Video wird geladen...

Video konnte nicht geladen werden

Zur Startseite

๐˜ฝ๐™ง๐™ž๐™œ๐™๐™ฉ ๐™ค๐™ฃ ๐™ฉ๐™๐™š ๐™˜๐™ค๐™ก๐™ค๐™ง๐™จ, ๐™—๐™ง๐™ž๐™œ๐™๐™ฉ๐™š๐™ง ๐™—๐™š๐™ฉ๐™ฌ๐™š๐™š๐™ฃ ๐™ฉ๐™๐™š ๐™ฅ๐™ค๐™จ๐™ฉ๐™จ! ๐Ÿฉต๐Ÿ’œ๐Ÿ’› PSS Sleman ๐—š๐—ผ๐—ฎ๐—น๐—ธ๐—ฒ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ Jersey 26/27. Warna terang nan mencolok untuk mereka yang berdiri di paling belakang. Menyala di antara dua tiang, sigap dalam setiap penyelamatan, dan menjadi cahaya terakhir yang tak pernah padam di bawah mistar! #PSS #PSS_Store #Scorelab #VinciPerNoi #VivaLaPSS

14,745 Aufrufe โ€ข vor 13 Tagen โ€ขvia X (Twitter)

0 Kommentare

Keine Kommentare verfรผgbar

Kommentare vom Original-Post werden hier angezeigt

ร„hnliche Videos

Gema Magis di Gelora Delta: BCS PSS Sleman Menggetarkan Sidoarjo! SIDOARJO โ€“ Stadion Gelora Delta Sidoarjo menjadi saksi bisu dukungan luar biasa dari suporter PSS Sleman, Brigata Curva Sud (BCS), dalam laga lanjutan Pegadaian Championship 2025/2026 Grup B, Sabtu (22/11/2025) malam. Ribuan suporter Elang Jawa membanjiri tribun untuk mendukung tim kesayangan mereka dalam laga tandang yang penting melawan Deltras FC. Video yang beredar luas di media sosial menunjukkan pemandangan yang memukau: lautan manusia berbaju hitam dan hijau memenuhi satu sektor tribun, menyanyikan chants dan meneriakkan dukungan tanpa henti. Aksi ini merupakan bagian dari tradisi away day BCS, di mana mereka rela menempuh jarak jauh demi mengawal tim kebanggaan. Dukungan Sepanjang Laga Meski Hasil Imbang Meskipun PSS Sleman harus puas bermain imbang 1-1 melawan Deltras FC, semangat yang ditunjukkan oleh BCS di Sidoarjo tak pernah padam. Sepanjang 90 menit, kelompok suporter ini tidak berhenti bernyanyi, menciptakan atmosfer yang menyerupai laga kandang. Dalam momen yang terekam di video, terlihat ribuan BCS bersorak serempak, dengan bendera dan syal PSS Sleman berkibar, seolah menjadi "pemain ke-12" yang memberikan energi tambahan di lapangan. Pelatih PSS Sleman, Ansyari Lubis, sebelumnya telah menekankan pentingnya dukungan suporter sebagai motivasi besar bagi para pemain. "Yang pasti kita memohon doa dari seluruh suporter PSS Sleman agar diberikan kemudahan dan kemenangan," tuturnya jelang laga. Walaupun hasil akhir adalah imbang, aksi militan BCS ini membuktikan loyalitas tanpa batas mereka. (Pekalongan.conection)

Merapi Uncover

39,063 Aufrufe โ€ข vor 9 Monaten

Lautan Api di Maguwoharjo: Pyro Show Epik Sleman Fans Tutup Final PSS Sleman vs Garudayaksa FC SLEMAN โ€“ Stadion Maguwoharjo berubah menjadi "lautan api" yang memukau pada malam final kompetisi usia muda antara PSS Sleman melawan Garudayaksa FC. Meski tim kebanggaan Bumi Sembada harus merelakan gelar juara kepada Garudayaksa FC, sportivitas dan militansi yang ditunjukkan oleh Sleman Fans lewat aksi pyro show pasca-pertandingan menjadi sorotan utama. Pertandingan yang berlangsung sengit sejak menit awal ini harus diselesaikan lewat drama yang menguras emosi. Setelah bermain imbang hingga babak perpanjangan waktu, Garudayaksa FC akhirnya keluar sebagai kampiun melalui babak adu penalti yang dramatis. Penghormatan di Tengah Kekalahan Begitu peluit panjang dibunyikan dan prosesi penyerahan medali dimulai, tribun stadion mulai menyala. Ribuan suporter PSS Sleman secara serentak menyalakan flare, kembang api, dan bom asap berwarna merah serta putih, menciptakan atmosfer yang megah sekaligus mengharukan. Aksi ini bukanlah bentuk protes, melainkan bentuk apresiasi dan penghormatan kepada para pemain muda PSS Sleman yang telah berjuang habis-habisan di lapangan hijau. Suara kembang api yang bersahutan dengan nyanyian chant kesetiaan membuktikan bahwa dukungan Sleman Fans tidak pernah padam, menang ataupun kalah. Momen Emosional di Lapangan Di tengah kepulan asap dan sorotan lampu stadion, para pemain kedua tim tampak terpukau dengan atmosfer yang diciptakan oleh suporter. โ€ข Garudayaksa FC merayakan kemenangan perdana mereka dengan latar belakang kembang api yang meriah. โ€ข Pemain PSS Sleman berkeliling lapangan untuk memberikan penghormatan balik kepada suporter yang tetap bertahan hingga larut malam. "Ini adalah atmosfer yang luar biasa. Meski kami kalah di adu penalti, dukungan dari suporter malam ini membuat kami merasa seperti juara. Pyro show ini adalah bukti cinta mereka," ujar salah satu staf pelatih PSS Sleman di pinggir lapangan. Kemenangan Garudayaksa FC lewat drama adu penalti memang mencatatkan nama mereka di buku sejarah, namun aksi Sleman Fans di Stadion Maguwoharjo malam ini dipastikan akan menjadi momen yang sulit dilupakan oleh siapa pun yang hadir di sana.

Merapi Uncover

59,779 Aufrufe โ€ข vor 3 Monaten

Ada alasan kenapa banyak orang tidak pernah benar-benar bisa meninggalkan tribun. Karena sebagian hidup mereka tertinggal di sana. โ€œSleman, kota kecil kebanggaanโ€ Bagi banyak orang, itu bukan cuma lirik chant, tapi tentang rumah yang selalu berhasil membuat rindu. Tentang kota kecil yang membesarkan begitu banyak kenangan. Tentang perjalanan menuju stadion yang rasanya tidak pernah membosankan. Tentang ribuan suara yang selalu terdengar lebih tulus ketika dinyanyikan bersama-sama. โ€œDi sudut kaki Merapi, kutanam harapanโ€ Dan benar, di bawah kaki Merapi ini banyak harapan tumbuh bersama PSS. Harapan dari mereka yang sejak kecil hidup bersama suara tribun. Harapan dari orang-orang yang tetap datang walau timnya jatuh berkali-kali. Karena bagi mereka, mendukung PSS bukan soal hasil akhir. Tapi soal menjaga rasa memiliki yang sudah terlalu dalam untuk ditinggalkan. โ€œKutuliskan tawa, tangis, dan kenanganโ€ Sebab di tribun ini, banyak hidup pernah singgah. Ada tawa setelah kemenangan yang tak terlupakan. Ada tangis saat keadaan tidak berjalan sesuai harapan. Ada kenangan tentang orang-orang yang dulu berdiri dan bernyanyi bersama, lalu hari ini hanya bisa dikenang. Dan mungkin itu alasan kenapa chant ini selalu terasa begitu emosional, karena setiap baitnya seperti menyimpan potongan hidup banyak orang. โ€œDi gang dan di ujung jalan, kita rayakanโ€ Karena PSS tidak hidup cuma di stadion. Ia hidup di jalanan kota ini. Di gang-gang kecil yang penuh cerita. Di obrolan larut malam selepas pertandingan. Di setiap orang yang diam-diam menjadikan Sleman sebagai bagian dari hidupnya. Dan mungkin itu alasan kenapa banyak orang tidak pernah benar-benar bisa meninggalkan Sleman, karena sebagian hatinya sudah tinggal di tribun itu. #PSS #BCSxPSS

404Vids

10,204 Aufrufe โ€ข vor 2 Monaten

PSS Sleman Resmi Naik Kasta ke Liga 1: Stadion Maguwoharjo Bergemuruh dalam Isak Tangis dan Anthem 'Sampai Kau Bisa' SLEMAN โ€“ Sejarah baru tercipta di Bumi Sembada. PSS Sleman resmi memastikan diri promosi ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia, Liga 1, setelah menumbangkan tamunya PSIS Semarang dengan skor telak 3-0. Kemenangan ini disambut haru biru oleh ribuan pendukung setia Laskar Sembada yang memadati Stadion Maguwoharjo. Sejak peluit pertama dibunyikan, PSS Sleman tampil menekan. Didorong oleh ambisi besar untuk kembali ke kasta tertinggi, anak-anak asuh PSS bermain taktis dan agresif. Tiga gol tanpa balas bersarang di gawang PSIS Semarang, sekaligus mengunci tiket otomatis menuju Liga 1. Kemenangan ini bukan sekadar raihan poin, melainkan pembuktian dari perjuangan panjang klub kebanggaan warga Sleman tersebut. Momen Paling Emosional: Anthem yang Menggetarkan Jiwa Sesaat setelah wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan, suasana stadion yang semula bising dengan sorak-sorai mendadak berubah menjadi sakral. Para pemain, staf pelatih, dan ribuan suporter berdiri bersama untuk menyanyikan anthem kebanggaan, "Sampai Kau Bisa". Momen ini menjadi puncak emosi dari seluruh rangkaian pertandingan. Dalam video yang beredar, terlihat para pemain melingkar di tengah lapangan sambil merangkul satu sama lain. Ribuan flare dan lampu ponsel dari tribun penonton menciptakan pemandangan yang magis di bawah langit malam Sleman yang syahdu. Suara ribuan orang yang menyanyikan lirik "Sampai kau bisa, sampai kau bisa... menggapai mimpi di angkasa" terdengar menggema hingga ke luar stadion. Tak sedikit suporter dan pemain yang meneteskan air mata haru, menyadari bahwa penantian panjang untuk melihat PSS Sleman berlaga di Liga 1 akhirnya terwujud. Dengan hasil ini, PSS Sleman dipastikan akan bersaing dengan klub-klub elit tanah air musim depan. Keberhasilan ini diharapkan menjadi momentum bagi sepak bola Yogyakarta untuk terus berkembang dan berprestasi di tingkat nasional. Malam ini, Sleman tidak tidur. Perayaan kemenangan dan keberhasilan promosi ini akan terus dikenang sebagai salah satu malam paling bersejarah bagi seluruh pecinta PSS Sleman. Ale!

Merapi Uncover

19,347 Aufrufe โ€ข vor 3 Monaten

Semangat Tak Padam Meski di Luar Stadion SLEMAN, 3 MEI 2026 โ€“ Stadion Maguwoharjo, Sleman, kembali menjadi saksi bisu betapa fanatiknya dukungan para suporter sepak bola tanah air. Pertandingan antara PSS Sleman menjamu PSIS Semarang yang berlangsung hari ini tidak hanya memanaskan atmosfer di dalam lapangan, tetapi juga menciptakan gelombang energi luar biasa di area luar stadion. Ribuan suporter yang tidak mendapatkan tiket atau memilih untuk memberikan dukungan dari luar stadion tampak memadati area parkir dan jalan-jalan di sekitar stadion. Dengan mengenakan atribut kebanggaan berwarna hijau, para pendukung setia Laskar Sembada ini tak henti-hentinya menyanyikan chant penyemangat. Momen Haru: Ibu-Ibu Turut Menjadi "Capo" Ada pemandangan unik dan menyentuh di tengah kerumunan suporter. Seorang ibu paruh baya terlihat berdiri di barisan depan, memimpin sorakan layaknya seorang Capo. Dengan tangan di dada dan suara lantang, ia menyanyikan lagu "Sampai Kau Bisa" dengan penuh penghayatan. "Ini bukan sekadar sepak bola, ini soal kebanggaan daerah. Kami ingin pemain tahu bahwa doa kami menyertai mereka meski kami hanya bisa berdiri di sini," ujar salah satu suporter yang berdiri di dekatnya. Suasana semakin meriah saat ribuan orang secara serempak melompat dan bernyanyi bersama. Suara drum yang berdegup kencang seirama dengan semangat mereka yang ingin melihat tim kesayangannya meraih poin penuh dalam laga krusial ini. Meski kondisi di luar stadion sangat padat, suasana tetap kondusif dan penuh kekeluargaan. Para suporter saling berbagi minuman dan tetap tertib di bawah pengawasan petugas keamanan yang berjaga di sekitar lokasi.

Merapi Uncover

25,278 Aufrufe โ€ข vor 3 Monaten

โ€œThis Is Us!โ€: Pesan Cinta BCS Warnai Laga Alot PSS Sleman vs Barito Putera SLEMAN โ€“ Stadion Maguwoharjo kembali menjadi saksi kreativitas tanpa batas dari Brigata Curva Sud (BCS). Dalam laga krusial pekan ke-18 Pegadaian Championship 2025/2026 yang mempertemukan PSS Sleman melawan Barito Putera, Sabtu (31/1/2026) malam, sebuah koreografi megah bertajuk โ€œTHIS IS US!โ€ membentang gagah di tribun selatan. Koreo Penuh Makna Sesaat sebelum kick-off dimulai, ribuan suporter yang memadati tribun selatan mengangkat kertas dan spanduk raksasa. Koreo tersebut menampilkan sosok seorang pria yang tengah memeluk erat logo PSS Sleman, diiringi tulisan besar โ€œTHIS IS US!โ€ di bagian bawah. Pesan ini seolah menegaskan identitas dan kesetiaan suporter yang tetap berdiri teguh di belakang tim โ€œLaskar Sembadaโ€, apa pun kondisinya. Atmosfer Stadion Maguwoharjo kian membara dengan nyanyian tanpa henti yang membakar semangat para pemain di lapangan. Jalannya Pertandingan: Duel Sengit di Lini Tengah Pertandingan sendiri berjalan dengan intensitas tinggi sejak menit awal. PSS Sleman yang tampil agresif mencoba membongkar pertahanan rapat Laskar Antasari. Sejumlah peluang emas tercipta, namun solidnya barisan belakang Barito Putera membuat skor kacamata bertahan cukup lama. Momen menarik terjadi ketika pertandingan sempat dihentikan sejenak akibat kepulan asap dari flare yang menyala di beberapa sudut tribun, menambah dramatis suasana pertandingan malam itu. Skor Akhir: Berbagi Angka Hingga peluit panjang dibunyikan oleh wasit, papan skor tetap menunjukkan angka 0-0. Meski mendominasi penguasaan bola, PSS Sleman harus puas berbagi satu poin dengan tim tamu. Hasil imbang ini membuat klasemen Barito Putera tetap diatas PSS dengan 37 poin, ditempel ketat oleh PSS Sleman dengan 36 poin. Persaingan memperebutkan tiket otomatis ke Super League pun diprediksi akan semakin panas di pekan-pekan mendatang. ๐ŸŽฅ: pekalongan.conection

Merapi Uncover

32,059 Aufrufe โ€ข vor 6 Monaten

BEDAH TAKTIK PSIS SEMARANG: AWAS GEGENPRESS, MANFAATKAN HALF-SPACE! PSIS Semarang datang dengan struktur dasar 4-3-3 yang cukup agresif. Di lini depan, mereka mengandalkan trio Denilson, Rafinha, dan Beto sebagai ujung tombak serangan. Ketiganya mendapat dukungan dari lini kedua lewat pergerakan Viscara dan Tegar Infantri yang menjadi penghubung utama dalam transisi menyerang. Dari hasil review, terlihat sejak menit-menit awal PSIS berani melakukan gegenpressing ke area pertahanan lawan dengan intensitas tinggi. Tekanan ini bisa sangat berbahaya apabila defender dan defensive midfielder PSS tidak cukup tenang dalam penguasaan bola. Salah kontrol, salah umpan, atau terlalu lama menahan bola bisa langsung berubah menjadi situasi berbahaya di depan kotak penalti. Namun, agresivitas pressing PSIS juga menyimpan risiko besar. Jika PSS mampu melakukan bypass through press dengan baik melalui sirkulasi bola cepat, ruang di belakang lini pressing mereka akan terbuka lebar. Di sinilah ketenangan pemain belakang dan kecerdikan gelandang PSS akan sangat menentukan. Satu-dua sentuhan cepat, progresi bola yang rapi, dan keputusan tepat bisa menjadi kunci untuk keluar dari tekanan awal PSIS. Salah satu celah yang cukup terlihat adalah kontribusi winger PSIS dalam fase bertahan. Winger mereka tidak selalu rajin melakukan trackback, sehingga fullback bisa mudah mengalami situasi overload ketika diserang dari sisi sayap. Selain itu, beberapa kali fullback PSIS juga berada dalam posisi yang kurang ideal atau out of position. Kondisi ini membuka ruang di area half-space pertahanan Semarang, yang bisa dimanfaatkan oleh pemain seperti Terens dan Rico untuk masuk ke area berbahaya. Dalam pola menyerang, PSIS cukup sering mengandalkan long ball dan pass through ke area depan, dengan fullback yang ikut naik melakukan underlap. Skema ini bisa menjadi ancaman serius apabila garis pertahanan PSS terlalu tinggi dan tidak sejajar. Karena itu, organisasi lini belakang harus tetap disiplin, kompak, dan tidak mudah terpancing naik terlalu jauh. Di sisi lain, PSIS juga punya kekuatan besar dalam duel udara, terutama lewat Octavio Dutra di jantung pertahanan. Karena itu, menyerang dengan bola-bola atas bukan pilihan yang paling ideal. PSS lebih direkomendasikan untuk membangun serangan lewat kaki ke kaki, kombinasi pendek, dan eksploitasi half-space yang beberapa kali terbuka di pertahanan PSIS. Menariknya, intensitas gegenpressing PSIS yang sangat tinggi di awal pertandingan berpotensi membuat stamina mereka terkuras di fase akhir laga. Dari pengamatan, ketika memasuki menit 35 dan 75 ke atas pada setiap babak, PSIS mulai menurunkan intensitas dan lebih sering bertahan dalam midblock 4-4-2. Momen ini bisa menjadi kesempatan besar bagi PSS untuk meningkatkan tekanan, memasukkan tenaga segar, dan mencari celah terakhir untuk mengunci pertandingan.Semoga kelemahan-kelemahan PSIS ini bisa dimanfaatkan dengan baik oleh PSS Sleman. Bermain tenang, sabar, disiplin, dan berani menyerang ruang bisa menjadi kunci TIKET PROMOSI KE SL ! ALE! Brigata Curva Sud SLEMANIA OFFICIAL Shรธรธt Meme ElangJawa

TuminiBall.FM

16,733 Aufrufe โ€ข vor 3 Monaten

Maguwoharjo Membara! Ribuan Sleman Fans 'Hijaukan' Jalanan Menuju Final Kontra Garudayaksa fc SLEMAN โ€“ Gelombang hijau tak terbendung memadati jalanan menuju Stadion Maguwoharjo, Sleman, malam ini. Ribuan suporter setia PSS Sleman, yang akrab disapa Sleman Fans, tumpah ruah dalam aksi konvoi besar-besaran untuk mengawal tim kebanggaan mereka berlaga di partai puncak final melawan Garudayaksa. Pantauan di lapangan menunjukkan antusiasme yang luar biasa sejak sore hari. Dengan atribut lengkapโ€”mulai dari jersey hijau, syal, hingga bendera raksasaโ€”para suporter bergerak tertib namun penuh semangat. Gemuruh suara knalpot motor yang bersahut-sahutan seolah menjadi "genderang perang" yang membakar semangat juang skuad Super Elang Jawa sebelum peluit kick-off dibunyikan. Konvoi Penuh Energi Tidak hanya sepeda motor, sejumlah mobil bak terbuka dan kendaraan hias juga turut memeriahkan iring-iringan. Beberapa kelompok suporter terlihat menyanyikan chant penyemangat sepanjang jalan, menciptakan atmosfer yang meriah sekaligus emosional. "Ini adalah hari yang kami tunggu-tunggu. PSS Sleman Day! Kami datang bukan sekadar menonton, tapi memberikan energi tambahan bagi para pemain di lapangan. Gelar juara harus tetap di Sleman," ujar salah satu suporter di tengah kerumunan konvoi. Pihak keamanan gabungan telah disiagakan di berbagai titik strategis menuju Stadion Maguwoharjo untuk memastikan arus lalu lintas tetap terkendali. Mengingat besarnya jumlah massa yang datang, skema pengamanan berlapis diterapkan di pintu masuk stadion guna mengantisipasi membeludaknya penonton tanpa tiket. Laga final melawan Garudayaksa diprediksi akan berlangsung sengit. Kedua tim memiliki basis massa yang kuat, namun dukungan penuh dari publik sendiri di Maguwoharjo diharapkan menjadi faktor pembeda bagi PSS Sleman untuk mengunci gelar juara. Hingga berita ini diturunkan, arus suporter masih terus mengalir deras menuju area stadion. Langit Sleman malam ini dipastikan akan berwarna hijau, mengiringi doa dan harapan seluruh masyarakat Sleman untuk kemenangan Super Elja. Penulis: Redaksi Olahraga Foto/Video: Sleman Fans

Merapi Uncover

99,599 Aufrufe โ€ข vor 3 Monaten

Ada yang spesial dari lagu tribun milik suporter PSS Sleman. Bukan cuma soal nada atau seberapa keras dinyanyikan, tapi tentang makna di tiap liriknya. โ€œSetiap jejak yang kutinggalkan, menapaki harum kemenanganโ€ Kalimat ini bukan cuma tentang kemenangan di papan skor. Tapi tentang perjalanan panjang yang dilalui bersama klub yang dicintai. Tentang ribuan langkah menuju stadion. Tentang perjalanan kandang ataupun tandang yang melelahkan. Tentang hujan di tribun, suara yang habis karena bernyanyi, dan rasa bangga yang selalu dibawa pulang, apa pun hasil akhirnya. Karena bagi suporter, setiap jejak yang ditinggalkan bersama PSS selalu punya cerita. โ€œSuper Elja, lihatlah, kami datang di sini. Menemani, berjanji, kamu takkan sendiriโ€ Mungkin ini bagian yang paling menggambarkan arti loyalitas sebenarnya. Di saat banyak orang hanya datang ketika tim sedang menang, tribun Sleman justru dipenuhi mereka yang memilih bertahan saat keadaan sulit. Tetap hadir meski kecewa. Tetap bernyanyi meski lelah. Tetap berdiri walau klub sedang tidak baik-baik saja. Sebab mendukung klub bukan soal siapa yang paling sering merayakan kemenangan. Tapi siapa yang tetap tinggal ketika semuanya terasa berat. โ€œBersamamu, semangatku tak akan berhentiโ€ Dan itulah yang membuat lagu ini terasa hidup ketika dinyanyikan ribuan orang bersama-sama. Karena itu bukan sekadar chant tribun. Itu janji. Janji kalau sebesar apa pun masalah yang datang, PSS tidak akan pernah berjalan sendiri selama masih ada suara-suara yang setia bernyanyi di tribun. โ€œDan pastikan kami sโ€™lalu datang melihatmu menangโ€ Sesederhana itu harapan seorang suporter. Datang ke stadion. Bernyanyi selama 90 menit. Mendukung tanpa henti. Lalu pulang dengan rasa bangga karena klub yang dicintainya berhasil menang. Karena sejatinya, sepak bola bukan cuma tentang pertandingan. Tapi tentang rasa memiliki yang membuat seseorang terus kembali, lagi dan lagi, untuk satu nama yang sama: Super Elja. #PSS #BCSxPSS

404Vids

32,789 Aufrufe โ€ข vor 2 Monaten

FlexiMart dan KESUM, dua inisiatif pertama Ayuh Malaysia telah dibuka kepada orang ramai pada 1 dan 8 November. Dari luar, nampak seperti dua kedai baharu. Di sebalik semua ini sebenarnya satu eksperimen sosial yang penuh risiko. Beberapa minggu sebelum dibuka, kedua-duanya masih โ€œwork in progressโ€. Di KESUM, dapur sempit dan aliran kerja belum teruji. Staf baru hanya sempat direkrut dan dilatih dalam 2โ€“3 hari. Di atas kertas, setiap hidangan mesti siap bawah 5 minit. Di dapur, budaya โ€œasalkan jalanโ€ masih berbaki dan mula berlaga dengan perancangan rapi. Dalam projek sosial begini, setiap keputusan kecil ada harga dan kesan. Satu plug tambahan, satu lampu tak dirancang, sedikit kesilapan dalam susunan aliran dapur, semuanya boleh menolak kos dan menggugat model kenyang, sedap dan murah. Di suatu sudut pula, FlexiMart nampak 70% siap. Kaunter dan rak sudah berdiri, stok mula masuk. Namun, baki 30% itulah yang paling perit, ketika kelemahan kecil dan keputusan yang tertangguh mula menuntut harga. Bagi pengusahanya, FlexiMart bukan sekadar kedai tetapi pertaruhan hidup selepas meninggalkan kerjaya lama dan terjun ke dunia keusahawanan sosial tanpa pengalaman. Di tengah kekalutan ini, satu pasukan kecil, MediaCo dipanggil untuk merakam semuanya. Bukan sekadar poster dan gambar pembukaan, tetapi juga perbualan, kegagalan, kebimbangan dan cara fikir yang membentuk projek ini. Ayuh Originals cuba membuka helaian belakang, bukan sekadar kulit depan. Dulu sistem dibina dari kementerian. Kini, percubaan yang sama dibuat dari lantai kedai, di ruang sempit dapur, di kaunter runcit, dan di kepala orang-orang yang mempertaruhkan masa depan mereka. Episod ke-2 ini merakam detik-detik sebelum pintu dibuka, saat di mana satu eksperimen sosial boleh berubah menjadi kisah kejayaan atau kekecewaan yang hanya ditanggung oleh mereka yang bekerja di belakang tabir. Tonton penuh Episod 2 Ayuh Originals di saluran YouTube saya:

Rafizi Ramli

16,281 Aufrufe โ€ข vor 8 Monaten

๐—Ÿ๐—œ๐— ๐—”๐—จ ๐— ๐—”๐—ก๐——๐—”๐—ฅ๐—œ๐—ก, โ€œ๐—ž๐—”๐— โ€ ๐——๐—”๐—ก ๐—•๐—จ๐——๐—”๐—ฌ๐—” Sebagai Ahli Parlimen, acara tahunan yang paling penting dengan masyarakat Cina bukanlah rumah terbuka Tahun Baru Cina. Yang lagi penting ialah berjumpa mereka untuk memberi limau mandarin sebelum Tahun Baru Cina. Pasar Pagi Taman Muda adalah antara pasar pagi masyarakat Cina yang paling besar dan paling ramai dikunjungi di sebelah timur Selangor. Sebelum saya menjadi Ahli Parlimen, rakan-rakan Cina di Pandan beritahu saya, kalau nak tengok ada peluang menang ke tidak, tengok masa edar limau mandarin di pasar sebelum Tahun Baru Cina. Sejak itu, bermula dari 2012, saya tidak pernah tertinggal bertemu penduduk di Pasar Pagi Taman Muda setiap tahun. Setiap yang kami jumpa, saya akan senyum dan ucap โ€œGong Xi Fa Caiโ€. Kadang-kadang โ€œGong Xi Fa Caiโ€, kadang-kadang โ€œKong Hee Fatt Choiโ€ ha3. Setiap seorang dua biji. Pantang bagi hanya sebiji. Sebab hadiahkan limau mandarin ini ada maknanya kepada masyarakat Cina. Limau mandarin dalam bahasa Hokkien dan Kantonis disebut โ€œkamโ€ atau โ€œgamโ€, yang bunyinya dekat dengan โ€œemasโ€. Memberi limau mandarin melambangkan harapan kita si penerima akan diberikan rezeki yang lebih baik untuk tahun baru. Memberi dua biji limau mandarin bermakna kita berharap rezeki itu berganda-ganda. Selepas 14 tahun, saya amat berterima kasih kepada penduduk Pandan yang masih lagi tersenyum dan menyambut saya dengan gembira, setiap kali saya berjumpa untuk memberi limau mandarin kepada mereka. Ada yang komen saya makin gemuk. Ada yang kata saya sudah kurus. Ada makcik yang masih memanggil saya lengchai sebab dia ingat saya masih lagi budak 30an yang dia jumpa 15 tahun dahulu. Menjadi Ahli Parlimen di kawasan campuran seperti Pandan (50% Melayu dan 50% bukan Melayu) memang ada cabarannya. Isu bagi setiap masyarakat berbeza. Ada sensitiviti yang perlu dijaga. Pendirian kita dalam banyak perkara juga sering dipantau, dengan pandangan yang berbeza dari setiap kumpulan masyarakat. Tetapi ada satu kelebihan. Pengalaman saya memberi khidmat kepada pengundi Cina ini, selalunya tidak memerlukan modal yang besar. Mereka menilai kita berdasarkan konsistensi pendirian kita, usaha kita menyelesaikan masalah setempat seperti longkang dan sampah, serta kelantangan kita menentang rasuah dan melindungi hak rakyat. Mereka tidak menuntut peruntukan, sumbangan dana atau majlis besar-besar untuk mereka. Asalkan kamu buat kerja dan mereka memerhati dari jauh. Semoga keadaan ini kekal dan saya terus disambut senyuman di tahun baru Cina yang mendatang.

Rafizi Ramli

31,338 Aufrufe โ€ข vor 6 Monaten

Catatan Kecil dari Jogjakarta โ€œSang Surya yang Tetap Bersinarโ€ Dua hari lalu, dalam perjalanan singkat ke Yogyakarta untuk kunjungan keluarga, langkahku terhenti di depan sebuah tempat yang dulu begitu besar dalam dunia kecilku , SD Muhammadiyah 1 Bausasran. Sekolah ini berdiri tahun 1917, satu tahun sebelum Muhammadiyah resmi berdiri pada 1918. Saat kecil, aku belum memahami makna sejarah itu. Tapi hari ini, ketika berdiri lagi di depannya, rasanya seperti berdiri di depan pintu sebuah peradaban pendidikan yang lebih tua dari usiaku, lebih tua dari zaman yang kuhuni. Ketika bersekolah di sana selama 6 tahun masa kecilku, bangunannya masih gedung tua peninggalan pemerintah Hindia Belanda , dibangun untuk anak-anak pribumi. Megah dalam kesunyian, kuno, sakral, dan penuh energi masa silam. Di situlah anak-anak didikan Muhammadiyah ditempa sebelum kelak, beberapa di antara mereka, menjadi tokoh-tokoh besar bangsa. Dan salah satu alumni paling mulianya adalah KH. AR Fachruddin (Pak AR), Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang disegani, dihormati, dan dikenang sebagai sosok bersahaja penuh hikmah. Menyadari bahwa aku pernah duduk dan dididik di sekolah yang sama dengannya menghadirkan rasa haru yang tidak bisa diterjemahkan dengan kata. Bukan soal sejajar dan setara, karena tentu aku tak sehebat beliau, tetapi soal garis sejarah yang diam-diam , ternyata menghubungkan murid kecil ini dengan sosok teladan besar. Aku masih ingat kebiasaan lamaku: menengadah ke langit-langit kelas, memandangi kasau-kasau kayu jati kuno yang beberapa di antaranya ditulisi angka 1917. Ada rasa kagum sekaligus kecil: โ€œTernyata tempat ini lebih dulu hidup, jauh sebelum aku datang mempelajari huruf pertama.โ€ Namun, perjalanan waktu tak selalu lembut. Gempa besar yang melanda Yogyakarta tahun 2006 meluluhlantakkan bangunan bersejarah itu , runtuh menjadi puing, tanpa bisa diselamatkan. Dan yang kutemui tahun 2025 adalah bangunan baru, struktur baru, cat baru, ruang baru. Tetapi getaran itu tetap sama. Kesuciannya tidak hilang. Kenangannya tidak rubuh bersama tembok-tembok tua itu. Justru ia berdiri lebih utuh: di hati. Di halaman sekolah, aku berbincang sejenak dengan Ibu Supartiningsih, kepala sekolah hari ini, sementara dari kejauhan terdengar latihan marching band. Sekilas, seperti melihat bayangan diri sendiri tahun 1980: seragam gagah berumbai melekat di tubuh kecilku, tongkat komando bergemerincing di tangan, dan langkah maju yang sedikit gugup, namun tetap maju. Aku pernah jadi majorette marching band SD Muhammadiyah ketika itu. Dalam perjalanan pulang, tanpa direncanakan, mulut ini kembali menyanyikan Mars Sang Surya , lagu pertama yang kuhafal tanpa jeda, tanpa lupa. Ternyata lagu itu bukan sekadar hafalan sekolah. Ia adalah simpul memori: optimisme, keberanian, dan keyakinan bahwa kebenaran tidak perlu berteriak , cukup tetap ada. Tetap jujur. Tetap berdiri. Anda bisa mendengar suara saya yang bergetar menyanyikannya, haru dan bangga, menjadi bagian dari sebuah entitas besar, Muhammadiyah. Kunjungan singkat ini bukan nostalgia kosong. Ini pengingat sunyi bahwa nilai, keyakinan, dan keberanian yang ditanam sejak kecil tidak pernah hilang, bahkan ketika gedungnya runtuh atau zaman berubah. Salam Takzim dr.Tifauzia Tyassuma,

Dokter Tifa

23,826 Aufrufe โ€ข vor 8 Monaten

Di pelataran Balai Kota Malang, ratusan roda berputar dalam ritme yang sama pada Jumat malam (31/7/26). Mereka bukan sedang berlomba, melainkan sedang merajut kembali serpihan ruang kota yang kian bising oleh deru mesin. Malam itu, "Critical Mass" atau yang akrab disebut "Friday Freeday" kembali memanggil jiwa-jiwa yang rindu akan kebebasan di atas pedal sepeda. Critical Mass sejatinya bukanlah demonstrasi yang penuh amarah. Ia adalah sebuah perayaan eksistensi. Sebuah pernyataan tanpa suara bahwa jalan raya bukan hanya milik mereka yang berbahan bakar fosil. Ketika ratusan pesepeda menyatu, mereka berubah dari sekadar "hambatan lalu lintas" menjadi "lalu lintas itu sendiri". Di sinilah esensinya: menghadirkan rasa aman yang kolektif, merebut kembali hak jalan yang sering kali terabaikan dalam tata kota yang egois. Dari sumbu Balai Kota, lautan lampu sepeda mulai mengalir syahdu membelah temaram kota. Mereka melintasi Kayutangan, di mana jejak kolonial menyatu dengan tawa para pesepeda. Rombongan bergerak anggun menuju Jalan Semeru, lalu merayap di bawah rindangnya pohon-pohon palem Ijen yang legendaris. Tak ada sekat di sini. Sepeda tua, sepeda lipat, hingga road bike kekinian melebur dalam harmoni kayuhan yang magis. Perjalanan berlanjut menyusuri Jalan Veteran dan memotong ramainya Jalan Soekarno-Hatta. Di bawah lampu-lampu jalanan, siluet para pesepeda tampak seperti kunang-kunang kota yang sedang bermigrasi. Melewati Jalan Borobudur dan koridor panjang Letjend S. Parman, kepulan asap kendaraan seolah menyerah pada kesegaran angin malam yang dibawa oleh barisan roda dua ini. Mereka adalah pengingat hidup tentang bagaimana kota seharusnya bernapas. Malam itu akhirnya mengatupkan kisahnya di Alun-Alun Merdeka Kota Malang. Saat kayuhan terakhir berhenti, ada kepuasan yang tertinggal di aspal jalanan. Critical Mass malam itu telah usai, namun pesan puitisnya akan terus bergulir: bahwa keindahan sebuah kota tidak diukur dari seberapa cepat mesinmu melaju, melainkan dari seberapa ramah jalanannya menyambut setiap kayuhan manusia. . . ๐ŸŽฅ izin_cuti

Malang Raya Info

15,140 Aufrufe โ€ข vor 19 Tagen