Video yükleniyor...

Video Yüklenemedi

Ana Sayfaya Dön

Kiko dari Persik Kediri progres bola via dribble dengan memanfaatkan ruang yang terbuka dari high press Persib. Siapa lagi bek di Liga Indonesia yang sering dribbling ke depan?

22,926 görüntüleme • 3 ay önce •via X (Twitter)

0 Yorum

Yorum bulunmuyor

Orijinal gönderinin yorumları burada görünecek

Benzer Videolar

Bukan Meteor, Komet tapi Debris; Baru Saja Lewat di Langit Indonesia Hari ini, sekitar pukul 19.00 WIB, sejumlah warga di berbagai wilayah Indonesia melaporkan adanya cahaya terang yang melintas di langit malam. Fenomena ini sempat memicu beragam spekulasi, mulai dari meteor hingga komet. Namun, berdasarkan karakteristiknya, kemungkinan besar yang terlihat bukanlah keduanya, melainkan debris atau puing antariksa yang masuk kembali ke atmosfer Bumi. Debris ini biasanya berasal dari sisa roket, satelit lama, atau bagian wahana luar angkasa yang sudah tidak berfungsi. Saat memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi, material tersebut akan terbakar dan menghasilkan cahaya terang yang terlihat seperti bola api, bahkan terkadang disertai jejak panjang atau pecahan cahaya yang terpisah. Debris seperti ini sebenarnya sudah cukup sering terlihat di berbagai belahan dunia. Namun, untuk di Indonesia, fenomena ini mungkin terasa lebih ramai diperbincangkan baru sekarang. Seperti pada video yang beredar dari Argentina beberapa waktu lalu (slide 2), karakteristik debris yang terlihat memiliki kemiripan dengan yang dilaporkan di wilayah Lampun cahaya terang yang bergerak perlahan dengan pecahan-pecahan yang tampak terpisah. Fenomena seperti ini sebenarnya tidak jarang terjadi, namun karena melintas pada waktu yang cukup ramai aktivitas dan terlihat jelas, kejadian kali ini menjadi perhatian banyak orang. Tidak perlu khawatir, karena sebagian besar debris akan habis terbakar di atmosfer sebelum mencapai permukaan Bumi.

Sumatera Adil & Federal

22,017 görüntüleme • 3 ay önce

SOMEBODY PLEASE HELP HIM! Bismillahirrahmanirrahiim Kadang sejarah tidak runtuh dengan ledakan, tetapi dengan suara yang pelan, rambut yang menipis, langkah yang melambat, dan tatapan seseorang yang tiba-tiba tampak jauh dari dirinya sendiri. Dalam neurosains, tubuh mencatat semua yang tak diucapkan. Kortisol memendekkan telomer, ekor kromosom yang menjadi penanda harapan hidup, Inflamasi kronik mengubah ekspresi gen, dan wajah adalah layar bioskop tempat memori hidup diputar ulang. Rambut gugur bukan hanya genetika, ia simbol mahkota biologis yang perlahan kembali ke tanah. Dalam imunologi klinis, kita mengenal fenomena ketika tubuh menyerang dirinya sendiri. Autoimun berat sering menampakkan tanda yang tak keras suaranya, namun dalam diamnya kita membaca perang dari dalam: •kulit pucat, warna tidak stabil, mudah meradang, •moonface akibat retensi cairan dan efek steroid kronis, •rambut menipis cepat, seperti mahkota yang mulai melepas bebannya, •langkah yang pelan: bukan lemah, tapi seperti tulang yang memikul beban yang dibikin sendiri, •tatapan kosong: brain fog, ketika pikiran lelah berperang dengan segala keadaan yang tak lagi bisa diatur dan dikuasai, •postur sedikit membungkuk, seolah tubuh berkata aku bersikeras membalikkan waktu. Tulisan ini bukan untuk menuduh seorang tokoh sakit. Ini daftar tanda klinis umum, tetapi juga metafor politik tubuh. Karena sering kali sejarah dan biologi memiliki pola yang sama: tubuh yang lelah = kekuasaan yang selesai, wajah yang pucat = cahaya kuasa yang menurun, mahkota rambut yang luruh = era yang selesai. Kekuasaan jarang runtuh dengan kerusuhan. Ia surut dengan keheningan. Dengan hilangnya karisma biologis, dengan publik yang tidak lagi terpikat pada narasi lama, dengan tubuh yang perlahan berubah menjadi cerminan saatnya layar panggung ditutup Kita hidup di titik balik peradaban Nusantara. Gelombang politik bergeser dari visual ke substansi, dari teater kuasa ke audit memori, dari figur tunggal ke kesadaran kolektif. Indonesia sedang memasuki fase Working Prophecy, dimana sejarah tidak hanya dicatat, tetapi dirombak, ditafsir ulang, dan dilahirkan kembali. Ini bukan tentang satu sosok. Ini tentang sebuah era yang menua, tentang medan energi bangsa yang bergerak, tentang cerita yang meminta penulis huruf pertama baru. Mungkin gejala-gejala pada tubuh hanya potongan kecil. Namun bagi yang membaca dengan mata batin, itu terasa seperti frekuensi alam yang berkata lirih: “Bab ini sudah selesai.” Autoimun biologis adalah ketika tubuh memerangi dirinya. Autoimun politik adalah ketika bangsa memerangi ingatannya. Dan di tengah inflamasi sosial itu, kita ditanya: Apakah kita akan terus sakit, atau mulai menyembuhkan diri sebagai satu tubuh bernama Indonesia? Bangsa ini sedang berganti kulit. Dan setiap helai rambut yang gugur di panggung sejarah, adalah tanda bahwa halaman berikutnya menunggu dituliskan. Saya, untuk kesekian kalinya berkata: tolongan diingatkan, kondisinya serius dan perlu perawatan, sebelum semuanya terlambat. Laa haula wala quwwata ilabillah. Salam takzim dr. Tifauzia Tyassuma,

Dokter Tifa

38,226 görüntüleme • 6 ay önce

Es teh di Indonesia bukan sekadar minuman; ia adalah budaya. Dari warteg pinggir jalan sampai restoran bintang lima, es teh adalah jawaban universal untuk rasa haus masyarakat Indonesia. Berikut adalah beberapa hal yang membuat fenomena es teh di Indonesia begitu unik: 1. "Minumnya Apa?" "Es Teh Manis." Di Indonesia, es teh manis adalah default setting. Jika kamu hanya memesan "es teh", pelayan biasanya akan otomatis menyajikan es teh manis. Jika kamu tidak ingin gula, kamu harus spesifik bilang "es teh tawar". 2. Karakteristik Rasa Berbeda dengan es teh di negara Barat yang seringkali terasa sitrus atau buah, es teh Indonesia punya ciri khas: • Aroma Melati (Jasmine): Mayoritas teh yang digunakan di Indonesia adalah teh melati. • Sepat dan Mantap: Ada istilah WASGITEL (Wangi, Panas, Legi, Kenthel) yang sangat populer di Jawa untuk menggambarkan teh yang sempurna: wangi, panas, manis, dan kental. 3. Evolusi Wadah: Dari Gelas ke Plastik • Gelas Belimbing: Wadah legendaris di warung makan. • Teh Plastik: Fenomena es teh yang dibungkus plastik kiloan dengan sedotan, sering ditemukan di depan sekolah atau pasar. • Era "Es Teh Solo": Saat ini, sedang tren gerai es teh pinggir jalan (franchise) yang menjual es teh dalam cup besar dengan harga sangat terjangkau (sekitar Rp3.000 - Rp5.000). 4. Pendamping Segala Makanan Es teh adalah penetralisir rasa yang hebat. Ia cocok bersanding dengan: • Makanan pedas (seperti ayam geprek atau seblak). • Makanan berminyak (gorengan atau nasi goreng). • Makanan bersantan (gulai atau soto).

Merapi Uncover

12,067 görüntüleme • 4 ay önce