Loading video...

Video Failed to Load

Go Home

𝐌𝐀𝐊𝐀𝐍 𝐀𝐍𝐀𝐊 𝐓𝐈𝐊𝐔𝐒 𝐇𝐈𝐃𝐔𝐏-𝐇𝐈𝐃𝐔𝐏, 𝐓𝐑𝐀𝐃𝐈𝐒𝐈 "𝐍𝐆𝐔𝐍𝐓𝐀𝐋 𝐂𝐈𝐍𝐃𝐈𝐋" 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐁𝐈𝐊𝐈𝐍 𝐌𝐄𝐑𝐈𝐍𝐃𝐈𝐍𝐆 Di Jawa, ada tradisi ekstrem bernama Nguntal Cindil alias menelan anak tikus (cindil) hidup-hidup. Bayi tikus yang masih merah jambu, belum berbulu, mata tertutup, dipegang ekornya lalu ditelan utuh tanpa dikunyah, kemudian dikejar air putih. Tradisi ini dipercaya bisa...

80,248 views • 1 month ago •via X (Twitter)

0 Comments

No comments available

Comments from the original post will appear here

Related Videos

Uang: Oleh-Oleh Lebaran yang Paling Dirindukan Di balik tradisi silaturahmi dan kebersamaan, ada satu hal sederhana yang selalu dinantikan setiap anak saat Lebaran, uang saku dari para orang tua dan kerabat. Setiap kali Lebaran tiba, suasana rumah selalu berubah menjadi lebih hidup. Sanak saudara berdatangan, meja makan penuh hidangan, dan suara tawa memenuhi setiap sudut rumah. Namun di balik semua tradisi itu, ada satu hal sederhana yang selalu menjadi kenangan paling melekat bagi banyak orang sejak kecil: uang Lebaran. Bagi anak-anak, uang Lebaran bukan sekadar lembaran rupiah yang diberikan oleh orang tua, paman, bibi, atau kakek nenek. Ia adalah simbol kebahagiaan, kejutan, dan rasa diperhatikan. Saat tangan kecil menerima amplop atau uang yang dilipat rapi, ada perasaan gembira yang sulit dijelaskan,campuran antara rasa bangga, senang, dan penuh harapan. Tradisi memberi uang saat Lebaran sebenarnya tidak tertulis dalam aturan agama, tetapi telah menjadi budaya yang hidup di masyarakat. Ia lahir dari semangat berbagi dan memuliakan kebahagiaan di hari kemenangan setelah sebulan menjalankan ibadah puasa. Memberi kepada anak-anak menjadi cara sederhana untuk menanamkan rasa kasih sayang sekaligus mempererat hubungan keluarga. Menariknya, kenangan tentang uang Lebaran sering kali bertahan sangat lama. Banyak orang dewasa masih mengingat dengan jelas bagaimana dulu mereka menghitung uang hasil "berkeliling rumah saudara", menyimpannya di dompet kecil, atau bahkan merencanakan apa yang akan dibeli setelah Lebaran. Ada yang menabungnya, ada yang langsung membelanjakannya untuk mainan, buku, atau jajanan favorit. Seiring waktu, peran pun berubah. Anak-anak yang dulu menerima uang Lebaran, kini menjadi orang dewasa yang memberi. Ada kepuasan tersendiri saat melihat mata anak-anak berbinar ketika menerima amplop kecil yang kita berikan. Momen itu seperti mengulang kembali kenangan masa kecil,hanya saja dari sudut pandang yang berbeda. Pada akhirnya, uang Lebaran bukan soal besar atau kecilnya jumlah yang diberikan. Nilai terbesarnya justru terletak pada makna di baliknya: perhatian, kebahagiaan, dan tradisi berbagi yang membuat hari raya terasa lebih hangat. Karena itulah, di antara berbagai oleh-oleh Lebaran, mulai dari kue, pakaian baru, hingga hidangan khas, uang tetap menjadi oleh-oleh yang paling dirindukan, terutama oleh anak-anak. Bukan sekadar karena nilainya, tetapi karena kenangan manis yang selalu menyertainya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Miss Tweet |

24,045 views • 5 months ago

Ada alasan kenapa banyak orang tidak pernah benar-benar bisa meninggalkan tribun. Karena sebagian hidup mereka tertinggal di sana. “Sleman, kota kecil kebanggaan” Bagi banyak orang, itu bukan cuma lirik chant, tapi tentang rumah yang selalu berhasil membuat rindu. Tentang kota kecil yang membesarkan begitu banyak kenangan. Tentang perjalanan menuju stadion yang rasanya tidak pernah membosankan. Tentang ribuan suara yang selalu terdengar lebih tulus ketika dinyanyikan bersama-sama. “Di sudut kaki Merapi, kutanam harapan” Dan benar, di bawah kaki Merapi ini banyak harapan tumbuh bersama PSS. Harapan dari mereka yang sejak kecil hidup bersama suara tribun. Harapan dari orang-orang yang tetap datang walau timnya jatuh berkali-kali. Karena bagi mereka, mendukung PSS bukan soal hasil akhir. Tapi soal menjaga rasa memiliki yang sudah terlalu dalam untuk ditinggalkan. “Kutuliskan tawa, tangis, dan kenangan” Sebab di tribun ini, banyak hidup pernah singgah. Ada tawa setelah kemenangan yang tak terlupakan. Ada tangis saat keadaan tidak berjalan sesuai harapan. Ada kenangan tentang orang-orang yang dulu berdiri dan bernyanyi bersama, lalu hari ini hanya bisa dikenang. Dan mungkin itu alasan kenapa chant ini selalu terasa begitu emosional, karena setiap baitnya seperti menyimpan potongan hidup banyak orang. “Di gang dan di ujung jalan, kita rayakan” Karena PSS tidak hidup cuma di stadion. Ia hidup di jalanan kota ini. Di gang-gang kecil yang penuh cerita. Di obrolan larut malam selepas pertandingan. Di setiap orang yang diam-diam menjadikan Sleman sebagai bagian dari hidupnya. Dan mungkin itu alasan kenapa banyak orang tidak pernah benar-benar bisa meninggalkan Sleman, karena sebagian hatinya sudah tinggal di tribun itu. #PSS #BCSxPSS

404Vids

10,204 views • 2 months ago