Video yükleniyor...
Video Yüklenemedi
Nonton bola jadi beda saat dirayakan bareng 🤝⚽️ Lebih rame, lebih hidup, dan pastinya lebih berkesan 🔥 Karena di setiap momen, selalu ada cerita yang tercipta bersama. Dan bareng Heineken, semuanya terasa lebih seru — 𝘍𝘢𝘯𝘴 𝘏𝘢𝘷𝘦 𝘔𝘰𝘳𝘦 𝘍𝘳𝘪𝘦𝘯𝘥𝘴 🍻 Mau ngerasain pengalaman yang lebih gila lagi? 👀 Ikutan... show more
0 Yorum
Yorum bulunmuyor
Orijinal gönderinin yorumları burada görünecek
Benzer Videolar
0:58
Sensitive content
"Halah, cuma karakter 2D fiksi ini, bebas lah mau diapain juga." "Saya tidak pernah dengar suaranya, apalagi beli bantalnya, gesek-gesek [kelamin] saya sambil nonton, saya ga pernah, JADI STOP HIPOKRIT!" Kalimat-kalimat di atas jujur bikin darahku mendidih. Sebagai orang yang hidup di dua dunia sekaligus, yaitu sebagai VTuber dan juga seorang sutradara, opini kayak gitu enggak cuma salah kaprah secara logika, tapi juga nyenggol ranah personal aku. Aku tahu gimana rasanya berdarah-darah bangun persona di balik avatar. Berapa jam yang abis buat persiapan, seberapa terkurasnya energi tiap kali live, dan seberapa nyatanya ikatan yang kebentuk sama penonton. Avatar itu bukan tembok pembatas antara fiksi dan realita. Justru sebaliknya, itu jembatannya. Makanya, pembelaan Dera itu bener-bener enggak masuk akal. Buat yang ketinggalan info, kemarin Dera ini bikin tier list VTuber Indonesia. Masalahnya, ini bukan tier list soal kualitas konten atau skill streaming. Kategorinya beneran seksual secara terang-terangan, bahkan Dera memperlakukan avatar & art vtubernya dengan tidak pantas. Pas komunitas VTuber protes, dia malah bikin live stream "klarifikasi" yang sama sekali gak bikin suasana adem, isinya malah makin ngaco. Di stream itu, argumen dia intinya bilang kalau ini kan cuma karakter 2 dimensi, dia enggak pernah ngelakuin hal aneh-aneh pas nonton mereka, dan malah nuduh netizen yang nonton VTuber tuh sebenernya gooner semua, dan dia yang benar. Dilanjut dengan instagram story dengan isi serupa, video terlampir. Pertama, yang Dera lakukan itu namanya logical fallacy tu quoque, atau dalam bahasa yang lebih membumi: "kamu juga begitu." Argumen "kalian juga gooner" tidak membuat tindakannya jadi benar. Lagipula, banyak sekali vtuber dan viewers yang kontennya jauh dari hal-hal seksual sekarang. Sebagian besar konten VTuber yang beredar sekarang, apalagi di skena vtuber Indonesia, isinya tuh main game bareng penonton, belajar bahasa asing sambil ngasbun, masak-masakan, atau sekadar ngobrol santai tentang hari yang berat. Ada VTuber yang jadiin channel-nya tempat belajar sejarah. Ada yang fokus ke komedi murni. Bahkan ada para v-doctor, baik dokter biasa, dokter gigi, dan dokter hewan, bahas soal kesehatan. Kebanyakan bahkan enggak pernah sekalipun nyentuh topik dewasa, karena memang bukan itu yang ingin mereka bangun. Penonton dateng bukan karena libido. Mereka dateng karena butuh temen ngobrol jam dua pagi, karena pengen ketawa setelah hari yang melelahkan, atau karena ada kreator yang bikin mereka merasa diterima tanpa harus jadi siapa-siapa dulu. Menyamaratakan semua itu sebagai "gooner" bukan cuma salah secara faktual, itu juga penghinaan terhadap jutaan orang yang menemukan sesuatu yang genuine di skena ini. Kedua, soal "cuma 2D." Sebagai sutradara, waktu aku nulis naskah, karakter di atas kertas itu emang fiksi murni. Aku bebas mau matiin karakternya, mau disiksa, atau mau diapain aja, karena mereka enggak punya perasaan, enggak punya jadwal, dan enggak punya penonton yang nungguin tiap minggu. VTuber itu beda. Avatar 2D itu lebih mirip kostum panggung daripada karakter fiksi. Di baliknya ada talent nyata, manusia beneran yang membangun reputasi bertahun-tahun, menanggung konsekuensi psikologis dan finansial kalau nama baiknya rusak, serta punya relasi parasosial yang nyata sama audiensnya. Bedanya sama karakter anime biasa jelas banget. Naruto enggak punya jadwal live streaming. Rem dari Re:Zero enggak bakal bales komentar lu pas lagi mabar. Tapi VTuber itu interaktif dan nyata. Ketika kamu bikin konten seksual tanpa consent atau izin pake identitas mereka, yang kena dampaknya bukan cuma piksel di layar, tapi manusia di baliknya. Ini Namanya Pembunuhan Karakter Orang yang baru pertama kali denger nama si VTuber lewat tier list mesum itu bakal langsung punya persepsi buruk. Mereka bakal inget si VTuber dari cap seksualnya, bukan dari karya, skill, atau konten aslinya. Ini beneran pembunuhan karakter secara harfiah. Lebih parahnya lagi, hal ini memicu normalisasi pelecehan. Penonton yang ngerasa konten begitu "lucu" atau "biasa aja" bakal bawa kebiasaan itu ke mana-mana. Mereka bakal nge-chat mesum di kolom komentar streamer lain, bikin jokes enggak pantes di forum, dan ngerasa itu hal yang wajar Normalisasi itu enggak dateng tiba-tiba kayak meteor; dia menjalar pelan-pelan akibat pembiaran dan kebiasaan. Klaim dia yang bilang "cuma mau membuka mata penonton" juga kocak sih. Mau buka mata soal apa? Sisi gelap parasosial di dunia VTuber? Bahasan itu sih udah sering didiskusiin sama orang-orang dengan cara yang jauh lebih berkelas dan elegan. Membuat tier list seksual cuma ragebait murahan yang dibungkus dengan pembenaran biar kelihatan lebih baik dari orang yang dia hina. Komunitas terbentuk dari apa yang kita normalisasi bersama. Setiap hal yang kita tertawakan, setiap konten yang kita biarkan lewat tanpa reaksi, setiap kreator yang kita pilih untuk didukung atau tidak, itu semua adalah suara. Dan suara-suara kecil itu, kalau cukup banyak yang searah, bisa membentuk seperti apa industri ini di masa depan.
Kalanara Mahardika 🎬✨
318,221 görüntüleme • 2 ay önce
1:51
Sensitive content
loading magz content update park siwoo x kim yoonsik Q: masih inget nggak waktu pertama kali ketemu? gimana perasaan kalian saat itu? setelah saling mengenal, apa perubahan impresi kalian terhadap satu sama lain? 🐈⬛: jujur waktu pertama kali lihat hyung aku agak takut, tapi sekarang rasanya dia punya pesona yang berbanding 180 derajat. dia punya vibes “anak anjing lucu”, bener bener manis banget 🐶: sebaliknya, waktu aku pertama kali lihat siwoo dia tuh kelihatan sangat manis dan lemah lembut. tapi sekarang, setelah kita banyak menghabiskan waktu bersama, aku rasa dia punya sisi yang bisa diandalkan. kayak seorang kakak yang bisa dipercaya Q: kalau dikasih kesempatan kerjasama lagi, peran apa yang ingin kalian coba? 🐶: aku pengen coba komedi 🐈⬛: hah komedi? kamu pengen coba genre ini bareng aku? 🐶: yup! soalnya chemistry di antara kita udah match banget. jadi menurutku, kalau acting komedi bareng siwoo, kita bisa nunjukin kecocokan kita lebih baik 🐈⬛: kalo aku sih pengen genre romantis (buset, masih kurang kah? ☺️) 🐶: romantis? 🐈⬛: gimana menurut hyung kalo kita main genre romantis lagi? 🐶: jelas bagus dong (eaaaaaa 🤭) 🐈⬛: alasannya? soalnya aku merasa chemistry kita oke, jadi aku yakin ke depannya kita bisa kasih tunjuk yang lebih baik dan hebat lagi (GASS POL NDANGAK PLIS MAU) Q: Jika kalian bekerja sama lagi bertahun-tahun kemudian, kalian ingin melihat satu sama lain dalam keadaan seperti apa? 🐶: aku berharap siwoo nggak berubah. baik itu sisi dirinya yang bisa diandalkan atau kematangan seperti seorang kakak, aku berharap itu nggak akan berubah. aku berharap ketika waktu berlalu dan kita ketemu lagi di masa depan, kita akan tetap seperti sekarang (🥹🥹💗) 🐈⬛: aku juga yakin bahwa di masa depan, kita akan tetap menjaga hubungan. karena itu, aku percaya kita berdua akan tumbuh menjadi aktor yang sangat cemerlang. khususnya, karena yunsik adalah aktor yang aku perhatikan dan nantikan, aku yakin dia bakal jadi sosok yang sangat keren dan menawan. 🐶: siwoo juga… (manise deh cokkk 😩💗)
iyel 🍓
48,752 görüntüleme • 1 ay önce
