正在加载视频...

视频加载失败

Nargis Fakhri

45,422 次观看 • 2 年前 •via X (Twitter)

0 条评论

暂无评论

原始帖子的评论将显示在这里

相关视频

⚠️ TRIGGER WARNING ⚠️ 6 Siswa SMPN 2 Bumiayu Tersambar Petir di Gerbang Sekolah, 2 Meninggal Dunia. Brebes - Enam siswa SMPN 2 Bumiayu, Brebes, tersambar petir saat berada di gerbang sekolah. Dua korban dinyatakan meninggal akibat kejadian itu. Peristiwa itu terjadi pada Rabu (13/11/2024) sekitar pukul 14.00 WIB. Di jam tersebut, lokasi diguyur hujan deras yang disertai sambaran petir. "Kejadian sudah selesai pelajaran, anak pulang. Saat itu hujan dan setiba di luar gerbang sekolah, tersambar petir," kata Kepsek SMPN 2 Bumiayu Kukuh Sarjono, saat dihubungi. Berikut 3 fakta terkait peristiwa tersebut. 2 SISWA TEWAS Kukuh mengatakan bahwa usai para siswanya tersambar petir, mereka langsung dilarikan ke RSI Muhamadiyah Aminah. Korban masing-masing diketahui bernama Fikri (kelas 8B), Ramdhan (9E), Fakhri (9A), Ade (9E), Nizam (9E), dan Anwar (7D). Sayangnya, setelah mendapat perawatan di rumah sakit dua siswa tak bisa diselamatkan. Dua siswa yang meninggal ialah Darmawan (kelas 9E) dan M Fakhri Aziz (9A). "Dua tewas di rumah sakit," kata Kata Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Brebes, Carida, melalui sambungan telepon. 1 SISWA KRITIS Selain dua orang tewas, satu korban juga masih dinyatakan kritis. Meski begitu, saat ini korban kritis Bernama Nizam itu disebut sudah sadar. Humas RSI Muhammadiyah Siti Amnah, Evi Marantika, mengatakan bahwa saat ini pihaknya tengah menurunkan dokter spesialis jantung dan dokter spesialis anak untuk menangani korban kritis itu. "Barusan sudah sadar, tapi masih kritis. Nanti akan dikonsultasikan ke spesialis jantung dan dokter anak untuk penanganan lebih lanjut," ujarnya. KONDISI 3 SISWA LAIN Kemudian untuk tiga korban lain, Eva menyebut salah satu dari tiga korban masih harus menjalani observasi. Sedangkan dua lainnya dinyatakan stabil dan sudah bisa dipindah ke ruang rawat inap. Kepala SMP Negeri 2 Bumiayu, Kukuh Sarjono, berharap agar para korban bisa segera pulih. "Kami berdoa agar mereka segera pulih," harapnya. Artikel: Detik

CREEPY & DISTURBING INDONESIA

233,384 次观看 • 1 年前

Ketika Bencana Bertemu Politik: Strategi Pengalihan Perhatian di Tengah Kegagalan Negara Dalam kajian ilmu politik dan studi kebencanaan, terdapat fenomena yang dikenal sebagai diversionary politics atau agenda shifting. Fenomena ini merujuk pada upaya sebagian pemerintah mengalihkan perhatian publik dari kegagalan penanganan bencana dengan mengangkat isu lain—terutama keamanan, konflik, atau stabilitas nasional. Strategi ini bukanlah hukum pasti, namun memiliki dasar analitis yang kuat dan terbukti muncul dalam kondisi tertentu. Pengalihan perhatian biasanya terjadi ketika respons negara terhadap bencana lambat atau gagal, kemarahan publik meningkat, legitimasi pemerintah melemah, serta media dan opini publik sulit dikendalikan. Dalam situasi tersebut, negara cenderung memperbesar isu keamanan, mengangkat ancaman separatisme atau instabilitas, membangun narasi ketertiban, serta membatasi simbol solidaritas dan ekspresi publik. Tujuan utamanya adalah menggeser fokus masyarakat dari kegagalan negara ke ancaman lain yang dianggap lebih mendesak, demi mempertahankan legitimasi kekuasaan. Sejarah menunjukkan pola ini dalam berbagai konteks global. Myanmar pasca Cyclone Nargis (2008) menunjukkan kegagalan respons bencana yang diikuti pembatasan bantuan internasional, pengetatan keamanan, dan sensor media. Sri Lanka pasca Tsunami 2004 memperlihatkan distribusi bantuan yang timpang disertai penguatan isu konflik separatis LTTE, yang memperburuk ketegangan etnis. Pakistan saat banjir besar 2010 menampilkan pergeseran narasi dari kritik terhadap pemerintah ke isu stabilitas dan keamanan nasional. Amerika Serikat pasca Hurricane Katrina 2005 memperlihatkan sekuritisasi isu melalui penekanan pada kekacauan dan penjarahan, yang mengalihkan sorotan dari kegagalan negara. Kasus-kasus tersebut memperlihatkan pola serupa: ketika penanganan bencana buruk, isu keamanan sering dijadikan alat untuk menyelamatkan citra pemerintah. Strategi ini mungkin efektif dalam jangka pendek, namun berisiko memperparah ketegangan sosial dan merusak kepercayaan publik dalam jangka panjang. Dalam konteks Aceh, yang memiliki sejarah konflik dan bencana besar seperti tsunami 2004, fenomena ini sangat relevan. Frustrasi masyarakat pascabencana dapat dengan mudah dibingkai sebagai ancaman keamanan jika pendekatan negara terlalu menekankan aspek represif. Pengalaman internasional menunjukkan bahwa pendekatan terbaik adalah humanitarian-first approach, di mana keamanan berfungsi mendukung distribusi bantuan, bukan menggantikannya. Kesimpulannya, bencana bukan semata peristiwa alam, tetapi juga arena politik. Memahami konsep diversionary politics penting untuk mendorong respons negara yang lebih transparan, akuntabel, dan berorientasi pada kemanusiaan, serta untuk mencegah konflik sosial yang tidak perlu di tengah penderitaan masyarakat. - ib

Aceh 🇮🇩🇹🇷🇵🇸

25,119 次观看 • 6 个月前