
imnotayu
@imnotayu_ • 3,582 subscribers
Balinese Girl | Balinese Culture & Traditions | K-pop & K-drama Enthusiast | Random Thoughts | Growing 🌱 | 𝐒𝐨𝐦𝐞𝐭𝐢𝐦𝐞𝐬, 𝐲𝐨𝐮 𝐠𝐨𝐭𝐭𝐚 𝐛𝐞 𝐛𝐨𝐥𝐝
Shorts
Videos

Stop nge-judge logat dan grammar orang saat mereka lagi ngomong Inggris. Ini Bu Made lagi jelasin sesuatu pake bahasa Inggris dengan logat Bali aja, bule tetep bisa paham kok maksudnya, meskipun yg dipake tuh logat lokal. Jadi, nggak perlu terlalu sibuk menghakimi cara orang lain ngomong bahasa Inggris, baik dari segi aksen maupun grammar. Selama pesan tersampaikan dengan jelas, komunikasi tetep bisa berjalan lancar dan saling dipahami, meskipun logat dan grammar nggak sempurna. Bahkan penutur asli pun sering pake struktur yg nggak selalu baku dalam percakapan sehari-hari. Jadi, daripada fokus mengkritik logat atau kesalahan kecil, lebih baik saling menghargai proses belajar dan keberanian orang untuk berkomunikasi pake bahasa Inggris. Kalo bule aja bisa memahami apa yg kita maksud, kenapa kita justru sibuk mengomentari satu sama lain?
imnotayu172,983 Aufrufe • vor 2 Monaten

Yg belum menikah, ini penting buat diliat. Faktanya, laki-laki seperti ini memang ada, dan nggak sedikit. Bahkan udah selektif sebelum menikah pun, tetep bisa aja berakhir dengan pasangan seperti ini. 🥲 Oleh karena itu, penting untuk bener-bener memilah dan memilih dengan bijak. Karena ini bukan keputusan sesaat, tapi untuk seumur hidup. Dan seumur hidup tuh lama.
imnotayu84,502 Aufrufe • vor 2 Monaten
0:52
Sensitive content
This media may contain sensitive content.

𝗔𝗻𝗴𝗴𝗮𝗽𝗮𝗻 𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗛𝗶𝗻𝗱𝘂 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗲𝗺𝗯𝗮𝗵 𝗽𝗼𝗵𝗼𝗻 𝗶𝘁𝘂 𝗵𝗮𝗹 𝗸𝗲𝗹𝗶𝗿𝘂. 🙏🏻🌳❌ Ini lebih ke 𝘂𝗻𝗴𝗸𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗿𝗮𝘀𝗮 𝘁𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻 karena telah menciptakan pohon yg sangat berguna bagi kehidupan manusia. 😇 Umat Hindu di Bali sangat menghormati keberadaan tumbuh-tumbuhan & menjaga keseimbangan antara alam dan manusianya. 🌿⚖️ Kalo pun ada sesajen di sekitar pohon, itu adalah bentuk syukur kami. 😇 Umat Hindu di Bali memaknai alam 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗸𝗮𝗱𝗮𝗿 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗮𝘁𝘂 𝘆𝗴 𝗱𝗶𝗺𝗮𝗻𝗳𝗮𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻, 𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗷𝘂𝗴𝗮 𝗱𝗶𝗵𝗼𝗿𝗺𝗮𝘁𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗱𝗶𝘀𝘆𝘂𝗸𝘂𝗿𝗶. Rasa syukur itu terlihat dari bagaimana tanaman dan pohon dihargai sebagai sumber kehidupan, dari makanan hingga oksigen. Bahkan, ada hari khusus untuk itu, yaitu Hari Raya Tumpek Wariga. Di hari tersebut, tumbuh-tumbuhan diberi penghormatan sebagai bentuk terima kasih kepada Dewa Sangkara, manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai dewa tumbuh-tumbuhan. Inilah salah satu wujud nyata dari ajaran Tri Hita Karana, khususnya Palemahan, bagaimana manusia menjaga hubungan yg harmonis dengan alam, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗺𝗯𝗶𝗹, 𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗷𝘂𝗴𝗮 𝗺𝗲𝗿𝗮𝘄𝗮𝘁 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝗿𝗴𝗮𝗶. 😊 Nah, kamu pernah kepikiran nggak, kenapa di banyak sudut Pulau Bali, mulai dari pohon besar, patung, gapura, hingga tempat sembahyang, sering dibalut kain kotak-kotak hitam putih? 🤔 Kain itu dikenal sebagai kain poleng, yg hampir selalu bisa kita temui dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. 🖤🤍 Penggunaan kata “poleng” dalam bahasa Bali memiliki makna bercorak kotak-kotak seperti papan catur. Lewat pengaturan yg seimbang dan teratur, dua warna tersebut kemudian menghasilkan motif yg disebut sebagai motif poleng. Seperti yin dan yang pada budaya Tionghoa, kain poleng dimaknai sebagai simbol Rwa Bhineda, yg artinya representasi dua sifat yg berbeda atau bertolak belakang, digambarkan lewat warna hitam dan putih. Konsep ini melambangkan keseimbangan alam seperti adanya atas dan bawah, kanan dan kiri, pagi dan malam, benar dan salah, baik dan buruk, dan masih banyak lagi. Kain poleng biasanya disematkan atau dililitkan pada benda-benda tertentu seperti pohon, patung, dwarapala dan tempat sembahyang seperti pelinggih. Masyarakat Bali percaya bahwa pohon besar atau patung yg telah dibungkus kain poleng, menjadi stana atau tempat bersemayam sosok-sosok yg bisa “menghitam-putihkan” kehidupan di dunia. 😱 Masyarakat juga menganggap bahwa pohon-pohon yg batangnya dililiti kain poleng merupakan pohon yg angker atau dalam Bahasa Bali disebut “𝘁𝗲𝗻𝗴𝗲𝘁”. Akhirnya, kain poleng jadi penanda bahwa pada area atau objek tertentu, ada roh para butha atau penunggu. 👻 Orang-orang terdahulu memang mengaitkan pohon-pohon besar berkain poleng dengan cerita magis dan tenget (angker). Namun, alasan itu disebarluaskan 𝗮𝗴𝗮𝗿 𝗻𝗴𝗴𝗮𝗸 𝘀𝗲𝗺𝗯𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗯𝗮𝗻𝗴 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗺𝗲𝗿𝘂𝘀𝗮𝗸 𝗽𝗼𝗵𝗼𝗻, sehingga kelestarian alam bisa terpelihara. Itu berlaku untuk semua orang, baik warga asli maupun pendatang. Kesakralan beberapa area dengan objek-objek tersebut, akan dijaga oleh masyarakat setempat dengan secara rutin menghaturkan banten atau sesajen setelah umat selesai bersembahyang di pura. Nah, lilitan kain poleng pada pohon-pohon besar jadi penanda bahwa pohon tersebut 𝗱𝗶𝘀𝗮𝗸𝗿𝗮𝗹𝗸𝗮𝗻, 𝗱𝗶𝗵𝗼𝗿𝗺𝗮𝘁𝗶, 𝗱𝗶𝗷𝗮𝗴𝗮, 𝗱𝗮𝗻 𝗻𝗴𝗴𝗮𝗸 𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗱𝗶𝗽𝗲𝗿𝗹𝗮𝗸𝘂𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗺𝗯𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻. 🌳✨ Orang akan berpikir dua kali untuk menebang atau merusaknya. Hal inilah yg membuat pohon-pohon besar tetep tumbuh, terawat, dan lestari di Pulau Bali. 🌱🌳✨ Dengan melilitkan kain poleng di tubuh pohon, ini sama halnya untuk menjaga alam terutama pohon-pohon untuk terlepas dari penebangan. Nggak hanya dililitkan pada pohon, tapi juga pada patung, dengan begitu patung 𝗻𝗴𝗴𝗮𝗸 𝗱𝗶𝗵𝗮𝗻𝗰𝘂𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗱𝗶𝗽𝗶𝗻𝗱𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗺𝗯𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻. 😇 🎥 trees4trees
imnotayu37,886 Aufrufe • vor 2 Monaten

Tau nggak? 👀 Di Gereja Katolik Roh Kudus Katedral Denpasar, kamu bisa nemuin gereja dengan arsitektur perpaduan Bali dan Eropa dengan konsep Tri Hita Karana, serta patung malaikat berpakaian adat Bali, lo. Unik, tapi tetep sakral. Inilah yg bikin beda dari gereja lain. 🧵👇🏻
imnotayu18,757 Aufrufe • vor 2 Monaten
Keine weiteren Inhalte verfügbar