Loading video...

Video Failed to Load

Go Home

𝐌𝐀𝐊𝐀𝐍 𝐀𝐍𝐀𝐊 𝐓𝐈𝐊𝐔𝐒 𝐇𝐈𝐃𝐔𝐏-𝐇𝐈𝐃𝐔𝐏, 𝐓𝐑𝐀𝐃𝐈𝐒𝐈 "𝐍𝐆𝐔𝐍𝐓𝐀𝐋 𝐂𝐈𝐍𝐃𝐈𝐋" 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐁𝐈𝐊𝐈𝐍 𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐃𝐈𝐍𝐆 Di Jawa, ada tradisi ekstrem bernama Nguntal Cindil alias menelan anak tikus (cindil) hidup-hidup. Bayi tikus yang masih merah jambu, belum berbulu, mata tertutup, dipegang ekornya lalu ditelan utuh tanpa dikunyah, kemudian dikejar air putih. Tradisi ini dipercaya bisa...

80,326 views • 2 months ago •via X (Twitter)

0 Comments

No comments available

Comments from the original post will appear here

Related Videos

Uang: Oleh-Oleh Lebaran yang Paling Dirindukan Di balik tradisi silaturahmi dan kebersamaan, ada satu hal sederhana yang selalu dinantikan setiap anak saat Lebaran, uang saku dari para orang tua dan kerabat. Setiap kali Lebaran tiba, suasana rumah selalu berubah menjadi lebih hidup. Sanak saudara berdatangan, meja makan penuh hidangan, dan suara tawa memenuhi setiap sudut rumah. Namun di balik semua tradisi itu, ada satu hal sederhana yang selalu menjadi kenangan paling melekat bagi banyak orang sejak kecil: uang Lebaran. Bagi anak-anak, uang Lebaran bukan sekadar lembaran rupiah yang diberikan oleh orang tua, paman, bibi, atau kakek nenek. Ia adalah simbol kebahagiaan, kejutan, dan rasa diperhatikan. Saat tangan kecil menerima amplop atau uang yang dilipat rapi, ada perasaan gembira yang sulit dijelaskan,campuran antara rasa bangga, senang, dan penuh harapan. Tradisi memberi uang saat Lebaran sebenarnya tidak tertulis dalam aturan agama, tetapi telah menjadi budaya yang hidup di masyarakat. Ia lahir dari semangat berbagi dan memuliakan kebahagiaan di hari kemenangan setelah sebulan menjalankan ibadah puasa. Memberi kepada anak-anak menjadi cara sederhana untuk menanamkan rasa kasih sayang sekaligus mempererat hubungan keluarga. Menariknya, kenangan tentang uang Lebaran sering kali bertahan sangat lama. Banyak orang dewasa masih mengingat dengan jelas bagaimana dulu mereka menghitung uang hasil "berkeliling rumah saudara", menyimpannya di dompet kecil, atau bahkan merencanakan apa yang akan dibeli setelah Lebaran. Ada yang menabungnya, ada yang langsung membelanjakannya untuk mainan, buku, atau jajanan favorit. Seiring waktu, peran pun berubah. Anak-anak yang dulu menerima uang Lebaran, kini menjadi orang dewasa yang memberi. Ada kepuasan tersendiri saat melihat mata anak-anak berbinar ketika menerima amplop kecil yang kita berikan. Momen itu seperti mengulang kembali kenangan masa kecil,hanya saja dari sudut pandang yang berbeda. Pada akhirnya, uang Lebaran bukan soal besar atau kecilnya jumlah yang diberikan. Nilai terbesarnya justru terletak pada makna di baliknya: perhatian, kebahagiaan, dan tradisi berbagi yang membuat hari raya terasa lebih hangat. Karena itulah, di antara berbagai oleh-oleh Lebaran, mulai dari kue, pakaian baru, hingga hidangan khas, uang tetap menjadi oleh-oleh yang paling dirindukan, terutama oleh anak-anak. Bukan sekadar karena nilainya, tetapi karena kenangan manis yang selalu menyertainya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Miss Tweet |

24,045 views • 7 months ago

Ada satu desa di NTT yang cara hidupnya bikin aku mikir “ternyata Indonesia seunik ini.” Namanya Desa Boti, di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Desa ini dihuni masyarakat Suku Boti, salah satu suku tua di Nusa Tenggara Timur. Yang menarik desa ini dipimpin oleh seorang usif atau raja. Tapi jangan bayangkan raja dengan istana besar atau pakaian mewah. Raja Boti, Namah Benu, justru hidup sederhana seperti masyarakat pada umumnya. Masyarakat Boti juga masih memegang erat kepercayaan Halaika dan berbagai aturan adat yang diwariskan turun-temurun. Mereka punya cara sendiri dalam mengatur kehidupan, termasuk sistem kalender yang cukup unik: satu minggu terdiri dari 9 hari. Ada Hari Api, Hari Air, Hari Besi, Hari Dewa Bumi dan Langit, Hari Perselisihan, Hari Berebutan, Hari Besar, Hari Anak-anak, sampai Hari Istirahat. Yang paling menarik buatku adalah adanya Hari Perselisihan. Hari khusus untuk menyelesaikan masalah dan konflik yang terjadi di antara masyarakat. Ada juga Hari Anak-anak, ketika anak-anak diberi ruang untuk bermain dan mengekspresikan kebahagiaannya. Lalu ada Hari Istirahat. Hari yang digunakan untuk menenangkan diri, merefleksikan hidup, dan bersyukur atas apa yang sudah dilewati selama seminggu. Mereka juga punya prinsip hidup mandiri dan tidak serakah. Alam dijaga, bukan dieksploitasi sesuka hati. Di saat kehidupan modern semakin cepat dan semua orang seperti berlomba mengejar sesuatu, masyarakat Boti justru masih mempertahankan cara hidup yang diwariskan leluhur mereka. Menurutku, bagian paling menarik dari Desa Boti bukan cuma soal adanya “raja” atau kalender 9 hari. Tapi tentang bagaimana mereka punya cara sendiri untuk memahami hidup. Mungkin kita yang hidup di zaman serba cepat ini justru bisa belajar sesuatu dari mereka: nggak semua hal harus dikejar. Ada waktunya bekerja, menyelesaikan masalah, bermain, beristirahat, dan bersyukur. Dan ternyata cara hidup seperti itu masih bertahan di Indonesia sampai hari ini.

Catholic 𐕣

11,782 views • 1 month ago