Sensitive content

This media may contain sensitive content.

Video wird geladen...

Video konnte nicht geladen werden

Zur Startseite

28,622 Aufrufe • vor 1 Monat •via X (Twitter)

0 Kommentare

Keine Kommentare verfügbar

Kommentare vom Original-Post werden hier angezeigt

Ähnliche Videos

Biadabnya Little Aresha Daycare Kalau gak mampu merawat jangan telantarkan anak orang, mau uangnya tapirawat seenaknya DayCare Jogja Dituturkan oleh Annisa Gak pernah pernahnya ngebayangin akan ada hari kayak gini. hal yang paing ku takutin malah kejadian ke anakku. Jumat, 24 April 2026, jam 16.40 pulang kerja kaya biasa mau jemput anak bayiku umur 9 bulan ke daycare little aresha. Sampai tikungan udah bingung kok rame bgtt. sampe sana lgsg di jelasin sama polwan yang disana. dilihatkan video di hp polwannya, badan gemeter bgt pas lihat video ternyata ada anakku yg di iket sampe nangis sesegukan🥹. Q 💔 hatiku hancur bgt. sesek nafas, langsung keputer di otakku, 6 bulan anakku daycare di situ dengan perlakuan sprt itu setiap hari. Di video ada 6 bayi berjejer di atas playmate di ikat kakinya tanpa baju hanya pakai diapers, nangis, haus, dingin. Di video selanjutnya ada adik adik yg sudah di atas 2 th dengan keadaan sama di ikat di pintu, jendela, di playmate💔 sampai rumah hampir isya, setelah suami memberikan keterangan kepada pihak kepolisian. kami orang tua membuat grup. setelah anak tidur, baca grup makin sakit hati💔💔. Anakku 6 bulan di situ, rasanya nyawaku hampir putus ngebayangin setiap hari dapat perlakuan sprt itu. Bagaimana yang 3 anaknya semuanya di situ? bahkan ada yang dari usia 2 bulan disitu💔 Sekarang, aku ngerasa bodoh. Ibu macam apa aku ini. kenapa ak gak sadar, kenapa anakku, kenapa ada orang sejahat mereka. kenapa harus anakku, kenapa daycare itu💔. kepalaku isinya memori video waktu anakku di tali dan nangis sesenggukan💔 Threads @annisakhaaa

кαмα

82,583 Aufrufe • vor 2 Monaten

Pertanyaan dr Tifa kepada Negara Bencana Sumatera & Negara Bangkrut?” Bismillahirrahmanirrahiim Saya ingin bertanya, adakah satu kebenaran pahit yang tidak berani diucapkan pemerintah, tetapi rakyat sudah merasakannya dengan naluri mereka sendiri: Apakah bencana besar di Sumatera tidak bisa diantisipasi bukan karena cuacanya ekstrem, tetapi karena uang negara sudah habis? Karena, Ketika sungai meluap, ketika tambang ilegal menggerus hutan, ketika proyek-proyek mercusuar menenggelamkan anggaran publik, rakyat dibiarkan menghadapi air bah sendirian. Apakah Pemerintah tidak hadir bukan karena tidak tahu, tetapi Pemerintah tidak hadir karena tidak mampu? Apakah sesungguhnya, APBN sudah kering. Defisit makin lmelebar. Utang untuk bayar utang. Transfer daerah dipotong. Belanja publik dikerdilkan demi proyek-proyek yang menguntungkan segelintir elite, terutama 10 tahun terakhir. Dan ketika Sumatera runtuh oleh banjir, longsor, dan runtuhan ekologis bertahun-tahun, negara hanya bisa mengirim kalimat template: “Kami sedang memantau situasi. Kami sedang mengkalkulasi” Mengapa? Karena yang seharusnya menjadi anggaran mitigasi, pencegahan, rehabilitasi, dan perlindungan rakyat, sudah disedot habis 10 tahun ini: Proyek IKN, Proyek Whoosh, alias kereta tanpa penumpang, Konsesi tambang untuk kroni dan oligarki, belanja politik dinasti, subsidi pencitraan, dan jaringan korupsi yang merayap seperti kanker yang menghabisi tubuh negara. Maka terjadilah tragedi: bencana alam berubah menjadi bencana kebijakan. Sungai yang meluap adalah geologi. Tetapi negara yang membisu adalah politik. Dan di balik semua itu, ada satu fakta keras: Indonesia 10 tahun ini dikelola seperti keluarga yang memaksakan gaya hidup mewah padahal tabungan sudah nol dan kartu kredit sudah over limit. Itulah mengapa negara panik menghadapi bencana. Bukan karena hujan. Tetapi karena uangnya sudah habis. Ketika uang hilang, kemampuan negara runtuh. Ketika kemampuan runtuh, rakyat dikorbankan. Sumatera tidak menjadi porak poranda dalam semalam. Bukan karena iklim, badai siklon, dan segudang kambing hitam alam. Sesungguhnya, Sumatera terutama 10 tahun ini, dihancurkan oleh: Konsesi tambang yang diberikan tanpa kendali, Hutan yang ditebang dengan nafsu tanpa batas, Kawasan resapan yang dijual ke korporasi, Dan pemerintah yang sibuk mengurus agenda politiknya sendiri. Hari ini, alam memberikan tagihannya. Dan negara tidak punya uang untuk membayar. Maka jangan heran jika bencana Sumatera terasa seperti bangsa ditinggalkan. Karena memang rakyat sedang ditinggalkan oleh negara yang bangkrut tetapi pura-pura kuat? Hasbunallah wani'mal wakil. Ni'mal maula wani'mannashiir. La haula wala quwwata ila billah.

Dokter Tifa

35,293 Aufrufe • vor 7 Monaten