Video wird geladen...

Video konnte nicht geladen werden

Zur Startseite

524,884 Aufrufe • vor 3 Jahren •via X (Twitter)

10 Kommentare

Profilbild von 𝑮𝒓𝒆𝒔𝒚𝒂 郑尤霞
𝑮𝒓𝒆𝒔𝒚𝒂 郑尤霞vor 3 Jahren

kalo udh ada manekin, mas masnya ngapain baring? 🫤

Profilbild von Dul
Dulvor 3 Jahren

Kasihan masnya.. Padahal pengen lgsg kontol nya yang dipegang.. Srasa ga berfungsi bgt jd nya.

Profilbild von Mareyzka
Mareyzkavor 3 Jahren

Padahalmah modelna nu ngagoler lalaki naha make alat pendukung nya padahal mah bisa ker menekan cost

Profilbild von Abelle
Abellevor 3 Jahren

Fungsinya model si lelaki apaan dahhh. Udh ada yg asli ngapain pake yg palsu 😂

Profilbild von Ly
Lyvor 3 Jahren

Ada yg asli ko malah pake yg palsu

Profilbild von true to self
true to selfvor 3 Jahren

Emang kalo disunat harus ngaceng gitu ya? Bukannya pas dipotong bakal muncrat darahnya?

Profilbild von Ey Wisnu
Ey Wisnuvor 3 Jahren

Pantes pasukan *halo dek* pada seneng sama mereka ternyata ini toh kurikulumnya 😋

Profilbild von Bogey
Bogeyvor 3 Jahren

Keliatannya si teteh profesional di bidangnya, ga cicirihilan atau petakilan ketawa" sambil nutup mulut wkwk

Profilbild von nana
nanavor 3 Jahren

itu lagi mau ditidurin biar ga berdiri trus

Profilbild von 🥀markonah_🥀
🥀markonah_🥀vor 3 Jahren

Anjirrrrr 🤣 jd keinget wkt kuliah praktek2 beginian nomor 1 , giliran praktek nyuntik paling belakang

Ähnliche Videos

Apakah kalian tahu? Di balik nama besar Prof. Dr. Sardjito, yang kini diabadikan sebagai nama rumah sakit umum pemerintah pusat di Yogyakarta, tersimpan kisah perjuangannya dalam membantu kemerdekaan Republik Indonesia. Pasca Proklamasi Kemerdekaan, beliau mendapat tugas untuk mengambil alih Institut Pasteur Bandung dari tangan Jepang. Karena situasi keamanan yang rawan dan ancaman serangan Belanda, seluruh kegiatan dan perlengkapan Institut tersebut “diboyong” ke Klaten. Langkah ini menjadi cikal bakal berdirinya Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Ketika Agresi Militer Belanda berlangsung, rumah beliau di Sendang Jimbung, Bayat, Klaten dijadikan rumah sakit darurat. Sedikitnya tiga kali rumah tersebut menjadi sasaran serangan peluru, granat, dan mortir tentara Belanda. Meski demikian, beliau bersama istri dan keluarga selalu berhasil menyelamatkan diri, sekaligus terus melanjutkan perjuangan. Menjelang akhir pendudukan Belanda, Prof. Sardjito selaku pimpinan PTKRI beserta beberapa tokoh lain mempersiapkan sebuah universitas, yang oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX diminta untuk berlokasi di Yogyakarta. Maka pada akhir 1949 berdirilah Universitas Gadjah Mada dan beliau menjadi rektor pertama. Prof. Dr. Sardjito wafat pada 5 Mei 1970 di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta dalam usia 80 tahun. Ia dimakamkan dengan upacara militer, diberangkatkan dari Balairung UGM menuju Makam Pahlawan Kusuma Negara. Beliau akhirnya ditetapkan menjadi pahlawan pada 2019 setelah pengusulan dan penantian panjang. Gimana. (Jelajah.destinasi)

Merapi Uncover

13,460 Aufrufe • vor 11 Monaten

𝐒𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐦𝐚𝐬𝐚 𝐚𝐝𝐚 𝐩𝐞𝐦𝐢𝐦𝐩𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐩𝐞𝐦𝐢𝐦𝐩𝐢𝐧 𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐬𝐚𝐧𝐲𝐚! SBY tidak pernah sekali pun mempertanyakan kemampuan dan meragukan kapasitas penggantinya setelah dia selesai menjalankan tugas sebagai presiden walau pada saat yang sama orang yang digadang-gadang menjadi penggantinya bilang,” ndak mikir copras capres, ngurus banjir dan macet Jakarta aja pusing kok.” S. B. Yudhoyono percaya penuh terhadap mekanisme dan sisetem demokrasi yang berjalan. Siapa yang dikehendaki rakyat maka dialah yang dianggap mampu dan punya kapasitas, tidak mendikte harus start dari mana kepada penggantinya. Bahkan sampai sekarang beberapa indikator keberhasilan yang pernah diraihnya tidak bisa dilampaui oleh penggantinya, misal nilai pertumbuhan ekonomi. Lalu, kenapa presiden sekarang punya kekawatiran berlebihan? Pada masanya, tidak seorang pun memikirkan siapa orang yang akan menjadi pengganti Bung Karno. Tapi setelah suksesi, terpilihlah Soeharto. Kehidupan berbangsa dan bernegara pun berlanjut, malah jauh lebih baik dari sisi perekonomian dan dasar-dasar pembangunan lainnya. Sama halnya setelah ketika masa akhir Soeharto, tidak ada desas desus siapa orang yang akan memegang tapuk kepemimpinan selanjutnya. Dan setelah era reformasi, walo sedikit jatuh bangun, tapi kehidupan berbangsa dan bernegara berlanjut normal ketika era SBY. Lantas apa yang menjadi dasar keraguan presiden sekarang, Joko Widodo dengan mempertanyakan kapasitas penerusnya? Apakah dia sendiri menjadi tidak percaya terhadap mekanisme dan sistem demokrasi saat ini? Atau apakah ada tujuan politis mengarahkan kepada salah satu bacapres dengan mendegradasi bacapres lainnya? Semoga pertanyaan yang terakhir itu tidak benar, karena akan menjadi preseden buruk dan noda hitam dalam perjalanan akhir memangang amanah kekuasan yang dipercayakan rakyat kepadanya. Jadilah negarawan sejati, hanya itu legacy terbaik yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin sejati.

King Purwa

126,855 Aufrufe • vor 2 Jahren