NitNot ❘'s banner
NitNot ❘'s profile picture

NitNot ❘

@Leonita_Lestari119,111 subscribers

Kebahagiaan datang ketika pekerjaan dan kata-kata anda menjadi manfaat bagi dirimu dan orang lain. - Buddha - || Akun ke-2 https://t.co/dPJZFe5DA5

Shorts

PADA AWALNYA |diksi pengkhianat itu ditujukan untuk mereka yang pindah hati ke selain Jokowi. Itu karena mereka yakin bahwa Jokowi pasti ke Ganjar. Saat Jokowi ternyata tak melirik Ganjar, mereka bingung. Mereka lalu mencari definisi baru makna berkhianat. Jadi, bila saat ini ada seribu definisi baru tentang pengkhianatan dan itu melawan atau bertentangan dengan definisi yang pertama, percayalah itu cuma permainan lidah. Mereka sudah belajar banyak dari jagonya jago tata kata yang dulu mereka musuhi. Saat Budiman Sudjatmiko mampu melihat kemana arah dukungan Jokowi akan diberikan, dia langsung bergerak ke arah sana. Di benaknya, meneruskan adalah hal yang lebih baik dibanding ambigu apalagi merubah. Berkali - kali sudah Budiman selalu menggunakan perumpamaan bahwa setelah lulus SLTP, meski tak juara, seorang murid harus lanjut ke SLTA. Bukan mengulang lagi di SLTP demi mengejar target gelar juara, tapi melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Bukan kembali sibuk membangun infrastruktur dasar tapi membangun manusia. Dia sering berujar bahwa setelah pak Jokowi membangun hardware penerusnya harus membangun software. “Tapi mosok pak Prabowo yang bangun software? Emang bisa dia?” Itulah kenapa Budiman harus hadir dan ada disana. Kapasitasnya sebagai sosok manusia penuh gagasan, manusia penuh cita pada Indonesia yang berteknologi, dia merasa perlu ada dan bersama dengan Prabowo. Itu soal gagasan pembangunan software atau manusia Indonesia demi menjemput masa depan. “Kenapa Prabowo?” Karena Prabowolah yang diperintah oleh Jokowi untuk meneruskan estafet pembangunan bangsa ini. Meneruskan, bukan mengulang apalagi merubah. Dan maka dia menjadi salah satu dewan pakar di TKN. Dan maka dia juga diminta untuk menjadi direktur juru debat di TKN Koalisi Indonesia Maju. Itu posisi yang menegaskan bahwa dia memang benar sosok penuh gagasan dan cemerlang dalam pikiran. “Tapi bukankah dia sama artinya berkhianat pada teman - teman seperjuangannya dulu?” Mau seribu kali hal ini kita bahas, selalu saja akan ada seribu perkara baru dapat dipakai untuk mementahkan. Tak ada yang hakiki selain perubahan itu sendiri. Dan ide persatuan nasional untuk menuju Indonesia yang lebih baik jelas adalah keutamaan bagi siapapun kita sebagai anak bangsa tak terkecuali seorang Budiman. Anda masih marah dan tidak setuju? Jangan pilih pasangan yang dipilih oleh Budiman. Gitu aja koq repot…. . .

PADA AWALNYA |diksi pengkhianat itu ditujukan untuk mereka yang pindah hati ke selain Jokowi. Itu karena mereka yakin bahwa Jokowi pasti ke Ganjar. Saat Jokowi ternyata tak melirik Ganjar, mereka bingung. Mereka lalu mencari definisi baru makna berkhianat. Jadi, bila saat ini ada seribu definisi baru tentang pengkhianatan dan itu melawan atau bertentangan dengan definisi yang pertama, percayalah itu cuma permainan lidah. Mereka sudah belajar banyak dari jagonya jago tata kata yang dulu mereka musuhi. Saat Budiman Sudjatmiko mampu melihat kemana arah dukungan Jokowi akan diberikan, dia langsung bergerak ke arah sana. Di benaknya, meneruskan adalah hal yang lebih baik dibanding ambigu apalagi merubah. Berkali - kali sudah Budiman selalu menggunakan perumpamaan bahwa setelah lulus SLTP, meski tak juara, seorang murid harus lanjut ke SLTA. Bukan mengulang lagi di SLTP demi mengejar target gelar juara, tapi melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Bukan kembali sibuk membangun infrastruktur dasar tapi membangun manusia. Dia sering berujar bahwa setelah pak Jokowi membangun hardware penerusnya harus membangun software. “Tapi mosok pak Prabowo yang bangun software? Emang bisa dia?” Itulah kenapa Budiman harus hadir dan ada disana. Kapasitasnya sebagai sosok manusia penuh gagasan, manusia penuh cita pada Indonesia yang berteknologi, dia merasa perlu ada dan bersama dengan Prabowo. Itu soal gagasan pembangunan software atau manusia Indonesia demi menjemput masa depan. “Kenapa Prabowo?” Karena Prabowolah yang diperintah oleh Jokowi untuk meneruskan estafet pembangunan bangsa ini. Meneruskan, bukan mengulang apalagi merubah. Dan maka dia menjadi salah satu dewan pakar di TKN. Dan maka dia juga diminta untuk menjadi direktur juru debat di TKN Koalisi Indonesia Maju. Itu posisi yang menegaskan bahwa dia memang benar sosok penuh gagasan dan cemerlang dalam pikiran. “Tapi bukankah dia sama artinya berkhianat pada teman - teman seperjuangannya dulu?” Mau seribu kali hal ini kita bahas, selalu saja akan ada seribu perkara baru dapat dipakai untuk mementahkan. Tak ada yang hakiki selain perubahan itu sendiri. Dan ide persatuan nasional untuk menuju Indonesia yang lebih baik jelas adalah keutamaan bagi siapapun kita sebagai anak bangsa tak terkecuali seorang Budiman. Anda masih marah dan tidak setuju? Jangan pilih pasangan yang dipilih oleh Budiman. Gitu aja koq repot…. . .

243,769 Aufrufe

BLUNDER, PINTER, KEBLINGER . . . “Membiarkan emak-emak dan ibu-ibu untuk melahirkan anak-anak yang tidak berakhlak, itu adalah satu dosa kepada bangsa ini. Bangsa ini akan hancur manakala generasi mendatang itu tidak punya etika dan tidak punya akhlak," kata Mahfud. Bagaimana konstruksi kalimat tersebut? Agar menjadi jelas, kita cari subyeknya terlebih dulu. Membiarkan adalah kata kerja. Posisi kata ‘membiarkan’ dalam kalimat itu jelas adalah predikat. Siapa yang melakukan tindak pembiaran, meski tak disebut, itu bisa diduga adalah seseorang atau orang banyak. Artinya subyek pada kalimat itu, meski tak disebut, bisa tunggal bisa jamak, bisa satu orang atau orang banyak. Lalu siapa obyeknya? Obyek adalah pihak yang terkena akibat. Dan di sana ada kata ‘bangsa’. Artinya, bangsalah yang dirugikan atau terkena akibat dari tindakan orang atau orang - orang yang membiarkan ibu melahirkan anak tak berakhlak. Jadi secara keseluruhan dapat diduga bahwa pak Mahfud sejatinya memang sedang membicarakan seseorang atau orang - orang. Atas hal apa? Atas tindak pembiaran yang dilakukan oleh seseorang atau orang - orang terhadap seorang ibu yang melahirkan anak tak berakhlak dan menghancurkan bangsa. Siapakah seorang atau orang - orang itu? Di sini kita bisa mencari korelasi yang paling dekat dengan peristiwa yang baru saja beliau alami. Apakah itu terkait dengan debat baru - baru ini dan telah membuat beliau merasa tersinggung? Bisa ya, bisa tidak. Bahwa dalam debat itu ada peristiwa seorang yang sering dianggap masih sebagai anak kemarin sore dan kemungkinan sudah bikin dia tersinggung, itu pun bisa betul, bisa juga cuma tebak - tebakan. Terserah anda memaknainya. Bila ya, apakah anak yang dipersepsikan sebagai tak berakhlak itu adalah sindiran pada anak kemarin sore itu ? Lantas, apakah orang yang membiarkan seorang ibu melahirkan anak tak berakhlak itu adalah ayahnya yang juga seorang presiden? Semua serba persepsi. Hanya imajinasi sesaat mencari saat. Tapi apapun itu, kalimat utuh yang dia ucapkan, bila ditinjau dari isi atau makna, kalimat itu sendiri ternyata tidak memiliki unsur logis. Tak berbobot dan bahkan tak ada nalar bisa dipertanggung jawabkan atas isi kalimat pernyataan itu. Di sisi mana kalimat itu tidak logis? Ada bayi dalam kandungan yang sudah bisa dinyatakan sebagai tidak berakhlak. Berakhlak adalah akronim dari berorientasi pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif. Itu semua adalah tentang hasil sebuah perilaku atau perbuatan. Dan itu pasti mustahil dilakukan oleh anak yang masih di dalam perut ibu yang lalu harus dinilai apakah bayi itu layak dilahirkan atau tidak. Di sini, di saat dia membuat pernyataan itu, keprofesorannya sebagai ahli hukum justru dipertanyakan. Orang yang bergelut di bidang hukum pasti adalah orang yang paham kalimat. Produk hukum adalah tentang rangkaian kalimat. Bila pada akhirnya beliau bisa terjebak salah membuat kalimat, itu hanya bisa terjadi saat dia lalai. Kondisi marah dan tersinggung karena merasa diremehkan anak kemarin sore, bisa jadi adalah penyebab semua blunder itu. Jadi tahu kan kemana semua sifat bijaksana itu pergi? Pantaskah orang dengan emosi seperti itu kelak terpilih menjadi wakil presiden? Semua ada di tangan anda. . .

BLUNDER, PINTER, KEBLINGER . . . “Membiarkan emak-emak dan ibu-ibu untuk melahirkan anak-anak yang tidak berakhlak, itu adalah satu dosa kepada bangsa ini. Bangsa ini akan hancur manakala generasi mendatang itu tidak punya etika dan tidak punya akhlak," kata Mahfud. Bagaimana konstruksi kalimat tersebut? Agar menjadi jelas, kita cari subyeknya terlebih dulu. Membiarkan adalah kata kerja. Posisi kata ‘membiarkan’ dalam kalimat itu jelas adalah predikat. Siapa yang melakukan tindak pembiaran, meski tak disebut, itu bisa diduga adalah seseorang atau orang banyak. Artinya subyek pada kalimat itu, meski tak disebut, bisa tunggal bisa jamak, bisa satu orang atau orang banyak. Lalu siapa obyeknya? Obyek adalah pihak yang terkena akibat. Dan di sana ada kata ‘bangsa’. Artinya, bangsalah yang dirugikan atau terkena akibat dari tindakan orang atau orang - orang yang membiarkan ibu melahirkan anak tak berakhlak. Jadi secara keseluruhan dapat diduga bahwa pak Mahfud sejatinya memang sedang membicarakan seseorang atau orang - orang. Atas hal apa? Atas tindak pembiaran yang dilakukan oleh seseorang atau orang - orang terhadap seorang ibu yang melahirkan anak tak berakhlak dan menghancurkan bangsa. Siapakah seorang atau orang - orang itu? Di sini kita bisa mencari korelasi yang paling dekat dengan peristiwa yang baru saja beliau alami. Apakah itu terkait dengan debat baru - baru ini dan telah membuat beliau merasa tersinggung? Bisa ya, bisa tidak. Bahwa dalam debat itu ada peristiwa seorang yang sering dianggap masih sebagai anak kemarin sore dan kemungkinan sudah bikin dia tersinggung, itu pun bisa betul, bisa juga cuma tebak - tebakan. Terserah anda memaknainya. Bila ya, apakah anak yang dipersepsikan sebagai tak berakhlak itu adalah sindiran pada anak kemarin sore itu ? Lantas, apakah orang yang membiarkan seorang ibu melahirkan anak tak berakhlak itu adalah ayahnya yang juga seorang presiden? Semua serba persepsi. Hanya imajinasi sesaat mencari saat. Tapi apapun itu, kalimat utuh yang dia ucapkan, bila ditinjau dari isi atau makna, kalimat itu sendiri ternyata tidak memiliki unsur logis. Tak berbobot dan bahkan tak ada nalar bisa dipertanggung jawabkan atas isi kalimat pernyataan itu. Di sisi mana kalimat itu tidak logis? Ada bayi dalam kandungan yang sudah bisa dinyatakan sebagai tidak berakhlak. Berakhlak adalah akronim dari berorientasi pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif. Itu semua adalah tentang hasil sebuah perilaku atau perbuatan. Dan itu pasti mustahil dilakukan oleh anak yang masih di dalam perut ibu yang lalu harus dinilai apakah bayi itu layak dilahirkan atau tidak. Di sini, di saat dia membuat pernyataan itu, keprofesorannya sebagai ahli hukum justru dipertanyakan. Orang yang bergelut di bidang hukum pasti adalah orang yang paham kalimat. Produk hukum adalah tentang rangkaian kalimat. Bila pada akhirnya beliau bisa terjebak salah membuat kalimat, itu hanya bisa terjadi saat dia lalai. Kondisi marah dan tersinggung karena merasa diremehkan anak kemarin sore, bisa jadi adalah penyebab semua blunder itu. Jadi tahu kan kemana semua sifat bijaksana itu pergi? Pantaskah orang dengan emosi seperti itu kelak terpilih menjadi wakil presiden? Semua ada di tangan anda. . .

194,989 Aufrufe

VULGAR banget mr. Mpud ini. Sejak hari ini juga, dia bukan lagi kelas negarawan apalagi orang bijak. . .

Sensitive content

VULGAR banget mr. Mpud ini. Sejak hari ini juga, dia bukan lagi kelas negarawan apalagi orang bijak. . .

73,294 Aufrufe

“Bukankah masih ada 27% lebih suara belum terhitung?” Agar lebih mudah, ada baiknya kita mendengar pernyataan dari ahlinya ahli dalam banyak hal sehingga kita paham bahwa tidak semua yang kita pikir benar HARUS benar. . .

“Bukankah masih ada 27% lebih suara belum terhitung?” Agar lebih mudah, ada baiknya kita mendengar pernyataan dari ahlinya ahli dalam banyak hal sehingga kita paham bahwa tidak semua yang kita pikir benar HARUS benar. . .

11,866 Aufrufe

Videos

Leonita_Lestari's profile picture

MEREKA SEDANG TIDAK SEHAT . . . Anda curiga ada peran pak Jokowi pada hasil putusan MK? Sama seperti anda, saya pun punya rasa itu. Namun rasa curigamu lalu menjadi dasar pembenaran untuk menghukum beliau, itu mblandang namanya. Itu bar bar… Serahkan pada hukum..! Itu konsekuensi logis kita bernegara. Di tengah rasa curiga kita dengan tindakan hukum menghukum, ada aturan main yang harus kita sepakati bersama. Ada hadir proses hukum berikut petugas hukum milik negara yang kredibel yang kerjanya mengurai rasa tidak adil itu. Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi atau MKMK sudah hadir. Indikasi adanya pelanggaran etik atas putusan MK yang membolehkan Gibran menjadi cawapres dan di sana hadir pamannya atau adik ipar bapaknya yang seorang presiden dan turut memutus perkara itu dan lalu membuat kita semua ikut curiga sudah dan sedang disidangkan. Apapun hasil putusan itu wajib hukumnya kita menerima. Menang dan kalah bukan tujuan pengadilan etik itu disidangkan tapi etis atau tidak etis tindakan paman Gibran ikut di dalamnya. Bila putusan itu bicara 'tidak etis' dan lalu berimbas pada hasil putusan MK terdahulu misalnya, kenapa pihak yang setuju atas putusan MK harus marah? Pun sebaliknya pihak yang tidak setuju karena putusan pengadilan etik ini tidak berlanjut pada pembatalan. Yang tetap ngamuk dan marah, sejatinya mereka bukan sedang mencari keadilan tapi mencari benar versi sendiri. Jadi? Lanjutkan pesta demokrasi dengan riang apapun hasil putusan MKMK hari ini. Yang masih ngamuk sama pak Jokowi karena putusan MKMK hari ini tidak membatalkan pencawapresan Gibran misalnya, itu pasti adalah orang - orang TAKUT KALAH. Dan orang takut kalah tapi sudah ngamuk sebelum bertanding, akan sulit dijelaskan dengan akal sehat. MEREKA SEDANG TIDAK SEHAT AKAL. . .

NitNot ❘

152,084 Aufrufe • vor 2 Jahren

Leonita_Lestari's profile picture

Judesnya .....😅

NitNot ❘

98,827 Aufrufe • vor 3 Jahren