Loading video...

Video Failed to Load

Go Home

Itu yg rasa jeruk berdiri ngapain

509,457 views • 1 year ago •via X (Twitter)

18 Comments

Zaveline's profile picture
Zaveline1 year ago

Bahasan tentang "kodrat perempuan yang suka bergibah" ini sebenarnya lebih ke ranah stereotip sosial ketimbang kodrat yang mutlak, karena bergibah (ngomongin orang lain, biasanya dengan nada negatif atau sensasional) bukan sifat bawaan gender, melainkan perilaku yang dipengaruhi budaya, lingkungan, dan dinamika manusia secara umum. Tapi, karena sering diasosiasikan dengan perempuan dalam narasi populer, kita bisa kupas kenapa anggapan ini muncul dan mengakar

Zaveline's profile picture
Zaveline1 year ago

serta apa yang bikin fenomena ini menarik untuk dianalisis panjang lebar. Pertama, kita mulai dari konstruksi sosial dan budaya. Di banyak masyarakat, termasuk Indonesia, perempuan historically punya peran besar dalam komunitas kecil, seperti keluarga atau lingkungan tetangga.

Zaveline's profile picture
Zaveline1 year ago

Dulu, saat laki-laki sibuk di luar rumah misalnya kerja di ladang atau kantor perempuan sering jadi "penjaga informasi" di rumah. Ngobrol sama tetangga, tukar cerita tentang kehidupan sehari-hari, atau bahkan kasih peringatan soal apa yang terjadi di sekitar

Zaveline's profile picture
Zaveline1 year ago

jadi bagian dari peran sosial mereka. Nah, dari kebiasaan bertukar informasi ini, lama-lama muncul stereotip bahwa perempuan lebih suka "ngobrolin orang lain". Padahal, ini bukan kodrat biologis, tapi lebih ke pola yang tercipta dari pembagian peran gender di masa lalu.

Zaveline's profile picture
Zaveline1 year ago

Kedua, ada faktor psikologi dan kebutuhan sosial. Manusia pada dasarnya makhluk sosial yang suka berbagi cerita, dan bergibah bisa dilihat sebagai bentuk pelepasan emosi atau pencarian validasi.

Zaveline's profile picture
Zaveline1 year ago

Perempuan, yang sering dididik untuk lebih ekspresif secara emosional dibanding laki-laki (lagi-lagi karena budaya), mungkin lebih terlihat melakukan ini. Misalnya, ngomongin tetangga yang baru beli mobil atau temen yang katanya selingkuh

Zaveline's profile picture
Zaveline1 year ago

bisa jadi cara buat nyambung sama orang lain, ngerasa "aku nggak sendirian", atau sekadar ngeluarin unek-unek. Tapi, ini bukan berarti laki-laki nggak bergibah mereka juga ngomongin orang, cuma mungkin konteksnya beda, kayak di warung kopi atau grup WhatsApp, dan nggak dilabeli "gibah" karena stereotipnya beda.

Zaveline's profile picture
Zaveline1 year ago

Ketiga, media dan budaya pop turut memperkuat anggapan ini. Dari sinetron, film, sampai meme di media sosial, perempuan sering digambarin sebagai "ratu gibah" duduk bareng di teras, sambil ngopi, terus ngomongin drama keluarga tetangga. Ini bikin imagenya melekat banget

Zaveline's profile picture
Zaveline1 year ago

padahal kenyataannya, gibah itu universal. Tapi karena perempuan sering jadi fokus cerita entah sebagai ibu rumah tangga atau temen arisan maka label "suka bergibah" lebih gampang nempel ke mereka. Seolah-olah ini jadi "kodrat", padahal cuma amplifikasi budaya.

Zaveline's profile picture
Zaveline1 year ago

Keempat, ada dinamika kekuasaan kecil-kecilan dalam gibah. Bergibah kadang-kadang jadi cara buat ngerasa lebih unggul atau nyaman dalam lingkungan sosial. Misalnya, ngomongin kejelekan orang lain bisa bikin seseorang ngerasa, "Aku lebih baik dari dia."yang melibatkan cerita dan emosi.

Zaveline's profile picture
Zaveline1 year ago

Perempuan, yang di beberapa konteks punya ruang kekuasaan terbatas dibanding laki-laki (lagi-lagi karena patriarki), mungkin lebih sering pakai gibah sebagai alat sosial bukan karena kodrat, tapi karena itu salah satu cara yang tersedia buat mereka buat nyambung atau ngatur dinamika di lingkungannya.

Zaveline's profile picture
Zaveline1 year ago

Kelima, kita juga bisa lihat dari sisi evolusi bahasa dan interaksi. Perempuan cenderung lebih verbal dalam komunikasi, setidaknya menurut beberapa penelitian psikolinguistik, karena mereka sering didorong buat membangun hubungan lewat kata-kata. Gibah, dalam arti luas, adalah salah satu bentuk komunikasi

Zaveline's profile picture
Zaveline1 year ago

Jadi, kalau perempuan terlihat lebih "jago" bergibah, mungkin ini lebih ke soal kebiasaan linguistik yang diasah, bukan sifat bawaan. Tapi, penting banget buat klarifikasi: mengatakan "kodrat perempuan suka bergibah" itu nggak akurat secara ilmiah. Gibah itu sifat manusiawi, nggak terbatas gender.

Zaveline's profile picture
Zaveline1 year ago

Laki-laki juga bisa jadi "raja gibah" di konteks mereka sendiri ngomongin politik, sepak bola, atau bahkan temen yang pinjem duit nggak balik. Bedanya, gibah versi perempuan lebih sering dilupain atau dijadikan bahan candaan, sementara versi laki-laki kadang dianggap "diskusi serius".

Zaveline's profile picture
Zaveline1 year ago

Jadi, kesimpulannya, anggapan bahwa perempuan suka bergibah itu bukan kodrat alamiah, melainkan hasil dari perpaduan budaya, sejarah, peran sosial, dan cara kita memandang interaksi.

Zaveline's profile picture
Zaveline1 year ago

Stereotip ini bertahan karena terus dipelihara lewat cerita-cerita sehari-hari, dari obrolan keluarga sampe konten viral. Tapi kalau kita jeli, gibah itu cuma cerminan bahwa manusia perempuan maupun laki-laki suka banget nyari bahan obrolan, apalagi kalau ada drama yang bikin penasaran!

Zaveline's profile picture
Zaveline1 year ago

Cr:@/nurselinasiringoringo

So.Gay's profile picture
So.Gay1 year ago

We had no idea!

Related Videos