正在加载视频...
视频加载失败
Kaum Liberal Udik Otak Dikit. Lu hadapi nih emak2 Jakarta. Yang bicara dengan fakta bukan dgn kebencian apalagi ditambah dgn ketolollan. Emak - emak ini bicara dgn sejujurnya yg dia alami. Ga membalik balik fakta seperti kelakuan PARTAI SEPUTARAN IBUKOTA yang OPORTUNIS ITU.
10 条评论

Pak Geisz Usul...Desak Anies khusus emak emak JKT untuk testimony krm kan selama ini kebaikkan/ berita ttg pak Anies gak pernah di up media. Jd mak mak yg di daerah juga bisa ngerti ThePowerOfEmakEmak 😍😍💛💛☝️

Om jgn gitu ini kejem banget buat calon yg lain, mereka harus kerja keras spy survei naik setelah ada video ini, sebab mereka ga punya track record seperti pak anis. Jgn2 nanti wowo k kampung2 lagi data rumah yg ancur akibat perang😆

Nach ini baru beneran asli tinggal di Jakarta , bukan yang katanya- katanya . Keluarga saya salah satu keluarga yang mendapatkan manfaatnya.

1000% bener alhandulillah anak dr SD sampe SMA gratis tis masih dpet KJP berangkat sekolah ga puyeng ada bus sekolah tersedia tranportaso jadi gampang...ideal dah.. jadi kalo ada oramg jakarta kaga dukung pak amies dongo abis..apalagi yg bacod sebarangan kita saksinya.

Kaum otak dikit kayaknya ada 2 macem bang, 1 org udik yg gak pernah ke jakarta tp slalu dicekokin hal2 jelek ttg jakarta. 2 org jakarta yg mata & otaknya gak sinkron. Pdhal warga pinggiran dki banyak yg berharap peta dki diperluas sampai wilayahnya kala itu (termasuk saya) 🤣🙏

Maaaak...ckp mak ceritanya...jangan bikin iri...biar kite ga iri..ayoklah AMIN kan indonesia...biar bkm jakarte doang yg teranies anies...

Harusnya semua emak², millenial, gen z yg ada di Jakarta juga melakukan testi macam ini. Klopun mereka gabisa buat sendiri videonya bisa dibantu sama teman² lain yg jago buat vlog. Banjirin deh tuh seluruh medsos dgn testi kepuasan warga Jakarta. @aniesbaswedan @aniesbubble

Klo sdh mak mak yg ngomong sepeti itu Kalian ngak bisa jawab apa apa kan. Itu semua kenyataan Kerja Anies yg disampaikan msh banyak lg keryaan nya yg belum disampaikan. Makanya Buka mata bersihkan Hati Kalian .baru Ngomong

MasyaAllah. Info seperti ini yang harus disebarkan untuk calon pemilih yang masih kemakan HOAX dari buzzer supaya sadar dan mengetahui fakta sebenarnya.

Bener banget ini sy yg pindah dri jakarta ke bekasi masih merasakan kebijakan DKI yaitu mintain susu ke abang ipar yg masih warga DKI 😂
相关视频
Sensitive content
"Halah, cuma karakter 2D fiksi ini, bebas lah mau diapain juga." "Saya tidak pernah dengar suaranya, apalagi beli bantalnya, gesek-gesek [kelamin] saya sambil nonton, saya ga pernah, JADI STOP HIPOKRIT!" Kalimat-kalimat di atas jujur bikin darahku mendidih. Sebagai orang yang hidup di dua dunia sekaligus, yaitu sebagai VTuber dan juga seorang sutradara, opini kayak gitu enggak cuma salah kaprah secara logika, tapi juga nyenggol ranah personal aku. Aku tahu gimana rasanya berdarah-darah bangun persona di balik avatar. Berapa jam yang abis buat persiapan, seberapa terkurasnya energi tiap kali live, dan seberapa nyatanya ikatan yang kebentuk sama penonton. Avatar itu bukan tembok pembatas antara fiksi dan realita. Justru sebaliknya, itu jembatannya. Makanya, pembelaan Dera itu bener-bener enggak masuk akal. Buat yang ketinggalan info, kemarin Dera ini bikin tier list VTuber Indonesia. Masalahnya, ini bukan tier list soal kualitas konten atau skill streaming. Kategorinya beneran seksual secara terang-terangan, bahkan Dera memperlakukan avatar & art vtubernya dengan tidak pantas. Pas komunitas VTuber protes, dia malah bikin live stream "klarifikasi" yang sama sekali gak bikin suasana adem, isinya malah makin ngaco. Di stream itu, argumen dia intinya bilang kalau ini kan cuma karakter 2 dimensi, dia enggak pernah ngelakuin hal aneh-aneh pas nonton mereka, dan malah nuduh netizen yang nonton VTuber tuh sebenernya gooner semua, dan dia yang benar. Dilanjut dengan instagram story dengan isi serupa, video terlampir. Pertama, yang Dera lakukan itu namanya logical fallacy tu quoque, atau dalam bahasa yang lebih membumi: "kamu juga begitu." Argumen "kalian juga gooner" tidak membuat tindakannya jadi benar. Lagipula, banyak sekali vtuber dan viewers yang kontennya jauh dari hal-hal seksual sekarang. Sebagian besar konten VTuber yang beredar sekarang, apalagi di skena vtuber Indonesia, isinya tuh main game bareng penonton, belajar bahasa asing sambil ngasbun, masak-masakan, atau sekadar ngobrol santai tentang hari yang berat. Ada VTuber yang jadiin channel-nya tempat belajar sejarah. Ada yang fokus ke komedi murni. Bahkan ada para v-doctor, baik dokter biasa, dokter gigi, dan dokter hewan, bahas soal kesehatan. Kebanyakan bahkan enggak pernah sekalipun nyentuh topik dewasa, karena memang bukan itu yang ingin mereka bangun. Penonton dateng bukan karena libido. Mereka dateng karena butuh temen ngobrol jam dua pagi, karena pengen ketawa setelah hari yang melelahkan, atau karena ada kreator yang bikin mereka merasa diterima tanpa harus jadi siapa-siapa dulu. Menyamaratakan semua itu sebagai "gooner" bukan cuma salah secara faktual, itu juga penghinaan terhadap jutaan orang yang menemukan sesuatu yang genuine di skena ini. Kedua, soal "cuma 2D." Sebagai sutradara, waktu aku nulis naskah, karakter di atas kertas itu emang fiksi murni. Aku bebas mau matiin karakternya, mau disiksa, atau mau diapain aja, karena mereka enggak punya perasaan, enggak punya jadwal, dan enggak punya penonton yang nungguin tiap minggu. VTuber itu beda. Avatar 2D itu lebih mirip kostum panggung daripada karakter fiksi. Di baliknya ada talent nyata, manusia beneran yang membangun reputasi bertahun-tahun, menanggung konsekuensi psikologis dan finansial kalau nama baiknya rusak, serta punya relasi parasosial yang nyata sama audiensnya. Bedanya sama karakter anime biasa jelas banget. Naruto enggak punya jadwal live streaming. Rem dari Re:Zero enggak bakal bales komentar lu pas lagi mabar. Tapi VTuber itu interaktif dan nyata. Ketika kamu bikin konten seksual tanpa consent atau izin pake identitas mereka, yang kena dampaknya bukan cuma piksel di layar, tapi manusia di baliknya. Ini Namanya Pembunuhan Karakter Orang yang baru pertama kali denger nama si VTuber lewat tier list mesum itu bakal langsung punya persepsi buruk. Mereka bakal inget si VTuber dari cap seksualnya, bukan dari karya, skill, atau konten aslinya. Ini beneran pembunuhan karakter secara harfiah. Lebih parahnya lagi, hal ini memicu normalisasi pelecehan. Penonton yang ngerasa konten begitu "lucu" atau "biasa aja" bakal bawa kebiasaan itu ke mana-mana. Mereka bakal nge-chat mesum di kolom komentar streamer lain, bikin jokes enggak pantes di forum, dan ngerasa itu hal yang wajar Normalisasi itu enggak dateng tiba-tiba kayak meteor; dia menjalar pelan-pelan akibat pembiaran dan kebiasaan. Klaim dia yang bilang "cuma mau membuka mata penonton" juga kocak sih. Mau buka mata soal apa? Sisi gelap parasosial di dunia VTuber? Bahasan itu sih udah sering didiskusiin sama orang-orang dengan cara yang jauh lebih berkelas dan elegan. Membuat tier list seksual cuma ragebait murahan yang dibungkus dengan pembenaran biar kelihatan lebih baik dari orang yang dia hina. Komunitas terbentuk dari apa yang kita normalisasi bersama. Setiap hal yang kita tertawakan, setiap konten yang kita biarkan lewat tanpa reaksi, setiap kreator yang kita pilih untuk didukung atau tidak, itu semua adalah suara. Dan suara-suara kecil itu, kalau cukup banyak yang searah, bisa membentuk seperti apa industri ini di masa depan.
Kalanara Mahardika 🎬
320,564 次观看 • 3 个月前
