Video wird geladen...

Video konnte nicht geladen werden

Zur Startseite

Muhammadiyah itu kaya,buat apa ikut program MBG. Saya selaku Muhammadiyah mendukung seluruh sekolah Muhammadiyah mulai dari pesantren,SD,SMP,SMA dan universitas menolak MBG. Jadilah organisasi islam yg mandiri jangan pernah berharap apapun dengan pemerintah.

11,258 Aufrufe • vor 1 Monat •via X (Twitter)

0 Kommentare

Keine Kommentare verfügbar

Kommentare vom Original-Post werden hier angezeigt

Ähnliche Videos

Waktu saya SD, Bapak saya bilang nanti SMP masuk SMP 3 Malang yang dikenal sebagai SMPN favorit kala itu. Alhamdulillah saya diterima peringkat 371 dari 377 siswa. Ayah dan Ibu saya syukuran nasi kuning untuk 1 RT. Waktu saya SMP, Bapak saya bilang nanti SMA masuk SMAN 3 Malang yang dikenal SMA favorit kala itu. Alhamdulillah saya diterima di kelas Akselerasi. Ketika itu saya memutuskan ingin masuk Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya tanpa tes. Di sekolah saya, biasanya setiap tahun hanya 1 siswa yang diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya tanpa tes. Karena saya ingin sekali masuk kedokteran Brawijaya, saya jaga supaya juara kelas. Sampai suatu ketika ada ujian lari di sekolah, lari saya tidak pernah paling cepat sebelumnya dan hari itu saya sedang sakit. Tapi karena saya begitu ingin masuk Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya saya bisa lari paling cepat ketika itu. Saya bersyukur selesai Ujian Nasional, kami seluruh siswa dikumpulkan di aula SMA Tugu dan Kepala Sekolah Bapak Drs. H. Tri Suharno, M.Pd mengumumkan bahwa saya diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya tanpa tes. Saat itu, ayah saya sampai menjual tanahnya supaya saya anaknya yang namanya Gamal bisa kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Tentunya, apa yang saya raih hari ini tidak lepas dari mindset ayah saya yang benar-benar memberikan yang terbaik yang beliau bisa untuk pendidikan kami anak-anaknya. Oleh karena itu, saya memulai Malang Cerdas untuk mengembangkan pendidikan di Malang Raya. Dalam perjalanan politik saya kali ini pun, saya ingin menghadirkan ribuan bahkan puluhan ribu beasiswa untuk pelajar-pelajar di Malang Raya. Semoga Allah mudahkan dan limpahkan keberkahan. Pendidikan bukanlah beban, tapi investasi terbaik untuk masa depan. Karena investasi untuk pengetahuan senantiasa menghasilkan keuntungan terbaik.

dr. Gamal

121,918 Aufrufe • vor 2 Jahren

MBG Jadi Jalan Rezeki Ahmad Pemuda Lulusan SMP di Bogor, Terima Gaji Rp 90 Ribu per Hari Bogor — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah Presiden RI Prabowo Subianto bukan hanya dirasakan manfaatnya oleh para pelajar, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi anak-anak muda di daerah. Salah satunya adalah Ahmad Baidawi, pemuda berusia 18 tahun asal Cijayanti, Bogor. Lulusan SMP ini kini bekerja di dapur Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) Cijayanti, tepatnya di Bagian Persiapan. Setiap hari, ia bertugas mengisi makanan ke ompreng yang kemudian dikirim ke sekolah-sekolah penerima manfaat. Sebelum bergabung di dapur MBG, Ahmad sempat bekerja restoran sebagai waiter serta bagian packing tetapi hanya bertahan tiga bulan. “Saat menganggur di rumah, seorang teman memberitahu ada lowongan di MBG Cijayanti. Sekolah saya [terakhir] SMP. Nah, saya mencobalah melamar ke sini. Dari situ saya melamar dan Alhamdulillah saya keterima,” kata Ahmad. Kini dengan bekerja di dapur MBG, Ahmad menerima gaji Rp90.000 per hari, yang ia gunakan untuk membantu Perekonomian keluarga. “Gaji pertama saya saya gunakan untuk membantu orang tua saya, mencukupi untuk beli ini-gitu kan,” ujarnya. Ahmad mengaku selama enam bulan bekerja di MBG, ia merasakan perubahan besar dalam hidupnya. “Alhamdulillah mereka (orang tua) senang saya udah punya kerjaan. Intinya saya enggak membebani orang tua saya. Setelah saya kerja di sini, Alhamdulillah ekonomi juga berkecukupan,” tuturnya. Selain membantu keluarga, ia juga bisa memenuhi kebutuhan pribadinya. “Mau beli barang udah bisa pakai uang sendiri. Mau beli motor, mau ini itu, saya usahakan bisa. Itu dari hasil kerja saya di sini,” ungkap Ahmad dengan bangga. Ahmad pun menyampaikan terima kasih kepada Prabowo yang memprioritaskan program MBG sehingga membantu pemuda seperti dirinya mendapat pekerjaan. “Untuk Bapak Presiden Prabowo, terima kasih sudah mengadakan program MBG. Di program MBG itu saya alhamdulillah bisa bekerja dan membantu orang tua. Untuk ke depannya, ini lebih bagus juga untuk anak muda yang ada di rumah, boleh melamar bekerja untuk menjadi karyawan MBG. Sekali lagi terima kasih untuk Bapak Prabowo,” ucapnya. Wijaya agung prabwo #Prabowo #MBG #MakanBergiziGratis #PrabowoSubianto #KerjaAnakMuda #CeritaBogor #JalanRezeki #AnakMudaBerdaya #ProgramPemerintah #LapanganKerja #KisahInspiratif #PemudaBogor #BekerjaDenganBangga #RezekiAnakMuda #BangunEkonomiKeluarga #TerimaKasihPrabowo

Radio Elshinta

13,811 Aufrufe • vor 11 Monaten

Saya bersyukur bisa kembali ke Kampus, kembali ke dunia akademik yang lebih merdeka dan tidak harus mengikuti kehendak para politisi yg memerintah negeri ini. Di Kampus kami memiliki keleluasaan dan kemerdekaan berpikir serta berpendapat. Sedangkan dulu di pemerintah, saya harus menyesuaikan diri dengan visi misi Presiden atau Pemerintah yg terkadang lebih sulit diberi masukan. Ukuran keberhasilan di Pemerintah menjadi samar, karena peran intelektual di sistem pemerintaan yg besar hanya jadi skrup kecil yg kadang tak diperhatikan oleh para politisi yg rata rata punya agenda dan kepentingan tersendiri. Beda dengan di Kampus, saat kita mengajar dan ceramah serta membimbing mahasiswa, ada ukuran yg lbh jelas, terkait berapa jumlah mahasiswa yg lulus di bawah bimbingan kita. Berapa yg terserap di dunia kerja, hingga berapa yg sukses di bidangnya. Belakangan ini saya banyak membimbing mahasiswa S3 dan S2. Mereka sangat intens mengikuti bimbingan dan kuliah. Ada sekitar 10 mahasiswa S3 di bawah bimbingan saya. Di antaranya dua bulan awal 2026 ini, sudah meluluskan 3 doktor dan 3 Master di bawah promotor dan bimbingan saya. Alhamdulillah mereka para lulusan tersebut bisa langsung kembali berkiprah dan berkarir di masyarakat dan di dunia kerja. Kami berharap ilmu yg mereka dapatkan dan kembangkan bisa menjadi bagian dari “Ilmun Yuntafa’u bihi” yaitu ilmu yg bermanfaat dan membawa kebaikan yg terus mengalir. Harapan itu logis mengingat mahasiswa kami rata-rata tak hanya pintar tapi juga berkualitas tinggi dan kuliahnya dibiayai scholarship atau bea siswa dari berbagai sumber. Ada yg dari kementerian, ada yang dari swasta, bahkan ada juga yg berlatar belakang dari pesantren. Ini video di antaranya. Ada yg kenal? Mereka itu ada yg dari UB, dari UWM, Universitas Telkom Bandung, Universitas Islam Internasional, dan ada juga dari Kalimantan. Biasanya ada juga dari negara negara sahabat yg berasal dari negara negara Asia Tengah hingga Afrika yang dapat beasiswa kuliah di Indonesia.

Henri Subiakto

15,582 Aufrufe • vor 5 Monaten

Catatan Kecil dari Jogjakarta “Sang Surya yang Tetap Bersinar” Dua hari lalu, dalam perjalanan singkat ke Yogyakarta untuk kunjungan keluarga, langkahku terhenti di depan sebuah tempat yang dulu begitu besar dalam dunia kecilku , SD Muhammadiyah 1 Bausasran. Sekolah ini berdiri tahun 1917, satu tahun sebelum Muhammadiyah resmi berdiri pada 1918. Saat kecil, aku belum memahami makna sejarah itu. Tapi hari ini, ketika berdiri lagi di depannya, rasanya seperti berdiri di depan pintu sebuah peradaban pendidikan yang lebih tua dari usiaku, lebih tua dari zaman yang kuhuni. Ketika bersekolah di sana selama 6 tahun masa kecilku, bangunannya masih gedung tua peninggalan pemerintah Hindia Belanda , dibangun untuk anak-anak pribumi. Megah dalam kesunyian, kuno, sakral, dan penuh energi masa silam. Di situlah anak-anak didikan Muhammadiyah ditempa sebelum kelak, beberapa di antara mereka, menjadi tokoh-tokoh besar bangsa. Dan salah satu alumni paling mulianya adalah KH. AR Fachruddin (Pak AR), Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang disegani, dihormati, dan dikenang sebagai sosok bersahaja penuh hikmah. Menyadari bahwa aku pernah duduk dan dididik di sekolah yang sama dengannya menghadirkan rasa haru yang tidak bisa diterjemahkan dengan kata. Bukan soal sejajar dan setara, karena tentu aku tak sehebat beliau, tetapi soal garis sejarah yang diam-diam , ternyata menghubungkan murid kecil ini dengan sosok teladan besar. Aku masih ingat kebiasaan lamaku: menengadah ke langit-langit kelas, memandangi kasau-kasau kayu jati kuno yang beberapa di antaranya ditulisi angka 1917. Ada rasa kagum sekaligus kecil: “Ternyata tempat ini lebih dulu hidup, jauh sebelum aku datang mempelajari huruf pertama.” Namun, perjalanan waktu tak selalu lembut. Gempa besar yang melanda Yogyakarta tahun 2006 meluluhlantakkan bangunan bersejarah itu , runtuh menjadi puing, tanpa bisa diselamatkan. Dan yang kutemui tahun 2025 adalah bangunan baru, struktur baru, cat baru, ruang baru. Tetapi getaran itu tetap sama. Kesuciannya tidak hilang. Kenangannya tidak rubuh bersama tembok-tembok tua itu. Justru ia berdiri lebih utuh: di hati. Di halaman sekolah, aku berbincang sejenak dengan Ibu Supartiningsih, kepala sekolah hari ini, sementara dari kejauhan terdengar latihan marching band. Sekilas, seperti melihat bayangan diri sendiri tahun 1980: seragam gagah berumbai melekat di tubuh kecilku, tongkat komando bergemerincing di tangan, dan langkah maju yang sedikit gugup, namun tetap maju. Aku pernah jadi majorette marching band SD Muhammadiyah ketika itu. Dalam perjalanan pulang, tanpa direncanakan, mulut ini kembali menyanyikan Mars Sang Surya , lagu pertama yang kuhafal tanpa jeda, tanpa lupa. Ternyata lagu itu bukan sekadar hafalan sekolah. Ia adalah simpul memori: optimisme, keberanian, dan keyakinan bahwa kebenaran tidak perlu berteriak , cukup tetap ada. Tetap jujur. Tetap berdiri. Anda bisa mendengar suara saya yang bergetar menyanyikannya, haru dan bangga, menjadi bagian dari sebuah entitas besar, Muhammadiyah. Kunjungan singkat ini bukan nostalgia kosong. Ini pengingat sunyi bahwa nilai, keyakinan, dan keberanian yang ditanam sejak kecil tidak pernah hilang, bahkan ketika gedungnya runtuh atau zaman berubah. Salam Takzim dr.Tifauzia Tyassuma,

Dokter Tifa

23,826 Aufrufe • vor 9 Monaten

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) adalah keniscayaan bagi umat Islam di tengah arus globalisasi. Haedar Nashir menjelaskan bahwa KHGT merupakan respons terhadap keniscayaan globalisasi, yang ia gambarkan sebagai “kereta raksasa” yang dapat menggilas siapa saja yang tidak siap, namun menjadi kendaraan penting bagi mereka yang mampu menghadapinya. Dalam perspektif universum, Islam disebut sebagai agama kosmopolit yang mengandung nilai-nilai universal, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an, “Wama arsalnaka illa rahmatan lil alamin” (QS. Al-Anbiya: 107), yang menegaskan bahwa risalah Islam ditujukan untuk seluruh alam dengan nilai-nilai rahmat. Haedar menyoroti sejarah Islam yang telah menunjukkan sifat globalnya sejak dulu. Islam menyebar dari Jazirah Arab hingga ke Magribi, Eropa (Andalusia, Balkan), Rusia, Asia Timur, dan Asia Tenggara, meskipun dengan keterbatasan transportasi pada masa itu. “Ini bukti nyata bahwa Islam telah mengglobal sejak awal, sebagai wujud rahmatan lil alamin,” ujarnya. Oleh karena itu, di era globalisasi yang menghapus sekat administratif, kehadiran kalender hijriah global menjadi mutlak untuk menyatukan umat Islam dengan satu tanggal dan satu hari di seluruh dunia. Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah tetap berpijak pada identitas kebangsaan Indonesia, sebagaimana diwujudkan dalam dokumen resmi Pancasila dan Darul Ahdi Wasyahadah. Namun, untuk kepentingan universal, kalender global ini dianggap sebagai langkah strategis yang tidak dapat dihindari. “Kita tidak lagi bisa hanya berbasis kalender lokal, kecuali untuk keperluan tertentu. Kalender global adalah jihad akbar dan ijtihad umat Islam menghadapi perkembangan global,” tegas Haedar. Dari perspektif kesatuan, Haedar menekankan pentingnya ukhuwah (persaudaraan) sebagai keniscayaan untuk menjaga keutuhan umat Islam, baik di Indonesia maupun dunia. Ia merujuk pada Al-Qur’an, “Innamal mukminuna ikhwah” (QS. Al-Hujarat: 10), yang memerintahkan umat Islam untuk bersaudara, serta perintah untuk berpegang teguh pada tali Allah dan tidak berpecah belah (QS. Ali Imran: 103). Namun, ia mengakui bahwa ukhuwah sering sulit dipraktikkan dalam dua isu besar: konflik Palestina dan penentuan kalender hijriah. Haedar menyebut penentuan kalender hijriah sebagai “jalan terjal” bagi Muhammadiyah, terutama karena perbedaan pandangan di tingkat lokal dan global. Ia mencontohkan kebingungan umat awam ketika tanggal penting seperti 1 Ramadan, 1 Syawal, atau 10 Zulhijah berbeda-beda, bahkan hingga dua atau tiga hari, padahal peredaran bulan, matahari, dan bumi bersifat eksak. Meski demikian, Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah terbuka untuk dialog dan musyawarah demi mencapai mufakat. “Prosesnya mungkin lama, bisa 10, 50, atau 100 tahun, tapi Muhammadiyah akan sabar menanti,” ujarnya. Ia juga mengapresiasi inisiatif individu dan organisasi lain yang telah merintis gagasan serupa, serta mengajak semua pihak untuk menyisihkan kepentingan pribadi demi persatuan umat. Kalender global tunggal mungkin punya kekurangan, tapi sistem lain juga tidak sempurna. “Mari duduk bersama untuk satu tujuan: satu hari, satu tanggal,” ajaknya. Dari sisi saintifik, Haedar menjelaskan bahwa Muhammadiyah menggunakan metode hisab sebagai salah satu parameter kalender global, di samping prinsip satu hari satu tanggal untuk seluruh dunia. Ia menegaskan bahwa hisab dan rukyat sama-sama memiliki dasar dalam Al-Qur’an dan hadis, seperti hadis dari Ibnu Umar, “Fain gumma faqdurullahu,” serta ayat yang menyebutkan kepastian peredaran matahari dan bulan (QS. Yunus: 5). Haedar menekankan bahwa perubahan metode tidak perlu ditakuti, karena metode hanyalah wasilah (sarana) untuk mencapai tujuan. Muhammadiyah sendiri pernah beralih dari rukyat ke hisab hakiki, menunjukkan keterbukaan terhadap pembaruan. Ia juga merujuk pada konsep falsifikasi dalam ilmu pengetahuan Barat, yang membuka peluang untuk menguji dan memperbarui teori. “Jika kalender global ini dikritik, kami terbuka. Bahkan ijtihad yang salah pun mendapat pahala,” ujarnya, mengutip prinsip bahwa ijtihad adalah kunci peradaban Islam. Haedar berharap kalender ini tidak hanya menjadi milik Muhammadiyah, tetapi milik umat Islam secara keseluruhan. “Hilangkan nama Muhammadiyah jika perlu, yang penting kita bersatu untuk satu kalender global,” katanya. Ia juga menyoroti kebutuhan generasi milenial dan Gen Z akan kepastian kalender, serupa dengan kalender Masehi yang telah mapan, seperti perayaan Natal yang selalu jatuh pada 25 Desember di seluruh dunia. Meski tantangan masih besar, Haedar optimistis bahwa dengan dialog, musyawarah, dan keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan, kalender hijriah global tunggal dapat terwujud. “Jika tidak sekarang, mungkin 25, 50, atau 100 tahun ke depan. Tapi jangan terlalu lama, karena generasi muda menanti,” pungkasnya. Sumber: #SaatnyaKalenderHijriahGlobalTunggal #SiapLebihAwal #Muhammadiyah

Muhammadiyah

94,363 Aufrufe • vor 5 Monaten

Mohon di atensi min Sekretariat Kabinet Partai Gerindra DPR RI cek kebenarannya. Ada keluhan soal MBG, ada oknum oknum yang diduga melakukan intimidasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi solusi, kini justru menuai polemik. Alih-alih menerima kritik soal fasilitas dapur, sejumlah oknum yang terkait dengan program tersebut justru bereaksi keras hingga muncul dugaan intimidasi. Kegaduhan bermula saat sejumlah warga melayangkan komplain terkait kondisi dapur pengelola MBG. Namun, reaksi tak terduga datang dari berbagai pihak—mulai dari oknum pekerja hingga kerabat staf—yang dinilai terlalu emosional atau 'baper' dalam menanggapi keluhan tersebut. Yang lebih memprihatinkan, beredar kabar adanya dugaan intimidasi yang dilakukan oleh oknum guru terhadap orang tua siswa. Mereka dilarang keras mengunggah atau memposting hal-hal negatif terkait pelaksanaan program MBG di media sosial. Masyarakat berharap pihak dinas terkait segera turun tangan untuk mengevaluasi transparansi program ini. Kritik terhadap kualitas makanan atau dapur seharusnya dijawab dengan perbaikan nyata, bukan dengan pembungkaman suara wali murid. Seperti yang terjadi di SDN 03 Sindang Sari, Lampung Utara, Program MBG kembali menuai kritik tajam akibat layanan dapur pengelola yang dinilai kurang baik. Melalui pernyataan resminya, Kepala SDN 03 Sindang Sari menegaskan bahwa ini merupakan keluhan yang kesekian kalinya dialami pihak sekolah. Masalah yang terus berulang membuat pihak sekolah mendesak pemilik atau pengelola dapur MBG wilayah Sindang Sari untuk segera memberikan pertanggungjawaban. Hingga saat ini, belum dirinci secara detail mengenai kendala teknis yang terjadi, namun desakan ini mencerminkan adanya ketidaksesuaian antara komitmen pengelola dengan realisasi di lapangan. Pihak sekolah berharap kualitas dan standar Makan Bergizi Gratis dapat dijaga demi kesehatan dan hak para siswa. Masyarakat dan wali murid kini menunggu respons dari pihak pengelola dapur MBG dan dinas terkait untuk mengevaluasi kerja sama ini. Kejadian ini menjadi sinyal penting agar pengawasan program strategis pemerintah ini diperketat di tingkat lokal.

Never

35,221 Aufrufe • vor 7 Monaten

Air Mata Bocah SD saat Bawa Pulang MBG untuk Makan Keluarganya Jakart - Seorang anak sekolah dasar tampak berjalan pulang sambil menenteng sebuah kantong makanan. Kantong itu berisi paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ia dapatkan dari sekolahnya. Berbeda dengan kebanyakan teman-temannya yang menikmati makanan tersebut bersama di sekolah, anak itu memilih membawanya pulang. Setibanya di depan rumah, pemandangan yang mengharukan terjadi. Anak itu membuka kantong MBG yang berisi telur, roti, susu, dan buah-buahan. Namun sebelum sempat menyantapnya, ia justru menangis. Sambil mengusap air mata, ia tetap memegang erat paket makanan itu. Momen tersebut terekam dalam sebuah video yang kemudian diunggah oleh akun TikTok @clarac1aa. Dalam keterangan unggahannya, pemilik akun menjelaskan bahwa anak tersebut merupakan tetangganya yang berasal dari keluarga kurang mampu. “Tetangga aku selalu nangis tiap bawa pulang makanannya karena keluarga mereka kesehariannya buat makan aja susah. Puji syukur orang tuanya jadi lebih hemat pengeluaran rumahnya,” tulis akun tersebut dalam caption videonya, ditulis Sabtu (7/3). Menurutnya, paket MBG yang dibawa pulang anak itu bukan sekadar makanan tambahan dari sekolah. Bagi keluarganya, paket tersebut menjadi bantuan nyata untuk meringankan kebutuhan makan sehari-hari. Unggahan tersebut juga menjadi respons terhadap sejumlah pihak yang sebelumnya meragukan manfaat program MBG. Bagi pengunggah video, kisah sederhana ini justru menjadi bukti bahwa program tersebut memiliki dampak langsung bagi sebagian keluarga. Video itu pun cepat menyebar di media sosial. Hingga kini, unggahan tersebut telah disukai lebih dari 48 ribu akun dan dibagikan ulang sebanyak 1.437 kali. Di kolom komentar, banyak warganet yang ikut berbagi cerita serupa. Sebagian mengaku baru menyadari betapa berarti bantuan makanan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Akun MikunaKunss*** menuliskan, “Orang yang nggak pernah kelaparan nggak bakalan tau kelebihan adanya MBG itu apa.” Sementara itu, akun Bella*** bercerita bahwa di sekolah anaknya, paket makanan bahkan sengaja dibungkus agar bisa dibawa pulang oleh siswa yang membutuhkan. “Di sekolahku malah sengaja dibungkusin buat anak-anak di sekolah yang susah kak, buat dibawa pulang,” tulisnya. Komentar lain datang dari akun elric brothers*** yang membagikan kisah menyentuh dari anaknya di sekolah. “Anakku cerita sambil mau nangis ada temennya di kelas anak piatu dikasih MBG selalu habis punya temen yang nggak suka dia habisin juga. Terus dia nulis di buku curhat katanya seneng dapat MBG karena hari-hari makan pakai garam,” tulis akun tersebut. Dari postingan ini, membuktikan bahwa di balik satu paket sederhana berisi telur, roti, susu, serta buah, ada kisah-kisah kecil tentang perjuangan keluarga untuk sekadar memastikan anak-anak mereka bisa makan dengan layak setiap hari. #MakanBergiziGratis #MBG #AnakIndonesia #KisahMengharukan #BantuKeluarga #ProgramGiziAnak #EmpatiSosial #ViralDiMedsos #AnakSekolah #IndonesiaPeduli #KesejahteraanAnak #HarapanAnakIndonesia Prabowo Subianto

Radio Elshinta

687,607 Aufrufe • vor 6 Monaten