Sensitive content

This media may contain sensitive content.

Loading video...

Video Failed to Load

Go Home

Tqidyqit18628wuyw

22,149 views • 5 months ago •via X (Twitter)

0 Comments

No comments available

Comments from the original post will appear here

Related Videos

Bagaimana Platform Mendeteksi Usia Tanpa Verifikasi ID? Saya sangat mendukung Kementerian Komunikasi dan Digital secara resmi menerbitkan Peraturan Menteri sebagai turunan dari PP Nomor 17 Tahun 2025 (PP Tunas), yang menunda akses anak di bawah 16 tahun pada platform digital berisiko tinggi termasuk media sosial dan layanan jejaring. Alasannya sudah disampaikan Menkomdigi. Clear. Itu problem besar kita. Negara lain, spt China, justru jauh lebih ketat dibanding Indonesia dan sudah melakukannya sejak lama. China tidak hanya melarang anak membuat akun medsos, tapi mengatur ekosistem digital anak secara menyeluruh dan berlapis, dari level konten, level platform, hingga level perangkat keras. China sebenarnya model referensi yang lebih relevan secara geopolitik untuk Indonesia dibanding Australia, keduanya negara non-Barat dengan populasi besar dan konteks digital yang mirip. Yang menarik, Indonesia justru melampaui China dalam satu hal, yakni melarang akun medsos secara eksplisit per platform berdasarkan usia, sesuatu yang belum dilakukan China secara langsung. Rencananya, implementasi dimulai secara bertahap pada 28 Maret 2026, mencakup YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, Threads, X, Bigo Live, dan Roblox. Pertanyaan Besar Naaah.... yang jadi pertanyaan banyak netizen adalah: bagaimana teknis deteksi usianya? Pake KTP? Belum punya. Pake form tanggal lahir? Mudah dimanipulasi. TErkait teknis pembatasan, saya pernah bertanya ke perwakilan TikTok Indonesia. Apakah platform sebenarnya bisa mendeteksi usia anak, dari pola akses mereka, misal anak sekolah tidak akses pada jam2 sekolah, konten yang mereka buka, komentar yang mereka tuliskan? Dia bilang, Tiktok bisa tahu dari parameter2 ini. Bagaimana Platform Mendeteksi Usia? 🔴 TikTok — Paling agresif dalam video scanning TikTok telah mengonfirmasi bahwa mereka memindai video publik pengguna untuk menginferensi usia. Salah satu sinyal unik yang digunakan adalah dengan memindai komentar di posting ulang tahun ("Happy Birthday") di mana usia pengguna mungkin tersebut. Sistem TikTok menganalisis profil pengguna, video yang diposting, dan sinyal perilaku untuk memprediksi apakah akun tersebut milik pengguna di bawah umur. Setelah AI menandai akun, moderator manusia mereview akun-akun tersebut sebelum pemblokiran dilakukan — bukan otomatis ban langsung. Sistem ini mengidentifikasi pola yang mungkin mengindikasikan pengguna lebih muda dari yang diklaim, seperti nada video, sifat interaksi, atau sinyal keterlibatan lainnya. Untuk verifikasi lanjutan (saat akun diperdebatkan), TikTok bermitra dengan layanan seperti Yoti untuk estimasi usia berbasis biometrik wajah — sistem menganalisis karakteristik wajah untuk memperkirakan usia, tanpa menyimpan foto secara permanen. 🔵 Instagram/Meta — "Adult Classifier" AI paling canggih Sistem adult classifier Meta menganalisis sinyal perilaku untuk mengkategorikan pengguna sebagai di bawah atau di atas 18 tahun. AI memeriksa profil pengguna, daftar follower, interaksi konten, dan postingan seperti pesan ulang tahun dari teman. Misalnya, profil yang mengikuti influencer bertema remaja atau berinteraksi dengan konten terkait sekolah dapat memicu pemeriksaan lebih lanjut. Meta juga menandai akun yang dibuat dengan email atau device ID yang sama tetapi dengan tanggal lahir berbeda — ini mencegah remaja lolos dengan membuat akun baru. Jika teman pengguna memposting sesuatu seperti "Screaming happy 15th birthday to my best friend", tim evaluasi internal Meta akan melabeli pengguna tersebut sebagai remaja. Instagram juga menggunakan Natural Language Processing (NLP) untuk memindai caption dan pesan terhadap pola bahasa yang khas dari pengguna yang lebih muda. 🔴 YouTube/Google — Berbasis riwayat tontonan Sistem AI YouTube bergantung pada sinyal seperti jenis video yang dicari dan ditonton pengguna, serta sudah berapa lama akun aktif, untuk menentukan apakah mereka berusia di bawah 18 tahun. Pengguna dewasa yang salah diidentifikasi sebagai remaja harus mengunggah KTP, kartu kredit, atau selfie untuk membuktikan usia mereka. Google dan YouTube sangat mengandalkan sinyal perilaku yang terkait dengan riwayat tontonan dan aktivitas akun untuk menginferensi usia — baru kemudian meminta KTP atau kartu kredit ketika sistem merasa tidak yakin. 🟣 Facebook/Threads — Lintas platform Meta Facebook dan Threads menggunakan infrastruktur yang sama dengan Instagram. Instagram menyatakan bahwa mereka mungkin mencoba mencocokkan usia pengguna di Facebook dengan usia yang dinyatakan di Instagram, bersama dengan penggunaan "banyak sinyal lain" yang tidak diungkapkan. 🟡 Roblox — Orientasi pada perilaku anak di bawah umur Roblox secara khusus fokus pada deteksi perilaku anak. Mereka menganalisis pola chat, jenis game yang dimainkan, dan waktu sesi bermain. Perilaku khas anak (bahasa yang digunakan, pola waktu bermain di jam sekolah/malam) menjadi sinyal utama. ⚪ X (Twitter) & Bigo Live X saat ini paling lemah dalam deteksi usia berbasis perilaku — lebih mengandalkan laporan komunitas dan verifikasi manual. Bigo Live menggunakan moderasi konten live streaming secara real-time, termasuk deteksi wajah untuk usia. Keterbatasan Sistem Sistem-sistem ini gagal dengan cara yang dapat diprediksi. False positive sangat umum — platform mengidentifikasi orang dewasa dengan wajah muda, orang dewasa yang berbagi perangkat keluarga, atau memiliki penggunaan yang tidak biasa, sebagai remaja. Sementara false negative juga persisten — remaja dengan cepat belajar cara mengelabui sistem dengan meminjam KTP, berganti akun, atau menggunakan VPN. Bukan Sekadar Pembatasan, Perlu ada Substitusi Menurut saya, ini harus dimulai. Pasti ada kekurangan di awal. Yang penting terus disempurnakan sambil belajar dari yang sudah berhasil seperti China. Poin kunci yang membuat model China berbeda adalah mereka tidak hanya melarang, tapi menyediakan alternatif yang dikurasi secara aktif oleh negara. Douyin "Youth Mode" — fitur-fiturnya sangat spesifik: Fitur Youth Mode Douyin antara lain: jeda wajib lima detik antar video untuk mengurangi risiko adiksi, batas 40 menit per hari hanya antara jam 6 pagi sampai 10 malam, dan konten diganti dengan materi edukatif seperti eksperimen sains, pameran museum, dan penjelasan sejarah. Di sisi konten, mode remaja Douyin melarang berbagai jenis konten ditampilkan, termasuk video prank, "takhayul", dan konten tempat hiburan seperti klub dansa atau karaoke yang memang tidak boleh dimasuki remaja. Setiap akun juga dihubungkan ke identitas asli pengguna, dan teknologi pengenalan wajah digunakan untuk memantau pembuatan konten live streaming. Bahkan ada aplikasi anak tersendiri. ByteDance meluncurkan aplikasi khusus anak bernama Xiao Qu Xing ("Little Fun Star") — seperti Douyin tapi hanya berisi konten edukatif, dibatasi 40 menit per hari dengan default 30 menit di hari kerja, dan orang tua bisa menurunkan batas waktu hingga hanya 15 menit per hari. Kesimpulan Jadi konfirmasi dari perwakilan TikTok itu akurat dan berdasar — platform memang sudah jauh melampaui sekadar mengandalkan tanggal lahir yang diinput. Namun tantangan terbesarnya untuk konteks Indonesia adalah sinyal seperti "cross-platform account matching" dan "device ID linking" akan sangat efektif, tapi sinyal berbasis konten (bahasa, NLP) perlu dilatih ulang untuk Bahasa Indonesia dan dialek lokal agar akurasinya setara dengan deployment di pasar Barat. Harusnya ini ndak jadi masalah, mengingat perkembangan AI yang sudah sangat maju.

Ismail Fahmi

61,361 views • 6 months ago

Wawa aja ya fullnya gratis
3:51

Sensitive content

Wawa aja ya fullnya gratis

arka sasuke real

533,755 views • 23 days ago

Ehh apaan tuh 📁
0:28

Sensitive content

Ehh apaan tuh 📁

acak

1,399,706 views • 2 days ago

Muka dan Bodynya gak nahan
0:21

Sensitive content

Muka dan Bodynya gak nahan

Khusus Stw Tobrut

52,304 views • 27 days ago