Video wird geladen...

Video konnte nicht geladen werden

Zur Startseite

21,800 Aufrufe • vor 4 Monaten •via X (Twitter)

0 Kommentare

Keine Kommentare verfügbar

Kommentare vom Original-Post werden hier angezeigt

Ähnliche Videos

// WAA 👀😭 PHUWIN BAHAS MOMEN WAKTU PHUWIN MANGGIL P’PERM YANG SAMPAI VIRAL DI SOSMED 😭🤭 TERUS UJUNG-UJUNGNYA MALAH P’PERM & MAE SHIPPING PONDPHUWIN LAGI… 😭🤣🤭 🐼: Hari itu suasananya terlalu ramai dan orangnya juga banyak, jadi aku manggil, “P’Perm!” “Permpoon!” 🧸🎧: Iya, kub. 🐻: Jujur, sebenarnya itu momen yang cukup soft, karena event-nya juga diadakan outdoor dan orangnya banyak banget. Jadi memang jadinya begitu, makanya harus pakai suara yang sedikit lebih kenceng aja~ 🎤 Mae Godji: PhorPhor nggak lagi marahin P’Perm kok~ 🧸🎧: PhorPhor nggak marahin P’Perm kok, kub… 🐼: Nggak pakai emosi! (dialog Khun Thee) 🧸🎧: Nggak pakai emosi! (ngulangin PhorPhor) 🐼: Nggak pakai emosi! (ngulang lagi) 🧸🎧: Sebenarnya aku juga udah tahu PhorPhor sama sekali nggak lagi marahin aku… Saat itu kan orangnya banyak banget, dan jujur aja, P’Perm juga nggak dengar waktu PhorPhor manggil. 🤭 🐼: 😂😂 🧸🎧: Tapi pengasuhnya bilangin P’Perm… 🧸🎧: Aku nggak takut, sama sekali nggak takut. Aku sayang PhorPhor~ 🎤 Mae Godji: PhorPhor nggak lagi marahin nhoo kok. PhorPhor sayang kamu~ 🧸🎧: Iya, aku sayang PhorPhor juga~ 🐼: Sayang P’Perm~ *Phuwin elus-elus P’Perm* (aww 🥹) 🎤 Mae Godji: PhorPhor sayang kamu. Terus PhorPhor sayang siapa lagi, nhoo? 🧸🎧: Sayang Thun— Uiii, boleh nggak kita sebutnya bareng-bareng, kub? 1, 2, 3! 🧸🎧: Sayang Thun Pond!! 🧸🎧: …Kalian malah biarin aku ngomong sendirian (P’Perm merajuk… Gemes ☺️🤏🏻) 🐼: 😂 🎤 Mae Godji: Para unyai sebenarnya ngomong bareng kamu kok, cuma mereka nggak berani ngomongnya kenceng… 🐻: 🤭 Mereka ngomongnya di dalam hati... (Wkwk 🤣) GRABFOOD X PONDPHUWIN PP #GrabFoodถูกกว่าชัวร์xPPW #PondPhuwin #ppnaravit #phuwintang #PERMPOON #ปอนด์ภูวินทร์

SeviraS3

35,349 Aufrufe • vor 10 Tagen

𝗞𝗔𝗟𝗔𝗨 𝗧𝗔𝗞 𝗦𝗔𝗟𝗔𝗛, 𝗔𝗣𝗔 𝗡𝗔𝗞 𝗧𝗔𝗞𝗨𝗧? 𝗝𝗔𝗪𝗔𝗕 𝗦𝗔𝗝𝗔 𝗟𝗔𝗛 Jawapan seperti ini selalu juga kita dengar. Orang yang bercakap ni selalunya pakai tie, yakin dia hebat, sebab itu dia tidak kisah soal keadilan dalam masyarakat. Soal siasatan atau pendakwaan terpilih, apabila badan yang diberi amanah itu dijadikan senjata, bukan soal politik. Ia soal keadilan, sebab orang yang ada wang, ada jawatan, orang macam saya boleh lalui semua ini dengan baik. Saya akan ada kawan-kawan yang peguam datang. Kalau saya tak de duit nak bayar duit jamin, kawan-kawan kumpul duit. Saya boleh bersuara dan menjelaskan tuduhan itu dari perspektif saya dan menunjukkan bukti-bukti kepada orang ramai. Tetapi kalau orang yang ada kedudukan dan jawatan seperti saya pun tidak terselamat, jika badan yang diberi amanah itu dijadikan senjata, bayangkan jika yang kena itu anak orang biasa yang tidak ada kedudukan. Dia akan terkapai-kapai. Tak de orang nak tolong dia. Bila dia disiasat atas tuduhan palsu, dia telah digari dan media dah laporkan sedangkan dia tidak didakwa pun. Hanya atas syak wasangka. Dia kehilangan kerja. Sejak saya melalui pengalaman ini dengan SPRM, ada yang menulis email kepada saya menceritakan pengalaman mereka. Mereka tidak didakwa dan digantung tidak bertali sehingga hilang pekerjaan. Bila berlaku begini, ia zalim kepada mereka yang jadi mangsa. Mangsa itu mungkin kita, mungkin anak kita, mungkin kawan kita, mungkin anak jiran kita. Bila saya bersuara mengenai SPRM, badan-badan penguatkuasa, saya bukanlah takut pasal kes saya. Saya yakin memang tidak ada apa-apa, peguam saya yakin kalau dibawa ke mahkamah ia tidak ke mana sebab tidak ada satu sen pun masuk kepada saya. Saya bersuara agar SPRM benar-benar bebas untuk mengelakkan kezaliman berlaku kepada rakyat biasa yang tidak ada suara seperti saya. Allah menetapkan saya melalui pengalaman ini, supaya saya faham perasaan mereka yang disiasat dan digantung tidak bertali hingga hilang pekerjaan, supaya saya memberi suara kepada mereka. Orang yang paling berisiko bila badan yang diberi amanah itu tidak bebas tergolong kepada dua kumpulan: Satu - orang biasa yang tidak ada peguam, tidak faham proses dan tiada suara Kedua - pegawai-pegawai SPRM yang jujur dan ingin menjalankan amanah, kerana mereka terpalit sama menanggung Kepada yang cepat ikut perasaan dalam menilai perkara-perkara seperti, saya doakan Allah lembutkan hati dan jangan tengok dari kaca mata kita sahaja. Sebab satu hari mungkin kita yang melaluinya sendiri.

Rafizi Ramli

37,848 Aufrufe • vor 4 Monaten

Prof Mahfud, Prof Rhenald, dan Ketakutan PSI pada Kuasa Jokowi Pagi ini seorang teman mengirimkan video podcast Prof Mahfud MD dengan Prof Rhenald Kasali. Ada beberapa menit yang membicarakan soal saya. Karenanya, saya memutuskan untuk memberikan klarifikasi. Sebenarnya, saya menghindar untuk fokus ke persoalan saya pribadi. Karena, saya ingin kita lebih ke isu-isu publik, bukan isu private pribadi. Akhir-akhir, ini saya mendedikasikan waktu, tenaga, pikiran, termasuk akun media sosial saya untuk mengadvokasi agar pemilu 2024, termasuk Pilpres, berjalan jujur, adil, dan demokratis. Kenapa? Karena secara hukum tata negara, ilmu yang saya pelajari, itulah satu-satunya jalan terbaik untuk menyelematkan perjalanan bangsa Indonesia ke depan, terlepas dari keterpurukan. Yaitu, melalui pemilu yang berjalan jujur, adil, demokratis, dan berhasil memilih pemimpin eksekutif (presiden) dan anggota legislatif terbaik yang amanah dan antikorupsi. Kalau pemilu kita hanya "festivalisasi" atau "sensasionalisasi", tanpa "intelektualisasi", tanpa pertarungan visi-misi, lebih ke arah survei "elektabilitas", "popularitas", tapi melupakan "kapasitas" dan "intregritas", maka anggota parlemen bahkan presiden kita akan ditentukan oleh "DUITokrasi", daulat duit. Presiden pilihan uang, bukan rakyat! Karena itu, saya cenderung membiarkan saja serangan-serangan ke pribadi saya. Argumentasi ad hominem. Menyerang pribadi, bukan ke substansi masalah. Tetapi, karena bagaimanapun ini sudah masuk wilayah politik, yang sangat dipengaruhi "persepsi", maka sekali-kali saya memutuskan tetap penting untuk melakukan klarifikasi (tabayyun). Karena, kalau disinformasi soal pribadi saya terus dibiarkan, pesan-pesan perjuangan saya untuk menjaga pemilu 2024 – termasuk Pilpres – berjalan jujur, adil, dan demokratis juga akan terkena imbas negatifnya. Kali ini, saya akan fokus pada tiga disinformasi: 1) Tuduhan korupsi di kasus "Payment Gateway"; 2) Tuduhan menyebarkan hoax di soal putusan MK soal sistem pemilu legislatif; dan 3) Tuduhan "takut", karena tidak menghadapi masalah hukum di tanah air. SATU, soal payment gateway, saya berterima kasih, di podcast dengan Rhenald Kasali, Prof Mahfud menyatakan tidak ada korupsi. Yang terjadi adalah "salah prosedur", tidak ada korupsi karena saya "bukan makan uangnya". Saya tentu punya banyak argumen bahwa kesalahan prosedur pun senyatanya tidak ada. Yang tidak dijelaskan Prof. Mahfud, bahwa saya dikasuskan karena mengadvokasi proses pemilihan Kapolri saat itu. Di awal pemerintahan Jokowi, Beliau menominasikan Budi Gunawan menjadi Kapolri. Kami menolaknya karena tidak percaya dengan integritasnya. Masih ingat laporan utama Majalah Tempo soal "Rekening Gendut" para petinggi kepolisian saat itu? Maka, terjadilah gonjang-ganjing politik hukum. Beberapa pimpinan dan pegawai KPK di tersangkakan kepolisian, di antaranya Abrahan Samad, Bambang Widjojanto, dan Novel Baswedan. Di luar KPK, sahabat Prof. Mahfud, Ketua Komisi Yudisial masa itu Suparman Marzuki, juga di tersangkakan. Karena advokasi pemilihan Kapolri itulah, saya pun ikut ditersangkakan Bareskrim Polri, pada awal 2015. Dimunculkan kasus "payment gateway", upaya saya memperbaiki sistem pembayaran paspor secara online, agar menghilangkan praktik percaloan. Sudah 8 tahun lebih, kasus itu masih digantung. Kalau saya mengkritisi kekuasaan, kasus itu dimunculkan dan diberitakan lagi ke publik. Kasus "payment gateway" nyata-nyata dijadikan alat sandera politik. Namun, saya menolak untuk tunduk. Saya menolak untuk takut, dan tetap bersuara kritis sesuai pilihan idealisme yang saya yakini kebenarannya. Siapapun yang merasa kasus itu bukan kriminalisasi, itu hak anda. Meski ada baiknya, anda berpikir ulang, dan bersikap lebih membuka mata-hati, dan berpikir tidak semua kasus hukum di negeri ini murni penegakan hukum, apalagi kalau kita berhadapan dengan kekuasaan, oligarki, dan mafia hukum yang koruptif. Lebih jauh soal kasus "payment gateway" silakan klik: Ada satu lagi, yang ingin saya luruskan, dari pernyataan Prof Mahfud, bahwa saya diberhentikan dari UGM. Lebih tepatnya, saya yang minta berhenti secara terhormat, tanpa hak pensiun. Karena, setelah dikasuskan, saya mengalami "kematian perdata". Imbasnya, rezeki berkurang. Maka, saya berpikir untuk membuka kantor hukum. Agar tidak terjadi benturan kepentingan dan pelanggaran aturan—karena saya meyakini PNS tidak boleh membuka kantor hukum, meskipun tidak sedikit yang diam-diam melakukannya, maka dengan berat hati saya memilih untuk mundur dari UGM. Lagi-lagi, saya ingin bersikap konsisten dengan prinsip antikorupsi, termasuk tidak berstatus PNS saat membuka firma hukum INTEGRITY. DUA, Rhenald Kasali dalam podcast tersebut, beberapa politisi PSI, dan mereka yang punya pemahaman politik cenderung sealiran, masih saja menyatakan saya menyebar "hoax" terkait putusan MK soal sistem pemilu. Ayo, mari kita luruskan logika amat-sangat sederhana (simple logic). Bahwasanya saya mengatakan MK akan memutuskan sistem proporsional tertutup, dan ternyata putusannya terbuka, tidak boleh dong serta-merta disimpulkan saya menyebarkan hoax. Kenapa sulit sekali memahami adanya kemungkinan pergeseran putusan di MK, dari awalnya berencana memutuskan tertutup lalu bergeser menjadi terbuka? Tanyakan kepada beberapa pemohon ataupun saksi di persidangan, apa yang mereka dengar dan ketahui. Tidak sedikit yang akan mengkonfirmasi, bahwa mereka juga berkeyakinan MK akan memutuskan sistem proporsional tertutup, meskipun lalu berubah. Prof Mahfud menyatakan yang kredibel hanya sumber di MK. Saya berbeda pendapat. Sumber kredibel bisa pihak lain yang punya kapasitas dan integritas tak terbeli, di luar MK, yang paham dan mengerti situasi dan punya ilmu pengetahuan terkait kecenderungan putusan MK. Misalnya, sekali lagi hanya misalnya, kalau sumber saya adalah Prof. Mahfud MD, mantan Ketua MK, Menkopolhukam, Guru Besar Hukum Tata Negara, mosok salah jika saya menyebut beliau adalah sumber yang kredibel, meskipun Prof Mahfud tidak lagi di MK? Info saya valid! MK akan memutuskan sistem pileg proporsional tertutup. Saya tidak bisa membuka siapa sumbernya. Bukan karena takut. Justru karena saya bertanggung jawab. Justru karena saya memegang komitmen dan janji untuk tidak melibatkan sang sumber. Saya akan hadapi pengkasusan ini sebagai risiko perjuangan menegakkan daulat suara rakyat melalui proporsional terbuka yang didukung 80% pemilih, menurut survei INDIKATOR pimpinan Burhanuddin Muhtadi, salah satu lembaga survei yang masih saya yakini kredibilitasnya. Dikasuskan, dipidanakan, dan diancam penjarakan karena memperjuangkan hak politik rakyat melalui satu twit, adalah jelas-jelas absurd! Tetapi kalau Profesor Rhenald, beberapa politisi PSI, tidak bisa melihat twit saya sebagai perjuangan menegakkan suara rakyat; sebagai bentuk advokasi publik untuk mengawal MK agar menegakkan keadilan konstitusional; serta pengkasusan saya sebagai absurditas penegakan hukum, ya itulah hak dan cara pandang mereka. Saya hanya bisa mengelus dada dan menyayangkan saja. Bahkan, sebenarnya twit saya bisa dilihat sebagai bantuan kepada Prof. Mahfud, agar pemilu 2024 tidak ditunda. Kalau MK memutuskan sistem proporsional tertutup, 8 parpol di DPR memboikot pemilu, tidak menyetujui aturan KPU yang terkait perubahan sistem pemilu itu, maka pemilu 2024 terancam tidak terlaksana tepat waktu. TIGA, beberapa politisi PSI dan buzzerRp Jokowi tentu senada menganggap saya takut, "tidak jantan" karena tidak kembali ke tanah air menghadapi kasus hukum payment gateway dan perkara terkait putusan MK. Jadi, saya bukan lama di Australia dan tidak pulang ke tanah air. Saya bolak-balik Indonesia-Australia. Akhir tahun lalu sampai Februari saya di Indonesia. Lebaran kemarin pun saya di Indonesia. Saya punya kantor hukum INTEGRITY di Jakarta dan Melbourne. Kalaupun saya 2016—2019 agak lama di Melbourne, karena diberi kehormatan menjadi Profesor tamu di Melbourne Law School. Universitas Melbourne tidak peduli, dan sangat paham kriminalisasi kasus payment gateway saya di tanah air. Jadi, kalau PSI dan BuzzerRp sulit paham, lagi-lagi saya ingin sampaikan logika sederhana saja (simple logic). Orang yang takut biasanya tidak akan menentang arus, melawan, dan mengkritisi kekuasaan. Orang yang takut akan lebih memilih diam, mencari aman, tidak ambil risiko, sehingga mengekor saja semua agenda politik pemegang kekuasaan. Saya sama seperti anda rekan-rekan PSI, di 2014 memilih Jokowi. Tetapi ketika makin kelihatan Jokowi melumpuhkan KPK; Jokowi membangun dinasti kekuasaan keluarganya; Jokowi membiarkan bisnis anaknya menerima suntikan modal yang senyatanya patut diduga suap dari para pebisnis yang ingin dekat dengan kekuasaan istana dll; maka saya memilih bersikap tegas melawan kekuasaan Jokowi yang cenderung koruptif dan represif. Maka, ketika misalnya Grace Natalie, dan rekan-rekan PSI mengatakan, di satu sisi, memperjuangkan hak orang muda melalui uji materi syarat umur capres-cawapres di MK, saya tentu sulit percaya. Politik itu adalah rekam jejak. Karena di sisi lain, PSI pernah menyatakan mendukung Jokowi untuk menjabat tiga periode. Dari segi umur, dimana perjuangan aspirasi usia muda, kalau masih mendukung Jokowi yang sudah jelas-jelas tidak lagi muda? Belum lagi dukungan pada Kaesang di Depok, Bobby Nasution di Sumut, ataupun Gibran di Solo dan bisa ditebak di Pilpres 2024—jika MK mengubah syarat umur, nyata-nyata bertentangan dengan statemen politik Sekjen PSI soal menolak dinasti, di tahun 2015. Sudah lama memang, tapi masih tersimpan aman dalam jejak digital, sehingga bisa kita gunakan untuk menyoal konsistensi PSI. Siapa yang penakut? Saya yang siap dikasuskan dan melawan dengan terus bersuara lantang dan mengkritisi kekuasaan Jokowi yang koruptif? Atau, rekan-rekan PSI yang dengan gagah mengatakan "Tegak Lurus Pada Jokowi", alias "manut" atau ikut apa saja, apapun sikap politik Jokowi. Dalam pandangan saya, "kemanutan" politik pada kekuasaan, adalah ciri-ciri nyata dari berpolitik dengan penuh "ketakutan". Maaf, karena itu, bagi saya PSI bukan partai. Bagi saya PSI adalah semata-mata relawan Jokowi, Gibran, Kaesang, Bob Nasution. Jangan katakan anda memperjuangkan hak orang muda di MK, karena sebenarnya PSI sedang menjadi relawan Jokowi, dan takut melakukan perlawanan pada kekuasaan yang sedang membangun oligarki dan dinastinya yang cenderung koruptif!

Denny Indrayana

269,538 Aufrufe • vor 3 Jahren

INI LUCU BANGET!! 😭🤣🤣 Waktu FanFest di Macau, Phuwin dan Perth niatnya nge-PRANK Fourth di kamarnya, tapi salah kamar, yang KENA PRANK malah P’Jimmy 😭🤣 Pas ketahuan, Phuwin langsung wai 🙏🏻 dan minta maaf ke P’Jimmy. Dia juga bilang sebenarnya dia nggak sendirian, tapi bareng Perth yang ngetok-ngetok pintu, cuma Perth udah kabur duluan… WKWK 😭🤣😂🤭 Cerita lengkapnya di bawah ini yaa 👇🏻🤭✨ Jimmy: Waktu itu aku di Macau. Sekitar tengah malam atau jam 1 pagi, dan aku sudah tidur. Jimmy: Terus aku dengar suara keras. BAM! Itu suara yang pertama. Junior: Terus gimana? Jimmy: Yang pertama itu nggak sampai bikin aku bangun. Terus beberapa saat kemudian, BAM! BAM! Dua kali. 👥: (🤣🤣) Jimmy: Kali ini aku kebangun. Waktu itu sekitar jam 2 pagi. Jimmy: Harusnya semua orang sudah tidur. Junior: Kita nggak boleh ngomong apa-apa soal ini. Jimmy: Terus ada beberapa suara keras berturut-turut, cepat banget, kayak orang mengetuk pintu dengan cepat dan bertubi-tubi! Book: Maksudmu ada orang yang mengetuk pintu? Jimmy: Iya. Dan begitu berhenti, ada seseorang yang mengguncang-guncang gagang pintu dengan keras! 👥: (Reaksi ketakutan 😬) Serem banget! Jimmy: Aku takut banget, tapi suara itu nggak berhenti. Jadi aku jalan ke sana buat ngintip lewat lubang intip… 👀 tapi aku nggak lihat siapa-siapa. Book: Kamu lagi niru cerita hantu orang lain nggak sih? Jimmy: Nggak! Aku benar-benar nggak bisa melihat apa pun di luar! Jimmy: Lubang intipnya benar-benar tertutup! Junior: Karena energi gelap? Jimmy: Bukan, aku melihat sesuatu yang berwarna merah lewat lubang intip. Book: Aku benar-benar merinding! Jan, lihat! Jimmy: Dan gagang pintunya masih terus diguncang-guncang dengan keras! Jan: Kamu benar-benar melihat gagangnya bergerak? Jimmy: Iya, sampai bergeraknya kencang banget! Book: Kalau aku sendirian dan mengalami ini, pasti serem banget. Jan: Terus kamu ngapain? Jimmy: Aku nggak mungkin tidur dalam keadaan begini, jadi aku harus buka pintunya. Aku tarik napas dalam-dalam… 😮‍💨 lalu aku buka pintu. Jimmy: Ternyata Phuwin! 👥: (Langsung pecah ketawa 🤣🤣) Book: Dia nge-prank kamu! Jimmy: Begitu aku buka pintu dan 🐼 lihat aku, 🐼 langsung wai dan minta maaf. 🙏🏻 Dia kira itu kamar Fourth! Junior: 🐼 ngerjain P’Doc Jimmy jam 2 pagi! Book: Tapi tadi serem banget. Terus yang merah itu apa? Jimmy: 🐼 menutup lubang intipnya pakai jarinya! 👥: (🤣🤣) Jimmy: 🐼 memang mau ngerjain Fourth. Terus Phuwin bilang ke aku, “P’Jimmy, aku nggak melakukan ini sendirian. Perth yang mengetuk pintunya, terus dia kabur duluan!” // WKWK NGAKAK BANGET 😭🤣🤣🤭 #phuwintang #perthppe #jimmyyjp #MamixPhuwinLIVE

SeviraS3

74,278 Aufrufe • vor 3 Tagen