Video wird geladen...

Video konnte nicht geladen werden

Zur Startseite

KABAR VIRTUAL KALI INI! Channel YouTube resmi DPD RI (Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia), memperkenalkan VTuber baru mereka bernama “Sena” (1/5) NEXT-> #vtuber #vtuberid #DPDRI #vtuberdebut #VTuberUprising

2,380,072 Aufrufe • vor 10 Monaten •via X (Twitter)

0 Kommentare

Keine Kommentare verfügbar

Kommentare vom Original-Post werden hier angezeigt

Ähnliche Videos

"Halah, cuma karakter 2D fiksi ini, bebas lah mau diapain juga." "Saya tidak pernah dengar suaranya, apalagi beli bantalnya, gesek-gesek [kelamin] saya sambil nonton, saya ga pernah, JADI STOP HIPOKRIT!" Kalimat-kalimat di atas jujur bikin darahku mendidih. Sebagai orang yang hidup di dua dunia sekaligus, yaitu sebagai VTuber dan juga seorang sutradara, opini kayak gitu enggak cuma salah kaprah secara logika, tapi juga nyenggol ranah personal aku. Aku tahu gimana rasanya berdarah-darah bangun persona di balik avatar. Berapa jam yang abis buat persiapan, seberapa terkurasnya energi tiap kali live, dan seberapa nyatanya ikatan yang kebentuk sama penonton. Avatar itu bukan tembok pembatas antara fiksi dan realita. Justru sebaliknya, itu jembatannya. Makanya, pembelaan Dera itu bener-bener enggak masuk akal. Buat yang ketinggalan info, kemarin Dera ini bikin tier list VTuber Indonesia. Masalahnya, ini bukan tier list soal kualitas konten atau skill streaming. Kategorinya beneran seksual secara terang-terangan, bahkan Dera memperlakukan avatar & art vtubernya dengan tidak pantas. Pas komunitas VTuber protes, dia malah bikin live stream "klarifikasi" yang sama sekali gak bikin suasana adem, isinya malah makin ngaco. Di stream itu, argumen dia intinya bilang kalau ini kan cuma karakter 2 dimensi, dia enggak pernah ngelakuin hal aneh-aneh pas nonton mereka, dan malah nuduh netizen yang nonton VTuber tuh sebenernya gooner semua, dan dia yang benar. Dilanjut dengan instagram story dengan isi serupa, video terlampir. Pertama, yang Dera lakukan itu namanya logical fallacy tu quoque, atau dalam bahasa yang lebih membumi: "kamu juga begitu." Argumen "kalian juga gooner" tidak membuat tindakannya jadi benar. Lagipula, banyak sekali vtuber dan viewers yang kontennya jauh dari hal-hal seksual sekarang. Sebagian besar konten VTuber yang beredar sekarang, apalagi di skena vtuber Indonesia, isinya tuh main game bareng penonton, belajar bahasa asing sambil ngasbun, masak-masakan, atau sekadar ngobrol santai tentang hari yang berat. Ada VTuber yang jadiin channel-nya tempat belajar sejarah. Ada yang fokus ke komedi murni. Bahkan ada para v-doctor, baik dokter biasa, dokter gigi, dan dokter hewan, bahas soal kesehatan. Kebanyakan bahkan enggak pernah sekalipun nyentuh topik dewasa, karena memang bukan itu yang ingin mereka bangun. Penonton dateng bukan karena libido. Mereka dateng karena butuh temen ngobrol jam dua pagi, karena pengen ketawa setelah hari yang melelahkan, atau karena ada kreator yang bikin mereka merasa diterima tanpa harus jadi siapa-siapa dulu. Menyamaratakan semua itu sebagai "gooner" bukan cuma salah secara faktual, itu juga penghinaan terhadap jutaan orang yang menemukan sesuatu yang genuine di skena ini. Kedua, soal "cuma 2D." Sebagai sutradara, waktu aku nulis naskah, karakter di atas kertas itu emang fiksi murni. Aku bebas mau matiin karakternya, mau disiksa, atau mau diapain aja, karena mereka enggak punya perasaan, enggak punya jadwal, dan enggak punya penonton yang nungguin tiap minggu. VTuber itu beda. Avatar 2D itu lebih mirip kostum panggung daripada karakter fiksi. Di baliknya ada talent nyata, manusia beneran yang membangun reputasi bertahun-tahun, menanggung konsekuensi psikologis dan finansial kalau nama baiknya rusak, serta punya relasi parasosial yang nyata sama audiensnya. Bedanya sama karakter anime biasa jelas banget. Naruto enggak punya jadwal live streaming. Rem dari Re:Zero enggak bakal bales komentar lu pas lagi mabar. Tapi VTuber itu interaktif dan nyata. Ketika kamu bikin konten seksual tanpa consent atau izin pake identitas mereka, yang kena dampaknya bukan cuma piksel di layar, tapi manusia di baliknya. Ini Namanya Pembunuhan Karakter Orang yang baru pertama kali denger nama si VTuber lewat tier list mesum itu bakal langsung punya persepsi buruk. Mereka bakal inget si VTuber dari cap seksualnya, bukan dari karya, skill, atau konten aslinya. Ini beneran pembunuhan karakter secara harfiah. Lebih parahnya lagi, hal ini memicu normalisasi pelecehan. Penonton yang ngerasa konten begitu "lucu" atau "biasa aja" bakal bawa kebiasaan itu ke mana-mana. Mereka bakal nge-chat mesum di kolom komentar streamer lain, bikin jokes enggak pantes di forum, dan ngerasa itu hal yang wajar Normalisasi itu enggak dateng tiba-tiba kayak meteor; dia menjalar pelan-pelan akibat pembiaran dan kebiasaan. Klaim dia yang bilang "cuma mau membuka mata penonton" juga kocak sih. Mau buka mata soal apa? Sisi gelap parasosial di dunia VTuber? Bahasan itu sih udah sering didiskusiin sama orang-orang dengan cara yang jauh lebih berkelas dan elegan. Membuat tier list seksual cuma ragebait murahan yang dibungkus dengan pembenaran biar kelihatan lebih baik dari orang yang dia hina. Komunitas terbentuk dari apa yang kita normalisasi bersama. Setiap hal yang kita tertawakan, setiap konten yang kita biarkan lewat tanpa reaksi, setiap kreator yang kita pilih untuk didukung atau tidak, itu semua adalah suara. Dan suara-suara kecil itu, kalau cukup banyak yang searah, bisa membentuk seperti apa industri ini di masa depan.
0:58

Sensitive content

"Halah, cuma karakter 2D fiksi ini, bebas lah mau diapain juga." "Saya tidak pernah dengar suaranya, apalagi beli bantalnya, gesek-gesek [kelamin] saya sambil nonton, saya ga pernah, JADI STOP HIPOKRIT!" Kalimat-kalimat di atas jujur bikin darahku mendidih. Sebagai orang yang hidup di dua dunia sekaligus, yaitu sebagai VTuber dan juga seorang sutradara, opini kayak gitu enggak cuma salah kaprah secara logika, tapi juga nyenggol ranah personal aku. Aku tahu gimana rasanya berdarah-darah bangun persona di balik avatar. Berapa jam yang abis buat persiapan, seberapa terkurasnya energi tiap kali live, dan seberapa nyatanya ikatan yang kebentuk sama penonton. Avatar itu bukan tembok pembatas antara fiksi dan realita. Justru sebaliknya, itu jembatannya. Makanya, pembelaan Dera itu bener-bener enggak masuk akal. Buat yang ketinggalan info, kemarin Dera ini bikin tier list VTuber Indonesia. Masalahnya, ini bukan tier list soal kualitas konten atau skill streaming. Kategorinya beneran seksual secara terang-terangan, bahkan Dera memperlakukan avatar & art vtubernya dengan tidak pantas. Pas komunitas VTuber protes, dia malah bikin live stream "klarifikasi" yang sama sekali gak bikin suasana adem, isinya malah makin ngaco. Di stream itu, argumen dia intinya bilang kalau ini kan cuma karakter 2 dimensi, dia enggak pernah ngelakuin hal aneh-aneh pas nonton mereka, dan malah nuduh netizen yang nonton VTuber tuh sebenernya gooner semua, dan dia yang benar. Dilanjut dengan instagram story dengan isi serupa, video terlampir. Pertama, yang Dera lakukan itu namanya logical fallacy tu quoque, atau dalam bahasa yang lebih membumi: "kamu juga begitu." Argumen "kalian juga gooner" tidak membuat tindakannya jadi benar. Lagipula, banyak sekali vtuber dan viewers yang kontennya jauh dari hal-hal seksual sekarang. Sebagian besar konten VTuber yang beredar sekarang, apalagi di skena vtuber Indonesia, isinya tuh main game bareng penonton, belajar bahasa asing sambil ngasbun, masak-masakan, atau sekadar ngobrol santai tentang hari yang berat. Ada VTuber yang jadiin channel-nya tempat belajar sejarah. Ada yang fokus ke komedi murni. Bahkan ada para v-doctor, baik dokter biasa, dokter gigi, dan dokter hewan, bahas soal kesehatan. Kebanyakan bahkan enggak pernah sekalipun nyentuh topik dewasa, karena memang bukan itu yang ingin mereka bangun. Penonton dateng bukan karena libido. Mereka dateng karena butuh temen ngobrol jam dua pagi, karena pengen ketawa setelah hari yang melelahkan, atau karena ada kreator yang bikin mereka merasa diterima tanpa harus jadi siapa-siapa dulu. Menyamaratakan semua itu sebagai "gooner" bukan cuma salah secara faktual, itu juga penghinaan terhadap jutaan orang yang menemukan sesuatu yang genuine di skena ini. Kedua, soal "cuma 2D." Sebagai sutradara, waktu aku nulis naskah, karakter di atas kertas itu emang fiksi murni. Aku bebas mau matiin karakternya, mau disiksa, atau mau diapain aja, karena mereka enggak punya perasaan, enggak punya jadwal, dan enggak punya penonton yang nungguin tiap minggu. VTuber itu beda. Avatar 2D itu lebih mirip kostum panggung daripada karakter fiksi. Di baliknya ada talent nyata, manusia beneran yang membangun reputasi bertahun-tahun, menanggung konsekuensi psikologis dan finansial kalau nama baiknya rusak, serta punya relasi parasosial yang nyata sama audiensnya. Bedanya sama karakter anime biasa jelas banget. Naruto enggak punya jadwal live streaming. Rem dari Re:Zero enggak bakal bales komentar lu pas lagi mabar. Tapi VTuber itu interaktif dan nyata. Ketika kamu bikin konten seksual tanpa consent atau izin pake identitas mereka, yang kena dampaknya bukan cuma piksel di layar, tapi manusia di baliknya. Ini Namanya Pembunuhan Karakter Orang yang baru pertama kali denger nama si VTuber lewat tier list mesum itu bakal langsung punya persepsi buruk. Mereka bakal inget si VTuber dari cap seksualnya, bukan dari karya, skill, atau konten aslinya. Ini beneran pembunuhan karakter secara harfiah. Lebih parahnya lagi, hal ini memicu normalisasi pelecehan. Penonton yang ngerasa konten begitu "lucu" atau "biasa aja" bakal bawa kebiasaan itu ke mana-mana. Mereka bakal nge-chat mesum di kolom komentar streamer lain, bikin jokes enggak pantes di forum, dan ngerasa itu hal yang wajar Normalisasi itu enggak dateng tiba-tiba kayak meteor; dia menjalar pelan-pelan akibat pembiaran dan kebiasaan. Klaim dia yang bilang "cuma mau membuka mata penonton" juga kocak sih. Mau buka mata soal apa? Sisi gelap parasosial di dunia VTuber? Bahasan itu sih udah sering didiskusiin sama orang-orang dengan cara yang jauh lebih berkelas dan elegan. Membuat tier list seksual cuma ragebait murahan yang dibungkus dengan pembenaran biar kelihatan lebih baik dari orang yang dia hina. Komunitas terbentuk dari apa yang kita normalisasi bersama. Setiap hal yang kita tertawakan, setiap konten yang kita biarkan lewat tanpa reaksi, setiap kreator yang kita pilih untuk didukung atau tidak, itu semua adalah suara. Dan suara-suara kecil itu, kalau cukup banyak yang searah, bisa membentuk seperti apa industri ini di masa depan.

Kalanara Mahardika 🎬✨

318,221 Aufrufe • vor 3 Monaten

Beredar informasi seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Bekasi, Jawa Barat bernama Iwan Sahab yang meninggal dunia di Kamboja diduga karena dianiaya. Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Abdul Kadir Karding mengaku masih melakukan pelacakan. Dalam video yang beredar di media sosial, Iwan diduga ditemukan oleh polisi Kamboja dalam kondisi babak belur penuh luka. Iwan sempat dibawa ke rumah sakit namun akhirnya meninggal dunia pada Senin (14/4) kemarin. Saat ini jenazah Iwan masih berada di Kamboja. Selain itu, Rizal Sampurna (30), tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, dilaporkan meninggal dunia di Kamboja. Kepala Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P4MI) Banyuwangi, Fery Meryanto, menyebut menerima informasi tersebut pada Senin (7/4) lalu dari Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI). Informasi ini diteruskan setelah BP2MI menerima laporan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kamboja. "Kami menerima informasi dari kantor pusat bahwa ada seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Banyuwangi bernama Rizal Sampurna yang meninggal di Kamboja. Namun, dokumen awal yang kami terima baru berupa paspor. Kami masih menunggu informasi lebih lanjut dan resmi dari KBRI di sana," ujar Fery kepada wartawan, Senin (14/4). Kadir menyebut biasanya kasus semacam itu tidak bisa dimonitor lantaran PMI yang berangkat ke Kamboja merupakan PMI ilegal. Karding menyebut ada 80.000 pekerja Indonesia yang bekerja di negara Angkor Wat itu. Mereka rata-rata bekerja sebagai operator judi online, hingga scamming atau penipuan. 📸: Dok. kumparan. Follow WhatsApp Channel kumparan untuk dapat Informasi terpercaya dikirim langsung ke WhatsApp kamu. Ketik di browser kamu sekarang, agar bisa share informasi tanpa ragu. #newsupdate #update #news #videonews #p2mi #pekerjamigran #imigran #abdulkarding #tenagakerjaindonesia #info #infoterkini #berita #beritaterkini #bicarafaktalewatberita #kumparan

kumparan

287,934 Aufrufe • vor 1 Jahr

LAGU KEBANGSAAN SINGAPURA Pencipta lagu kebangsaan Singapura Zubir Said itu asli Bukittinggi, & pencipta lagu kebangsaan Malaysia Saiful Bahri asli Payakumbuh. Tapi kenapa nama MINANGKABAU terkesan dileburkan di sana? Karena peradaban Minangkabau di era kolonial sebenarnya udah sangat maju di bidang pendidikan & kebudayaan. Sayangnya, daerah induknya di Indonesia dibikin NYANGKUT kemajuannya oleh penguasa biarhi di jakarta bahkan kemajuan Minangkabau dihambat supaya jalan di tempat terutama pasca peristiwa PRRI. Sejak PRRI, stigma & diskriminasi ke masyarakat Minang itu kuat kali wak: - Minang disingkirkan dari panggung kemajuan nasional. - Orang tua dulu sampai takut ngasih nama anak dengan nama khas Minang. - Dituduh PEMBERONTAK yang mau memisahkan diri dari republik. Pola pengasingan politik kayak gini sebenarnya mirip sama apa yang dialami suku Sunda pasca DI/TII wak. Orang Sunda sempat diasingkan dalam peta politik nasional. Baru setelah Soekarno turun, sisa laskar DI/TII dimanfaatkan Soeharto buat menyisir kekuatan PKI, dan setelah itu baru orang-orang Sunda perlahan kembali ke kancah perpolitikan nasional puncaknya di era Wapres Umar Wirahadikusumah. Padahal esensi utama tuntutan PRRI itu murni PEMERATAAN! Gimana logikanya coba? Bagaimana mungkin etnis yang menyumbang hampir 1/3 pendiri bangsa ini mendadak mau memberontak keluar dari negara yang MEREKA DIRIKAN SENDIRI? Gak masuk akal kan wak! Bagi siapa pun yang paham sejarah tuntutan pembangunan daerah, pasti paham konteks lahirnya PRRI. Gimana menurut kalian wak? Apakah luka sejarah pasca-PRRI ini masih menyisakan efek domino sampai hari ini? 👇

Sumatera Adil & Federal

339,367 Aufrufe • vor 25 Tagen

Korban Pengeroyokan di Karaoke paradise Bandungan Resmi Lapor Polda Jateng, Pelaku Terancam Pasal 170 KUHP SEMARANG – Seorang pria berinisial T, asal Temanggung, harus dilarikan ke rumah sakit setelah menjadi korban pengeroyokan brutal oleh belasan karyawan tempat karaoke Paradise di Bandungan, Kabupaten Semarang. Peristiwa nahas ini terjadi pada Sabtu pagi, 1 November 2025, sekitar pukul 05.30 WIB. Karaoke Paradise sendiri sebelumnya sempat menjadi sorotan publik terkait dugaan kasus penistaan agama. Niat Cari Tas Berujung Pengeroyokan Menurut kronologi yang dihimpun, korban T bersama dua rekannya kembali ke tempat karaoke tersebut dengan niat baik untuk mencari tas milik temannya yang diduga tertinggal atau terjatuh saat mereka pulang. Namun, saat korban T bersama dua temannya menanyakan perihal tas yang diduga tertinggal, sejumlah operator dan karyawan karaoke justru menanggapinya secara berbeda. Mereka merasa tersinggung dan tertuduh oleh ucapan korban. Alih-alih memberikan bantuan, belasan karyawan tempat karaoke tersebut secara brutal mengeroyok korban T. "Akibatnya, korban T mengalami luka-luka lebam dan babak belur di bagian muka dan kepala, serta bajunya robek," demikian keterangan yang didapatkan. Tidak hanya itu, salah satu pelaku juga merusak dan sempat menyandera kunci kontak mobil milik korban. LPK RI Dampingi Lapor Polda Jawa Tengah Tak terima atas perlakuan pengeroyokan tersebut, korban T lantas mendatangi kantor Lembaga Perlindungan Konsumen Republik Indonesia (LPK RI) untuk meminta pendampingan hukum. Korban langsung ditemui oleh Ketua DPD Jawa Tengah LPK RI. Pada Minggu dini hari, 2 November 2025, sesaat setelah korban melakukan visum di RS Bhayangkara Semarang, korban didampingi LPK RI kemudian resmi melaporkan kejadian ini ke Polda Jawa Tengah pada Senin, 3 November 2025, siang hari. Saat korban didampingi LPK RI melakukan pelaporan resmi di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Jawa Tengah, sejumlah awak media turut mengawal proses tersebut, menunjukkan sorotan publik yang besar terhadap kasus dugaan tindak pidana murni ini. Pelaku Terancam Pasal Berlapis Korban T berharap agar seluruh pelaku yang terlibat dalam aksi pengeroyokan ini dapat segera diproses dan diadili sesuai dengan pasal-pasal pidana yang berlaku. Korban menuntut keadilan atas perlakuan brutal yang menimpanya. Peristiwa pengeroyokan yang mengakibatkan luka dan kerusakan barang milik korban ini berpotensi dijerat dengan sejumlah pasal pidana: * Pasal 170 KUHP: Tentang Pengeroyokan, yang mengancam pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan. * Pasal 351 KUHP Ayat (1) & (2): Tentang Penganiayaan, jika kekerasan mengakibatkan luka-luka. * Pasal 406 KUHP: Tentang Perusakan Barang, terkait perusakan kunci kontak mobil korban. Polda Jawa Tengah kini diharapkan segera menindaklanjuti laporan ini guna memberikan keadilan bagi korban dan memproses hukum para pelaku pengeroyokan tersebut. Atensinya komandan Polres Semarang Polda Jateng

dhemit_is_back

15,087 Aufrufe • vor 9 Monaten

REFERENDUM ACEH🚨 REFERENDUM ADALAH JALAN DAMAI YANG BISA MENJAWAB FAKTA APAKAH SELAMA INI NEGARA HADIR DI ACEH ATAU TIDAK ANALISIS & REFLEKSI Menatap Fenomena di Aceh: Antara Kecewa, Sejarah, dan Keadilan Nasional Aksi penuruan bendera Merah Putih dan simbol Garuda di Aceh baru-baru ini memicu gelombang kemarahan publik secara luas. Bagi sebagian masyarakat Indonesia, tindakan tersebut dinilai mencederai semangat nasionalisme. Namun, apakah kita benar-benar memahami akar masalahnya, atau kita hanya bereaksi pada permukaannya saja? Untuk memahami dinamika ini secara jernih, kita harus berani membaca kembali lembar sejarah kontribusi Aceh bagi Republik ini wak. 1. MODAL KEMERDEKAAN REPUBLIK Saat Pulau Jawa dibungkam kolonial, Radio Rimba Raya dari tanah Aceh yang terus menyuarakan bahwa Indonesia masih ada. Kehadiran suara ini menyeret belanda ke meja perundingan. Tak hanya itu, emas dan harta rakyat Aceh disumbangkan untuk membeli pesawat pertama Republik (RI-001 Seulawah). 2. JANJI POLITIK & REALITA OTONOMI Komitmen awal mengenai keleluasaan tata kelola syariat dan otonomi daerah justru berujung pada peleburan wilayah ke sumut. Saat Blok Lhokseumawe menghasilkan nilai ekonomi puluhan ribu triliun bagi kas pusat, pembangunan lokal dinilai belum sebanding. Dana Otonomi Khusus yang sering digaungkan kerap dipandang sekadar pelipur lara jika dibandingkan dengan akumulasi hasil kekayaan alam yang telah dialirkan keluar. 3. KOMITMEN MOUHELSINKI YANG TERGANTUNG Hingga kini, penyelesaian butir-butir Perjanjian Helsinki dipertanyakan karena dianggap belum terealisasi sepenuhnya oleh pemerintah pusat termasuk regulasi simbol daerah yang disahkan DPRA. Ketidakpastian ini memicu rasa frustrasi yang terakumulasi selama puluhan tahun. JIKA NEGARA PERCAYA DIRI, MENGAPA HARUS GENTAR? Kita kerap marah ketika bendera Merah Putih diturunkan oleh rakyat yang merasa tertindas. Padahal, kemarahan yang sama seharusnya kita arahkan kepada para oknum pejabat dan koruptor yang berlindung di balik bendera suci dan Garuda untuk mempraktikkan KKN. Mereka yang berbaju nasionalis tapi mengeruk harta rakyat adalah penghianat bangsa yang sesungguhnya. Pasal pembukaan UUD 1945 secara tegas menyatakan bahwa KEMERDEKAAN IALAH HAK SEGALA BANGSA. Jika negara merasa telah berlaku adil, mengayomi, dan memenuhi seluruh janji sejarahnya kepada rakyat Aceh, negara tidak boleh ragu untuk membuka ruang dialog terbuka atau mekanisme penentuan pendapat/REFERENDUM secara demokratis. REFERENDUM adalah jalan peradaban yang bermartabat untuk menguji apakah narasi kekecewaan ini diusung oleh seluruh rakyat atau hanya segelintir kelompok. Jika pemerintah enggan mendengar dan takut menguji aspirasi rakyatnya sendiri secara terbuka, bukankah itu menjadi cermin implisit bahwa ada komitmen sejarah yang memang belum ditunaikan? Saatnya berhenti bertindak sebagai NEGARA YANG LUPA SEJARAH. Berikan keadilan yang nyata, bukan sekadar janji di atas kertas. #Aceh #Perspektif #SejarahIndonesia

Sumatera Adil & Federal

10,574 Aufrufe • vor 19 Tagen