Загрузка видео...

Не удалось загрузить видео

На главную

Bukan mata yang buta, tetapi hati.

113,307 просмотров • 3 лет назад •via X (Twitter)

Комментарии: 0

Нет доступных комментариев

Здесь появятся комментарии из оригинального поста

Похожие видео

Orang Cerdas itu kayak gimana sih? Apa sih orang cerdas itu? Rasulullah memberi jawaban menohok: “Al-kayyisu man dāna nafsahu wa ‘amila limā ba‘da al-mawt” (HR. Tirmidzi) — “Orang cerdas adalah yang menundukkan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” Kita sering memahami dāna nafsahu sebatas pengendalian syahwat. Padahal, nafs dalam Al-Qur’an dan hadis jauh lebih luas. Ia mencakup bukan hanya keinginan jasmani, tetapi juga ego, keangkuhan, dan rasa ingin berkuasa. Menahan syahwat memang berat, tetapi menundukkan ego jauh lebih sulit. Syahwat bisa terpuaskan bila tersalurkan, tapi ego tak bisa disalurkan—ia harus dinihilkan. Imam al-Ghazālī dalam Iḥyā’ menegaskan: penyakit hati paling berbahaya adalah kibr (kesombongan) dan ‘ujb (kagum pada diri sendiri), karena keduanya menutup jalan kerendahan hati dan penerimaan kebenaran. Hawa nafsu bisa menjerumuskan pada maksiat, tapi ego bisa menutup pintu taubat. Al-Qur’an memberi contoh kontras: Iblis jatuh bukan karena syahwat, tetapi ego—ia enggan sujud kepada Adam karena merasa lebih baik (QS. al-Baqarah [2]:34). Adam memang tergoda syahwat buah terlarang, tetapi selamat karena ia menundukkan egonya dengan taubat. Para sufi menekankan jihad terbesar adalah jihad al-nafs: bukan hanya mengekang tubuh, tetapi menundukkan keakuan. Rumi pernah berkata: “Musuh terbesarmu bukan di luar dirimu, tetapi dalam dirimu.” Inilah inti dāna nafsahu: menghukum ego sebelum ia menghancurkan jiwa. Orang cerdas bukan yang selalu memenangkan debat, melainkan yang berani kalah demi kebenaran. Ia bukan yang dipuja karena pengetahuan, tetapi yang rela merendah agar hatinya bersih. Inilah akal yang bercahaya: akal yang membawa manusia pada pengenalan diri, pengendalian hawa nafsu, dan pelepasan ego menuju Allah. Orang cerdas yang tak mampu mengendalikan egonya justru paling berbahaya: politisi mumpuni bisa menjadikan retorika sebagai alat tirani, ilmuwan brilian bisa membenarkan kezaliman, bahkan seorang alim bisa tergelincir menjilat pemerintah bila haus menambang pujian dan cuan. Jadi secerdas apa anda sih? Kalau menurut Nabi, ya sejauh anda mampu menaklukkan ego diri. Duh, kena deh diriku 😰🤦🏻‍♂️ Tabik, Nadirsyah Hosen

Nadirsyah Hosen

28,854 просмотров • 8 месяцев назад