Video wird geladen...
Video konnte nicht geladen werden
Saat Afrika butuh kereta api, AS hingga Jepang dan Uni Soviet angkat tangan. China saat itu msh negara miskin justru datang membantu. Membawa 1,5 juta ton material dan 13,5 ribu pekerja. Bahkan 70 pekerja mati krn kekurangan makanan.
789,855 Aufrufe • vor 1 Jahr •via X (Twitter)
13 Kommentare

Sejarah pembuatan jalur kereta api di Afrika Timur ini patut disebut sbg sejarah luar biasa. Dua negara Afrika, Tanzania dan Zambia sangat membutuhkan kereta api saat itu, demi bisa memutus ketergantungan pada negara sekitarnya, terutama Afrika Selatan.

Saat itulah China datang meski mereka sendiri sedang ketar-ketir kondisi ekonominya. Namun dlm waktu 5 thn, 1970-1975, mereka mampu tuntaskan pekerjaan itu.

Proyek pembuatan jalur kereta api di Tanzania ke Zambia ini sempat dinobatkan sbg proyek kereta api paling menyita tenaga sejak Perang Dunia Kedua. Lantaran mereka juga membuka jalur sampai 1,8 ribu kilometer dari jantung kota di Tanzania sampai Kapiri Mposhi.

Di balik proyek itu juga ada dua tokoh Afrika yang sangat berperan, Julius Nyerere dan Kenneth Kaunda. Nyerere adalah presiden pertama Tanzania, sedangkan Kaunda adalah presiden pertama Zambia.

Nyerere sendiri awalnya lebih berharap bisa dapat bantuan dari negara-negara barat. Makanya saat Mao Zedong menawarkan bantuan pun Nyerere gak langsung mengiyakan.

Mao sempat mengatakan, "Anda punya kesulitan, kami juga dlm kesulitan. Tapi, kesulitan kita beda." "Membantu pembangunan kereta api di negara Anda, kami hrs meninggalkan pekerjaan membangun kereta api kami. Kami pasti bantu Anda."

Bukan cuma itu, Mao bahkan memberikan kepastian kpd Nyerere bahwa kereta dan semua jalurnya itu nanti akan tetap jadi milik Tanzania dan Zambia sepenuhnya.

Namun lagi-lagi meski sudah dijanjikan spt itu pun Nyerere tetap tak langsung mengiyakan. Lebih-lebih lagi Kaunda, ia paling khawatir jika akibat proyek itu lantas komunis masuk ke negaranya.

Sebab Kaunda sendiri masih memiliki niat bisa tetap dekat dan berhubungan baik dgn Inggris. Namun di tengah segala polemik dan dilema, pekerjaan itu akhirnya tetap dijalankan oleh China.

Kaunda baru melunak dan menerima tawaran China setelah ia datang ke negara itu pada 1967. China memberikan pinjaman lunak sekitar 405 juta USD yang dilunasi dlm kurun 1973 sampai 2013, selama 40 tahun.

Sementara pihak Barat hanya melempar cibiran atas kerja sama negara-negara Afrika itu dengan China. Bahkan mereka menakut-nakuti Tanzania kelak akan dirampas oleh China.

Kutulis panjang lebar, sebagian malah hilang. Inilah yg sering berujung salah paham, hingga terkadang mengundang perdebatan.

Thousands injured in Lebanon, death toll rising. Send Humanitarian aid now with IRUSA
