正在加载视频...

视频加载失败

Yulian dimitriev

15,489 次观看 • 5 个月前 •via X (Twitter)

0 条评论

暂无评论

原始帖子的评论将显示在这里

相关视频

Konnech isn't just another tech firm. It's a CCP-linked operation building the tools that help rig elections in the U.S. and Australia. Konnech is a Michigan-based election logistics software company founded by Chinese-born Eugene Yu, and is effectively a Communist China software company with deep CCP ties. Konnech's Chinese subsidiary, Jinhua Yulian Network Technology / Yulian Network, developed the election management software used in the U.S. The same Chinese subsidiary simultaneously developed election software for the Chinese Communist Party itself. Sensitive personal data on American poll workers was sent to, stored on, or accessible by developers and contractors in China, in violation of contracts requiring US-only handling. This creates a direct backdoor and security risk allowing Chinese Communist influence or manipulation over U.S. election processes, poll-worker management, logistics, scheduling, building schematics, election workers all throughout the U.S. The company's Australian operations, Konnech Australia, extend the same compromised software and influence into Australian elections. The real-world fallout referenced in the broader reporting around this period came in the 2022 arrest of Konnech CEO Eugene Yu by Los Angeles County prosecutors over alleged improper transfer of poll-worker data to China, the charges were later dropped. There is no coincidence that while Biden was in office that the charges were dropped, especially when we know now from the recent declassified documents that China was interfering in our elections and helping Biden in the 2020 election.

The SCIF

15,637 次观看 • 3 个月前

Oknum TNI Pelaku Pemukulan Kepala Sekolah Di Glagah Minta Maaf, Dicopot Dan Ditahan ‼ Oknum anggota TNI berinisial Serma MS yang melakukan pemukulan terhadap kepala sekolah di Glagah, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, akhirnya meminta maaf kepada korban. MS terlihat menangis dan mengaku menyesali perbuatannya yang dipicu emosi setelah menerima laporan dari anaknya. Insiden pemukulan tersebut terjadi di lingkungan sekolah pada Jumat (16/10/2026) pagi. Korban berinisial MRT mengalami luka di bagian wajah. Hidung korban dilaporkan mengalami retak akibat pemukulan tersebut. Peristiwa itu bermula ketika MS menerima laporan dari anaknya yang mengaku dipukul oleh guru di sekolah. Tanpa terlebih dahulu memastikan kebenaran informasi tersebut, MS mendatangi sekolah dan meluapkan kemarahannya hingga melakukan pemukulan terhadap korban. Padahal, berdasarkan keterangan yang disampaikan, guru tersebut tidak melakukan pemukulan. Guru hanya meminta anak MS pulang ke rumah untuk mengambil kaos kaki yang tidak dibawanya ke sekolah. Buntut dari insiden tersebut, Serma MS resmi dicopot dari jabatannya sebagai Bintara Pembina Desa atau Babinsa di Koramil Glagah. Ia juga ditahan di Markas Kodim 0812 Lamongan untuk menjalani proses hukum di satuannya. Komandan Kodim 0812 Lamongan, Letkol Inf Deni Suryo Anggo Digdo, pada Selasa (20/10/2026), membenarkan bahwa pihak satuan telah mengambil tindakan tegas dengan menahan Serma MS. Dandim 0812 Lamongan juga menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada korban dan pihak-pihak yang terdampak atas insiden pemukulan tersebut. Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya mengendalikan emosi dan memastikan kebenaran informasi sebelum bertindak. Terlebih, seorang prajurit TNI diharapkan mampu menjadi teladan bagi masyarakat dengan mengedepankan sikap bijaksana dalam menyelesaikan persoalan. 🎥Berbagai Sumber #elshintaviral

Radio Elshinta

74,462 次观看 • 3 天前