Loading video...

Video Failed to Load

Go Home

Efek Rumah Kaca merekam apa yang dialami Munir lewat lagunya. Tapi lebih dari itu, “Di Udara” tak hanya membicarakan tentangnya, tapi kita semua. Sebuah esai #NarasiMusik. | Narasi

90,915 views • 2 years ago •via X (Twitter)

5 Comments

BurungPipitYangKecil's profile picture
BurungPipitYangKecil2 years ago

abdi sangat percaya sudah banyak berkah yang mengalir dari persistiwa dan terus mengalir hingga sampai detik ini, namun sayangnya sampai detik ini pun belum ada pengakuan dari aliran berkah itu.

centang hijau's profile picture
centang hijau2 years ago

Efek rumah kaca memang lagunya sering mengangkat isu2 sosial. Jarang sekali musisi spt ini. Mayoritas jualan cinta

ᴅɪᴅᴀɴᴅɪᴅᴜɴ's profile picture
ᴅɪᴅᴀɴᴅɪᴅᴜɴ2 years ago

tapiii akuu tak pernahh matiiiii..

lutfialiyaeti's profile picture
lutfialiyaeti2 years ago

ERK ❤️

agus tri maulana's profile picture
agus tri maulana2 years ago

panjang umur @efekrumahkaca dan @Penerka_Jkt

Related Videos

Ada yang bilang, kekuasaan merusak. Tapi lebih benar bila dikatakan: kekuasaan membuka siapa kita sebenarnya. Dulu, kita mengenalnya sebagai lelaki sederhana dari Solo. Gaya bicaranya pelan, sering terlihat kikuk, tapi memikat. Ia membangun citra sebagai pemimpin yang lahir dari rakyat, berbicara seperti rakyat, dan berpihak pada rakyat. Tapi hari lalu, lelaki itu duduk di puncak kekuasaan, dan kita seperti mendengar dua suara darinya: satu yang dulu menyapa dengan gaya santun dari Balai Kota, dan satu lagi yang kini membentak dari Istana. Apa yang menjadikan seorang Jokowi berubah demikian drastis? Atau, barangkali, ia tidak berubah sama sekali—kita saja yang dulu belum cukup mengenalnya. Nilai-nilai tak turun dari langit. Ia dibentuk oleh pengalaman, lingkungan, dan lebih dulu lagi: keluarga. Rumah adalah ruang paling sunyi tempat seseorang belajar apa arti kebenaran, apa makna kejujuran, dan bagaimana bersikap terhadap kekuasaan. Jika seorang anak tumbuh dalam rumah yang memperlakukan kebohongan sebagai cara bertahan hidup, maka besar kemungkinan ia akan menjadikan dusta sebagai alat, bukan aib. – “The subconscious mind is formed by observing others, especially during childhood. Most people don’t realize they’re just replaying a program installed by their family.” Konon, masa kecil Jokowi dekat dengan lingkungan ideologis yang tidak bertumpu pada iman sebagai fondasi nilai. Narasi ini memang tidak pernah dikonfirmasi dengan jujur, tapi juga tidak pernah dibantah dengan tegas. Bukan berarti setiap orang yang tumbuh di sekitar ideologi kiri niscaya kehilangan moral, tidak. Tapi jika dalam rumah itu nilai-nilai agama hanya menjadi tempelan sosial—bukan keyakinan batin—maka “dosa” tak punya tempat dalam logika hidup. Dalam logika itu, yang benar bukan yang jujur, melainkan yang berhasil. Dan kita tahu, Jokowi berhasil. Tapi dengan ongkos mahal: hilangnya kepercayaan publik. Ia pernah berjanji tak akan mengangkat anak dan menantunya dalam politik. Hari ini, satu jadi wakil presiden, satu lagi menuju kursi gubernur. Ia pernah bilang tak akan ikut cawe-cawe soal pilpres. Tapi kita tahu betapa kuat bayangannya dalam setiap putusan Mahkamah Konstitusi, KPU, bahkan dalam framing media. Berbohong bukan lagi kegagalan moral. Tapi metode kekuasaan. Tapi kenapa? Barangkali karena sejak awal ia tidak pernah menganggap kebohongan sebagai bentuk pengkhianatan. Barangkali sejak kecil, dalam rumahnya, kebenaran adalah apa yang berguna. Agama? Mungkin hadir sebagai formalitas. Nilai? Mungkin tak lebih dari strategi. Maka ia pun tumbuh menjadi manusia politik tanpa beban akhlak. Berjanji tanpa niat menepati. Berucap tanpa takut dilangitkan. Kita menyaksikan seorang pemimpin yang tidak hanya ingkar, tapi tak merasa bersalah. Seolah ia tak tahu bahwa kata adalah amanah. Dan barangkali ia memang tak pernah diajari begitu. Dalam dunia di mana iman adalah fondasi moral, berbohong adalah dosa. Dalam dunia tanpa itu, bohong hanyalah taktik. Kita tidak dilahirkan dengan akhlak. Kita menyerapnya. Dan apa yang diserap Jokowi—entah dari rumah, entah dari sejarah—telah membentuknya menjadi sosok yang kini kita kenal: presiden yang tak pernah benar-benar jujur. Dan seperti kata seseorang yang sudah lama berhenti berharap: kita bukan sedang menyaksikan seorang pemimpin yang jatuh, tapi seseorang yang akhirnya memperlihatkan wajah aslinya. Copas pak Ali Syarief - アリ・シャリーフ

Ommi de Queen👑

10,814 views • 1 year ago

🚨 Thierry Henry di CBS Sports Golazo ⚽️ setelah insiden penghinaan rasial Vinícius Júnior dalam laga Benfica-Real Madrid kemarin: “Dengarkan, saya akan mengatakan sesuatu yang cukup kuat di sini. Saya tidak suka Real Madrid, tetapi saya seorang madridista malam ini. Saya tidak peduli dengan seragam apa yang dikenakan Vinícius Júnior. Saya tidak ingin melihat itu. Saya juga mendengar beberapa orang bilang bahwa itu selalu terjadi padanya… Lalu kenapa? Jadi pertanyaannya, yang ingin kamu ubah itu subjeknya atau situasinya? Mari kembali ke inti persoalannya.” “Apa yang telah dikatakan? Dikatakan bahwa Vinícius Jr. adalah monyet. Kita lagi membicarakan apa? Apa yang harus kita lakukan? Dan di atas itu, dia tidak bisa merayakan golnya? Mengapa kita di sini? Apa yang kita bicarakan?” “Bukan, ini bukan menggeneralisasi tentang Benfica sebagai klub. Tidak ada yang membicarakannya. Kita semua punya rasa hormat terhadap Benfica. Tetapi, individu itu harus bertanggung jawab atas apa yang ia katakan.” “Dia tidak bisa keluar lalu berkata ‘Saya tidak mengatakan apa-apa’, nah kenapa kamu menutup mulutmu saat itu? Saya tidak suka berspekulasi. Saya percaya pernyataan Kylian [yang menyebut bahwa ia mendengar Prestianni memanggil Vini Jr dengan sebutan monyet]. Dia meninggalkan pesan untuk saya, ngomong-ngomong. Saya tidak sabar untuk mendengarnya. Saya biasanya tidak membicarakan apa yang saya lakukan di telepon dan sebagainya, kalian tahu itu, tapi ini penting.” “Saya akan menelponnya [Kylian Mbappé] dan saya ingin tahu apa yang dikatakan orang itu [Prestianni]. Tapi pada saat yang sama kita punya video buktinya. Cukup sudah.” “Ini permainan yang indah. Tapi kadang-kadang aturan yang kita miliki dalam permainan ini jauh dari apa yang orang lihat di dalam permainan. Apa itu? Kita di sini untuk mencetak gol atau membuat orang bahagia, tapi ketika seorang terluka, kita tidak bertindak, kita malah menyalahkan orang itu.” “Serius, apa yang kita bicarakan? Golnya menghentikan permainan ini? Itu yang kita dengar malam ini. Sebenarnya, golnya membuat saya terkejut, itu yang dia lakukan. Gol itu yang ingin saya lihat [bukan insiden rasismenya].”

Seputar Real Madrid

32,106 views • 7 months ago