Загрузка видео...

Не удалось загрузить видео

На главную

@ Ngayogyakarta Hadiningrat

49,050 просмотров • 1 год назад •via X (Twitter)

Комментарии: 5

Фото профиля new__
new__1 год назад

di yk bro?

Фото профиля Picho Teraphis
Picho Teraphis1 год назад

Iyaa bro

Фото профиля om picky
om picky1 год назад

mntapp

Фото профиля Picho Teraphis
Picho Teraphis1 год назад

Info binor yg bisa di entot

Фото профиля Ari Oncom
Ari Oncom1 год назад

Info partner area Yogya

Похожие видео

Makam kami, makam Brayat Ageng Kaweden (Sultan Ground) 3 Makam terdampak Proyek Pembangunan Jalan Tol Jogja-Solo Seksi 2 Paket 2.2, berlokasi di titik Junction Sleman (Titik Pertemuan Tol Jogja-Solo, Jogja-Bawen dan Tol Jogja-YIA Serat Palilah dari Kawedanan Ageng Panitikismo Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk pemanfaatan Sultan Ground pada proyek tersebut sudah terbit Proses yang saat ini sedang berjalan adalah proses administrasi pengajuan izin pemanfaatan lokasi relokasi makam di Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kabupaten Sleman, untuk selanjutnya menerbitkan surat rekomendasi atas lokasi relokasi makam yang sudah ditentukan dan disepakati serta dilanjutkan pembuatan Nota Dinas dari Bupati Sleman untuk penerbitan izin dari Gubernur DIY atas pemanfaatan Tanah Kas Desa (TKD) sebagai lokasi relokasi makam Belum nampak pekerjaan konstruksi makam di lokasi relokasi makam yang berlokasi di sebelah utara trase jalan tol (sebelah utara makam yang akan di pindah), baru dilakukan pengurukan lahan di lokasi tersebut Dengan terbitnya Serat Palilah dari Panitikismo Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat pemanfaatan lahan makam (Sultan Ground) untuk Proyek Tol Jogja-Solo sudah bisa dilaksanakan namun kesiapan lokasi relokasi makam serta kesiapan teknis dan mekanisme relokasi makam dari PPK (Pejabat Pembuat Komitmen pembebasan lahan) diharapkan dapat segera diselesaikan sehingga tidak menambah kekhawatiran warga apabila dalam waktu dekat terdapat anggota keluarga mereka yang meninggal dunia sehingga tidak dilakukan proses pemakaman yang berulang (dimakamkan di makam lama kemudian dipindahkan ke lokasi makam baru) Semoga menjadi perhatian dari pihak pihak terkait Terima kasih (Basori_anwar)

Merapi Uncover

20,447 просмотров • 1 год назад

Bulan Agustus sudah berlalu, hari ini saya akan menuliskan kembali keresahan warga di lingkungan sekitar kami Makam kami, makam Brayat Ageng Kaweden (Sultan Ground) 3 Makam terdampak Proyek Pembangunan Jalan Tol Jogja-Solo Seksi 2 Paket 2.2, berlokasi di titik Junction Sleman (Titik Pertemuan Tol Jogja-Solo, Jogja-Bawen dan Tol Jogja-YIA Serat Palilah dari Kawedanan Ageng Panitikismo Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk pemanfaatan Sultan Ground pada proyek tersebut sudah terbit Proses yang saat ini sedang berjalan adalah proses administrasi pengajuan izin pemanfaatan lokasi relokasi makam di Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kabupaten Sleman, untuk selanjutnya menerbitkan surat rekomendasi atas lokasi relokasi makam yang sudah ditentukan dan disepakati serta dilanjutkan pembuatan Nota Dinas dari Bupati Sleman untuk penerbitan izin dari Gubernur DIY atas pemanfaatan Tanah Kas Desa (TKD) sebagai lokasi relokasi makam Belum nampak pekerjaan konstruksi makam di lokasi relokasi makam yang berlokasi di sebelah utara trase jalan tol (sebelah utara makam yang akan di pindah), baru dilakukan pengurukan lahan di lokasi tersebut, belum terdapat pondasi keliling, belum terdapat pagar Dengan terbitnya Serat Palilah dari Panitikismo Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat pemanfaatan lahan makam (Sultan Ground) untuk Proyek Tol Jogja-Solo sudah bisa dilaksanakan namun kesiapan lokasi relokasi makam serta kesiapan teknis dan mekanisme relokasi makam dari PPK (Pejabat Pembuat Komitmen pembebasan lahan) diharapkan dapat segera diselesaikan sehingga tidak menambah kekhawatiran warga apabila dalam waktu dekat terdapat anggota keluarga mereka yang meninggal dunia sehingga tidak dilakukan proses pemakaman yang berulang (dimakamkan di makam lama kemudian dipindahkan ke lokasi makam baru) Semoga menjadi perhatian dari pihak pihak terkait Terima kasih (Basori Anwar)

Merapi Uncover

25,805 просмотров • 10 месяцев назад

Neo PKI Imad mulai menyisir keluarga dan keturunan para Wali Songo. Gerombolan itu mulai mengusik keluarga Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah). Kelak pada gilirannya mereka juga akan mengusik keluarga dan keturunan Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim), Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim), Sunan Drajat (Raden Qosim), Sunan Giri (Raden Paku), Sunan Kalijaga (Raden Said), Sunan Kudus (Ja’far Shodiq), Sunan Ampel (Raden Rahmat) dan Sunan Muria (Raden Umar Said). Kedoknya adalah Pembela Wali Songo, prakteknya menghancurkan Wali Songo. Sama persis dengan slogan-slogan palsu mereka lainnya, seperti Pembela Pancasila dan NKRI Harga Mati namun prakteknya mengkhianati Pancasila, UUD1945 dan NKRI. Jika mereka telah sampai pada misi menghancurkan peninggalan religius para Wali Songo, diujungnya nanti pasti mereka akan menghancurkan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (Yogyakarta) dan Kasunanan Surakarta (Keraton Surakarta Hadiningrat, Surakarta, Solo). Jika berhasil, maka seluruh warisan kekayaan leluhur Islam lainnya akan dihabisi hingga ke Kesultanan Demak (Raden Fatah, sekarang di Kabupaten Demak), Kesultanan Mataram Islam (Panembahan Senopati atau Sutawijaya) dan Kesultanan Pajang. Neo PKI hanya menargetkan Islam dan segala yang berbau Islam. Jika Islam telah selesai, maka Kristen, Katolik dan semua agama Samawi lainnya akan dengan mudah dihabisi dari bumi Nusantara. #WaspadaiNeoPKI “Tumpas Selagi Benih, Tebas Selagi Pucuk”.

𝐋𝐈𝐑𝐀 ⁽ᴼᶠᶠⁱᶜⁱᵃˡ⁾

25,242 просмотров • 1 год назад

Miyos Gangsa adalah sebuah prosesi atau ritual adat yang diselenggarakan oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai tanda dimulainya rangkaian acara Sekaten, yaitu perayaan tahunan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Istilah “Miyos Gangsa” berasal dari bahasa Jawa Krama Inggil. •Miyos berarti “keluar” atau “lahir”. •Gangsa merujuk pada alat musik gamelan. Dengan demikian, Miyos Gangsa secara harfiah berarti “keluarnya gamelan”. Makna dan Pelaksanaan Prosesi Dalam prosesi ini, dua set gamelan pusaka Keraton Yogyakarta yang sangat sakral, yaitu Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogo Wilogo, dikeluarkan dari keraton. Kedua gamelan tersebut kemudian dikirab menuju Bangsal Pagongan di halaman Masjid Gedhe Kauman. Setelah ditempatkan di bangsal masing-masing (satu di utara dan satu di selatan), gamelan akan ditabuh secara bergantian selama tujuh hari berturut-turut. Tabuhan gamelan ini menjadi tanda dimulainya perayaan Sekaten yang selalu menarik ribuan masyarakat dari berbagai daerah. Tujuan utama prosesi Miyos Gangsa dan seluruh rangkaian Sekaten adalah sebagai media syiar agama Islam. Dahulu, hal ini digunakan para wali untuk menarik perhatian masyarakat agar datang ke masjid. Setelah gamelan ditabuh selama sepekan penuh, rangkaian Sekaten ditutup dengan prosesi Kondur Gangsa, yaitu upacara mengembalikan kedua gamelan pusaka tersebut kembali ke dalam keraton. (direktoriwisatajogja)

Merapi Uncover

30,789 просмотров • 11 месяцев назад

Sebuah makam kecil yang berada di trotoar pinggir jalan raya penghubung Solo–Sukoharjo, tepatnya di Desa Tanjunganom, Sukoharjo, menarik perhatian publik karena keunikannya. Makam berpenanda hitam dengan tulisan aksara Jawa itu diketahui sudah ada jauh sebelum jalan raya dibangun seperti sekarang. Menurut warga setempat, perubahan terjadi akibat proyek pembangunan jalan yang menggusur permukiman, sementara makam tetap dipertahankan hingga kini berada persis di tepi jalan. Berdasarkan cerita turun-temurun, makam tersebut merupakan makam seekor kucing Persia kesayangan Sinuhun Pakubuwono (PB) X, Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Warga menyebut tidak pernah terjadi kejadian aneh di sekitar makam, dan keberadaannya dijaga sebagai bagian dari nilai sejarah. Kerabat Keraton Surakarta, KGPH Puger, mengonfirmasi kucing itu bernama Nyai Sembro, sebagaimana tertulis dalam aksara Jawa di kijing makam. Nyai Sembro merupakan kucing klangenan PB X berjenis Persia, yang juga dikenal sebagai candramawa. Menurut kepercayaan, kucing jenis ini memiliki kemampuan khusus dan mata yang cerah. KGPH Puger menambahkan, kawasan tersebut dulunya merupakan pemakaman hewan, namun kini hanya makam Nyai Sembro yang tersisa setelah pembangunan jalan dan permukiman menghilangkan makam-makam lainnya. 📸: Dok. kumparan. Baca selengkapnya dengan klik link di bio. Cari tahu berita update lainnya dengan download aplikasi kumparan di App Store atau Google Play. #newsupdate #update #news #videonews #sinuhunpakubuwonoX #surakarta #solo #keraton #info #infoterkini #berita #beritaterkini #bicarafaktalewatberita #kumparan

kumparan

13,094 просмотров • 7 месяцев назад

Sakmeniko Keraton Surakarta Gadah kaleh Raja malih Internal Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat mengukuhkan KGPH Mangkubumi sebagai Pakoe Buwono (PB) XIV. Keraton Solo diambang punya raja kembar setelah sebelumnya KGPAA Purbaya putra terkecil PB XIII telah mendeklarasikan diri penerus PB XIV pada tanggal 5 November. Dimana hasil rapat internal dipimpin Maha Menteri atau patih, Kanjeng Gusti Panembahan Tedjowulan menggelar di Sasana Handrawina, Kamis (13/11). Rapat internal keluarga tersebut dihadiri keluarga PB XII dan PB XIII, yakni KGPHPA Tedjowulan, GPH Suryo Wicaksono, GRAy Koes Moertiyah (Gusti Moeng), GRAy Koes Indriya, KGPH Puger, KGPH Hangabehi (Mangkubumi) hingga Wayah Dalem, Sentana Dalem sepuh. Sementara itu, keluarga pendukung KGPAA Purbaya jadi PB XIV tidak hadir mengikuti rapat internal tersebut. Putra PB XII GPH Suryo Wicaksono mengatakan pihaknya salah satu pihak yang menghadiri undangan patih. Rapat dimulai dengan pembacaan surat Kementerian Kebudayaan tanggal 10 November 2025 dan Kemendagri tanggal 21 April 2017 oleh Gusti Wandansari, di depan para sentono dan putri wayah PB XII dan satu putra PB XIII. “Pada rapat internal ini pelantikan putranya tertua PB XIII yaitu Gusti Mangkubumi sebagai pangeran patih atau raja,” ujar GPH Suryo. Ia mengatakan pada penobatan PB XIV yang disaksikan para sentono, kerabat PB XII dan para sesepuh keraton terjadi geger. Dimana putri sulung PB XIII Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Timoer Rumbai Kusuma Dewayani mendatangi lokasi acara, dengan menyebut acara ini bertentangan komunikasi yang sebelumnya dilakukan. “Penobatan Gusti Mangkubumi sebagai PB XIV terjadi geger. GKR Rumbai mendatangi lokasi acara, menyebut acara ini bertentangan komunikasi yang sebelumnya dilakukan,” kata dia. “Saya mengundurkan diri (walkout) karena terjadi perdebatan antara Gusti Rumbai dan Gusti Moeng terkait penobatan Gusti Mangkubumi sebagai PB XIV,” kata dia (IM). Selengkapnya ikuti dan baca:

Info Jateng

83,582 просмотров • 8 месяцев назад

SOMEBODY PLEASE HELP HIM! Bismillahirrahmanirrahiim Kadang sejarah tidak runtuh dengan ledakan, tetapi dengan suara yang pelan, rambut yang menipis, langkah yang melambat, dan tatapan seseorang yang tiba-tiba tampak jauh dari dirinya sendiri. Dalam neurosains, tubuh mencatat semua yang tak diucapkan. Kortisol memendekkan telomer, ekor kromosom yang menjadi penanda harapan hidup, Inflamasi kronik mengubah ekspresi gen, dan wajah adalah layar bioskop tempat memori hidup diputar ulang. Rambut gugur bukan hanya genetika, ia simbol mahkota biologis yang perlahan kembali ke tanah. Dalam imunologi klinis, kita mengenal fenomena ketika tubuh menyerang dirinya sendiri. Autoimun berat sering menampakkan tanda yang tak keras suaranya, namun dalam diamnya kita membaca perang dari dalam: •kulit pucat, warna tidak stabil, mudah meradang, •moonface akibat retensi cairan dan efek steroid kronis, •rambut menipis cepat, seperti mahkota yang mulai melepas bebannya, •langkah yang pelan: bukan lemah, tapi seperti tulang yang memikul beban yang dibikin sendiri, •tatapan kosong: brain fog, ketika pikiran lelah berperang dengan segala keadaan yang tak lagi bisa diatur dan dikuasai, •postur sedikit membungkuk, seolah tubuh berkata aku bersikeras membalikkan waktu. Tulisan ini bukan untuk menuduh seorang tokoh sakit. Ini daftar tanda klinis umum, tetapi juga metafor politik tubuh. Karena sering kali sejarah dan biologi memiliki pola yang sama: tubuh yang lelah = kekuasaan yang selesai, wajah yang pucat = cahaya kuasa yang menurun, mahkota rambut yang luruh = era yang selesai. Kekuasaan jarang runtuh dengan kerusuhan. Ia surut dengan keheningan. Dengan hilangnya karisma biologis, dengan publik yang tidak lagi terpikat pada narasi lama, dengan tubuh yang perlahan berubah menjadi cerminan saatnya layar panggung ditutup Kita hidup di titik balik peradaban Nusantara. Gelombang politik bergeser dari visual ke substansi, dari teater kuasa ke audit memori, dari figur tunggal ke kesadaran kolektif. Indonesia sedang memasuki fase Working Prophecy, dimana sejarah tidak hanya dicatat, tetapi dirombak, ditafsir ulang, dan dilahirkan kembali. Ini bukan tentang satu sosok. Ini tentang sebuah era yang menua, tentang medan energi bangsa yang bergerak, tentang cerita yang meminta penulis huruf pertama baru. Mungkin gejala-gejala pada tubuh hanya potongan kecil. Namun bagi yang membaca dengan mata batin, itu terasa seperti frekuensi alam yang berkata lirih: “Bab ini sudah selesai.” Autoimun biologis adalah ketika tubuh memerangi dirinya. Autoimun politik adalah ketika bangsa memerangi ingatannya. Dan di tengah inflamasi sosial itu, kita ditanya: Apakah kita akan terus sakit, atau mulai menyembuhkan diri sebagai satu tubuh bernama Indonesia? Bangsa ini sedang berganti kulit. Dan setiap helai rambut yang gugur di panggung sejarah, adalah tanda bahwa halaman berikutnya menunggu dituliskan. Saya, untuk kesekian kalinya berkata: tolongan diingatkan, kondisinya serius dan perlu perawatan, sebelum semuanya terlambat. Laa haula wala quwwata ilabillah. Salam takzim dr. Tifauzia Tyassuma,

Dokter Tifa

38,310 просмотров • 7 месяцев назад