正在加载视频...
视频加载失败
Mau kerja online yang dibayar per menit audio atau video? 🎧✍️ Di GoTranscript, kamu bisa dapet bayaran hingga $1.11 per menit dan rata-rata penghasilan bulanan $980+! 🚀 Cara daftarnya gampang banget: 1️⃣ Buka 👉 2️⃣ Scroll ke bawah & klik Join as Transcriber 3️⃣ Pilih bahasa 4️⃣ Kerjain tes... show more
11,679 次观看 • 7 个月前 •via X (Twitter)
0 条评论
暂无评论
原始帖子的评论将显示在这里
相关视频
2:01
Sensitive content
Bareskrim baru bongkar modus penyelundupan sabu yang bikin gw menghela napas panjang 😔 dua kurir bawa 500 GRAM SABU dari Pekanbaru ke Sumbawa dengan cara... dimasukin ke DALAM PERUT lewat ANUS 💀 iya, lo baca ga salah. Simak 🧵👇 28 Juni 2026, jam 08.45 pagi di Terminal Kedatangan 2E Bandara Soekarno-Hatta. Tim Subdit IV Bareskrim (dapet info dari aset dari sebulan sebelumnya) ciduk 2 penumpang transit dari Pekanbaru yang mau ke Lombok: → MUSA BIN BOLANG (47, Sumbawa, tinggal di Batam) → MUHAMMAD GUNTUR (44, temen Musa) Pas diinterogasi, keduanya ngaku bawa sabu... di DALAM PERUTNYA. dimasukin lewat anus masing-masing 4 kapsul plastik = 250 gram per orang = 500 gram total 🥲 Tim langsung bawa keduanya ke RS EMC Tangerang buat XRAY + prosedur pengeluaran barang. Dan yes, hasilnya sesuai — 4 bungkus kapsul dari perut Musa, 4 bungkus dari perut Guntur ✅ Ini istilahnya "body packing" — modus lama yang dipake kartel di berbagai negara. RISKY BANGET buat pembawanya karena: → kalo satu kapsul BOCOR di dalam perut = OVERDOSIS INSTAN, mati dalam hitungan menit ☠️ → kalo mampet di usus = harus operasi darurat → jam ketat: barang harus dikeluarin dalam <24 jam sebelum tubuh mulai nyerap plastik Dan ini yang bikin sedih: mereka dibayar Rp 10 JUTA per 100 gram. Musa dapet total ~Rp 25 juta, Guntur dapet Rp 10 juta DP. buat naruh benda asing di dalam perut & taruhannya nyawa. mathematics-nya ngenes 🥲 Catatan penting dari Bareskrim di laporan: modus ini bisa lolos di Bandara Pekanbaru karena BELUM PUNYA X-RAY TRANSMISI (Body Scanner) 🚨 X-Ray biasa cuma ngedeteksi barang di luar tubuh — buat body packing perlu scanner khusus yang bisa "tembus" tubuh. bandara-bandara Indonesia perlu upgrade equipment ASAP biar modus baru ini bisa dicegah dari awal. Tim lanjut Controlled Delivery ke Sumbawa Barat, sampe jam 23.30 WITA. bertemu ISNAINI alias PP BARA (penjual di Sumbawa) yang udah nunggu barang — langsung diciduk juga. bahkan Isnaini sempat kirim Rp 5 juta ke Musa buat "bantu beli tiket pesawat" karena mereka ketinggalan pesawat 💀 real-time koordinasi. Struktur jaringan yang kebongkar: SOFIAN als PIAN (Pulau Rupat, penyedia — DPO 🏃) → JON als MEX (koordinator/pemesan — DPO 🏃) → MUSA & GUNTUR (kurir body packing ✋) → ISNAINI/PP BARA (penjual Sumbawa ✋) Business model-nya: Isnaini nyetor Rp 65 JUTA/100 gr ke Jon. Musa dapet upah Rp 10 juta/100 gr buat "layanan pengiriman lewat perut". margin buat Jon: Lumayan gede 💰 Skala kasus: 500 gram sabu, nilai ~Rp 900 JUTA, potensi 2.500 jiwa terselamatkan. dan ini baru pengiriman ke-2 mereka — yang pertama (Mei 2026) sukses masuk Sumbawa 🚨 Reminder yang berat: 1. Body packing = judi nyawa untuk uang recehan. Satu kapsul bocor = mati. Dan ini sering terjadi di berbagai negara 💀 2. Modus baru selalu muncul — Bandara yang ga upgrade equipment jadi celah. Laporan ini bahkan secara eksplisit minta pihak bandara siapkan Body Scanner 3. Yang paling dieksploitasi selalu yang paling kepepet — Musa & Guntur bukan bos, mereka pion yang risiko nyawanya paling gede tapi upahnya paling receh Salut sama tim Subdit IV Bareskrim yang jeli baca info intel + petugas bandara Soeta yang cekatan. Dan salut juga karena berani nyebut ke publik bahwa Bandara Pekanbaru masih perlu upgrade — Itu kritik internal yang konstruktif buat sistem keamanan negara 🫡 For anyone reading — kalau lo dipepet ekonomi & ditawarin "kerja mudah, bayaran gede, cuma bawa barang doang" — think TWICE! Nyawa lo ga bisa diganti sama berapapun uang yang dijanjiin. Stay safe guys!
ruhulmaani
175,637 次观看 • 1 个月前
0:58
Sensitive content
"Halah, cuma karakter 2D fiksi ini, bebas lah mau diapain juga." "Saya tidak pernah dengar suaranya, apalagi beli bantalnya, gesek-gesek [kelamin] saya sambil nonton, saya ga pernah, JADI STOP HIPOKRIT!" Kalimat-kalimat di atas jujur bikin darahku mendidih. Sebagai orang yang hidup di dua dunia sekaligus, yaitu sebagai VTuber dan juga seorang sutradara, opini kayak gitu enggak cuma salah kaprah secara logika, tapi juga nyenggol ranah personal aku. Aku tahu gimana rasanya berdarah-darah bangun persona di balik avatar. Berapa jam yang abis buat persiapan, seberapa terkurasnya energi tiap kali live, dan seberapa nyatanya ikatan yang kebentuk sama penonton. Avatar itu bukan tembok pembatas antara fiksi dan realita. Justru sebaliknya, itu jembatannya. Makanya, pembelaan Dera itu bener-bener enggak masuk akal. Buat yang ketinggalan info, kemarin Dera ini bikin tier list VTuber Indonesia. Masalahnya, ini bukan tier list soal kualitas konten atau skill streaming. Kategorinya beneran seksual secara terang-terangan, bahkan Dera memperlakukan avatar & art vtubernya dengan tidak pantas. Pas komunitas VTuber protes, dia malah bikin live stream "klarifikasi" yang sama sekali gak bikin suasana adem, isinya malah makin ngaco. Di stream itu, argumen dia intinya bilang kalau ini kan cuma karakter 2 dimensi, dia enggak pernah ngelakuin hal aneh-aneh pas nonton mereka, dan malah nuduh netizen yang nonton VTuber tuh sebenernya gooner semua, dan dia yang benar. Dilanjut dengan instagram story dengan isi serupa, video terlampir. Pertama, yang Dera lakukan itu namanya logical fallacy tu quoque, atau dalam bahasa yang lebih membumi: "kamu juga begitu." Argumen "kalian juga gooner" tidak membuat tindakannya jadi benar. Lagipula, banyak sekali vtuber dan viewers yang kontennya jauh dari hal-hal seksual sekarang. Sebagian besar konten VTuber yang beredar sekarang, apalagi di skena vtuber Indonesia, isinya tuh main game bareng penonton, belajar bahasa asing sambil ngasbun, masak-masakan, atau sekadar ngobrol santai tentang hari yang berat. Ada VTuber yang jadiin channel-nya tempat belajar sejarah. Ada yang fokus ke komedi murni. Bahkan ada para v-doctor, baik dokter biasa, dokter gigi, dan dokter hewan, bahas soal kesehatan. Kebanyakan bahkan enggak pernah sekalipun nyentuh topik dewasa, karena memang bukan itu yang ingin mereka bangun. Penonton dateng bukan karena libido. Mereka dateng karena butuh temen ngobrol jam dua pagi, karena pengen ketawa setelah hari yang melelahkan, atau karena ada kreator yang bikin mereka merasa diterima tanpa harus jadi siapa-siapa dulu. Menyamaratakan semua itu sebagai "gooner" bukan cuma salah secara faktual, itu juga penghinaan terhadap jutaan orang yang menemukan sesuatu yang genuine di skena ini. Kedua, soal "cuma 2D." Sebagai sutradara, waktu aku nulis naskah, karakter di atas kertas itu emang fiksi murni. Aku bebas mau matiin karakternya, mau disiksa, atau mau diapain aja, karena mereka enggak punya perasaan, enggak punya jadwal, dan enggak punya penonton yang nungguin tiap minggu. VTuber itu beda. Avatar 2D itu lebih mirip kostum panggung daripada karakter fiksi. Di baliknya ada talent nyata, manusia beneran yang membangun reputasi bertahun-tahun, menanggung konsekuensi psikologis dan finansial kalau nama baiknya rusak, serta punya relasi parasosial yang nyata sama audiensnya. Bedanya sama karakter anime biasa jelas banget. Naruto enggak punya jadwal live streaming. Rem dari Re:Zero enggak bakal bales komentar lu pas lagi mabar. Tapi VTuber itu interaktif dan nyata. Ketika kamu bikin konten seksual tanpa consent atau izin pake identitas mereka, yang kena dampaknya bukan cuma piksel di layar, tapi manusia di baliknya. Ini Namanya Pembunuhan Karakter Orang yang baru pertama kali denger nama si VTuber lewat tier list mesum itu bakal langsung punya persepsi buruk. Mereka bakal inget si VTuber dari cap seksualnya, bukan dari karya, skill, atau konten aslinya. Ini beneran pembunuhan karakter secara harfiah. Lebih parahnya lagi, hal ini memicu normalisasi pelecehan. Penonton yang ngerasa konten begitu "lucu" atau "biasa aja" bakal bawa kebiasaan itu ke mana-mana. Mereka bakal nge-chat mesum di kolom komentar streamer lain, bikin jokes enggak pantes di forum, dan ngerasa itu hal yang wajar Normalisasi itu enggak dateng tiba-tiba kayak meteor; dia menjalar pelan-pelan akibat pembiaran dan kebiasaan. Klaim dia yang bilang "cuma mau membuka mata penonton" juga kocak sih. Mau buka mata soal apa? Sisi gelap parasosial di dunia VTuber? Bahasan itu sih udah sering didiskusiin sama orang-orang dengan cara yang jauh lebih berkelas dan elegan. Membuat tier list seksual cuma ragebait murahan yang dibungkus dengan pembenaran biar kelihatan lebih baik dari orang yang dia hina. Komunitas terbentuk dari apa yang kita normalisasi bersama. Setiap hal yang kita tertawakan, setiap konten yang kita biarkan lewat tanpa reaksi, setiap kreator yang kita pilih untuk didukung atau tidak, itu semua adalah suara. Dan suara-suara kecil itu, kalau cukup banyak yang searah, bisa membentuk seperti apa industri ini di masa depan.
Kalanara Mahardika 🎬✨
318,221 次观看 • 2 个月前
