harus diveto pusat di Jakarta seperti selama ini. Kembali lagi, menurut awak, Aceh sebaiknya tidak berpisah dari Indonesia. Tapi Republik ini harus berbenah dan tahu diri. Jangan semua kekayaan daerah diperkosa. Jalan tengah supaya Indonesia tetap utuh: kembali ke sistem federal. Pemerintah pusat cukup fokus pada empat urusan saja wak. 1. HUBUNGAN LUAR NEGERI 2. PERTAHANAN dan KEAMANAN 3. MONETER dan KEUANGAN 4. SISTEM PERADILAN Selebihnya serahkan ke daerah. Untuk kas negara bagaimana? Tenang wak, Nanti daerah yang sudah maju dan cukup bisa lah mereka bersedekah ke pusat, bukan seperti sekarang, daerah kaya dipaksa jadi pengemis. Emang pusat bisa ciptakan duit sendiri? Ya enggak. Pusat merampok daerah, lalu berlagak seperti bos paling mulia. Kakimu dipatahkan, lalu dia datang bawa tongkat. Gila, nggak tuh? Kalau Republik ini tidak mau federal, maka bubar justru bukan solusi buruk. Justru masuk akal.

Sumatera Adil & Federal

17,814 Aufrufe • vor 15 Tagen

SUARA TEMBAKAN & SELONGSONG PELURU DI BAITURRAHMAN PERINGATAN HARI DAMAI BERUBAH JADI INSIDEN KELAM 🚨 Sabtu, 15 Agustus 2026, hari yang seharusnya menjadi refleksi 21 tahun MoU Helsinki, justru diwarnai kericuhan hebat di depan ikon kebanggaan masyarakat, Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Berdasarkan laporan di lapangan, ketegangan pecah setelah warga mengibarkan bendera Bulan Bintang dalam aksi peringatan tersebut. Suasana makin memanas saat terdengar beberapa kali suara tembakan, hingga warga menemukan selongsong peluru di lokasi kejadian. 3 Catatan Kritis Pasca Insiden Baiturrahman ini wak. 1. Penggunaan Senjata Api di Area Rumah Ibadah & Ruang Publik Penemuan selongsong peluru dan letusan senjata api di pusat kota,tepat di pelataran masjid bersejarah menunjukkan eskalasi penanganan yang sangat riskan. Pendekatan represif di tengah aksi massa hanya akan menyulut trauma masa lalu (Masa Konflik) yang berusaha disembuhkan selama dua dekade. 2. Bendera Bulan Bintang, Simbol Perdamaian yang Terus Menggantung Pengibaran bendera Bulan Bintang selalu menjadi TITIK DIDIH hubungan Aceh-Jakarta. Meskipun telah diatur dalam Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2013, ketidakjelasan sikap pemerintah pusat dalam menyelesaikannya secara hukum menjadikan simbol ini sebagai pemantik bentrokan saban tahun. 3. Kekecewaan Akumulatif Rakyat Aceh Reaksi keras massa di lapangan tidak berdiri sendiri. Ini adalah puncak ketegangan atas berbagai komitmen MoU Helsinki yang dinilai jalan di tempat mulai dari pembagian hasil SDA yang minim, penanganan bencana yang lamban, hingga ketimpangan ekonomi daerah. Penggunaan kekuatan berlebih dan letusan peluru tidak akan pernah menyelesaikan akar persoalan di Aceh. Jika pemerintah pusat dan aparat keamanan terus mengedepankan pendekatan sekuritisasi daripada dialog politik yang tuntas, maka KEAMANAN yang tercipta hanyalah ketenangan semu. Usut tuntas penggunaan senjata api dalam insiden ini dan selesaikan komitmen MoU Helsinki secara menyeluruh!

Sumatera Adil & Federal

22,989 Aufrufe • vor 15 Tagen

🌍 JANGAN TERKEJUT KALAU ACEH ANGKAT KAKI DARI INDONESIA Tanpa Aceh, Indonesia TIDAK AKAN PERNAH ADA. Itu fakta sejarah, bukan opini wak. Tapi apa untungnya Aceh bertahan di Republik ini kalau cuma dijadikan anak tiri? 🧵 Di Aceh, anak-anak muda mulai lelah wak. Percakapan soal referendum bukan lagi sekadar nostalgia wak, tapi mulai terdengar sayup sayup, pemuda aceh mulai tersadarkan. Sebelum kalian sok nasionalis wak dan menyerang mereka, coba buka mata kalian lebar-lebar wak. 1. Bencana sudah 8 bulan, tapi pemulihan? SETENGAH HATI! 2. Aceh mau bangun port hub untuk saingi Port Klang & Singapura? DILARANG pempus! 3. Aceh mau buka rute penyeberangan Aceh-Melaka? TIDAK DIDUKUNG! Alasan pempus selalu sama wak, KETAKUTAN DAN KECURIGAAN konyol. Takut Aceh selundupkan senjata? Helo! Kalau Aceh mau berontak lagi, mereka tak perlu impor senjata wak. Cukup gali tanah Aceh, senjata peninggalan konflik masih menumpuk! 20+ tahun Aceh setia pada Perjanjian Helsinki. Tapi apa balasan Republik? Ingkar janji wak! Banyak poin Helsinki cuma jadi kertas sampah di mata pusat. Kalian pikir aja wak, Indonesia pernah jadi eksportir LNG nomor 1 di dunia karena siapa? ACEH! Ribuan triliun Aceh sumbang untuk Republik ini. Aceh dapat apa? KEMISKINAN! Sekarang ditemukan lagi cadangan gas raksasa di Blok Andaman. Dan tebak apa yang mau dilakukan pempus? Langsung mau tarik pipa gas dari Aceh sampai ke Jawa wak! Gila gak tuh🥺, terus Aceh dapat apa lagi? Kosong! Cuma dapat ampasnya lagi wak! Jangan bawa-bawa argumen KAN SUDAH KASIH DANA OTSUS. Otsus itu TIDAK ADA APA-APANYA wak dibanding ratusan ribu triliun yang dikuras dari tanah Aceh. Ini bukan kemitraan, ini pemerasan wak! Awak BUKAN orang Aceh. Tapi melihat daerah yang jadi MODAL AWAL lahirnya bangsa ini dikuras, diperkosa sumber daya alamnya, dan dianaktirikan... jujur awak muak! Jangan kaliankaget wak, kalau suatu hari nanti Aceh angkat senjata atau angkat kaki dari Indonesia. Mereka bukan pembangkang, mereka cuma manusia yang sudah lelah dan sudah habis kesabarannya wak.😭

Sumatera Adil & Federal

26,352 Aufrufe • vor 1 Monat

🚨 ACEH MULAI TERLUPAKAN 💔 Aceh dilarang Berisik 🥀, akhirnya Aceh pun mulai ditinggalkan. Semua mengira kondisinya sudah baik-baik saja, padahal di pedalaman masih jauh dari kata pulih. Puluhan desa tetap terisolir, listrik padam berbulan-bulan, ada yang hampir tiga bulan tanpa aliran listrik. Jalan rusak parah, putus total, tak bisa dilalui kendaraan. Ini video warga yang bergotong royong mengangkat tiang listrik demi menghidupkan kembali kampung mereka, sebuah potret perjuangan mandiri di tengah keterbatasan. Sementara itu, pemerintah pusat seolah mulai melupakan Aceh. Relawan satu per satu berpamitan, bantuan perlahan surut. Kini Aceh benar-benar dibiarkan berjuang sendiri dalam kondisi yang masih separah ini. Inikah yang disebut keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia? Atau keadilan itu hanya muncul saat suara dibutuhkan dan SDA diincar? Banyak yang mulai muak melihat video-video tentang Aceh terus saya post🙏, tapi saya justru lebih muak melihat sikap pemerintah yang terkesan abai terhadap penderitaan ini. Andai suatu hari nanti Aceh kembali menuntut kemerdekaan, itu bukan muncul tiba-tiba. Itu adalah hasil dari tumpukan kekecewaan yang terus dicicil, dari tahun ke tahun, hingga akhirnya meluap. Semangat gotong royong warga Aceh patut diapresiasi, tapi seharusnya tidak menjadi pengganti tanggung jawab negara. Aceh bukan hanya butuh simpati sesaat, Aceh butuh keadilan yang nyata dan berkelanjutan. 10 februari 2026

Sumatera Adil & Federal

89,553 Aufrufe • vor 6 Monaten

MEREKA SEDANG TIDAK SEHAT . . . Anda curiga ada peran pak Jokowi pada hasil putusan MK? Sama seperti anda, saya pun punya rasa itu. Namun rasa curigamu lalu menjadi dasar pembenaran untuk menghukum beliau, itu mblandang namanya. Itu bar bar… Serahkan pada hukum..! Itu konsekuensi logis kita bernegara. Di tengah rasa curiga kita dengan tindakan hukum menghukum, ada aturan main yang harus kita sepakati bersama. Ada hadir proses hukum berikut petugas hukum milik negara yang kredibel yang kerjanya mengurai rasa tidak adil itu. Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi atau MKMK sudah hadir. Indikasi adanya pelanggaran etik atas putusan MK yang membolehkan Gibran menjadi cawapres dan di sana hadir pamannya atau adik ipar bapaknya yang seorang presiden dan turut memutus perkara itu dan lalu membuat kita semua ikut curiga sudah dan sedang disidangkan. Apapun hasil putusan itu wajib hukumnya kita menerima. Menang dan kalah bukan tujuan pengadilan etik itu disidangkan tapi etis atau tidak etis tindakan paman Gibran ikut di dalamnya. Bila putusan itu bicara 'tidak etis' dan lalu berimbas pada hasil putusan MK terdahulu misalnya, kenapa pihak yang setuju atas putusan MK harus marah? Pun sebaliknya pihak yang tidak setuju karena putusan pengadilan etik ini tidak berlanjut pada pembatalan. Yang tetap ngamuk dan marah, sejatinya mereka bukan sedang mencari keadilan tapi mencari benar versi sendiri. Jadi? Lanjutkan pesta demokrasi dengan riang apapun hasil putusan MKMK hari ini. Yang masih ngamuk sama pak Jokowi karena putusan MKMK hari ini tidak membatalkan pencawapresan Gibran misalnya, itu pasti adalah orang - orang TAKUT KALAH. Dan orang takut kalah tapi sudah ngamuk sebelum bertanding, akan sulit dijelaskan dengan akal sehat. MEREKA SEDANG TIDAK SEHAT AKAL. . .

NitNot ❘

152,084 Aufrufe • vor 2 Jahren