Loading video...

Video Failed to Load

Go Home

𝙎𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙩 𝙥𝙖𝙜𝙞 𝙨𝙤𝙗𝙖𝙩 𝙎𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙨𝙚𝙝𝙖𝙩 𝙨𝙚𝙟𝙖𝙝𝙩𝙚𝙧𝙖 𝙈𝙖𝙧𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙟𝙖𝙧 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙧𝙪𝙗𝙖𝙝 𝙣𝙞𝙖𝙩𝙢𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 "𝘽𝙖𝙟𝙞𝙣𝙜𝙖𝙣 " 𝙃𝘼𝙆𝙀𝙆𝘼𝙏 𝘽𝙀𝙇𝘼𝙅𝘼𝙍 Belajar itu .... Tak hanya membaca buku atau mendengar hal-hal yang baru. Namun juga memperbaiki kesalahan yang kita lakukan, ditegur setelah kita keliru Belajar itu, tak hanya ketika...

28,979 views • 9 days ago •via X (Twitter)

0 Comments

No comments available

Comments from the original post will appear here

Related Videos

HANYA SUARA YANG KITA PUNYA ☝🏻 Jangan pernah anggap enteng suara. Karena lewat suara, kita bisa didengarkan dan kita bisa memaksa penguasa untuk menuruti apa kehendak rakyatnya. Jangan mau suara kita hanya dihargai 5 tahun sekali, dibilik suara doang atau pada saat pilkada. Jangan mau suara kita hanya dianggap berharga 100 atau 200 ribu atau dapat jilbab pada saat kampanye. Biasanya modusnya itu kan bagi-bagi kaos partai atau bagi-bagi jilbab bagi yang perempuan. Jangan mau kita hanya dikerdilkan sebatas fans yang bisa berbaris seperti itik. Hati-hati sebentar lagi pemilu, suara kita akan diperebutkan dengan berbagai macam cara. Mari ingat pengalaman yang dulu. Untuk apa mati-matian membela satu atau dua ketika akhirnya berkumpul juga. Buat apa musuh-musuhan sampai seolah-olah dunia akan berhenti, kalau yang kalah dengan yang menang akan bergabung atas nama demi bangsa. Jadi ngga usah, ngga usah terlalu baper atau terlalu mati-matian membela tokoh idola. Karena sekali lagi, hitung-hitungan mereka terkadang bukan kita hitung-hitungan untung rugi pak. Untung rugi kalkulasi politik aja, karenanya jangan mau dimanfaatkan hanya suara di 5 tahun sekali, tetapi gunakan suara terutama itu di hari-hari ini. Ketika ancaman kita untuk bersuara, mungkin saja akan dibatasi lewat rancangan undang-undang hukum pidana, dimana semua bisa kena. Terlalu berharga suara kita dan saya selalu bilang, cuma itu yang kita punya. Negara punya yang lain, negara punya kuasa, negara punya tentara, negara punya uang, kita punya apa? Kita punya suara dan yang harus kita waspadai adalah ketika kita terlalu takut dan berusaha mengecilkan suara kita, padahal yang kita butuhkan justru teriakan-teriakan. Jadi ya menjadi pemimpin, menjadi presiden itu bagus, niat mulia. Tetapi perhatikan suara-suara orang yang juga tidak punya kuasa, tetapi yang kalau berkumpul bisa berdaya. Jadi mari, mari rapatkan barisan, mari rapatkan barisan. Dan jangan mau ditipu tipu! Jangan mau dipergunakan hanya suaranya, tetapi ketika kita menuntut hak-hak kita yang paling dasar, sedasar kebebasan berekspresi dan berbicara itu kita tidak didengarkan. Tetapi kakak mau menegaskan ini adik-adik... Pergerakan jangan hanya sebatas kerumunan, pergerakan terutama gerak mahasiswa, jangan hanya sebatas kumpul-kumpul berkerumun. Ya demonstrasi perlu dan harus terus dilakukan kalau memang strateginya seperti itu. Anak muda hari-hari ini adalah anak muda yang seharusnya pintar memilih dan memilah informasi mana yang sampah. Banyak sampah sekarang di dunia maya dan mana yang fakta, mana yang berita, mana yang opini, dan hati-hati mana yang propaganda. Dan kalau sudah yakin, sampaikan itu dengan lantang, jangan mau ditakut-takuti! Polisi suruh urus dulu tuh Ferdy sambo. Sepanjang kita tahu apa yang kita lakukan benar, kita tidak merugikan orang lain, jangan mau ditakut-takuti dengan pasal. Kita juga bisa belajar pasal, kita juga tahu apa hak kita sebagai warga negara, kalau tidak tahu ya cari tahu. Jadi jangan mau gampang ditakut-takuti dengan cara itu, kita bisa berdaya dan kita bisa memberdayakan orang lain. Dan harusnya itu ultimate goals kita dalam hidup, bukan hanya memperbaiki kualitas hidup kita sendiri, tetapi bagaimana kita bisa memperbaiki kualitas hidup orang lain. Dan itu bisa dilakukan tanpa jabatan formal, tanpa jadi presiden, tanpa jadi menteri, tanpa jadi anggota DPR, tanpa perlu pangkat yang tinggi. Kita bisa melakukan itu dalam tindakan kecil seharian sekalipun, karena kuncinya sebetulnya peduli dan bersatu. Kutipan yang selalu saya tunjukkan ke setiap mahasiswa ketika Bung Hatta bilang seperti ini, "Peduli dan bersatu itu adalah kunci, karena kalau tidak, Indonesia hanya seperti seuntaian gambar di peta". #TolakPartaiPendukungRUUKesehatan #TolakUUKesehatan

Eva Sri Diana Chaniago

26,046 views • 3 years ago

Hai teman-teman Wolfpack💙🐺 Maaf baru hadir dan menyapa kalian, lelah yaa, capek kan pasti? Kalau kalian mau memutuskan rest, ga papa istirahat ajaa dulu.. berhenti dari fangirling bukan berarti kamu jahat, cuma memang kesehatan mental diri sendiri lebih baik, Aku disini hadir sebagai support system untuk Harry, aku ingin ada disemua fase perjalanan kariernya. Manusia jelas pernah melakukan kesalahan, tapi aku rasa Harry bukan seseorang yang bisa disalahkan dalam kondisi ini, dia selalu mengusahakan yang terbaik untuk menyenangkan kita, dari dulu, dia selalu ada bersama kita, dari repost meme yang lucu-lucu, reply setiap project yang dilakukan oleh fans nya dengan bangga, mengajak fans untuk terus perduli dengan sekitar kita, dan masih banyak lagi. Aku disini hanya sebagai fans, yang mendukung semua hal yang dia lakukan, aku tidak akan mengurusi hal-hal diluar itu, kehidupan pribadinya dll. Karena Harry juga sama seperti kita, dia manusia juga, dan kesempurnaan itu hanya milik Tuhan, tetapi manusia akan belajar dari kesalahan. Manusia pasti pernah melakukan kesalahan, tapi dari kesalahan kita bisa tumbuh dan berkembang, dari kesalahan kita bisa belajar menerima bahwa kadang dunia ini jahat ke kita, tapi dari jahatnya dunia kita bisa jauh lebih kuat. Kalian bisa merasa kecewa, kalian berhak merasa kesal, marah, tapi satu pesan aku, beliau hanya manusia, sama seperti kita, itu aja, Dan soal yang aku tekankan, aku disini hanya untuk Harry Vaughan, untuk mendukung setiap project, setiap event, atau apapun yang dia lakukan layaknya fans, jadi mungkin aku bukan seseorang yg bisa kalian jadikan tempat untuk membenarkan opini, aku disini hanya fans sama seperti kalian, Komunitas Wolfpack aku bentuk untuk memberikan ruang nyaman kepada kalian untuk menunjukan rasa sayang dan cinta kalian kepada Harry, ini bukan sekedar komunitas, ini adalah rumah. Kalau kalian lelah, capek, ga papa main keluar rumah, tapi nanti kalau hatinya sudah lebih baik, rindu rumah, rumah ini akan selalu terbuka untuk kalian, Dan Wolfpack yang masih bertahan, kalian hebattt!! Kita jalan sama - sama yaa💙🐺

tata

28,466 views • 9 months ago

Cinta Laura dalam sesi TEDxUPH ungkap jika saat ini dengan kemajuan teknologi, justru rasa "bosan" yang dulu ada di diri manusia kian tergerus, "Kalau ada satu hal yang ingin aku bawa kembali ke hidup kita, itu bukan productivity hack, bukan morning routine yang baru, tapi rasa "bosan". Teknologi telah menghapus rasa bosan dari hidup kita. dan aku rasa kita tidak sepenuhnya memahami apa yang telah hilang dari diri kita. Coba pikirkan kapan terakhir kali kamu duduk dalam diam dan benar-benar tidak melakukan apa-apa. Aku pikir, banyak dari kita yang kesulitan untuk mengingatnya.Neurosains modern juga mendukung hal ini. Saat otak tidak terus-menerus dibanjiri informasi baru ia masuk ke kondisi yang berkaitan dengan kreatifitas, memori dan kemampuan menghubungkan berbagai ide. Namun saat ini kita menjadi begitu tidak nyaman dengan ketenangan hingga kita keliru menganggap stimulasi sebagai produktifitas dan distraksi adalah istirahat Mungkin itu alasannya kita tahu begitu banyak tentang hidup orang lain, tetapi justru kesulitan untuk mendengar pikiran kita sendiri. Oleh karena itu sekarang aku selalu menanyakan tiga hal pada diriku sebelum mengambil keputusan besar Apa yang akan tetap aku kejar kalau tidak ada seorang pun yang melihat? Apa yang rela aku jalani, meski aku harus buruk dalam hal itu untuk waktu yang sangat lama? Karena yang terbaik, pasti membutuhkan waktu yang lama. Dan terakhir, siapa lagi yang akan ikut merasakan manfaatnya kalau aku menjadi versi terbaik dari diriku. Ini adalah pertanyaan yang mengubah segalanya. Karena ketika tujuanmu hanya tentang dirimu sendiri pada akhirnya semuanya akan terasa hampa. Ego membuat kita terpisah, tujuan mengubungkan kita"

folkative

33,495 views • 27 days ago

Rasa Sakit Rasa sakit tidak selalu berupa luka di tubuh. Kadang ia hadir lebih halus, lebih menusuk, karena merenggut sesuatu yang kita cintai. Jon Bongiovi, vokalis Bon Jovi, merasakannya ketika suara emasnya perlahan melemah. Nada tinggi yang dulu ia panjat dengan gagah kini terasa berat, bahkan mustahil. Kabarnya karena tahunan menyanyi dengan teknik keliru. Namun ia tak berhenti. Ia beradaptasi, mengubah aransemen, membiarkan band-nya tumbuh bersama keterbatasannya. Kuncinya: berdamai dan beradaptasi. Whitney Houston pernah menjadi lambang keindahan suara. Namun menjelang akhir hidupnya, ia ditinggalkan penonton kecewa karena suaranya porak-poranda. Penyebabnya bukan sekadar waktu, melainkan jeratan drugs yang merusak. Dari Whitney kita belajar pahitnya kenyataan: anugerah sehebat apa pun bisa runtuh bila tak dijaga. Ini adalah luka yang lahir dari tangan sendiri. WS Rendra, sang Burung Merak, menghadapi rasa sakit lain. Ia berkata bahwa yang hilang darinya bukan tenaga atau suara, melainkan rasa keindahan. Bayangkan, seorang penyair yang tak lagi mampu merasakan indahnya kata-kata. Itu lebih pedih dari sekadar demam. Ia pulih setelah meneguk air putih yang difatehahi. Dari Rendra kita belajar: ada sakit yang hanya bisa disembuhkan oleh doa, oleh keyakinan, oleh hubungan dengan Yang Maha Indah. Rasa sakit punya wajah beragam. Ada yang lahir dari tubuh, ada dari kelalaian, ada dari jiwa yang kehilangan arah. Namun semua sakit punya benang merah: mengingatkan kita akan rapuhnya manusia, dan betapa berharganya anugerah yang masih kita miliki. Jangan remehkan apa yang ada pada diri hari ini. Do not underestimate what you already have. Semuanya bisa hilang dalam sekejap. Yang tak boleh hilang adalah rasa syukur. اللَّهُمَّ اشْفِ صُدُوْرَنَا مِنْ كُلِّ وَجَعٍ، وَأَلْهِمْ قُلُوْبَنَا صَبْرًا جَمِيْلًا، وَارْزُقْنَا شُكْرَ النِّعْمَةِ قَبْلَ أَنْ تَزُوْلَ. Ya Allah, sembuhkanlah dada kami dari segala sakit, ilhamkanlah hati kami dengan kesabaran indah, dan anugerahkanlah kami rasa syukur sebelum nikmat itu Engkau cabut. Tabik, Nadirsyah Hosen

Nadirsyah Hosen

11,920 views • 11 months ago

🚨 Thierry Henry di CBS Sports Golazo ⚽️ setelah insiden penghinaan rasial Vinícius Júnior dalam laga Benfica-Real Madrid kemarin: “Dengarkan, saya akan mengatakan sesuatu yang cukup kuat di sini. Saya tidak suka Real Madrid, tetapi saya seorang madridista malam ini. Saya tidak peduli dengan seragam apa yang dikenakan Vinícius Júnior. Saya tidak ingin melihat itu. Saya juga mendengar beberapa orang bilang bahwa itu selalu terjadi padanya… Lalu kenapa? Jadi pertanyaannya, yang ingin kamu ubah itu subjeknya atau situasinya? Mari kembali ke inti persoalannya.” “Apa yang telah dikatakan? Dikatakan bahwa Vinícius Jr. adalah monyet. Kita lagi membicarakan apa? Apa yang harus kita lakukan? Dan di atas itu, dia tidak bisa merayakan golnya? Mengapa kita di sini? Apa yang kita bicarakan?” “Bukan, ini bukan menggeneralisasi tentang Benfica sebagai klub. Tidak ada yang membicarakannya. Kita semua punya rasa hormat terhadap Benfica. Tetapi, individu itu harus bertanggung jawab atas apa yang ia katakan.” “Dia tidak bisa keluar lalu berkata ‘Saya tidak mengatakan apa-apa’, nah kenapa kamu menutup mulutmu saat itu? Saya tidak suka berspekulasi. Saya percaya pernyataan Kylian [yang menyebut bahwa ia mendengar Prestianni memanggil Vini Jr dengan sebutan monyet]. Dia meninggalkan pesan untuk saya, ngomong-ngomong. Saya tidak sabar untuk mendengarnya. Saya biasanya tidak membicarakan apa yang saya lakukan di telepon dan sebagainya, kalian tahu itu, tapi ini penting.” “Saya akan menelponnya [Kylian Mbappé] dan saya ingin tahu apa yang dikatakan orang itu [Prestianni]. Tapi pada saat yang sama kita punya video buktinya. Cukup sudah.” “Ini permainan yang indah. Tapi kadang-kadang aturan yang kita miliki dalam permainan ini jauh dari apa yang orang lihat di dalam permainan. Apa itu? Kita di sini untuk mencetak gol atau membuat orang bahagia, tapi ketika seorang terluka, kita tidak bertindak, kita malah menyalahkan orang itu.” “Serius, apa yang kita bicarakan? Golnya menghentikan permainan ini? Itu yang kita dengar malam ini. Sebenarnya, golnya membuat saya terkejut, itu yang dia lakukan. Gol itu yang ingin saya lihat [bukan insiden rasismenya].”

Seputar Real Madrid

32,106 views • 5 months ago

Ketika Allah yang Mencari “Akulah para pencari-Mu, ya Allah” — lirik lagu Ungu itu menggema di hati banyak orang. Betapa indah membayangkan diri sebagai musafir yang berjalan di padang luas kehidupan, menelusuri jejak menuju Sang Kekasih. Kita memohon, kita mengetuk, kita berlari, berharap menemukan Dia di balik kabut takdir. Namun, pernahkah kita merenung bahwa ada kisah yang lebih dahsyat dari sekadar manusia mencari Tuhan? Bahwa ada hamba-hamba tertentu yang justru Allah-lah yang mencari mereka. Para pecinta biasanya mencari yang dicinta, tapi dalam cinta Ilahi, terkadang Sang Kekasih yang lebih dahulu mendekat, mengetuk hati, dan menyingkap tabir rahasia. Ibn ‘Aṭā’illāh as-Sakandarī mengajarkan, إِذَا فَتَحَ لَكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلَا تُبَالِ مَعَهَا أَنْ قَلَّ عَمَلُكَ، فَإِنَّهُ مَا فَتَحَهَا لَكَ إِلَّا وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يَتَعَرَّفَ إِلَيْكَ Jika Allah membukakan bagimu satu jalan untuk mengenal-Nya, maka janganlah resah jika amalmu terasa sedikit. Sebab, Dia tidak membukanya kecuali karena Dia ingin memperkenalkan diri-Nya kepadamu Kalimat ini mengguncang kesadaran. Betapa sering kita mengukur hubungan dengan Allah lewat hitungan amal, jumlah rakaat, panjang wirid, atau banyaknya sedekah. Padahal, di balik segala hitungan itu, ada satu rahmat agung yang tidak pernah bisa kita pesan atau rencanakan: dibukanya pintu ma‘rifat. Itu adalah undangan langsung dari-Nya. Bukan hasil tawar-menawar, bukan sekadar upah dari jerih payah. Ada hamba yang tak menonjol di mata manusia, amalnya sederhana, doanya lirih, tapi hatinya tiba-tiba tercerahkan — karena Allah ingin dikenal olehnya. Maka, jika suatu hari dada terasa lapang saat mengingat-Nya, air mata menetes tanpa sebab ketika nama-Nya disebut, atau hati tenang meski dunia berguncang, ketahuilah: itu bukan kebetulan. Itu tanda Dia sedang mendekat. Itu pesan cinta yang dibisikkan ke relung jiwa: Aku mencarimu Dan di titik itu, kita belajar bahwa perjalanan menuju Allah bukan hanya soal kaki yang melangkah, tapi hati yang dijemput. Bukan hanya soal kita mencari, tapi soal merasakan ketika Dia sendiri yang mendatangi Allah Karim 🙏🏻 Tabik, Nadirsyah Hosen

Nadirsyah Hosen

11,410 views • 11 months ago

Panutan Kita sering mengidolakan seseorang sebagai panutan. Tetapi ketika satu tindakannya tidak sesuai harapan, kita langsung meradang, seolah keteladanan yang kita bayangkan runtuh seketika. Padahal hidup adalah soal pilihan, termasuk memilih sisi mana yang ingin kita kenang dari seseorang: pencapaiannya yang menginspirasi, atau kekurangannya yang membuatnya tampak jatuh di mata kita. Ambil contoh Diego Maradona. Kita bisa memilih mengingatnya sebagai pencipta “Gol Tangan Tuhan”, ketika ia dengan sadar melakukan kecurangan di Piala Dunia 1986. Ia merayakan kecurangan itu, wasit mengesahkannya, dan rakyat Inggris tentu punya alasan kuat untuk mengingat sisi buruk tersebut. Gol curang Maradona membuat tim Inggris tersingkir. Namun dunia lebih memilih untuk mengingat gol keduanya pada pertandingan yang sama, gol yang sering disebut sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah sepak bola. Maradona menggiring bola melewati lima atau enam pemain Inggris dengan kelincahan dan kontrol yang nyaris tak masuk akal. Pada momen itu, ia tampil sebagai seorang jenius sepak bola. Satu pertandingan, dua sisi: sebuah kesalahan dan sebuah kejayaan. Lalu, yang mana yang ingin kita kenang? Mungkin yang keliru bukan Maradona, tetapi cara kita membingkai kebesaran seorang panutan. Kita kerap lupa bahwa mereka juga manusia, memiliki potensi untuk tergelincir, sekaligus kemampuan untuk bangkit dan menciptakan kebaikan. Itu sebabnya salah satu tafsir terhadap firman Allah QS Baqarah: 222 “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang terus-menerus bertaubat”—adalah bahwa Allah menyukai hamba yang pernah melakukan kesalahan, tetapi tidak berhenti kembali, yang taubatnya berulang-ulang karena ia sadar bahwa dirinya manusia yang mudah jatuh tetapi tak pernah menyerah untuk bangkit. Dengan kata lain, kebesaran itu bukan milik yang tidak pernah salah, tetapi milik mereka yang tidak berhenti memperbaiki diri.

Nadirsyah Hosen

20,163 views • 8 months ago

SUDAH TAU BELUM…? Bahwa ikan yg ribuan tahun lalu menelan Nabi Yunus As itu ternyata mash hidup sampai sekarang, bahkan sampai hari kiamat. Hal ini sudah dijelaskan dalam al-Qur'an : “Andai Yunus itu tidak beristighfar, tentu ia akan tinggal dalam perut ikan tersebut sampai hari kebangkitan”.. Sudah Tau Belum....? bahwa janin semasa dalam kandungan perut ibunya, dia dilihatkan perjalanan hidupnya mulai dr lahir sampai mati, karena itu, terkadang ketika kita berkunjung ke beberapa tempat yang baru, tp seolah tempat tersebut sudah tidak asing bagi kita. Sudah Tau Belum.....? di saat bersin, seluruh anggota tubuh kita berhenti berfungsi, seolah mati, ini terjadi dalam hitungan detik, setelah itu berfungsi normal kembali, inilah kenapa dalam islam di sunnahkan membaca alhamdulillah setelah bersin, sebagai ungkapan syukur atas berfungsinya kembali seluruh anggota badan kita. Sudah Tau Belum.....? menguap itu bukan tanda bahwa kita mengantuk, tapi itu adalah pertanda bahwa tubuh kita butuh tambahan oksigen Sudah Tau Belum.....? bahwa memakan kurma dalam jumlah genap itu akan menghasilkan gula darah, karena itu Rasulullah menganjurkan kita untuk memakannya dalam jumlah ganjil, agar berubah menjadi karbohidrat. Sudah Tau Belum....? bahwa tepat setelah dikumandangkannya azan itu adalah waktu yang mustajab untuk berdoa… Sudah Tau Belum.....? bahwa tepat setelah dikumandangkannya azan itu adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Sudah Tau Belum.....? di mana dosa-dosa kita diletakkan ketika kita shalat? Nabi Muhammad saw bersabda: "sesungguhnya seorang hamba ketika menunaikan shalat, dia membawa serta semua dosa-dosanya, kemudian dosa-dosa itu d taruh di atas kepala dan kedua pundanya, maka ketika tiap kali ia ruku' atau sujud berjatuhanlah dosa-dosa tersebut". Wahai orang-orang yang biasa tergesa-gesa dalam shalatnya, tenanglah... dan tahanlah lebih lama ruku' dan sujudmu, agar lebih banyak lagi berguguran dosa-dosamu. Sudah Tau Belum.....? diceritakan ada seorang wanita soleha yg meninggal, maka tiap kali penduduk desa ziarah kubur, mereka mencium harumnya mawar dr dalam kubur, kemudian suaminya menjelaskan, bahwa istrinya it semasa hidup selalu membaca surah al-mulk, setiap mau tidur.. sesungguhnya surat al-mulk itu menyelamatkan dari siksa kubur. Sudah Tau Belum.....? ketika kita membaca ayat kursi tiap usai shalat, maka tidak ada penghalang antara kita dan surga kecuali maut. Sudah Tau Belum.....? bahwa para malaikat mendoakan kita ketika usai shalat, karena itu jangan terburu untuk beranjak dari posisi duduk shalat kita. Ini imu agama... Silakan Share sebanyak-banyaknya untuk diketahui yang lain, semoga menjadi ladang amal jariah, fastabiqul khairat…!!🤲

𝐋𝐈𝐑𝐀 ⁽ᴼᶠᶠⁱᶜⁱᵃˡ⁾

245,528 views • 2 years ago

Tanda Ilahi Menunggu tanda dari Allah adalah bagian paling sunyi dari iman. Saat usaha sudah kita kerahkan, doa tak pernah absen, tetapi jawaban belum juga menampakkan diri. Di fase ini, kita tidak lagi bersandar pada kepastian apa pun, selain keyakinan sederhana: Allah tidak pernah lalai akan permohonan hambaNya. Diam bukan hampa, sering kali ia adalah ruang tempat Allah merapikan hati kita sebelum Dia menunjukkan arah. Dalam hidup, tanda itu jarang datang dengan suara keras. Ia bisa berupa pertemuan singkat yang membuka cara pandang baru, kegagalan yang memaksa kita berhenti lalu berbelok, atau rasa tenang yang turun tiba-tiba saat tubuh dan jiwa sama-sama lelah. Bahasa Allah sering samar, tapi bagi hati yang jujur, ia terasa nyata. Tanda ilahi juga tidak selalu dramatis. Kadang ia hadir setelah shalat, dalam ketenangan yang tak bisa dijelaskan. Kadang lewat jalan yang sengaja dimacetkan, agar kita tidak sampai ke tujuan yang salah. “Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat” (QS. Al-Baqarah [2]: 45). Seolah Allah berkata: menunggu tanda ilahi dengan sabar pun adalah ibadah. Menunggu tanda berarti belajar berhenti memaksa hasil. Belajar percaya bahwa Allah tahu kapan kita siap. Bukan hanya kapan kita ingin. Pada akhirnya, tanda dari Allah bukan sekadar jawaban. Ia adalah cara-Nya membesarkan jiwa, melapangkan dada, dan menjaga harapan tetap hidup, bahkan ketika segalanya terasa diam dan kelam. Terima kasih, Yura, untuk lagu yang menemani penantian tanda-tanda ilahi ini. 🙏🏻 Tabik, Nadirsyah Hosen

Nadirsyah Hosen

98,455 views • 6 months ago

𝗢𝗥𝗔𝗡𝗚 𝗟𝗔𝗜𝗡 𝗕𝗔𝗚𝗜 𝗡𝗔𝗦𝗜𝗛𝗔𝗧 𝗞𝗔𝗧 𝗚𝗘𝗡𝗭, 𝗗𝗜𝗔 𝗣𝗨𝗡 𝗡𝗔𝗞 𝗕𝗔𝗚𝗜 𝗡𝗔𝗦𝗜𝗛𝗔𝗧 𝗝𝗨𝗚𝗔𝗞 Saya kena serang dengan siswa dari Fakulti Ekonomi, Universiti Malaya minggu lepas. Bertalu-talu soalan sehingga tak sempat menepis. Kena serang dengan ceplos pun tak seteruk ni. Saya nampak adik-adik siswa ni cerdik-cerdik, baik-baik, selalu hadir ke kuliah, besar kemungkinan lebih tinggi kehadiran ke kuliah berbanding saya di uni dulu. Soalan wajib yang mesti ditanya oleh siswa-siswa bila serbu Ahli Parlimen: 𝗔𝗽𝗮 𝗻𝗮𝘀𝗶𝗵𝗮𝘁 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗸𝗮𝗺𝗶 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝘂𝗺𝘂𝗿 𝘀𝗲𝗸𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴? Saya bagi dua nasihat sahaja yang sempat tadi: 𝘕𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢: Apa yang kita susah payah belajar di universiti tidak semuanya akan dipraktikan bila mula bekerja. Memang nak lulus cemerlang kena mahir semua, segala teori, formula, campur kira, fakta nak kena tahu. Tapi yang lebih penting ialah kemahiran berfikir dan kemahiran menyelesaikan sesuatu masalah. Di tempat kerja, masalah yang perlu diselesaikan bukanlah seperti yang ada dalam buku teks. Kadang-kadang masalah staf sama staf bermasam muka, tak de dalam buku teks ni. Tetapi universiti dan ijazah mengajar kita kemahiran berfikir. Dari kemahiran itu kita tahu punca, apa teknik, tools dan ilmu yang kita ada untuk menyelesaikan masalah. Perkara terperinci itu selalunya ada saja rujukan - dalam buku, tanya senior, Google, ChatGPT dan macam-macam. 𝘕𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢: Lebih banyak bergaul dengan orang yang lebih berumur dari kita, walaupun mereka ni bosan di mata kita. Kita rasa mereka ketinggalan zaman, semua tak boleh, baju pun out of fashion. Tetapi bila mula-mula masuk kerja, kita akan bersaing dengan ratusan lagi graduan yang masuk kerja dengan kita, ijazah semua sama hebat macam kita. Kalau boss nak kenal pasti potensi semata-mata dari latar belakang akademik atau hasil kerja, semua nampak hampir sama. Pada umur 25 tahun, kita akan menonjol apabila kita nampak lebih matang dari umur 25 tahun. Matang tu bukan bermaksud rambut dah beruban atau dah botak macam saya. Matang maksudnya gaya percakapan, isi percakapan, lontaran idea, mutu kerja itu macam budak ni dah kerja 5 tahun, setanding dengan yang umur 30an. Jenis macam ini akan menonjol serta merta dan dilihat ada potensi besar. Macam mana nak nampak macam dah kerja 5 tahun padahal baru keluar universiti 6 bulan? Sebab itu bergaul dengan orang yang lebih tua, lebih berpengalaman akan memberi peluang kita mencedok ilmu mereka dan pengalaman mereka. Lama-lama kita pun bunyi tua dan berpengalaman macam mereka. Budak-budak universiti yang nak lepak dan sembang benda-benda macam ni, bolehlah cuba contact saya. Macam mana nak contact saya - ha3 yang tu universiti tak ajar.

Rafizi Ramli

24,247 views • 6 months ago

🚨 Vincent Kompany (Kepala pelatih FC Bayern) mendukung Vini Jr. dan mengkritik komentar José Mourinho. “Ini adalah topik yang sulit. Saya menonton pertandingan itu dan benar-benar tertarik dengan apa yang terjadi. Ada dua komponen berbeda dalam cerita ini. Pertama, apa yang terjadi di lapangan... kedua, apa yang terjadi dengan para suporter. Lalu ada juga apa yang terjadi setelah pertandingan. Kita harus memisahkannya.” “Ketika melihat kejadian di lapangan dan bagaimana reaksi Vini, reaksi itu tidak bisa dibuat-buat. Terlihat jelas itu reaksi yang emosional. Saya tidak melihat ada keuntungan baginya untuk mendatangi wasit dan membawa semua beban itu di pundaknya. Pada momen itu dia merasa itu adalah hal yang benar untuk dilakukan.” “Kylian Mbappé biasanya selalu bersikap diplomatis, tetapi kali ini dia sangat jelas tentang apa yang dia lihat dan dengar.” “Lalu ada pemain Benfica yang menyembunyikan apa yang dia katakan dengan menutup mulutnya menggunakan bajunya. Di stadion juga terlihat ada orang-orang yang melakukan gestur monyet, itu ada di videonya.” “Bagi saya, yang terjadi setelah pertandingan bahkan lebih buruk. José Mourinho pada dasarnya menyerang karakter Vini Jr dengan membawa-bawa gaya selebrasi Vini untuk mendiskreditkan apa yang dia lakukan saat itu. Itu kesalahan besar dari sisi kepemimpinan.” “Selain itu, Mourinho menyebut nama Eusébio. Dia mengatakan Benfica tidak bisa rasis karena pemain terbaik mereka sepanjang masa adalah Eusébio. Tahukah Anda apa yang harus dialami para pemain kulit hitam di era 60-an? Apakah dia ikut bepergian bersama Eusébio di setiap laga tandang dan melihat apa yang dia alami? Menggunakan namanya hari ini untuk menyampaikan argumen tentang Vini Jr adalah hal yang tidak tepat.” “Sejujurnya, saya merasa tidak ingin terjebak dalam kubu mana pun dari berbagai hal yang terjadi saat ini. Saya bertemu dengan banyak orang yang pernah bekerja dengan José Mourinho, dan saya belum pernah mendengar satu pun mengatakan hal buruk tentangnya. Semua pemainnya mencintainya.” “Saya memahami pribadi seperti apa dia, saya tahu dia selalu membela klubnya. Saya yakin jauh di dalam dirinya dia orang yang baik. Saya tidak perlu menghakiminya soal itu.” “Tetapi saya juga tahu apa yang saya dengar. Saya memahami apa yang dia lakukan, tetapi dia membuat kesalahan. Semoga itu tidak terjadi lagi di masa depan, dan kita bisa melangkah maju bersama.” 👏 Bayern & Germany

Seputar Real Madrid

69,651 views • 5 months ago

aku beneran gapernah merasa perlu ngatur siapa yang harus didukung atau gimana seseorang harus memandang semua ini. tapi tolong, jangan sampe pilihan 6 orang ini dianggep sebagai sesuatu yang yaudah aja gitu... mereka juga lagi jalanin keputusan yang mereka ambil sebagai seorang artis, sebagai profesional, dan sebagai orang-orang yang setiap harinya memilih bangun tidur lalu kembali memperjuangkan nama yang sama. kalo dipikir-pikir, mereka sebenernya gapernah juga minta siapapun untuk langsung nerima perubahan ini. mereka juga gapernah maksa orang biar cepet-cepet merasa baik-baik aja. mereka cuma terus kerja. terus latihan. terus perform. terus nunjukin lewat tindakan bahwa mereka masih mau perjuangin nama enhypen. dan itu bikin aku juga mau belajar melakukan hal yang sama... belajar memberi ruang bagi apa yang lagi mereka bangun hingga hari ini. aku berharap, akan semakin banyak orang yang bisa melihat 6 orang ini bukan hanya dari apa yang udah hilang, melainkan dari keberanian mereka untuk tetep menjaga apa yang masih ada. kepercayaan itu juga butuh timbal balik. kalo nanti waktu beneran bisa buktiin bahwa langkah yang mereka pilih berhasil bawa enhypen terus tumbuh, semoga itu bukan jadi kemenangan untuk ngebuktiin siapa yang bener atau salah. semoga itu hanya jadi bukti bahwa orang-orang yang memilih bertahan juga pantes dapetin dukungan, kesempatan, dan kepercayaan yang sama besarnya. hubungan antara artis dan fansnya gak pernah bener-bener berjalan satu arah. mutualisme disini adalah sebuah hubungan yang saling sokong menyokong, supaya rumah yang udah dibangun bareng-bareng selama bertahun-tahun ini bisa tetep jadi tempat untuk kita semua pulang, selama mungkin yang kita bisa.

lucky frows ݁˖⚘

15,104 views • 27 days ago

SIMPLE and Cheers to Youth are a perfect portrayal of us who grew up in this cruel world. Dua lagu tentang proses berpikir Woozi sebagai anak muda yang terjebak di kotak kecilnya dan si dewasa dengan perayaan hidup di tempat yang sama. SIMPLE ditulis waktu Woozi masih 20 tahun. Tentang isi kepala anak muda yang terkungkung di proses pendewasaan, anak muda yang lihat dunia kayak labirin raksasa tanpa jalan keluar, yang di dalamnya cuma ada hitam dan putih aja, yang seluruh perniknya terlihat monoton dan membosankan. Pada akhirnya, ini adalah kita di awal perjalanan menuju dewasa, manusia yang bahunya terasa berat banget dengan mimpi sendiri dan ekspektasi orang lain, manusia yang isi kepalanya selalu ramai dan berisik. Kita nggak butuh apa pun, not even happiness. Yang kita perlu cuma sesederhana waktu istirahat yang cukup untuk rebah dan meluruskan kaki yang lelah, sesederhana malam yang tenang, jauh dari bisingnya keributan dunia. Sesederhana ingin hidup berjalan dengan semestinya. Dan Cheers to Youth tentang mereka yang perjalanannya sudah dekat dengan garis akhir pendewasaan. Ini tentang si dewasa yang tetap lelah, resah, dan gelisah akan hidup. Tentang kita yang bahunya berat dengan tuntutan, dengan mimpi yang gagal tercapai, dengan ekspektasi yang dirasa makin sulit tergapai, dengan sapa dan pamit para masalah yang berbeda-beda. Tentang kita yang waktu nyalanya lebih lama dari waktu tidurnya, tentang kita yang selalu penasaran dengan apa itu bahagia. Tapi pada akhirnya hidup akan terus begini, kayak pinata yang di dalamnya penuh dengan bunga juga luka. Sekeras apa pun menghindar, kejutan itu akan terus meletup. Dan lagu ini kayak perayaan untuk diri sendiri bahwa biarpun kita jatuh, terluka, lelah, bosan, tertawa, berbuat salah, menjadi keliru, dan terkadang lupa akan sesuatu.. Toh, ini pertama kalinya kita hidup. Ini pertama kalinya kita menyecap manis dan getirnya hidup. Ini pertama kalinya kita berkenalan dengan dunia. Ini pertama kalinya kita belajar bertahan dan berdamai. Kita nggak bersalah hanya karena sering merasa lelah dan kecewa. Kehidupan pertama kita dengan segala bahagia dan kedukaannya, layak untuk dirayakan. Tiap dengerin 'mereka', ada semacam kelegaan bahwa.. ”Gue nggak melewati proses ini sendirian. Gue bertumbuh bareng yang lain. Ada banyak makhluk berparu-paru lain yang menghadapi hal serupa kayak gue. Dia mengalami ini. CARATs juga sama.”

nasi.

14,250 views • 4 months ago

Ada yang bilang, kekuasaan merusak. Tapi lebih benar bila dikatakan: kekuasaan membuka siapa kita sebenarnya. Dulu, kita mengenalnya sebagai lelaki sederhana dari Solo. Gaya bicaranya pelan, sering terlihat kikuk, tapi memikat. Ia membangun citra sebagai pemimpin yang lahir dari rakyat, berbicara seperti rakyat, dan berpihak pada rakyat. Tapi hari lalu, lelaki itu duduk di puncak kekuasaan, dan kita seperti mendengar dua suara darinya: satu yang dulu menyapa dengan gaya santun dari Balai Kota, dan satu lagi yang kini membentak dari Istana. Apa yang menjadikan seorang Jokowi berubah demikian drastis? Atau, barangkali, ia tidak berubah sama sekali—kita saja yang dulu belum cukup mengenalnya. Nilai-nilai tak turun dari langit. Ia dibentuk oleh pengalaman, lingkungan, dan lebih dulu lagi: keluarga. Rumah adalah ruang paling sunyi tempat seseorang belajar apa arti kebenaran, apa makna kejujuran, dan bagaimana bersikap terhadap kekuasaan. Jika seorang anak tumbuh dalam rumah yang memperlakukan kebohongan sebagai cara bertahan hidup, maka besar kemungkinan ia akan menjadikan dusta sebagai alat, bukan aib. – “The subconscious mind is formed by observing others, especially during childhood. Most people don’t realize they’re just replaying a program installed by their family.” Konon, masa kecil Jokowi dekat dengan lingkungan ideologis yang tidak bertumpu pada iman sebagai fondasi nilai. Narasi ini memang tidak pernah dikonfirmasi dengan jujur, tapi juga tidak pernah dibantah dengan tegas. Bukan berarti setiap orang yang tumbuh di sekitar ideologi kiri niscaya kehilangan moral, tidak. Tapi jika dalam rumah itu nilai-nilai agama hanya menjadi tempelan sosial—bukan keyakinan batin—maka “dosa” tak punya tempat dalam logika hidup. Dalam logika itu, yang benar bukan yang jujur, melainkan yang berhasil. Dan kita tahu, Jokowi berhasil. Tapi dengan ongkos mahal: hilangnya kepercayaan publik. Ia pernah berjanji tak akan mengangkat anak dan menantunya dalam politik. Hari ini, satu jadi wakil presiden, satu lagi menuju kursi gubernur. Ia pernah bilang tak akan ikut cawe-cawe soal pilpres. Tapi kita tahu betapa kuat bayangannya dalam setiap putusan Mahkamah Konstitusi, KPU, bahkan dalam framing media. Berbohong bukan lagi kegagalan moral. Tapi metode kekuasaan. Tapi kenapa? Barangkali karena sejak awal ia tidak pernah menganggap kebohongan sebagai bentuk pengkhianatan. Barangkali sejak kecil, dalam rumahnya, kebenaran adalah apa yang berguna. Agama? Mungkin hadir sebagai formalitas. Nilai? Mungkin tak lebih dari strategi. Maka ia pun tumbuh menjadi manusia politik tanpa beban akhlak. Berjanji tanpa niat menepati. Berucap tanpa takut dilangitkan. Kita menyaksikan seorang pemimpin yang tidak hanya ingkar, tapi tak merasa bersalah. Seolah ia tak tahu bahwa kata adalah amanah. Dan barangkali ia memang tak pernah diajari begitu. Dalam dunia di mana iman adalah fondasi moral, berbohong adalah dosa. Dalam dunia tanpa itu, bohong hanyalah taktik. Kita tidak dilahirkan dengan akhlak. Kita menyerapnya. Dan apa yang diserap Jokowi—entah dari rumah, entah dari sejarah—telah membentuknya menjadi sosok yang kini kita kenal: presiden yang tak pernah benar-benar jujur. Dan seperti kata seseorang yang sudah lama berhenti berharap: kita bukan sedang menyaksikan seorang pemimpin yang jatuh, tapi seseorang yang akhirnya memperlihatkan wajah aslinya. Copas pak Ali Syarief - アリ・シャリーフ

Ommi de Queen👑

10,814 views • 1 year ago

𝗜𝗡𝗜 𝗠𝗨𝗦𝗜𝗠 𝗧𝗨𝗡𝗧𝗨𝗧 𝗟𝗘𝗧𝗔𝗞 𝗝𝗔𝗪𝗔𝗧𝗔𝗡 Kita akan terus dihiburkan dengan siri sketsa politik terbaru yang bertajuk “Sila Letak Jawatan”. Ketua Pemuda Umno, Dr Akmal Salleh minta Nga Kor Ming dari DAP letak jawatan dulu, baru dia letak jawatan. Dato’ Seri Anwar minta menteri-menteri dan lantikan politik dari UMNO letak jawatan kalau menyerang Kerajaan Persekutuan semasa berkempen di PRN Negeri Sembilan. Kemudian dijawab Dato’ Seri Mohamad Hassan; kalau PM suruh dia letak jawatan, maka dia akan letak. Dato’ Seri Zahid Hamidi, Timbalan Perdana Menteri, jawab terbuka kepada Perdana Menteri - tak payah suruh letak jawatan, pecat saja. Budaya letak jawatan adalah sesuatu yang sangat asing dalam budaya politik Malaysia. Lazim ahli politik kita, kalau boleh bawa jawatan menteri itu masuk kubur, dia bawa sekali. Kalau boleh, dengan meja dan kerusi dari pejabat menteri dia bawa sekali. Itu budaya kita. Orang kita yang jadi pengundi pun suka budaya macam tu, kalau kita letak jawatan menteri tiba-tiba ada je yang jawab “prinsip saja tidak cukup, perlu kuasa”. Saya ingin bercakap dari pengalaman. Saya dan Nik Nazmi adalah hanya beberapa kerat manusia dalam sejarah negara yang pernah meletakkan jawatan secara sukarela. Bagi saya, apabila kita mengangkat sumpah menjadi menteri, kita bersumpah melakukan yang sebaik mungkin melaksanakan amanah. Matlamatnya ialah untuk berkhidmat, agar buah fikiran dan usaha kita membantu rakyat dan negara. Itu prinsip dan hala tuju kita. Maka keputusan kekal atau tidak dalam jawatan itu mesti merujuk kepada prinsip dan hala tuju itu. Kita hanya boleh melaksanakan amanah kita dengan sebaik mungkin kalau ada kepercayaan dari Perdana Menteri kerana beliau yang mengawal kerajaan. Kepercayaan itu diterjemahkan menjadi dukungan jabatan-jabatan utama untuk menzahirkan buah fikiran dan usaha kita mengemudi kementerian. Tanpa kepercayaan dan keyakinan itu, apa saja buah fikiran dan usaha kita akan menemui jalan sukar untuk dilaksanakan kerana tidak akan didukung oleh kerajaan; yang menunggu isyarat dan menerima arahan Perdana Menteri. Sebab itu saya letak jawatan. Beri ruang kepada orang lain yang ada kepercayaan dan keyakinan dari Perdana Menteri kerana itu memastikan apa yang dirancang oleh kementerian dapat dilaksanakan dengan baik. Bagi saya, polemik letak jawatan menteri yang berlegar sekarang sepatutnya perlu kembali kepada soal prinsip yang paling utama: apa yang rakyat dapat bila kita ada menteri-menteri dan kerajaan yang sudah jelas saling tidak lagi ada keyakinan dan kepercayaan? Di pihak UMNO/BN dan PAS/PN, mereka berharap agar mereka boleh tebuk atap dan mengambil alih Kerajaan Persekutuan. Tumpuan bukan selesai masalah rakyat tetapi untuk isi jawatan. Di pihak PH, kalau pun UMNO kekal menyokong Dato’ Seri Anwar sebagai Perdana Menteri, kita ada sebuah kerajaan yang penuh kepura-puraan. Di depan memuji, di belakang mencemuh. Malah saya ingat sepanjang saya berada dalam Jemaah Menteri, antara menteri-menteri yang paling mesra dan paling banyak memuji Perdana Menteri adalah menteri-menteri UMNO ini lah. Yang dari PKR tidak pernah memanggil Perdana Menteri dengan panggilan Sir. Hanya menteri UMNO yang beriya-iya panggil Dato’ Seri Anwar “Yes sir, you are right sir, you are great sir”. Dato’ Seri Anwar dan PH sudah tentu akan cuba sedaya upaya mengekalkan kerajaan yang ada ini, tetapi musibah ini berlaku kerana beliau juga yang memberi ruang sepenuhnya dan menjemput UMNO, sehingga ada 8 orang menteri. Akhirnya, saya tak rasa mana-mana menteri yang ada akan kembali kepada makna angkat sumpah mereka semasa menerima jawatan: iaitu prinsip untuk menjalankan amanah sebaik mungkin kerana fokus ialah tikam menikam dan sepak terajang politik. Tapi rakyat pun tak boleh mengeluh sangat kerana ini budaya yang kita rai selama ini. Ini budaya politik dan budaya kuasa yang dipertahankan selama ini. Demi kuasa, ciumlah dan kahwinlah dengan sesiapa, asal puas nafsu. Demi kuasa, boleh bawa pacar terbaru masuk rumah, tak balik rumah pun tak apa, asal tak lafaz talak lagi. Yang berputih mata adalah anak-anak. Belanja sekolah entah ke mana, makan minum tak terurus. Tapi ibu bapa tahu, asalkan sekali sekala beli mainan terbaru untuk anak-anak, mereka akan lupa. Jadi tak payah layan sangatlah sketsa politik ulangan ini.

Rafizi Ramli

48,456 views • 10 days ago