Video yükleniyor...

Video Yüklenemedi

Ana Sayfaya Dön

Kesenjangan sosial.

52,357 görüntüleme • 11 ay önce •via X (Twitter)

0 Yorum

Yorum bulunmuyor

Orijinal gönderinin yorumları burada görünecek

Benzer Videolar

Jurang Gaji: Ketidakadilan yang Kita Ciptakan Sendiri Di Australia, seorang satpam atau teller bank mungkin hanya berjarak sepuluh hingga dua puluh kali lipat dari gaji bos mereka. Angka ini besar, tetapi pekerja kecil masih bisa hidup layak—membayar sewa, menyekolahkan anak, bahkan berlibur sederhana. Struktur gaji memang menegaskan hierarki, namun tidak merampas martabat orang kecil. Sebaliknya, di Indonesia, jurang itu bisa ratusan kali lipat. Satpam menerima Rp4 juta sebulan, sementara direktur di perusahaan besar bisa mengantongi Rp1–2 miliar. Mereka bekerja di gedung yang sama, tetapi satu bergelut dengan cicilan motor, satu sibuk dengan investasi luar negeri. Jurang ini bukan sekadar angka; ia adalah potret distribusi kesejahteraan yang timpang. Di Australia, meski CEO bisa 50 kali lipat gaji karyawan, sistem pajak progresif dan jaring sosial membuat yang bawah tetap bertahan. Di Indonesia, kenaikan harga beras atau listrik bisa langsung menjerat jutaan pekerja kecil, sementara eksekutif nyaris tak terganggu. Yang perlu disadari: ketidakadilan ini bukan takdir. Perusahaan yang memilih memberi bonus miliaran kepada segelintir orang, pemerintah yang menetapkan upah minimum jauh dari biaya hidup, serikat pekerja yang lemah. Kita sendiri yang membuat sistem ini. Kesenjangan sosial itu salah satunya tercipta dari gap dalam sistem penggajian kita. Itu sebabnya rakyat terluka setiap ada berita bagi-bagi jabatan timses di BUMN, rangkap jabatan, atau kenaikan gaji dan tunjangan DPR. Padahal Al-Qur’an telah mengingatkan: “…agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian” (QS. Al-Ḥasyr [59]: 7). Langkah Pemerintah untuk menghapus tantiem sudah tepat. Tapi tinjau ulang juga tunjangan & fasilitas berlebihan, dana taktis pejabat, dan ketimpangan struktur gaji yang sampai 300 kali lipat itu. Inilah ujian untuk benar-benar mengamalkan sila kelima Pancasila. Mudah dituliskan, tetapi butuh komitmen dan keberanian seorang pemimpin untuk memperbaikinya, bukan? Tabik, Nadirsyah Hosen

Nadirsyah Hosen

40,258 görüntüleme • 11 ay önce

Presiden Burkina Faso tak pernah koar-koar di podium sambil menuding rakyatnya, Ibrahim Trahore lebih memilih menenangkan masyarakat sambil secara berlahan menyusun strategi. Bukan menghitung fee dari investor yang masuk ke rekening pribadinya, ataupun besaran saham yang diberikan oleh pemodal asing. Tapi dia justru sibuk menyusun regulasi guna menendang para investor asing keluar dari pertambangan emas Burkina Faso. Ibrahim Trahore tidak menjual harapan, dia membangun negara dengan langkah nyata. Menyingkirkan kepemimpinan kaum tua yang pragmatis dan mudah ditekan oleh kekuatan asing, memberikan kesempatan kepada kaum muda untuk mengelola negara dan menegakkan kedaulatan atas setiap jengkal tanah airnya. Hasilnya 100% tambang emas di Burkina Faso dikelola oleh rakyatnya sendiri, beberapa lokasi tambang emas skala besar dikuasai oleh pemerintah tanpa mengabaikan hak rakyat untuk ikut mengelola kekayaan alam negerinya. Masyarakat Burkina Faso diperbolehkan melakukan aktivitas penambangan emas secara tradisional, namun mewajibkan menjual hasil kerja kerasnya kepada negara dengan pembagian 70% hasilnya untuk dinikmati oleh masyarakat. Hasilnya stok cadangan emas Burkina Faso yang awalnya defisit akibat dikuras oleh para investor asing, kini ditangan pemerintahan Ibrahim Trahore kas negara terisi penuh bahkan bisa menggelontorkan dana untuk membantu negara-negara tetangganya membangun infrastruktur. Kehidupan masyarakat Burkina Faso jauh lebih sejahtera, pembangunan bergerak cepat guna menunjang pertumbuhan ekonomi agar semakin meningkat. Tidak ada monopoli pengelolaan lahan untuk para oligarki, setiap warga negara berhak mengolah lahan milik negara. Manajemen yang transparan dan berbasis ekonomi kerakyatan menutup pintu bagi menjamurnya praktek korupsi, antara pengusaha dan masyarakat kecil saling menghormati sehingga terjalin kehidupan yang harmonis serta menghapus kesenjangan sosial yang pernah ada. Kekayaan negara dipergunakan untuk membangun kembali sistem pendidikan yang sempat runtuh akibat konflik yang terjadi sebelumnya, berbagai infrastruktur sekolah dibangun dengan kualitas terbaik dan kuat menahan cuaca ekstrem yang biasa menyelimuti daftar Afrika. Ibrahim Trahore menegaskan bahwa anak-anak Burkina Faso berhak mengenyam pendidikan gratis hingga lulus perguruan tinggi, karena baginya pendidikan adalah investasi yang paling vital guna mewujudkan Burkina Faso yang sejahtera.

Pecinta Sejarah Tanah Air (PEJANTAN)

53,058 görüntüleme • 2 ay önce