Загрузка видео...

Не удалось загрузить видео

На главную

Kenapa pohon dikasih kain?

139,651 просмотров • 1 год назад •via X (Twitter)

Комментарии: 9

Фото профиля 𝓘𝓬𝓱𝔀𝓪𝓷𝓷𝓾𝓭𝓭𝓲𝓷
𝓘𝓬𝓱𝔀𝓪𝓷𝓷𝓾𝓭𝓭𝓲𝓷1 год назад

Gak masalah juga sih, ya sok atuh lanjutkan wae pak

Фото профиля Kappa Turtle
Kappa Turtle1 год назад

Lha batako aja di sana dikasih kain juga. Beludru malahan. Trus yg lain ga boleh gitu? Hanya batako yg boleh dikasih kain??

Фото профиля Angkasa 🇮🇩
Angkasa 🇮🇩1 год назад

Pohon itu hidup , sesama yg hidup bertata krama , pohon membantu manusia dlm bnyk hal .

Фото профиля SnowFlakes
SnowFlakes1 год назад

Bedanya sama kubus dikasih kain apa ya kira² 😏

Фото профиля SinwarDieLikeADog 🇮🇩 🧨 🇵🇸
SinwarDieLikeADog 🇮🇩 🧨 🇵🇸1 год назад

Bangkit jiwa2 nusantara

Фото профиля Abbe Key
Abbe Key1 год назад

Bagusan org gila d pakein kaen pak,sgala pohon di kainin.klo di Bali itu udh tradisi dia biarin aj.lah org Sunda ikut2 adat bali

Фото профиля Aidul Fitriciada A
Aidul Fitriciada A1 год назад

Desa mawa cara, nagara mawa tata. Teu kudu pipiluan urang Bali. Ki Sunda mah dicukupkeun ku adat Sunda. Ngan adat Sunda ge lain nu beku andibleg jiga batu, tapi dinamis nurutkeun kamajuan zaman. Sakumaha Majalah Mangle nu make hurup Laten, lain hurup hanacaraka nu asalna ti Jawa.

Фото профиля Dmz🇮🇩
Dmz🇮🇩1 год назад

Betul, di bali keyakinan nusantara. Dulu Waktu menetapkan jumlah agama di indonesia, di bali ada keyakinan tapi nama keyakinan nya ngak ada, sementara jumlah pemeluknya banyak. Untuk memudahkan penyebutan nya di tulis aja hindu, karna hampir2 mirip.

Фото профиля JagaAlam
JagaAlam1 год назад

Ini orang WARAS👍👍

Похожие видео

𝗔𝗻𝗴𝗴𝗮𝗽𝗮𝗻 𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗛𝗶𝗻𝗱𝘂 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗲𝗺𝗯𝗮𝗵 𝗽𝗼𝗵𝗼𝗻 𝗶𝘁𝘂 𝗵𝗮𝗹 𝗸𝗲𝗹𝗶𝗿𝘂. 🙏🏻🌳❌ Ini lebih ke 𝘂𝗻𝗴𝗸𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗿𝗮𝘀𝗮 𝘁𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻 karena telah menciptakan pohon yg sangat berguna bagi kehidupan manusia. 😇 Umat Hindu di Bali sangat menghormati keberadaan tumbuh-tumbuhan & menjaga keseimbangan antara alam dan manusianya. 🌿⚖️ Kalo pun ada sesajen di sekitar pohon, itu adalah bentuk syukur kami. 😇 Umat Hindu di Bali memaknai alam 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗸𝗮𝗱𝗮𝗿 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗮𝘁𝘂 𝘆𝗴 𝗱𝗶𝗺𝗮𝗻𝗳𝗮𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻, 𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗷𝘂𝗴𝗮 𝗱𝗶𝗵𝗼𝗿𝗺𝗮𝘁𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗱𝗶𝘀𝘆𝘂𝗸𝘂𝗿𝗶. Rasa syukur itu terlihat dari bagaimana tanaman dan pohon dihargai sebagai sumber kehidupan, dari makanan hingga oksigen. Bahkan, ada hari khusus untuk itu, yaitu Hari Raya Tumpek Wariga. Di hari tersebut, tumbuh-tumbuhan diberi penghormatan sebagai bentuk terima kasih kepada Dewa Sangkara, manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai dewa tumbuh-tumbuhan. Inilah salah satu wujud nyata dari ajaran Tri Hita Karana, khususnya Palemahan, bagaimana manusia menjaga hubungan yg harmonis dengan alam, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗺𝗯𝗶𝗹, 𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗷𝘂𝗴𝗮 𝗺𝗲𝗿𝗮𝘄𝗮𝘁 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝗿𝗴𝗮𝗶. 😊 Nah, kamu pernah kepikiran nggak, kenapa di banyak sudut Pulau Bali, mulai dari pohon besar, patung, gapura, hingga tempat sembahyang, sering dibalut kain kotak-kotak hitam putih? 🤔 Kain itu dikenal sebagai kain poleng, yg hampir selalu bisa kita temui dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. 🖤🤍 Penggunaan kata “poleng” dalam bahasa Bali memiliki makna bercorak kotak-kotak seperti papan catur. Lewat pengaturan yg seimbang dan teratur, dua warna tersebut kemudian menghasilkan motif yg disebut sebagai motif poleng. Seperti yin dan yang pada budaya Tionghoa, kain poleng dimaknai sebagai simbol Rwa Bhineda, yg artinya representasi dua sifat yg berbeda atau bertolak belakang, digambarkan lewat warna hitam dan putih. Konsep ini melambangkan keseimbangan alam seperti adanya atas dan bawah, kanan dan kiri, pagi dan malam, benar dan salah, baik dan buruk, dan masih banyak lagi. Kain poleng biasanya disematkan atau dililitkan pada benda-benda tertentu seperti pohon, patung, dwarapala dan tempat sembahyang seperti pelinggih. Masyarakat Bali percaya bahwa pohon besar atau patung yg telah dibungkus kain poleng, menjadi stana atau tempat bersemayam sosok-sosok yg bisa “menghitam-putihkan” kehidupan di dunia. 😱 Masyarakat juga menganggap bahwa pohon-pohon yg batangnya dililiti kain poleng merupakan pohon yg angker atau dalam Bahasa Bali disebut “𝘁𝗲𝗻𝗴𝗲𝘁”. Akhirnya, kain poleng jadi penanda bahwa pada area atau objek tertentu, ada roh para butha atau penunggu. 👻 Orang-orang terdahulu memang mengaitkan pohon-pohon besar berkain poleng dengan cerita magis dan tenget (angker). Namun, alasan itu disebarluaskan 𝗮𝗴𝗮𝗿 𝗻𝗴𝗴𝗮𝗸 𝘀𝗲𝗺𝗯𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗯𝗮𝗻𝗴 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗺𝗲𝗿𝘂𝘀𝗮𝗸 𝗽𝗼𝗵𝗼𝗻, sehingga kelestarian alam bisa terpelihara. Itu berlaku untuk semua orang, baik warga asli maupun pendatang. Kesakralan beberapa area dengan objek-objek tersebut, akan dijaga oleh masyarakat setempat dengan secara rutin menghaturkan banten atau sesajen setelah umat selesai bersembahyang di pura. Nah, lilitan kain poleng pada pohon-pohon besar jadi penanda bahwa pohon tersebut 𝗱𝗶𝘀𝗮𝗸𝗿𝗮𝗹𝗸𝗮𝗻, 𝗱𝗶𝗵𝗼𝗿𝗺𝗮𝘁𝗶, 𝗱𝗶𝗷𝗮𝗴𝗮, 𝗱𝗮𝗻 𝗻𝗴𝗴𝗮𝗸 𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗱𝗶𝗽𝗲𝗿𝗹𝗮𝗸𝘂𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗺𝗯𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻. 🌳✨ Orang akan berpikir dua kali untuk menebang atau merusaknya. Hal inilah yg membuat pohon-pohon besar tetep tumbuh, terawat, dan lestari di Pulau Bali. 🌱🌳✨ Dengan melilitkan kain poleng di tubuh pohon, ini sama halnya untuk menjaga alam terutama pohon-pohon untuk terlepas dari penebangan. Nggak hanya dililitkan pada pohon, tapi juga pada patung, dengan begitu patung 𝗻𝗴𝗴𝗮𝗸 𝗱𝗶𝗵𝗮𝗻𝗰𝘂𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗱𝗶𝗽𝗶𝗻𝗱𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗺𝗯𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻. 😇 🎥 trees4trees

imnotayu

37,886 просмотров • 2 месяцев назад