Loading video...

Video Failed to Load

Go Home

69,230 views • 1 month ago •via X (Twitter)

0 Comments

No comments available

Comments from the original post will appear here

Related Videos

Di pagi yang sunyi Dusun Sindangjaya, Desa Cisontrol, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis, neraka terbuka lebar. Tarsum (41), seorang juragan domba yang dulu dikenal ramah, bangun dengan beban yang sudah tak tertahankan. Utang menumpuk hingga Rp100 juta — pinjaman bank, utang pribadi, dan sisa kerugian usaha yang bangkrut. Penagih datang ke rumah, desakan ekonomi mencekik, depresi berat merenggut akal sehatnya. Tiga hari sebelumnya, ia bahkan sempat mencoba mengakhiri hidupnya sendiri, tapi gagal. Pagi itu, 3 Mei 2024, ledakan kegelapan datang. Dengan pisau di tangan, Tarsum membunuh istrinya, Yanti (40), lalu memutilasi tubuhnya dengan keji. Potongan demi potongan tubuh Yanti diseret ke jalan desa, dikumpulkan di depan pos ronda seperti barang bekas. Ia bahkan menawarkan “daging” itu kepada tetangga yang ketakutan, sambil berteriak dalam kegilaan yang mengerikan. Darah mengalir di tanah desa yang biasanya tenang. Mata Yanti yang masih terbuka seolah menatap langit, bertanya mengapa orang yang paling dicintainya berubah menjadi monster. Jeritan terakhir Yanti tertelan oleh angin pagi, sementara Tarsum, suami yang dulu memeluknya, kini hanya menyisakan potongan-potongan daging dan tulang. Tragedi Tarsum Ciamis bukan sekadar berita kriminal biasa. Ini cerita tentang bagaimana tekanan utang, kegagalan usaha, dan depresi berat bisa mengubah seorang manusia menjadi pembunuh paling sadis. Kegelapan tak selalu datang dari orang asing — kadang ia lahir dari orang yang paling dekat, yang terjebak dalam jurang ekonomi dan kesehatan jiwa yang tak tertolong. Di balik senyum pagi desa, ada monster yang lahir dari keputusasaan. Jangan anggap remeh tekanan hidup. Bantuan psikologis dan dukungan ekonomi bisa jadi penyelamat sebelum pisau terangkat.

5tePh3N

361,032 views • 4 months ago