正在加载视频...

视频加载失败

"Suket Gibran tidak menyetarakan ijazah tapi menyetarakan kemampuan #RezimGilaPelindungSilfester Menurut Permendikbud 29/2014 yang disetarakan adalah kurikulumnya dan SKS-nya." (Bonatua Silalahi) #RezimGilaPelindungSilfester Suket Gibran bermasalah

13,141 次观看 • 4 天前 •via X (Twitter)

3 条评论

Tugiman 的头像
Tugiman3 天前

udah tau gua goblok, malah dipilih.., tolol smua yg milih gua

xoxoxoxo 的头像
xoxoxoxo3 天前

Harus nya penyelenggara pemilu ya masuk pelangvaran

janurkuning 的头像
janurkuning3 天前

Dungu mana ada lampiran suket kok kemampuan, kelihatan nggak pernah sekolah LN, gini loh kalo nggak pernah sekolah LN nggak usah mbacot, kayak junjunganmu saja mbacot digedein

相关视频

"Omong Kosong PDIP" Saya mengkritisi hasil MK (yang jadi jalan pintas Gibran) itu karena memang pendapat saya dari dulu. Mau jadi cawapres Prabowo/Ganjar, saya tetap akan anggap langkah Gibran itu "melewati batas". Ini beda dengan PDIP yang pura-pura kaget dengan Putusan MK. Ketika PDIP sekarang "ikut-ikutan" menyerang Gibran dengan sebutan memanipulasi hukum atau politik dinasti, itu sebenarnya lebih dikarenakan mereka nggak dipilih sama Gibran. Jelas-jelas PDIP sempat ingin Gibran menjadi cawapres Ganjar juga. Jelas-jelas PDIP sempat menunggu hasil Putusan MK agar meloloskan Gibran. Lha kok ketika Putusan MK sudah keluar dan Gibran memilih jadi cawapres Prabowo, tiba-tiba menuding ada manipulasi hukum. Andai Gibran jadi cawapres Ganjar, tuduhan manipulasi hukum dan politik dinasti pasti tidak ada. Megawati pun tak akan pidato (pakai teks) tentang manipulasi hukum. Jadi, kalau yang ngomong masalah pelanggaran etika, manipulasi hukum, atau politik dinasti adalah pihak PDIP (termasuk ketumnya), maaf bagi saya itu cuma dagelan saja. Apalagi ada yang pakai akting nangis segala. Itu bukan menangis karena hukum dimanipulasi, tapi karena dia tak menjadi bagian dari yang ikut menikmati hasil manipulasi. Makanya, saya selalu bilang bahwa alasan memilih Ganjar-Mahfud itu sangat banyak, namun sayang seribu sayang: ada PDIP di sana. Saya tetap pada pendirian saya bahwa Putusan MK itu akan jadi akhir buruk bagi pemerintahan Jokowi. Tapi kalau yang ngomong itu orang PDIP atau pendukungnya, menurut saya itu nggak perlu didengerin. Karena itu hanya omong kosong.

Hasyim Muhammad

356,777 次观看 • 2 年前

MEREKA SEDANG TIDAK SEHAT . . . Anda curiga ada peran pak Jokowi pada hasil putusan MK? Sama seperti anda, saya pun punya rasa itu. Namun rasa curigamu lalu menjadi dasar pembenaran untuk menghukum beliau, itu mblandang namanya. Itu bar bar… Serahkan pada hukum..! Itu konsekuensi logis kita bernegara. Di tengah rasa curiga kita dengan tindakan hukum menghukum, ada aturan main yang harus kita sepakati bersama. Ada hadir proses hukum berikut petugas hukum milik negara yang kredibel yang kerjanya mengurai rasa tidak adil itu. Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi atau MKMK sudah hadir. Indikasi adanya pelanggaran etik atas putusan MK yang membolehkan Gibran menjadi cawapres dan di sana hadir pamannya atau adik ipar bapaknya yang seorang presiden dan turut memutus perkara itu dan lalu membuat kita semua ikut curiga sudah dan sedang disidangkan. Apapun hasil putusan itu wajib hukumnya kita menerima. Menang dan kalah bukan tujuan pengadilan etik itu disidangkan tapi etis atau tidak etis tindakan paman Gibran ikut di dalamnya. Bila putusan itu bicara 'tidak etis' dan lalu berimbas pada hasil putusan MK terdahulu misalnya, kenapa pihak yang setuju atas putusan MK harus marah? Pun sebaliknya pihak yang tidak setuju karena putusan pengadilan etik ini tidak berlanjut pada pembatalan. Yang tetap ngamuk dan marah, sejatinya mereka bukan sedang mencari keadilan tapi mencari benar versi sendiri. Jadi? Lanjutkan pesta demokrasi dengan riang apapun hasil putusan MKMK hari ini. Yang masih ngamuk sama pak Jokowi karena putusan MKMK hari ini tidak membatalkan pencawapresan Gibran misalnya, itu pasti adalah orang - orang TAKUT KALAH. Dan orang takut kalah tapi sudah ngamuk sebelum bertanding, akan sulit dijelaskan dengan akal sehat. MEREKA SEDANG TIDAK SEHAT AKAL. . .

NitNot ❘

152,091 次观看 • 2 年前

Menurut penuturan Prof Sofian Efendi Mantan Rektor UGM 2002-2007, Ada Mahasiswa bernama Joko Widodo yang terdaftar di Fakultas Kehutanan UGM tahun 1980, tetapi masuk program Sarjana Muda, dan bukan Sarjana. Tetapi karena nilai-nilainya jelek, maka tidak bisa meneruskan ke program Sarjana. Dan ya sudah selesai di Sarjana Muda, kemungkinan punya Ijazah Sarjana Muda, dan kemungkinan bergelar (Bachelor of Science) Kemungkinan bukan Mahasiswa Sarjana dan tentu saja tidak bakal bergelar Ir (Insinyur). Sampai di sini, sepertinya cocok dengan beberapa dokumen yang dipresentasikan oleh Bareskrim (lihat gambar) Transkrip nilai dengan total 122 SKS dengan IPK 2,05. Artinya Joko Widodo ini kemungkinan lulus Sarjana Muda, mendapatkan ijazah Sarjana Muda, tetapi tidak lolos melanjutkan ke program Sarjana. Nah lalu bagaimana tiba-tiba kader PSI bernama Dian Sandi bisa memposting "Ijazah Sarjana" Joko Widodo yang dia sebut asli Juga Bareskrim yang menampilkan fotokopi "Ijazah Sarjana" dari Joko Widodo 22 Mei 2025? Juga Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Sigit Sunarta yang pernah menunjukkan fotokopi "Ijazah Sarjana" dari Joko Widodo di tahun 2022? Profesor Sofian Efendi, selain Mantan Rektor, Mantan Wakil Rektor dua kali, juga Begawan FISIP yang sangat ternama dan disegani dalam dan luar negeri. Jadi jangan ragukan kredential dan kehormatan beliau. Di usia 80 tahun, apalagi yang diinginkan Prof Sofian Efendi, selain Akhiratul Hasanah? Akhir hidup yang baik? Salah satu amal Sholih terakhir, adalah membantu RRT - Roy, Rismon, Tifa, juga TPUA, juga Bambang Tri dan Gus Nur, mengungkap kebenaran Ijazah seseorang yang diduga tidak pernah lulus dan tidak pernah wisuda di UGM.

Dokter Tifa

20,238 次观看 • 1 年前