Video yükleniyor...

Video Yüklenemedi

Ana Sayfaya Dön

Silahkan simak dan nilai sendiri... Sama² berkampanye di atas mobil tapi dengan cara yang berbeda. Yang satu hanya menyapa-nyapa dgn santun. Satunya lagi lempar² kaos dengan kasar dan terlihat penuh emosi. #anisd | RakyatSmakin MASbowoGIbran | kadin| partai salah inout.

105,651 görüntüleme • 2 yıl önce •via X (Twitter)

9 Yorum

Abdul Gapur profil fotoğrafı
Abdul Gapur2 yıl önce

Syarat dukung Prabowo adalah BEBAL.

Syahrul profil fotoğrafı
Syahrul2 yıl önce

Yg pakai helm sepeda gue itu coy, yg di video Pak Anies

yuyunwhyni profil fotoğrafı
yuyunwhyni2 yıl önce

Aturan lempar balik aja ke si mbah 😁🤭

Tazkiatun Nufus profil fotoğrafı
Tazkiatun Nufus2 yıl önce

Pak Anies ganteng bgt!

Titik Dua profil fotoğrafı
Titik Dua2 yıl önce

Iya itu gue liat kasar banget dah ;( apakah pendukungnya suka bdsm :( mkmkmkmk

Fauzan Biraka profil fotoğrafı
Fauzan Biraka2 yıl önce

Ohh pantesan mereka suka nyamain masyarakat sama binatang 🙃

chagiyaa~ profil fotoğrafı
chagiyaa~2 yıl önce

Udh liat belom dia lempar susu kotak bareng Zul am Rafi

𝚁𝚊𝚔𝚢𝚊𝚝 𝙹𝚎𝚕𝚊𝚝𝚊 🇮🇩 🇵🇸 profil fotoğrafı
𝚁𝚊𝚔𝚢𝚊𝚝 𝙹𝚎𝚕𝚊𝚝𝚊 🇮🇩 🇵🇸2 yıl önce

Yg aman?

moonStar🦋 profil fotoğrafı
moonStar🦋2 yıl önce

Ngasih kaus harusnya lemah lembut, dikira pendukungnya 10 orang kali ya

Benzer Videolar

Lagu Surti Tejo adalah karya original dari Jamrud yang rilis tahun 2000 dan sempat jadi hits besar di masanya. Berbeda dengan band rock Indonesia generasi sebelumnya yang cenderung puitis dan sastrawi, Jamrud tampil dengan gaya yang lebih dekat ke keseharian. Bahasa yang dipakai lugas, kasar, dan tanpa banyak penyaring. Lirik seperti ini muncul dari konteks zamannya. Di awal 2000-an, lagu tidak dibuat untuk diuji secara moral, tapi untuk dinikmati, diingat, dan laku di pasaran. Unsur humor dan sentuhan vulgar ringan justru jadi bagian dari strategi, bukan sesuatu yang dianggap menyimpang. Dalam lagu ini, Jamrud tidak menggurui. Mereka memakai pendekatan “show, don’t tell”, menampilkan kisah Surti dan Tejo tanpa memberi penilaian langsung. Pendengar dibiarkan menyaksikan cerita seperti rangkaian adegan. Konfliknya sederhana: Tejo pulang dari kota dengan perubahan, sementara Surti tetap memegang nilai-nilai desa. Dari situ muncul benturan—dua dunia yang tidak lagi berbicara dengan cara yang sama. Belakangan ini, ketika linimasa dipenuhi isu kekerasan dan pelecehan seksual, cara pandang publik ikut bergeser. Lagu Surti Tejo pun ikut terseret, dianggap vulgar, dipotong dari konteks, lalu dinilai seolah berdiri sendiri. Isu kekerasan seksual jelas harus disikapi serius dan berpihak pada korban. Tapi ketika karya dari konteks berbeda ditarik tanpa jarak, yang muncul bukan pemahaman utuh, melainkan penyederhanaan. Pada akhirnya, yang jadi persoalan bukan lagunya, tapi cara kita membacanya. Lagu ini tidak berubah sejak puluhan tahun lalu. Yang berubah adalah cara kita menilai—sering kali dengan cepat dan tanpa melihat konteksnya. Masih relevan buat didengar hari ini, atau justru memang sudah waktunya ditinggalkan? 👀

Cadas

18,585 görüntüleme • 4 ay önce