Video yükleniyor...

Video Yüklenemedi

Ana Sayfaya Dön

Waduh.. warga yang demo malah di pegangi rame rame begitu sama satpol😣 . Kok gak boleh orasi sih … perintah dari atasan nya ? Padahal mereka bersuara untuk rakyat kecil yg sering terkena banjir . Warga Bandar Lampung menuntut solusi yang kongkrit terhadap banjir yang terus berulang dan semakin...

29,122 görüntüleme • 1 yıl önce •via X (Twitter)

11 Yorum

αιяα ηтιє🎀👩‍❤️‍💋‍👨 profil fotoğrafı
αιяα ηтιє🎀👩‍❤️‍💋‍👨1 yıl önce

Mulai deh pembungkaman, kacau Pdhl UU mengamanahkan utk menjamin kebebasan bersuara

liaa profil fotoğrafı
liaa1 yıl önce

Kebiasaan , mereka gak suka kalau ada yang protes .

California Insider Show profil fotoğrafı
California Insider Show1 yıl önce

Flash Shelton, an anti-squatting activist, reveals how squatters in California exploit tenant laws, blurring the lines between tenant rights and unlawful occupation. He shares strategies for dealing with squatters and the challenges homeowners face in reclaiming their properties.

𝐁𝐎𝐒_𝐕𝟒𝐧𝐂𝟏 profil fotoğrafı
𝐁𝐎𝐒_𝐕𝟒𝐧𝐂𝟏1 yıl önce

Cuma mau bilang selamat menikmati pilihan kalian

Never profil fotoğrafı
Never1 yıl önce

Dah sampai ada korban jiwa kan karena banjir

liaa profil fotoğrafı
liaa1 yıl önce

Iya sis . Baru 3 hari yg lalu korban jiwa ada 3 . Sebelum sebelum nya juga ada .

Maria A. Alkaff profil fotoğrafı
Maria A. Alkaff1 yıl önce

Banjir makan korban jiwa? Astaghfirullah… Itu kenapa orang menyuarakan aspirasi pake dikepung gitu? Ada yang mau nyolong pukul pula tuh…

Hanoman Putih profil fotoğrafı
Hanoman Putih1 yıl önce

Emang boleh Satpol PP seperti ini?

@is_pelssy profil fotoğrafı
@is_pelssy1 yıl önce

Pol PP lebay, orasinya menuntut solusi tuh

Nicho Silalahi profil fotoğrafı
Nicho Silalahi1 yıl önce

Walikota anti kritik 😁

Maudy Asmara profil fotoğrafı
Maudy Asmara1 yıl önce

Demo harus damai jangan merusak fasilitas. Coba evaluasi juga aparatnya, jangan gini dong

Benzer Videolar

NEGARA HILANG, SUMATERA SEAKAN TAK TERLIHAT. SAMPAI KAPAN WARGA TUKKA HARUS BERTAHAN? 📍 Tukka, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara 📅 26 September 2026 Hari ini, Tukka kembali dilanda banjir besar. Tanggul jebol, air sungai masuk ke permukiman, dan warga kembali harus menghadapi ancaman yang seharusnya tidak boleh dianggap biasa. Yang membuat keadaan ini semakin menyakitkan, warga merasa penderitaan mereka nyaris tak mendapat sorotan nasional. Apakah Sumatera bukan bagian dari Indonesia? Apakah keselamatan warga di Tapanuli Tengah tidak sepenting keselamatan warga di Jakarta? Kita tahu, banjir bukan hanya soal air yang menggenangi rumah. Ada keluarga yang cemas, barang-barang yang terancam rusak, aktivitas ekonomi yang lumpuh, dan warga yang harus bersiap menyelamatkan diri kapan saja. Dan ini bukan pertama kalinya Tukka menghadapi banjir akibat tanggul jebol. Pada 23 September malam, hujan sekitar 30 menit saja sudah kembali memicu banjir besar di Bonalumban. Kalau bencana terus berulang, mengapa warga masih harus hidup dalam ketidakpastian yang sama? Media nasional punya peran penting untuk mengangkat persoalan daerah agar menjadi perhatian publik. Ketika sebuah bencana luput dari sorotan luas, wajar jika warga merasa seolah-olah mereka ditinggalkan. Tentu, pemberitaan bukan satu-satunya ukuran kehadiran negara. Namun, perhatian publik dapat membantu memastikan penderitaan warga tidak tenggelam begitu saja. Kami tidak meminta Sumatera diistimewakan. Kami hanya ingin keselamatan warga Sumatera diperlakukan sama pentingnya dengan keselamatan warga di mana pun di Indonesia. JANGAN SAMPAI WARGA HARUS BERTERIAK LEBIH KERAS HANYA AGAR PENDERITAAN MEREKA DIDENGAR. Tukka bukan daerah di luar peta Indonesia. Tapanuli Tengah bukan wilayah yang boleh dilupakan. Dan warga yang rumahnya dimasuki banjir bukan sekadar angka dalam laporan bencana. Mereka adalah rakyat Indonesia yang berhak mendapatkan perlindungan, penanganan serius, dan perhatian yang layak. SUMATERA BUKAN ANAK TIRI. TUKKA BUKAN WILAYAH YANG BOLEH DIABAIKAN. RIP bukan untuk Sumatera. Yang harus RIP adalah sikap abai terhadap penderitaan rakyat. 🫠

Sumatera Adil & Federal

15,483 görüntüleme • 12 gün önce

Kebohongan Soal Istri dan Anak Selamat dari Banjir Bandang Cipalabuhanratu, Warga Sukabumi Geram Warga Kampung Gumelar, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, memuncak kemarahannya terhadap seorang pria bernama Aang. Aang merupakan suami dari Santi dan ayah dari Nurul, korban banjir bandang Cipalabuhanratu yang ditemukan tewas. Amarah warga dipicu oleh kebohongan Aang yang menyatakan kepada warga bahwa istri dan anaknya selamat dari terjangan banjir dan telah mengungsi. Namun, kenyataannya, Santi dan Nurul ditemukan tim SAR dalam kondisi meninggal dunia, terbawa derasnya arus Sungai Cipalabuhan yang meluap. Tim SAR gabungan menemukan jenazah Santi dan Nurul dalam posisi berpelukan pada Jumat (7/3/2025) sekitar pukul 13.30 WIB. Keduanya tertimbun di antara puing-puing bangunan dan tumpukan sampah yang terbawa derasnya arus sungai. Sebuah video berdurasi 34 detik yang beredar di grup pesan singkat semakin memicu emosi warga. Dalam video tersebut, Aang menyampaikan bahwa istri dan anaknya selamat dan berada di Desa Margalaksana, Kampung Ciganas, Kecamatan Cikakak. "Alhamdulillah selamat, ternyata yang diinfokan itu tidak sesuai dengan kenyataan," ujar Aang dalam video yang diduga direkam pada pagi hari sebelum jenazah ditemukan. Setelah kabar sebenarnya terungkap, sejumlah warga melampiaskan kemarahan dengan meneriakkan cacian kepada Aang saat dia tiba di lokasi evakuasi. Beruntung, situasi yang memanas berhasil diredam oleh pihak kepolisian yang segera mengamankan Aang guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Kapolsek Palabuhanratu, yang hadir di lokasi, meminta warga untuk tetap tenang dan mempercayakan penanganan kasus ini kepada pihak berwenang. Sementara itu, proses evakuasi dan penanganan dampak banjir bandang Cipalabuhanratu masih terus berlangsung. Sc : Sukabumi update

CREEPY ROOM

247,160 görüntüleme • 1 yıl önce