Sensitive content

This media may contain sensitive content.

Video wird geladen...

Video konnte nicht geladen werden

Zur Startseite

76,100 Aufrufe • vor 1 Monat •via X (Twitter)

0 Kommentare

Keine Kommentare verfügbar

Kommentare vom Original-Post werden hier angezeigt

Ähnliche Videos

✨ Thread panjang. Tapi cerita di balik “Thee Square” 💸🍑 ini BENERAN worth it… 🥹🤍 🎬 P’X: Semuanya bermula seperti ini. Begitu aku tau Pond, Phuwin, William, dan Est akan pergi ke New York untuk bekerja bersama, aku langsung merasa ingin melakukan sesuatu untuk #PeachAndMeSeriesEP1 (WOW P’X bener2 manfaatin waktu kosong pas PondPhuwin FanDay in USA dengan sangat sempurna… 👏🏻🥹) Ini kan TheePeach sedang berada di “tanah romansa”, jadi aku berpikir harus ada sesuatu yang spesial. Jadi aku mulai mencari tau jadwal mereka satu per satu dan ternyata masih ada beberapa waktu luang. Hanya saja, keempatnya tidak kosong di hari yang sama. Lalu aku mencari tah apakah selama trip itu akan ada fotografer yang ikut mendokumentasikan trip mereka. Rencananya aku mau minta bantuan supaya fotografer bisa mengambil beberapa adegan singkat menggunakan HP. (WOW… scene sebagus itu diambil pakai HP?? 👀 HP apa yang dipakai…? Samsung? OPPO? Tolong jawab ya brands… 😭😭🤭) Ternyata memang ada yang dokumentasi. Orang ini juga pernah datang mengambil footage behind-the-scenes saat syuting Peach and Me, jadi kami sudah cukup saling memahami. Oke… kalau begitu, aku akan mengubah Times Square menjadi “Thee Square”. (WHATT “THEE SQUARE”… HELP… USA juga ga lolos dari Thee takeover GUYS… 😱😂🤣) Aku mulai semangat menceritakan ide dan latar belakang adegan ini kepada Pond dan Phuwin. Setelah itu, aku menulis naskah khusus untuk adegan ini, semua sebelum mereka berangkat. Selesainya malah lebih dulu daripada naskah Episode 1 yang sudah final. (P’X you’re a genius… I wanna kiss your brain! 😚🧠✨) Aku juga buat storyboard yang memperlihatkan setiap shot yang akan dipakai, lalu mengirimkannya kepada fotografer. Setelah itu aku briefing sudut pengambilan gambar kepada Pond dan Phuwin. Namun sesampainya di New York, jadwal mereka ternyata jauh lebih padat dari yang kami bayangkan. Aku bilang ke mereka, “Kalau memang tidak sempat, tidak apa-apa.” Apalagi jadwal fotografernya juga sama padatnya. Akhirnya mereka mencari cara lain. Pond berkata, “Kamu jangan khawatir. Kami berdua pasti bisa melakukannya.” Lalu mereka mengajak kakak-kakak dan teman-teman yang ikut dalam trip itu untuk membantu menggantikan fotografer. (OHH… Pond Naravit 🐻, the man that you are… 🥹😭 Nangiss beneran aku tuh… 😭😭) PondPhuwin menjelaskan storyboard itu satu per satu kepada semuanya. Sementara aku membantu menjelaskan dari jauh lewat voice call. Dan akhirnya… mereka benar-benar berhasil mewujudkannya. Phuwin bahkan mengirimkan hasil shot-nya kepadaku sambil membanggakan kalau semuanya sesuai briefing dengan sangat presisi. Bahkan bukan cuma itu, Phuwin juga ikut mengembangkan idenya lebih jauh. (Aww… kebayang Phuwin 🐼 dan tim pasti berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan visinya P’X, makanya dia se-Bangga itu… 🥹😭) Aku benar-benar sangat terkesan dengan kerja sama dan kekompakan mereka semua. Begitu kami bertemu lagi setelah kembali ke Thailand, Phuwin langsung menghampiriku dengan bangga untuk menunjukkan hasilnya. Setelah itu kami mulai memeriksa semua footage, melihat mana yang mudah dan mana yang sulit dikerjakan, lalu menyusun rencana bersama tim grafis dan tim audio… Kalian berlima benar-benar luar biasa. Terima kasih, dari lubuk hatiku. (🥹😭) //// OMG… ternyata proses di balik adegan Times Square ini bahkan jauh lebih indah dari yang aku bayangkan… 🥹😭😭 Terima kasih semuanya—Tui, Nut, Boy Tuan, P’X, #PondPhuwin 🐻🐼 dan seluruh tim—yang sudah membuat scene ini jadi se-ICONIC itu. 😭🫶🏻✨ Times Square will forever be part of our “Thee Square” 💸🍑 memories. 😭🤭✨

SeviraS3

28,540 Aufrufe • vor 14 Tagen

“sayang, Gibran terima mahasiswa yang aksi buat diskusi, kayaknya pengetahuan politiknya tinggi, ya?” demikian pertanyaan istri ke saya. Sebagai seorang dosen, saya perlu mencari jawaban ilmiah. soal “pengetahuan” dan “kesadaran” politik, saya jelaskan ke istri, dengan mengulangi persis kalimat-kalimat dari Eep Saefulloh Fatah, sebagai berikut: “dalam politik, kesadaran itu terbentuk oleh tiga hal: satu tahu, dua berempati, dan yang ketiga teraktivasi, terdorong untuk berbuat. jadi kalau saya tahu terjadi banjir karena menonton TV, tetapi saya tidak punya empati terhadap korban, saya bisa menonton sambil tidak terlalu peduli. saya bahkan mungkin tertawa ketika melihat peristiwa yang lucu, video-video pendek yang lucu di tengah banjir. Tampak saya merasa perlu bersedih, padahal mereka sebenarnya sedang dalam kondisi sangat susah. ketika kita melihat sesuatu yang lucu dalam keadaan sangat susah, dan tidak teraktivasi untuk melakukan apa pun pada peristiwa bencana alam itu, maka saya tidak sadar. Saya tidak punya kesadaran tentang bencana alam itu, tetapi saya sekadar tahu. bayangkan pemimpin yang sekadar tahu tetapi tidak punya kesadaran. Itu akan berujung pada pengetahuannya sendiri menjadi tidak penting. tidak penting dia tahu bahwa lima tahun harus ada pemilu lagi yang demokratis, tidak penting dibatasi sepuluh tahun, karena dia tidak punya empati. *** lalu saya katakan ke istri, “Bun, dari tiga faktor kesadaran politik itu, kira-kira Gibran ada di mana?” 😊

Catatan Dosen Hukum

32,269 Aufrufe • vor 1 Monat

Bila bercakap tentang masyarakat India, kebiasaannya perbincangan akan tertumpu kepada berapa banyak program khas yang diumumkan, berapa ramai menteri India yang dilantik, atau agensi mana yang diwujudkan untuk menjaga kepentingan komuniti itu. Saya faham kenapa pendekatan itu popular. Tetapi saya juga rasa sudah sampai masanya kita bercakap secara jujur tentang sama ada pendekatan itu benar-benar menyelesaikan masalah. Pandangan saya mungkin tidak disenangi semua pihak. Kita kena ubah budaya yang menyebabkan rakyat terpaksa "memohon". Sepatutnya, kalau dah benar-benar susah, golongan ini patut secara automatik mendapat bantuan. Seorang keluarga India yang miskin tidak sepatutnya memerlukan program khas untuk membuktikan mereka layak dibantu. Begitu juga keluarga Cina yang miskin, keluarga Melayu yang miskin, atau mana-mana rakyat yang sedang bergelut untuk meneruskan kehidupan. Fokus kerajaan sepatutnya bukan kepada siapa yang paling kuat mendakwa mewakili sesuatu kaum. Fokus kerajaan mesti kepada siapa yang memerlukan bantuan dan memastikan mereka benar-benar menerima bantuan itu. Mudah untuk mengatakan dasar perlu berasaskan keperluan. Ramai yang pernah mengatakannya. Cabaran sebenar ialah pelaksanaannya. Sebab itu saya percaya kerajaan perlu berani menjawab satu soalan yang sering dielakkan: apakah sebenarnya yang dimaksudkan dengan "berasaskan keperluan"? Apakah ukurannya? Siapa yang layak? Bagaimana kita memastikan bantuan sampai kepada mereka yang memerlukan, tanpa mengira kaum? Kita perlu berani mengadakan perbincangan ini secara terbuka dan jujur dan mencari cara baru untuk memastikan rakyat yang benar-benar memerlukan menerima bantuan. Pada akhirnya, rakyat tidak peduli siapa mendapat kredit politik kerana mereka mahu tahu sama ada kehidupan mereka menjadi lebih baik.

Rafizi Ramli

18,078 Aufrufe • vor 1 Monat

Nama Baik Dipulihkan Presiden, Dua Guru Luwu Utara Ucapkan Terima Kasih kepada Prabowo Jakarta — Dua guru asal Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Abdul Muis dan Rasnal, setelah menerima langsung surat rehabilitasi dari Presiden RI Prabowo Subianto. Keputusan tersebut bukan sekadar pemulihan nama baik, tetapi penanda bahwa perjuangan panjang mereka selama lima tahun akhirnya menemukan titik keadilan. Usai menerima surat rehabilitasi yang diserahkan langsung oleh Presiden Prabowo di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (13/11) dini hari, Abdul Muis dan Rasnal menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian Kepala Negara terhadap nasib guru daerah. “Saya pribadi dan keluarga besar saya sampaikan setulus-tulusnya terima kasih kepada Bapak Presiden yang telah memberikan rasa keadilan kepada kami, yang di mana selama lima tahun ini kami merasakan diskriminasi, baik dari aparat penegak hukum maupun dari birokrasi atasan kami yang seakan-akan tidak pernah peduli dengan kasus kami yang kami hadapi,” ujar Abdul Muis, Guru Sosiologi SMA Negeri 1 Luwu Utara, dengan mata berkaca-kaca. Sementara itu, Rasnal—mantan Kepala SMA Negeri 1 Luwu Utara yang kini mengajar Bahasa Inggris di SMA Negeri 3 Luwu Utara—menyebut perjalanan panjang mereka mencari keadilan sebagai sesuatu yang sangat melelahkan. Menurutnya, upaya penyelesaian yang mereka tempuh dari tingkat sekolah hingga ke provinsi tidak pernah membuahkan hasil. “Ini adalah sebuah perjalanan yang sangat melelahkan. Kami telah berjuang dari bawah, dari dasar sampai ke provinsi. Sayangnya kami tidak bisa mendapatkan keadilan,” ujar Rasnal. Keduanya pun mengungkapkan rasa syukur setelah bertemu langsung dengan Prabowo dan menerima keputusan rehabilitasi. Rasnal menyebut langkah tersebut sebagai anugerah besar yang memulihkan nama baiknya serta menjadi bukti nyata kepedulian Presiden terhadap keadilan bagi para guru. “Setelah kami bertemu dengan Bapak Presiden, alhamdulillah Bapak Presiden telah memberikan kami rehabilitasi. Saya tidak bisa mengatakan sesuatu kepada Bapak Presiden, terima kasih Bapak Presiden,” ucapnya tulus. “Saya bersyukur kepada Allah SWT. Dengan jalan ini kami telah memperoleh keadilan sekarang dan direhabilitasi kami punya nama baik,” lanjutnya. Rasnal juga berharap pengalaman pahit yang ia dan rekannya lalui tidak kembali terjadi kepada para pendidik lain di seluruh Indonesia. “Semoga ke depan tidak ada lagi kriminalisasi terhadap guru-guru yang sedang berjuang di lapangan. Sekarang ini teman-teman guru selalu dihantui bahwa kalau sedikit berbuat salah, selalu ada hukuman-hukuman yang tidak pantas,” tuturnya. Perkara yang menjerat keduanya bermula lima tahun lalu ketika Kepala Sekolah SMAN 1 Luwu Utara menerima laporan dari sepuluh guru honorer yang belum menerima gaji selama sepuluh bulan akibat belum terdatanya nama mereka dalam sistem Dapodik, syarat utama pencairan dana BOS. Untuk mencari solusi darurat, pihak sekolah bersama Komite Sekolah sepakat mengumpulkan dana sukarela Rp20 ribu per orang tua siswa, tanpa mewajibkan pembayaran bagi keluarga kurang mampu maupun mereka yang memiliki lebih dari satu anak. Namun, kebijakan internal tersebut kemudian dipersoalkan setelah sebuah LSM melaporkannya ke kepolisian. Empat guru diperiksa, dan dua di antaranya—Rasnal serta Abdul Muis—ditetapkan sebagai tersangka. Dengan rehabilitasi yang diberikan Prabowo, kedua guru kini mendapatkan kembali hak, martabat, dan pengakuan atas profesi yang selama ini mereka jalani. Bagi Abdul Muis dan Rasnal, langkah ini bukan hanya mengakhiri masa kelam lima tahun terakhir, tetapi juga membuka jalan bagi mereka untuk kembali mengabdi di dunia pendidikan tanpa stigma. #PresidenPrabowo #GuruLuwuUtara #PemulihanNamaBaik #KeadilanUntukGuru #TerimaKasihPresiden #RehabilitasiGuru #PrabowoPeduliPendidikan #RestorasiKeadilan Prabowo Subianto

Radio Elshinta

431,303 Aufrufe • vor 8 Monaten

SEORANG WANITA MENANGIS HISTERIS MENJADI KORBAN MODUS TUKAR KARTU DI ANGKOT JAKLINGKO👀‼ Seorang wanita penumpang angkot JakLingko menangis histeris setelah kartu pembayaran elektronik miliknya diduga ditukar oleh seorang pria yang duduk di dekat sopir. Peristiwa tersebut terjadi di Bus Stop Selapa Polri, Jalan Ciputat Raya, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan. Jumat (17/10/2025) sekitar pukul 18.13 WIB. Kejadian bermula ketika pria tersebut membantu sejumlah penumpang menempelkan kartu JakLingko ke mesin pembaca (tap in). Tanpa curiga, beberapa penumpang, termasuk korban, menyerahkan kartu masing-masing agar proses pembayaran berjalan lebih cepat. Namun tak lama setelah kartu dikembalikan, korban menyadari kartu yang diterimanya bukan miliknya. Ia curiga karena bentuk dan kondisi kartu berbeda dari yang biasa digunakan. “Biasanya yang duduk di depan bantuin tap kartu biar cepet. Nah, bapak itu dari tadi yang pegangin semua kartu. Pas dikembaliin, si mbaknya langsung sadar, dia bilang, ini bukan kartu saya,” ujar perekam kepada Wilayah Jakarta.id. Setelah diperiksa, saldo dalam kartu tersebut hanya tersisa sekitar Rp4.000, padahal kartu milik korban sebelumnya berisi sekitar Rp180 ribu. Korban kemudian menegur pria tersebut dan sempat terjadi adu argumen di dalam kendaraan. Suasana di dalam angkot pun memanas, sementara sopir berusaha menenangkan penumpang dan membantu mencari kartu asli korban. Pemeriksaan terhadap barang bawaan pelaku sempat dilakukan, namun kartu korban belum ditemukan. Ketegangan berlanjut hingga korban memperhatikan sesuatu yang mencurigakan di topi pelaku. Saat diperiksa, kartu korban ternyata terselip di bagian dalam topi. Dalam proses itu, kartu sempat terlepas dari tangan pelaku dan jatuh ke lantai angkot sebelum akhirnya diambil kembali oleh korban. Setelah kejadian tersebut, pelaku mengakui perbuatannya dan meminta maaf kepada korban. Peristiwa ini diselesaikan secara kekeluargaan, dan pelaku diturunkan di lokasi kejadian. Agar tetap waspada dengan modus seperti ini❗ 🎥 Jasiya & wargajakarta #elshintaviral

Radio Elshinta

711,748 Aufrufe • vor 9 Monaten