Sensitive content

This media may contain sensitive content.

正在加载视频...

视频加载失败

34,182 次观看 • 2 年前 •via X (Twitter)

9 条评论

kokigosong 的头像
kokigosong2 年前

Yahhh udah di ekse 😫😫😫

Cah kuno 的头像
Cah kuno2 年前

Maen ap nih kak

Alex84 的头像
Alex842 年前

Yahh gambarnya gelap gk keliatan😂😭

Diaz Agung 的头像
Diaz Agung2 年前

Gak seru cuma suara aja

milana milka 的头像
milana milka2 年前

Expresi kepedesan wkwkwkwkwkw

Awang Ompong 的头像
Awang Ompong2 年前

Mantap tante

HeartStone 的头像
HeartStone2 年前

Moaning nya ok😊

sky 的头像
sky2 年前

Dm !!

Massage Jakarta 的头像
Massage Jakarta2 年前

Enak banget kak

相关视频

Volumenya jgn kenceng2
1:19

Sensitive content

Volumenya jgn kenceng2

Umi | TOP UP GAMES • PULSA • KUOTA

115,003 次观看 • 1 年前

Banyak orang yang gak tahu kalau di detik-detik awal Tsunami Aceh 2004 masuk ke jalanan pusat kota Banda Aceh, karakteristik airnya sama sekali gak kelihatan kayak ombak raksasa di film-film. Di rekaman kamera amatir ini, lu bisa liat air laut itu awalnya cuma merayap pelan, keruh penuh sampah, mirip banjir luapan drainase biasa. ​Fase ini dalam ilmu oceanografi disebut sebagai "Leading Edge" atau bibir depan gelombang. Ada beberapa fakta krusial yang jarang diketahui orang kenapa situasi di menit-menit awal ini begitu menipu dan menjebak para korban: ​1. Ilusi Kecepatan dan "Massa Air" ​Di video ini, kelihatan orang-orang awalnya cuma jalan kaki cepat, bahkan ada yang masih naik motor atau mobil dengan santai karena gak sadar bahaya fatal di belakang mereka. Kenapa? Karena secara visual, airnya kelihatan berjalan lambat. Padahal, yang mengalir itu bukan sekadar air permukaan, melainkan massa air laut sedalam samudra yang mendorong dari belakang. Kecepatannya di daratan saat itu berkisar antara 30–40 km/jam, tapi karena volumenya masif, daya dorongnya setara dengan hantaman truk beton. ​2. Efek "Bore" di Sektor Urban ​Ketika tsunami masuk ke area padat penduduk seperti Banda Aceh, gelombang itu terjebak di gang-gang sempit dan jalanan kota. Ini memicu fenomena undular bore, di mana air yang tadinya merayap horizontal tiba-tiba menumpuk karena menabrak dinding bangunan, lalu bergolak naik ke atas (vertical swelling) dalam hitungan detik. Orang yang awalnya mengira air cuma se-mata kaki, dalam waktu kurang dari 2 menit bisa langsung terendam hingga kedalaman 3-5 meter. ​3. "The Silent Zone" Akibat Shock Psikologis ​Banyak saksi sejarah yang selamat menceritakan bahwa sesaat sebelum air merayap masuk ke kota, suasana mendadak senyap, disusul suara gemuruh mirip mesin pesawat jet dari kejauhan. Di video ini, herannya gak terdengar teriakan histeris massal di detik-detik awal. Itu terjadi karena masyarakat saat itu mengalami normalcy bias—sebuah penolakan psikologis di mana otak manusia mencoba meyakinkan diri bahwa "semuanya baik-baik saja dan ini cuma banjir biasa", karena mereka belum pernah mengalaminya seumur hidup. ​Rekaman dokumenter ini bukan cuma sekadar arsip bencana, tapi bukti nyata kenapa edukasi dini soal mitigasi bencana itu penting. Tsunami gak selalu datang sebagai dinding ombak yang langsung kelihatan tinggi, tapi sering kali menjebak sebagai air tenang yang merayap merusak dari bawah. ​Al-Fatihah buat seluruh korban Tsunami Aceh 2004. 🙏 Source: disasteroncamera (IG)

Halftime Culture

136,746 次观看 • 1 个月前

Keputusan & kajian Chromebook dibuat pejabat2 kementerian, yang kemudian "cuci tangan" bilang "dari konsultan" Inilah FAKTA yang terungkap dalam persidangan Ada 100+ jam fakta2 rekaman sidang yang perlu aku analisa, padahal sebulan lagi putusan Saatnya fight bikin AI lagi 👇🏼 Seminggu terakhir ngga ada sidang karena pengadilan libur lebaran. Tapi bukan berarti aku bisa libur juga. Tinggal 35 hari lagi menuju sidang putusan, perkiraannya di 30 April 2026. ✍️ Dari menjalani sidang sebagai terdakwa, aku belajar bahwa fakta yang punya kekuatan hukum hanyalah yang diucapkan di bawah sumpah. Banyak pernyataan di BAP yang tidak bernilai kecuali diulang di bawah sumpah sidang. Ini kenapa dalam sidang terbuka seperti perkaraku, advokat biasa rekam seluruh dialog persidangan. Supaya pas susun pledoi, bisa cek ulang apa yang saksi sebenarnya katakan. 🧐 Total rekaman sidangku sudah lebih dari 100 jam. 🤯 Masalahnya, banyak fakta penting terpendam di dalamnya, dan selama ini kita hanya bisa bergantung pada ingatan dan catatan sendiri untuk menebak di rekaman mana fakta tersebut terungkap. Awalnya aku coba unggah rekaman2 itu ke aplikasi seperti NotebookLM, tapi volumenya terlalu besar, beberapa unggahan bahkan ditolak. Yang lebih mengkuatirkan, hasilnya sering halusinasi dan AI-nya tertukar siapa yang bicara apa. Hal seperti ini bisa fatal untuk pembelaan. 😔 Situasi ini mirip dengan beberapa bulan lalu, ketika aku terima dokumen 4.500+ halaman persiapan sidang. Mustahil bisa baca dan ingat semuanya dalam waktu memadai. Ketika aku diskusi AI yang aku bangun dengan Pak Bambang Harymurti, mantan pemred Tempo, beliau cerita bahwa information overload seperti ini sangat dirasakan juga oleh hakim. ⚠️ Beliau cerita kalau majelis hakim sampai tingkat Mahkamah Agung bisa menghadapi ribuan kasus per tahun, setiap sidang bisa berlangsung dari pagi sampai malam, dan tidak semua dialog dalam sidang bisa dicatat rapi oleh panitera. Di sini AI bisa bantu. Bukan hanya untuk advokat dan terdakwa, tapi juga berguna untuk meringankan beban majelis hakim dan penuntut umum sekalipun. Agar berguna dan dapat digunakan semua pihak dalam persidangan, AI-nya butuh tiga kemampuan berikut: 1. Bikin transkrip yang cukup akurat dari rekaman Bahasa Indonesia, sampai ke level menit dan detik untuk setiap kata. ⏱️ 2. Deteksi ketika pembicara berganti, misalnya dari perubahan nada suara. 💬 3. Identifikasi siapa yang sedang bicara, misalnya apakah yang sedang bertanya kepada para saksi adalah hakim atau advokat, dan saksi siapa yang menjawab. 🗣️ Kalau ketiga tahap itu terpenuhi, datanya tinggal diintegrasikan dengan AI yang pakai jaringan pengetahuan perkara yang sudah aku buat. Jadinya kita bisa langsung tanya apa yang terjadi di setiap persidangan, dan bahkan minta dibandingkan dengan isi BAP seluruh saksi. Tapi permasalahan ini ngga mudah dan ngga murah. Salah satu tim advokatku bahkan sampai keluar Rp7 juta untuk alat rekam dan transkrip otomatis 😱 Namun sayangnya, banyak alat seperti itu yang akurasinya kurang bagus untuk Bahasa Indonesia. Jadinya aku mulai eksplorasi, pertama-tama lewat instruksi ke AI coding assistant untuk riset berbagai model dari berbagai provider, pakai sampel rekaman persidanganku sendiri. Tapi setelah aku tinggal mereka untuk riset semalaman, di pagi hari laporannya mengecewakan: Tidak ada satupun model AI yang bisa memenuhi ketiga kebutuhan di atas untuk Bahasa Indonesia. Di titik ini rasanya ingin mengeluh, kenapa Indonesia banyak hambatan dibanding negara lain. Tapi mengeluh ngga bakal bantu pembelaanku 😅 Karena taruhannya meluruskan tuduhan dan mengembalikan kebebasanku, mau ngga mau solusinya harus dicari. Akhirnya solusiku adalah: AI-nya dipecah jadi tiga tahap dengan tiga model berbeda. Salah satu keuntungan bangun AI sendiri, kita bebas pilih model terbaik untuk setiap kebutuhan, dan AI yang aku bangun bisa jadi koordinator agar model2 tersebut saling gotong royong bangun hasil terbaik. Sekarang alurnya jauh lebih enak 👇🏼 Tinggal daftarkan sidangnya, pilih nama2 saksi yang sudah terdeteksi dari BAP, dan unggah semua rekaman persidangan. Transkrip otomatis dibuat, lengkap dengan penanda waktu dan sudah dikelompokkan per pembicara.

Ibrahim Arief

121,583 次观看 • 4 个月前

Kita musti objektif dalam menilai suatu kejadian, terutama dalam peristiwa yang terjadi di Matraman kemarin pagi. Ini bukan soal SDA yang dieksploitasi, melainkan sikap para preman dari timur yang kerap berlaku arogan. Bayangkan saja, sudah geber-geber motor lalu tak terima saat ditegur. Bahkan sampai melakukan sweeping ke gang-gang, tentunya ini menyinggung perasaan orang lain. Tiap kelompok masyarakat memiliki rasa solidaritas, tapi bukan berarti dengan begitu bisa berbuat semaunya. Ini seharusnya bisa menjadi bahan refleksi diri bagi kita semua, dimana bumi dipijak maka disitu langit dijunjung. Jujur saja saat ini sudah ada 3 tersangka pelaku yang diamankan oleh pihak kepolisian, kendati demikian tidak ada jaminan bahwa ketiganya benar-benar aman. Hari-hari yang panjang kedepannya akan penuh dengan tantangan, baik di kantor polisi hingga ke lapas. Bukan sekedar menjalani masa hukumannya, tapi juga musti bertahan diri dari upaya balas dendam kelompok lawannya yang merasa belum puas. Bisa jadi ketiganya akan menghadapi intimidasi hingga kekerasan fisik dari narapidana yang se-suku dengan korban, mengingat rasa sukuisme di lapas begitu kental. Jadi bukan berarti membela pembunuhan, melainkan mengurai permasalahan dari akarnya. Apabila terdapat indikasi bahwa arogansi korban dipicu oleh pengaruh miras, maka permasalahan ini musti disikapi dengan berbagai langkah preventif dari pemerintah. Perda pelarangan peredaran miras musti ditegakkan, karena miras ini adalah salah satu pemicu terjadinya kejahatan. Akibatnya bisa mematik peristiwa yang lebih besar, seperti yang terjadi kali ini. Adapun kemarahan warga tentu tidak akan meledak apabila tidak dipicu atau diprovokasi, apalagi lingkungan tersebut merupakan zona merah yang kerap dilanda tawuran.

Pecinta Sejarah Tanah Air (PEJANTAN)

1,115,849 次观看 • 3 天前