Search results for "ghea+youbi+bugil+bikin+hati"

Shorts

Kumis tipis gini bikin nambah cakep yaa

Kumis tipis gini bikin nambah cakep yaa

256,254 views

Makanya kalau bikin hajatan itu sewa gedung, Jangan menutup jalan umum. Ingat,itu jalan umum,bukan halaman rumah loe, Paham????

Makanya kalau bikin hajatan itu sewa gedung, Jangan menutup jalan umum. Ingat,itu jalan umum,bukan halaman rumah loe, Paham????

1,001,302 views

kenapa suami gue bikin gue jadi beginian sih😭😭💔💔

kenapa suami gue bikin gue jadi beginian sih😭😭💔💔

466,628 views

Nggak expect kalau pemandangannya sampai nggak bisa bikin tidur 🫣 🎥: cupstuwerd

Nggak expect kalau pemandangannya sampai nggak bisa bikin tidur 🫣 🎥: cupstuwerd

706,085 views

Ini siapa yg bikin? Termul pasti sedih.😭😂

Ini siapa yg bikin? Termul pasti sedih.😭😂

166,014 views

Ingat sama fanart beerlens garapan @/irikvl gak? Refrensinya dari mas 𝙏𝙞𝙖𝙣 sama 𝙋𝙞𝙥𝙞𝙣. Yg bikin makin gemas tuh kalau 𝙋𝙞𝙥𝙞𝙣 njepat cuma mau disembuhin sama 𝙏𝙞𝙖𝙣, also demitnya 𝙋𝙞𝙥𝙞𝙣 juga cemburuan kalau 𝙏𝙞𝙖𝙣 sama yang lain. Man, this is Beerlens coded

Ingat sama fanart beerlens garapan @/irikvl gak? Refrensinya dari mas 𝙏𝙞𝙖𝙣 sama 𝙋𝙞𝙥𝙞𝙣. Yg bikin makin gemas tuh kalau 𝙋𝙞𝙥𝙞𝙣 njepat cuma mau disembuhin sama 𝙏𝙞𝙖𝙣, also demitnya 𝙋𝙞𝙥𝙞𝙣 juga cemburuan kalau 𝙏𝙞𝙖𝙣 sama yang lain. Man, this is Beerlens coded

1,189,530 views

Report dah dibuat dan dashcam pun dah diberikan sebelum pihak motosikal membuat report, tetapi keputusannya amat mengecewakan dan menyakitkan hati dengan IPD Ipoh 😅

Report dah dibuat dan dashcam pun dah diberikan sebelum pihak motosikal membuat report, tetapi keputusannya amat mengecewakan dan menyakitkan hati dengan IPD Ipoh 😅

183,183 views

Tadi nanya istri, gimana sih caranya km bikin carousel post yg lucu gini? pas aku udah taau langsung reflek, "Lahh gini doang??" Memang kalo Ibu2 udah punya niat, pake HP pun bisa lucu gini Aku pun amaze hha Izin aku jadiin threads yaa.. Save jika tutorialnya mencerahkan~

Tadi nanya istri, gimana sih caranya km bikin carousel post yg lucu gini? pas aku udah taau langsung reflek, "Lahh gini doang??" Memang kalo Ibu2 udah punya niat, pake HP pun bisa lucu gini Aku pun amaze hha Izin aku jadiin threads yaa.. Save jika tutorialnya mencerahkan~

133,438 views

Awalnya cuma curiga… tetangga itu sering keluar malam, tanpa suara, tanpa jejak. Gak pernah ada yang berani tanya. Sampai akhirnya dipasang kamera diam-diam di belakang rumah. Malam pertama… gak ada apa-apa. Malam kedua… masih sepi. Sampai di malam berikutnya, rekaman itu berubah jadi sesuatu yang gak masuk akal. Di depan kamera, terlihat sosok duduk diam. Tubuhnya seperti manusia… tapi ada yang salah. Pelan-pelan… kepalanya terangkat. Lehernya memanjang… jauh lebih panjang dari yang seharusnya. Gerakannya kaku, tapi pasti. Seolah sedang “melepas” sesuatu dari tubuhnya sendiri. Suasana di rekaman itu tiba-tiba terasa berat, bahkan cuma nonton ulangnya aja bikin merinding. Yang paling bikin gelisah… sebelum rekaman berhenti, kepala itu perlahan menghadap ke arah kamera. Seolah sadar… ada yang mengintip. Sejak malam itu, kamera langsung dicabut. Dan gak ada yang berani ngomong lagi soal kejadian itu. Tapi satu hal yang masih kepikiran sampai sekarang… kalau dia benar-benar tahu sedang direkam, kenapa dia tetap lanjut… dan tidak menghentikannya? Seperti AI ?

Sensitive content

Awalnya cuma curiga… tetangga itu sering keluar malam, tanpa suara, tanpa jejak. Gak pernah ada yang berani tanya. Sampai akhirnya dipasang kamera diam-diam di belakang rumah. Malam pertama… gak ada apa-apa. Malam kedua… masih sepi. Sampai di malam berikutnya, rekaman itu berubah jadi sesuatu yang gak masuk akal. Di depan kamera, terlihat sosok duduk diam. Tubuhnya seperti manusia… tapi ada yang salah. Pelan-pelan… kepalanya terangkat. Lehernya memanjang… jauh lebih panjang dari yang seharusnya. Gerakannya kaku, tapi pasti. Seolah sedang “melepas” sesuatu dari tubuhnya sendiri. Suasana di rekaman itu tiba-tiba terasa berat, bahkan cuma nonton ulangnya aja bikin merinding. Yang paling bikin gelisah… sebelum rekaman berhenti, kepala itu perlahan menghadap ke arah kamera. Seolah sadar… ada yang mengintip. Sejak malam itu, kamera langsung dicabut. Dan gak ada yang berani ngomong lagi soal kejadian itu. Tapi satu hal yang masih kepikiran sampai sekarang… kalau dia benar-benar tahu sedang direkam, kenapa dia tetap lanjut… dan tidak menghentikannya? Seperti AI ?

1,840,992 views

Erika Carlina terekam jatuh tersungkur di acara Sector B yg digagas yb Reza Arap dkk, Ada momen saat Erika lagi asyik joget, tapi tiba2 jatuh tersungkur & bikin beberapa orang panik, Untungnya, Erika bisa bangun & kembali menikmati suasana acara, Selain itu, Erika juga terekam geol2 di depan DJ Bravy & bikin sang mantan pacar senyum pasrah,

Erika Carlina terekam jatuh tersungkur di acara Sector B yg digagas yb Reza Arap dkk, Ada momen saat Erika lagi asyik joget, tapi tiba2 jatuh tersungkur & bikin beberapa orang panik, Untungnya, Erika bisa bangun & kembali menikmati suasana acara, Selain itu, Erika juga terekam geol2 di depan DJ Bravy & bikin sang mantan pacar senyum pasrah,

941,923 views

Hati hati di darat ya bu🤭

Hati hati di darat ya bu🤭

801,745 views

Nenek penjual gorengan diusir dengan kasar sama pemilik ruko. Hati siapa yang tidak tersayat melihat ini ya Allah 😭😭

Nenek penjual gorengan diusir dengan kasar sama pemilik ruko. Hati siapa yang tidak tersayat melihat ini ya Allah 😭😭

3,203,892 views

Videos

dxrkchocolx's profile picture

Gambaran Amerika yang sebenarnya... Ketika jalan kaki di Kensington, Philadelphia — daerah yang sekarang udah kayak zona zombie apocalypse. Kamera goyang, langkahnya pelan, suasananya sepi mencekam. Di pinggir jalan, trotoar, bahkan di tengah trotoar... manusia-manusia tergeletak kayak mayat hidup. Badan kaku, mata kosong, mulut menganga, tangan bengkok aneh. Mereka bukan lagi “orang miskin”, mereka udah jadi korban “zombie drug” — campuran fentanyl sama xylazine (tranq) yang bikin daging busuk dan otak mati pelan-pelan. Yang ngevideoin, namanya Jashon nggak cuma lewat sambil rekam doang. Dia mendekat satu-satu. Dekat satu orang yang lagi ambruk, dia jongkok, sentuh badannya pelan, cek napasnya... “Still breathing?” Lalu dia kasih botol air, pelan-pelan tolong orang itu minum. Pindah ke orang berikutnya, yang badannya udah miring gila di trotoar. Lagi. Cek napas. Kasih air. Kasih suara. Kasih perhatian yang mungkin udah bertahun-tahun nggak mereka dapat dari siapa pun. Tiap langkah dia, bikin kalian merinding. Karena ini bukan satu-dua orang. Ini puluhan. Ratusan. Di siang bolong. Di negara paling kaya di dunia. Sementara Amerika kirim miliaran dolar ke Israel buat “bantu” orang lain, di sini anak-anak mereka, saudara mereka, tetangga mereka lagi mati perlahan di pinggir jalan... dan masyarakat pada pura-pura nggak liat. Ini bukan “homeless problem”. Ini kegagalan total sistem. Ini akibat narkoba yang masuk deras, pemerintah yang kewalahan, dan masyarakat yang terlalu sibuk flexing di sosmed sampe lupa ada “yang dilupakan” di belakang gedung-gedung mewah. Jashon cuma jalan, cek napas, kasih air, dan kasih mereka “suara”. Tapi di balik itu, dia lagi nunjukin ke kita semua: “Ini adalah Amerika yang sebenarnya.”

goods stuff

2,346,404 views • 12 days ago

"Halah, cuma karakter 2D fiksi ini, bebas lah mau diapain juga." "Saya tidak pernah dengar suaranya, apalagi beli bantalnya, gesek-gesek [kelamin] saya sambil nonton, saya ga pernah, JADI STOP HIPOKRIT!" Kalimat-kalimat di atas jujur bikin darahku mendidih. Sebagai orang yang hidup di dua dunia sekaligus, yaitu sebagai VTuber dan juga seorang sutradara, opini kayak gitu enggak cuma salah kaprah secara logika, tapi juga nyenggol ranah personal aku. Aku tahu gimana rasanya berdarah-darah bangun persona di balik avatar. Berapa jam yang abis buat persiapan, seberapa terkurasnya energi tiap kali live, dan seberapa nyatanya ikatan yang kebentuk sama penonton. Avatar itu bukan tembok pembatas antara fiksi dan realita. Justru sebaliknya, itu jembatannya. Makanya, pembelaan Dera itu bener-bener enggak masuk akal. Buat yang ketinggalan info, kemarin Dera ini bikin tier list VTuber Indonesia. Masalahnya, ini bukan tier list soal kualitas konten atau skill streaming. Kategorinya beneran seksual secara terang-terangan, bahkan Dera memperlakukan avatar & art vtubernya dengan tidak pantas. Pas komunitas VTuber protes, dia malah bikin live stream "klarifikasi" yang sama sekali gak bikin suasana adem, isinya malah makin ngaco. Di stream itu, argumen dia intinya bilang kalau ini kan cuma karakter 2 dimensi, dia enggak pernah ngelakuin hal aneh-aneh pas nonton mereka, dan malah nuduh netizen yang nonton VTuber tuh sebenernya gooner semua, dan dia yang benar. Dilanjut dengan instagram story dengan isi serupa, video terlampir. Pertama, yang Dera lakukan itu namanya logical fallacy tu quoque, atau dalam bahasa yang lebih membumi: "kamu juga begitu." Argumen "kalian juga gooner" tidak membuat tindakannya jadi benar. Lagipula, banyak sekali vtuber dan viewers yang kontennya jauh dari hal-hal seksual sekarang. Sebagian besar konten VTuber yang beredar sekarang, apalagi di skena vtuber Indonesia, isinya tuh main game bareng penonton, belajar bahasa asing sambil ngasbun, masak-masakan, atau sekadar ngobrol santai tentang hari yang berat. Ada VTuber yang jadiin channel-nya tempat belajar sejarah. Ada yang fokus ke komedi murni. Bahkan ada para v-doctor, baik dokter biasa, dokter gigi, dan dokter hewan, bahas soal kesehatan. Kebanyakan bahkan enggak pernah sekalipun nyentuh topik dewasa, karena memang bukan itu yang ingin mereka bangun. Penonton dateng bukan karena libido. Mereka dateng karena butuh temen ngobrol jam dua pagi, karena pengen ketawa setelah hari yang melelahkan, atau karena ada kreator yang bikin mereka merasa diterima tanpa harus jadi siapa-siapa dulu. Menyamaratakan semua itu sebagai "gooner" bukan cuma salah secara faktual, itu juga penghinaan terhadap jutaan orang yang menemukan sesuatu yang genuine di skena ini. Kedua, soal "cuma 2D." Sebagai sutradara, waktu aku nulis naskah, karakter di atas kertas itu emang fiksi murni. Aku bebas mau matiin karakternya, mau disiksa, atau mau diapain aja, karena mereka enggak punya perasaan, enggak punya jadwal, dan enggak punya penonton yang nungguin tiap minggu. VTuber itu beda. Avatar 2D itu lebih mirip kostum panggung daripada karakter fiksi. Di baliknya ada talent nyata, manusia beneran yang membangun reputasi bertahun-tahun, menanggung konsekuensi psikologis dan finansial kalau nama baiknya rusak, serta punya relasi parasosial yang nyata sama audiensnya. Bedanya sama karakter anime biasa jelas banget. Naruto enggak punya jadwal live streaming. Rem dari Re:Zero enggak bakal bales komentar lu pas lagi mabar. Tapi VTuber itu interaktif dan nyata. Ketika kamu bikin konten seksual tanpa consent atau izin pake identitas mereka, yang kena dampaknya bukan cuma piksel di layar, tapi manusia di baliknya. Ini Namanya Pembunuhan Karakter Orang yang baru pertama kali denger nama si VTuber lewat tier list mesum itu bakal langsung punya persepsi buruk. Mereka bakal inget si VTuber dari cap seksualnya, bukan dari karya, skill, atau konten aslinya. Ini beneran pembunuhan karakter secara harfiah. Lebih parahnya lagi, hal ini memicu normalisasi pelecehan. Penonton yang ngerasa konten begitu "lucu" atau "biasa aja" bakal bawa kebiasaan itu ke mana-mana. Mereka bakal nge-chat mesum di kolom komentar streamer lain, bikin jokes enggak pantes di forum, dan ngerasa itu hal yang wajar Normalisasi itu enggak dateng tiba-tiba kayak meteor; dia menjalar pelan-pelan akibat pembiaran dan kebiasaan. Klaim dia yang bilang "cuma mau membuka mata penonton" juga kocak sih. Mau buka mata soal apa? Sisi gelap parasosial di dunia VTuber? Bahasan itu sih udah sering didiskusiin sama orang-orang dengan cara yang jauh lebih berkelas dan elegan. Membuat tier list seksual cuma ragebait murahan yang dibungkus dengan pembenaran biar kelihatan lebih baik dari orang yang dia hina. Komunitas terbentuk dari apa yang kita normalisasi bersama. Setiap hal yang kita tertawakan, setiap konten yang kita biarkan lewat tanpa reaksi, setiap kreator yang kita pilih untuk didukung atau tidak, itu semua adalah suara. Dan suara-suara kecil itu, kalau cukup banyak yang searah, bisa membentuk seperti apa industri ini di masa depan.
0:58

Sensitive content

This media may contain sensitive content.

KalanaraDika's profile picture

"Halah, cuma karakter 2D fiksi ini, bebas lah mau diapain juga." "Saya tidak pernah dengar suaranya, apalagi beli bantalnya, gesek-gesek [kelamin] saya sambil nonton, saya ga pernah, JADI STOP HIPOKRIT!" Kalimat-kalimat di atas jujur bikin darahku mendidih. Sebagai orang yang hidup di dua dunia sekaligus, yaitu sebagai VTuber dan juga seorang sutradara, opini kayak gitu enggak cuma salah kaprah secara logika, tapi juga nyenggol ranah personal aku. Aku tahu gimana rasanya berdarah-darah bangun persona di balik avatar. Berapa jam yang abis buat persiapan, seberapa terkurasnya energi tiap kali live, dan seberapa nyatanya ikatan yang kebentuk sama penonton. Avatar itu bukan tembok pembatas antara fiksi dan realita. Justru sebaliknya, itu jembatannya. Makanya, pembelaan Dera itu bener-bener enggak masuk akal. Buat yang ketinggalan info, kemarin Dera ini bikin tier list VTuber Indonesia. Masalahnya, ini bukan tier list soal kualitas konten atau skill streaming. Kategorinya beneran seksual secara terang-terangan, bahkan Dera memperlakukan avatar & art vtubernya dengan tidak pantas. Pas komunitas VTuber protes, dia malah bikin live stream "klarifikasi" yang sama sekali gak bikin suasana adem, isinya malah makin ngaco. Di stream itu, argumen dia intinya bilang kalau ini kan cuma karakter 2 dimensi, dia enggak pernah ngelakuin hal aneh-aneh pas nonton mereka, dan malah nuduh netizen yang nonton VTuber tuh sebenernya gooner semua, dan dia yang benar. Dilanjut dengan instagram story dengan isi serupa, video terlampir. Pertama, yang Dera lakukan itu namanya logical fallacy tu quoque, atau dalam bahasa yang lebih membumi: "kamu juga begitu." Argumen "kalian juga gooner" tidak membuat tindakannya jadi benar. Lagipula, banyak sekali vtuber dan viewers yang kontennya jauh dari hal-hal seksual sekarang. Sebagian besar konten VTuber yang beredar sekarang, apalagi di skena vtuber Indonesia, isinya tuh main game bareng penonton, belajar bahasa asing sambil ngasbun, masak-masakan, atau sekadar ngobrol santai tentang hari yang berat. Ada VTuber yang jadiin channel-nya tempat belajar sejarah. Ada yang fokus ke komedi murni. Bahkan ada para v-doctor, baik dokter biasa, dokter gigi, dan dokter hewan, bahas soal kesehatan. Kebanyakan bahkan enggak pernah sekalipun nyentuh topik dewasa, karena memang bukan itu yang ingin mereka bangun. Penonton dateng bukan karena libido. Mereka dateng karena butuh temen ngobrol jam dua pagi, karena pengen ketawa setelah hari yang melelahkan, atau karena ada kreator yang bikin mereka merasa diterima tanpa harus jadi siapa-siapa dulu. Menyamaratakan semua itu sebagai "gooner" bukan cuma salah secara faktual, itu juga penghinaan terhadap jutaan orang yang menemukan sesuatu yang genuine di skena ini. Kedua, soal "cuma 2D." Sebagai sutradara, waktu aku nulis naskah, karakter di atas kertas itu emang fiksi murni. Aku bebas mau matiin karakternya, mau disiksa, atau mau diapain aja, karena mereka enggak punya perasaan, enggak punya jadwal, dan enggak punya penonton yang nungguin tiap minggu. VTuber itu beda. Avatar 2D itu lebih mirip kostum panggung daripada karakter fiksi. Di baliknya ada talent nyata, manusia beneran yang membangun reputasi bertahun-tahun, menanggung konsekuensi psikologis dan finansial kalau nama baiknya rusak, serta punya relasi parasosial yang nyata sama audiensnya. Bedanya sama karakter anime biasa jelas banget. Naruto enggak punya jadwal live streaming. Rem dari Re:Zero enggak bakal bales komentar lu pas lagi mabar. Tapi VTuber itu interaktif dan nyata. Ketika kamu bikin konten seksual tanpa consent atau izin pake identitas mereka, yang kena dampaknya bukan cuma piksel di layar, tapi manusia di baliknya. Ini Namanya Pembunuhan Karakter Orang yang baru pertama kali denger nama si VTuber lewat tier list mesum itu bakal langsung punya persepsi buruk. Mereka bakal inget si VTuber dari cap seksualnya, bukan dari karya, skill, atau konten aslinya. Ini beneran pembunuhan karakter secara harfiah. Lebih parahnya lagi, hal ini memicu normalisasi pelecehan. Penonton yang ngerasa konten begitu "lucu" atau "biasa aja" bakal bawa kebiasaan itu ke mana-mana. Mereka bakal nge-chat mesum di kolom komentar streamer lain, bikin jokes enggak pantes di forum, dan ngerasa itu hal yang wajar Normalisasi itu enggak dateng tiba-tiba kayak meteor; dia menjalar pelan-pelan akibat pembiaran dan kebiasaan. Klaim dia yang bilang "cuma mau membuka mata penonton" juga kocak sih. Mau buka mata soal apa? Sisi gelap parasosial di dunia VTuber? Bahasan itu sih udah sering didiskusiin sama orang-orang dengan cara yang jauh lebih berkelas dan elegan. Membuat tier list seksual cuma ragebait murahan yang dibungkus dengan pembenaran biar kelihatan lebih baik dari orang yang dia hina. Komunitas terbentuk dari apa yang kita normalisasi bersama. Setiap hal yang kita tertawakan, setiap konten yang kita biarkan lewat tanpa reaksi, setiap kreator yang kita pilih untuk didukung atau tidak, itu semua adalah suara. Dan suara-suara kecil itu, kalau cukup banyak yang searah, bisa membentuk seperti apa industri ini di masa depan.

Kalanara Mahardika 🎬✨

155,709 views • 1 day ago