Halftime Culture's banner
Halftime Culture's profile picture

Halftime Culture

@halftimeculture2,799 subscribers

Mid-game energy, full-time opinions. Sports, culture, chaos & takes at the break.

Shorts

Cantik banget, kaya pernah liat tapi di mana ya?

Cantik banget, kaya pernah liat tapi di mana ya?

94,386 views

Dapet kamera sebelah sini euy akhirnya 🤣 Ini mah bukan suporter timnas, tapi suporter yang ga suka Persib juara 🤣

Dapet kamera sebelah sini euy akhirnya 🤣 Ini mah bukan suporter timnas, tapi suporter yang ga suka Persib juara 🤣

124,182 views

Videos

halftimeculture's profile picture

29 APRIL 2009 My Game is Fair Play DITULIS OLEH BAMBANG PAMUNGKAS source: Sebuah judul tulisan bagus, yang ditulis oleh seorang salah satu legenda hidup sepak bola Indonesia. Pada tahun 2009, saya baca ini dengan perasaan emosi yang mungkin sama dengan BP. Walaupun saya bukan pendukung persija, saya setuju dengan statement BP saat konferensi pers kala itu: yang dilakukan Boston Brown itu memang benar-benar PENGECUT! 3 NOVEMBER 2017 Ezechiel mencetak gol mutlak lewat sundulan yang tidak disahkan oleh Shaun Evans. Ironisnya gol tersebut tepat di depan mata BP. Bepe langung klarifikasi, lengkapnya silakan baca sendiri di sini: Kalau kalian sadar, 2017 itu bukan pertama kalinya. Makanya ketika Bobotoh heboh tentang dianulirnya gol Eze dan menyerang BP, saya sudah tidak heran dengan perilaku mas-mas tersebut. 27 MEI 2012 Saya masih ingat jelas, momen pertama kalinya saya berhenti menaruh respek kepada mas-mas satu ini. Kalau ada yang nanya, "hal yang kamu sesali dalam hidup?" Saya akan jawab: memasang poster Bambang Pamungkas di kamar ialah salah satunya! Di video ini, kalian bisa lihat Zulkifli Syukur yang tersikut oleh Fabiano Beltrame jatuh terkapar, Marcio Souza sempat melakukan tendangan namun mampu diamankan Andritany. Maju beberapa waktu kemudian, Zulkifli masih terjatuh dan terlihat gestur pemain Persib meminta pemain persija untuk membuang bola. Pemain persija tidak menghiraukan, dan tetap melanjutkan permainan bahkan sampai masuk ke kotak penalti Persib. Sampai titik itu saya bener-bener gak masalah, karena di situasi sebelumnya, Marcio pun tetep berusaha memanfaatkan peluang. Bola berhasil diamankan pemain Persib, dan Hariono SENGAJA membuang bola sambil menunjuk ke arah Zulkifli yang tadi terjatuh. Hal tersebut pun "dikonfirmasi" oleh komentator pertandingan: Vennard Hutabarat. Ismed melempar bola dengan gesture tidak akan memberikan bola fair play ke Pedro Javier, (lihat di video Tony Sucipto mengangkat tangan meminta bola fair play) kemudian ia memberikan crossing ke Bambang Pamungkas yang dengan sundulannya mengarahkan bola ke gawang dan dipotong oleh Ramdani Lestaluhu. Gol! persija menyamakan kedudukan. Sebagai pemain yang melabeli dirinya fair play, dia menjilat ludahnya sendiri saat mengutuk tindakan Brown dalam tulisannya pada tahun 2009. "Satu hal yang sangat memprihatinkan adalah, setelah wasit mengesahkan gol tersebut, Brown malah melakukan selebrasi sehingga terkesan dia telah melakukan hal yang benar dan bangga dengan hal tersebut." ~Kutipan tersebut saya pinjam dari tulisan BP di blog-nya. Tinggal ubah nama Brown di kutipan tersebut menjadi Bambang Pamungkas. Setelah gol, liat selebrasi membentangkan tangannya yg khas, terkesan dia telah melakukan hal yang benar dan bangga dengan hal tersebut. "yang dilakukan Boston Brown itu memang benar-benar PENGECUT!" Lagi-lagi, ganti nama Baston Brown menjadi Bambang Pamungkas. Cmiiw, pada kejadian tersebut (2012) sekelas Zenrs pun langsung mention twitter BP dan mengangkat kembali tulisan BP tentang My Game is Fair Play itu dengan kalimat satire. Tolong koreksi kalau saya salah, BP klarifikasi di twitter tentang situasi di sana dan kenapa dia memanfaatkan peluang: dia berdalih melihat Zulkifli Syukur sudah berdiri. Saya langsung reply twit mas-mas tersebut: "Poinnya adalah ketika Hariono SENGAJA buang bola, bukan ketika Zulkifli sudah berdiri!" Saya gak pernah menyalahkan Ismed, Pedro, dan Ramdani dalam situasi gol tersebut. Kenapa? Karena walaupun mereka mencederai fair play, setidaknya mereka nggak pernah melabeli dirinya, bahkan menulis "My Game is Fair Play"! Jadi, siapa yang pengecut, Mas BP? 🎥:

Halftime Culture

125,901 views • 1 month ago

halftimeculture's profile picture

Banyak orang yang gak tahu kalau di detik-detik awal Tsunami Aceh 2004 masuk ke jalanan pusat kota Banda Aceh, karakteristik airnya sama sekali gak kelihatan kayak ombak raksasa di film-film. Di rekaman kamera amatir ini, lu bisa liat air laut itu awalnya cuma merayap pelan, keruh penuh sampah, mirip banjir luapan drainase biasa. ​Fase ini dalam ilmu oceanografi disebut sebagai "Leading Edge" atau bibir depan gelombang. Ada beberapa fakta krusial yang jarang diketahui orang kenapa situasi di menit-menit awal ini begitu menipu dan menjebak para korban: ​1. Ilusi Kecepatan dan "Massa Air" ​Di video ini, kelihatan orang-orang awalnya cuma jalan kaki cepat, bahkan ada yang masih naik motor atau mobil dengan santai karena gak sadar bahaya fatal di belakang mereka. Kenapa? Karena secara visual, airnya kelihatan berjalan lambat. Padahal, yang mengalir itu bukan sekadar air permukaan, melainkan massa air laut sedalam samudra yang mendorong dari belakang. Kecepatannya di daratan saat itu berkisar antara 30–40 km/jam, tapi karena volumenya masif, daya dorongnya setara dengan hantaman truk beton. ​2. Efek "Bore" di Sektor Urban ​Ketika tsunami masuk ke area padat penduduk seperti Banda Aceh, gelombang itu terjebak di gang-gang sempit dan jalanan kota. Ini memicu fenomena undular bore, di mana air yang tadinya merayap horizontal tiba-tiba menumpuk karena menabrak dinding bangunan, lalu bergolak naik ke atas (vertical swelling) dalam hitungan detik. Orang yang awalnya mengira air cuma se-mata kaki, dalam waktu kurang dari 2 menit bisa langsung terendam hingga kedalaman 3-5 meter. ​3. "The Silent Zone" Akibat Shock Psikologis ​Banyak saksi sejarah yang selamat menceritakan bahwa sesaat sebelum air merayap masuk ke kota, suasana mendadak senyap, disusul suara gemuruh mirip mesin pesawat jet dari kejauhan. Di video ini, herannya gak terdengar teriakan histeris massal di detik-detik awal. Itu terjadi karena masyarakat saat itu mengalami normalcy bias—sebuah penolakan psikologis di mana otak manusia mencoba meyakinkan diri bahwa "semuanya baik-baik saja dan ini cuma banjir biasa", karena mereka belum pernah mengalaminya seumur hidup. ​Rekaman dokumenter ini bukan cuma sekadar arsip bencana, tapi bukti nyata kenapa edukasi dini soal mitigasi bencana itu penting. Tsunami gak selalu datang sebagai dinding ombak yang langsung kelihatan tinggi, tapi sering kali menjebak sebagai air tenang yang merayap merusak dari bawah. ​Al-Fatihah buat seluruh korban Tsunami Aceh 2004. 🙏 Source: disasteroncamera (IG)

Halftime Culture

137,176 views • 3 months ago

No more content to load