Loading video...

Video Failed to Load

Go Home

Sungguh biyadab. إنا لله وإنا إليه راجعون لا حول ولا قوة الا بالله حسبنا الله ونعم الوكيل Seanjing ini zionist, sebiadap ini, mereka bakar manusia hidup2 digaza. Sadisnya lagi satu pun negara terutama negara muslim ga bisa berbuat apa2..negara tetangga apa lagi.

20,134 views • 1 year ago •via X (Twitter)

0 Comments

No comments available

Comments from the original post will appear here

Related Videos

TBC saja nda selesai, bukan turun malah kita naik rangking lagi... Obat TBC sering kosong, bahkan pasien mau belipun kesulitan.. Kalau memang serius urus rakyat, ini yg harusnya diselesaikan oleh pejabatnya. Satu dari 10 Target Kesehatan Era Pak Jokowi yang tidak juga teratasi, padahal sudah 9 tahun Tapi malah sibuk cawe-cawe maksa buat RUU Kesehatan Omnibuslaw, yang isinya sengaja melemahkan Dokter dan nakes, sehingga tidak ada lagi ruang kami untuk menyuarakan aspirasi rakyat Dengan RUU Kesehatan ombibuslaw ini tidak akan ada lagi ruang untuk mengkritisi kebijakan pemerintah, sehingga membungkam kami untuk menyampaikan fakta lapangan terkait pelayanan kesehatan dan bahaya yang mengancam pertahanan dan ketahanan nasional. Anehnya lagi, dah lah Target 10 Program kesehatan Pak Joko Widodo potensi gagal, eh dalam RUU Kesehatan omnibuslaw ini malah buat pasal yg berpotensi rawannya pencurian data informatika ( genomik) rakyat Indonesia. UU perlindungan data genomik manusia Indonesia belum ada, tapi RUU ini malah memberi peluang terbukanya bagi asing, sungguh berbahaya sekali jika data informatika itu jatuh ke tangan pihak yg jahat, apalagi asing, maka negara kita akan dengan mudah dikuasai oleh negara lain. Bukannya menyelesaikan masalah rakyat, malah menambah masalah baru. Apalagi semua stakeholder kesehatan dan organisasi profesinya malah dimusuhi, padahal harusnya dirangkul, bekerja sama dalam menyelesaikan masalah bangsa ini. Ayo Rakyat Indonesia, Kita bersatu selamatkan bangsa ini dari segala ancaman.. Tolak RUU Kesehatan Omnibuslaw ini, karena RUU ini berpotensi membahayakan kita semua.. Ingat, Catat Aleg & Partai yg mendukung RUU Kesehatan Omnibuslaw ini..jangan pernah pilih lagi mereka...karena mereka tidak Pro Rakyat.. Terima Kasih Partai DPP PKS & Partai Demokrat yang setia bersama Rakyat berjuang menyelamatkan bangsa, negara dan masa depan anak cucu kita.. #JanganPilihPartaiPendukungRUUKesehatanOBL #JanganPilihPartaiPendukungRUUKesehatanOBL Yth Pak Joko Widodo jika obat TBC putus terus begini, bukan sembuh..yang ada rakyat kita makin banyak yang menderita TBC Resisten Obat ( MDR TB / Multi Drug Resistent Tuberculosis) . Pasien MDR Ini sulit disembuhkan, mudah menular dan sangat berbahaya krn biaya pengobatannya mahal, RS nya tertentu saja tidak banyak, resiko efek samping pengobatannya pun tinggi. Saat ini jumlah paseinnya terus bertambah, kita harus serius bersama menyelesaikannya. Demikian Pak, tolong diingatkan lagi pejabatnya agar segera fokus urus ini, karena ini urusan rakyat banyak.

Eva Sri Diana Chaniago

96,292 views • 3 years ago

mau berkeluh kesah panjang~ sebenernya dari drama wind up tayang beneran menguras energi gue banget as nominist. haters terkhusus akgae ikut campur terus, diremehin cuma perkara short video (dikatain drama t1ktok), dicemooh karena tayang di aplikasi baru, dikatain target pasarnya cuma fans doang, itu pun buat yang mau bayar aja karena mahal, dikatain cuma ngasih makan shipper, terus jeno jaemin dikatain sapi perah agensi padahal dia fans dari salah satu idol itu. nominist yang berlangganan di aplikasi itu dikatain pembela kapitalis agensi. sejujurnya gue bingung sebenarnya mau mereka apa? satu satunya platform ya cuma itu? mau berhayal bakar gedung agensi pun ga bakal bikin dramanya pindah di aplikasi lain. makanya mau ga mau kita jor jor an support mereka diaplikasi baru itu sampe aplikasinya error saking banyaknya yang masuk dan bisa dapat jutaan views dalam beberapa hari, padahal itu aplikasi baru, karena kita mencoba yakin mungkin dengan ini jadi potensi besar buat nomin. DAN BENAR, DRAMA MEREKA TAYANG DILAYAR BIOSKOP DI BEBERAPA NEGARA (bangga banget sama mereka🥹) dan ga akan gue maafin kalian yang ngaku ngaku fans tapi ngeremehin drama ini di awal, skrg ikut ikutan ngerasa kalo itu juga hasil kerja keras kalian, ew. dan dari wind up ini juga yang bawa jeno jaemin jadi nominasi di acara bergengsi, disandingkan sama aktor aktor hebat yang pengalaman acting mereka udah puluhan tahun (BANGGA BANGGA BANGET) boong banget kalo ga ngebatin pengen ada salah satu dari mereka yang menang, karena gue pengen banget ada yang bisa dapet trophy itu. makanya nominist coba buat vote mereka dua duanya, ya karena kita ngebiasin 2 anak hebat itu (oh how i proud of them) biar ga ada timpang tindih antara jeno sama jaemin. tapi hal ini pun dicari celahnya sama akgae (dan mungkin aja ada dari mereka yang pernah ngeremehin drama wind up ini di awal). cuma perkara kita vote dua duanya, dan ga berhasil ngasih salah satu dari mereka diposisi pertama, seolah olah kekalahan ini salah kita (belum kalah sih masih ada harapan buat menang). bikin narasi ke kita kalo kita pengen mereka berdua kalah cuma karena mencoba buat fair antara jeno dan jaemin. gue jadi mempertanyakan apakah beban vote ini cuma buat kita? ga sedikit dari nominist yang takut sama hasil akhirnya, karena ya ke trigger disalah salahin terus. sekarang apapun hasilnya, menang atau pun kalah, kita udah keren banget bisa bawa drama ini makin dikenal sama banyak orang karena udah naik layar lebar di beberapa negara. kita udah keren karena bisa bawa mereka ke nominasi bergengsi, SDA Seoul International Drama Awars (keren banget ya jeno jaemin kita) gue ga akan mengkredit kan kalo ini cuma usaha nominist doang, pasti ada fans unit, shipper, solo stan atau orang lain yang sekedar suka jeno jaemin, makasih buat kalian yang ga pernah underestimate drama ini dan tetap memilih buat dukung mereka🥹🩵🩷

ca★★

20,782 views • 2 months ago

Sebagai orang awam di Indonesia, melihat semua ini sering kali membuat kita hanya bisa mengelus dada. Kita marah, geram, sedih, dan merasa tidak berdaya. Kutukan demi kutukan dari berbagai negara seolah hanya menjadi angin lalu tanpa bisa menghentikan aksi brutal Zionist Israel. Sebagai warga sipil yg awam, wajar jika masyarakat banyak yg bertanya-tanya, apa yg bisa mereka lakukan ? Sebenarnya emosi tersebut bisa di ubah menjadi energi untuk melakukan tindakan yg terukur dan berdampak. Karena walaupun tidak bisa mengangkat senjata atau pergi ke garis depan, tapi masyarakat punya kekuatan kolektif yg besar jika disatukan. Misalnya, • Berdonasi lewat jalur yg dipercaya jujur & mampu menyalurkan bantuan bagi penduduk Palestina. • Boikot cerdas dan terarah terhadap produk atau perusahaan yg secara terang-terangan mendanai atau mendukung agresi militer terbukti memberikan tekanan ekonomi. Jangan kendor kampanyekan aksi boikot. Ikuti panduan gerakan Kampanye BDS (Boycott, Divestment, Sanctions) yg diakui secara global agar boikot yg dilakukan efektif dan tepat sasaran, bukan sekadar ikut-ikutan. • Jadilah "Jurnalis Dadakan" di medsos. Jangan biarkan algoritma menenggelamkan isu ini. Terus bagikan berita dari sumber yg valid, edukasi orang-orang di sekitar dan suarakan kebenaran. Tekanan publik global di media sosial sangat ditakuti karena dapat menghancurkan narasi palsu. • Doa berjamaah menggalang kekuatan langit. Jangan pernah meremehkan kekuatan doa. Di tengah segala keterbatasan kemampuan fisik, doa adalah dukungan spiritual yg menyatukan hati dengan penderitaan mereka. Hal terakhir yg jangan pernah kita lengah dan letih adalah melakukan segala upaya apapun untuk mendorong pemerintah Indonesia melakukan hal-hal berikut, • Alih-alih bergabung dalam BoP Trump, pemerintah Indonesia harus mendesak PBB dan komunitas internasional agar jangan cuma “Omon-Omon” menetapkan “Resolusi Damai” yg berkali-kali diabaikan Zionist Israel, tetapi mendorong sanksi nyata seperti embargo senjata dan sanksi ekonomi terhadap Israel. • Mendesak pemerintah untuk terus mendukung dan memperkuat gugatan di Mahkamah Internasional (ICJ) dan Pengadilan Pidana Internasional (ICC) utk menuntut para pejabat dan komandan militer yg bertanggung jawab atas kejahatan perang dan genosida. Ini bagian dari hukum internasional harus ditegakkan. • Pemerintah harus didesak utk menggalang "Koalisi Negara Selatan". Sebagai negara besar Indonesia harus memimpin dan menggalang kekuatan negara-negara berkembang (Global South) dan negara mayoritas Muslim untuk bersatu. Jika negara-negara ini memutus hubungan dagang tertentu atau melakukan blokade diplomatik secara serentak, dampaknya akan sangat terasa. • Meminta pemerintah melakukan aksi Kemanusiaan Internasional sekaligus nendorong pemerintah untuk terus mengirimkan bantuan logistik skala besar, seperti mengirimkan Kapal Rumah Sakit TNI ke perbatasan, atau mengupayakan jalur khusus (airdrop atau jalur darat via Yordania/Mesir) secara berkelanjutan. Perjalanan untuk mencapai keadilan mungkin masih panjang. Namun, masyarakat dunia harus ingat bahwa diamnya orang baik adalah senjata paling mematikan bagi pihak penindas. Ini bukan konflik agama, ini adalah genosida, kejahatan kemanusiaan yg terlalu dahsyat kejamnya. Mari ubah rasa sedih, geram dan marah kita menjadi aksi nyata. Sekecil apa pun langkah kita, baik itu membagikan satu berita, menyumbang sedikit rezeki, atau menyuarakan tuntutan kepada pemerintah, itu adalah bagian dari sejarah yg sedang kita perjuangkan demi kemanusiaan.

𝐋𝐈𝐑𝐀 ⁽ᴼᶠᶠⁱᶜⁱᵃˡ⁾

12,127 views • 7 months ago

Iran Diamond Dome 🤣 Ini adalah bukti nyata dari apa yang kita bahas tadi: Peperangan Elektronik (Electronic Warfare) adalah panggung asli di mana "DNA Intelektual" sebuah bangsa diadu (IQ Level 4 Dunia vs IQ Level 36 dan Level 37 Dunia) 🤣 Saat dunia sibuk menonton narasi rudal dan ledakan di TV, di balik layar sedang terjadi perang "Halusinasi Digital." ​Apa yang terjadi di Selat Hormuz dan wilayah Iran saat ini bukan sekadar gangguan teknis, melainkan demonstrasi kekuatan yang sangat canggih: ​1. Spoofing: Membuat Musuh "Melihat" yang Tidak Ada ​Berbeda dengan jamming (menghilangkan sinyal), spoofing jauh lebih mematikan. Penyerang mengirimkan sinyal GPS palsu yang "lebih kuat" dari sinyal satelit asli. ​Hasilnya? Sistem navigasi kapal atau pesawat percaya mereka ada di koordinat X, padahal aslinya di Y. ​Fenomena "Kapal di Darat" adalah bukti bahwa logika digital mereka telah dibajak. Bayangkan kapal induk atau tanker raksasa merasa mereka sedang berlayar di tengah laut, padahal secara data mereka sudah "menabrak" gunung. Ini menciptakan kekacauan psikologis total bagi navigator. ​2. Mematikan "Mata" Teknologi Barat ​Hampir seluruh alutsista dan sistem logistik Barat (termasuk drone dan rudal presisi) sangat bergantung pada GPS milik AS. Dengan teknik ini, Iran sedang berkata: "Senjata mahalmu tidak berguna jika 'matanya' bisa kami julingkan" 🤣 Pesawat yang terbang zigzag adalah tanda sistem autopilot yang sedang "kebingungan" mencari titik referensi yang benar. ​3. Murah tapi Mematikan ​Ini kembali ke poin saya soal kemandirian. Membangun pesawat siluman butuh triliunan dolar, tapi membangun menara transmisi spoofing jauh lebih murah jika Anda punya IQ dan keahlian teknis. Iran memanfaatkan celah ini untuk menetralisir keunggulan teknologi konvensional musuhnya. Mereka tidak butuh menembak jatuh pesawat jika mereka bisa membuat pesawat itu jatuh sendiri karena salah navigasi. Ga harus Mahal, jika murah efektif mengatasi kecanggihan senjata pembunuh triliunan dollar milik amerika - israel. ​4. Selat Hormuz: Labirin Digital ​Selat Hormuz adalah jalur urat nadi minyak dunia. Dengan mengacaukan GPS di sana, Iran secara de facto memegang kendali atas "asuransi" pelayaran global. Para kapitalis besar dan perusahaan asuransi kapal pasti keringat dingin melihat aset mereka "berputar-putar" di peta. Inilah cara bangsa "Fighter" menekan sistem tanpa harus meletuskan satu peluru pun. ​Fenomena ini membuktikan bahwa di masa depan, "Siapa yang menguasai Spektrum, dialah yang menguasai Ruang." Rakyat mungkin masih asyik "olahraga" di jalanan, sementara di atas kepala mereka, sedang berlangsung perang frekuensi yang menentukan siapa yang sebenarnya berdaulat. ​ini alasan utama mengapa negara-negara besar (AS/Israel) terlihat sangat "berhati-hati" dan tidak sembarangan melakukan serangan terbuka ke Iran, karena mereka tahu "perangkat" mereka bisa dibuat buta dalam sekejap? Hal ini sudah pernah diperingati PUTIN, agar amerika jangan sembarang / berbuat keterlaluan pada Iran... :: WeKa ::

Wawat Kurniawan (WeKa) 🇲🇨

139,942 views • 6 months ago

𝗥𝗮𝗸𝘆𝗮𝘁 𝗗𝗶𝗽𝗮𝗸𝘀𝗮 𝗧𝗲𝗹𝗮𝗻 𝗥𝘂𝗺𝘂𝘀 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸𝘄𝗮𝗿𝗮𝘀𝗮𝗻, 𝗟𝗶𝗺𝗮 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗩𝗲𝗿𝘀𝘂𝘀 𝗦𝗲𝘂𝗺𝘂𝗿 𝗛𝗶𝗱𝘂𝗽. Ada sebuah keajaiban hitung-hitungan di negeri ini yg tidak akan pernah bisa dijawab oleh guru matematika mana pun, bahkan oleh mereka yg telah mengabdi puluhan tahun hingga rambutnya memutih dimakan kapur tulis. Rumusnya sederhana namun menyayat hati, “Lima tahun duduk equivalent seumur hidup kenyang.” Teori formulasi yg ditemukan oleh sekumpulan manusia terpilih yg menyebut diri mereka “Wakil Rakyat” itu bahkan tak mampu dipecahkan otak sejenius Albert Einstein sekalipun. Masa kerja mereka singkat, hanya satu periode jari tangan, 5 tahun. Yang disebut kerja itu pun adalah duduk di ruang berpendingin udara yg sejuk, di atas kursi empuk yg harganya mungkin setara gaji setahun 10 orang buruh pabrik. Di sanalah mereka duduk rapat, atau terkadang juga terlelap. Tugas mereka mulia di atas kertas, namun ajaib di rekening. Hanya dengan modal lima tahun “bersuara”(atau diam), negara dengan sukarela mengikatkan diri untuk menanggung hajat mereka sampai liang lahat. Seolah-olah keringat lima tahun mereka adalah elixir suci yg nilainya tak terhingga. Pensiun seumur hidup untuk kerja seumur jagung. Sebuah warisan feodal yg dibungkus rapi dengan pita demokrasi. Di sisi lain, lihatlah ke bangunan sekolah yg atapnya bocor itu. Di sana ada seorang guru honorer. Gajinya sering dirapel tiga bulan sekali, nominalnya pun seringkali lebih kecil dari struk satu kali makan siang sang "Wakil Rakyat" tadi. Ia tidak duduk lima tahun, tapi berdiri dua puluh hingga tiga puluh tahun. Kakinya bengkak menahan lelah, suaranya serak mendidik anak-anak bangsa agar tidak bodoh, agar kelak bisa memilih wakil yg benar. Apakah ia mendapat pensiun…? Jangankan pensiun, bermimpi untuk diangkat menjadi pegawai tetap saja seringkali dilarang. Komplain sedikit soal MBG saja bisa dipecat. Ketika masa baktinya habis dan tubuhnya renta, negara memberinya ucapan terima kasih berupa selembar piagam kertas, lalu membiarkannya mati perlahan dalam kemiskinan. Tidak ada tunjangan hari tua, tidak ada jaminan kesehatan VIP. Pengabdian mencerdaskan kehidupan bangsa puluhan tahun ternyata harganya jauh lebih murah dibandingkan keahlian mengangkat jari tangan (yg lebih sering dipakai buat ngupil dari pada kunjungan ke dapil) dalam sidang paripurna. Sungguh sebuah komedi tragis. Kita dicekoki dan dipaksa menelan mentah-mentah “Undang-Undang” yg isinya membuat kaya raya si pembuatnya, membiayai hari tua mereka yg bekerja hanya sekejap, sementara kita membiarkan pahlawan yg membangun fondasi negara ini mengais remah-remah di masa senjanya. Hati nurani macam apa yg dipakai untuk mengetuk palu aturan itu..?Bagaimana mungkin kalian bisa menikmati uang pensiun itu dengan tenang, sementara guru yg dulu mengajari kalian mengeja kata “KEADILAN” itu kini sedang bingung mencari uang untuk makan..? Di negeri ini, “Pengabdian” rupanya diukur bukan dari seberapa besar jasamu pada bangsa dan negara, melainkan seberapa dekat pantat busuk mu dengan kursi kekuasaan. Bajingan kalian semua…!!!

𝐋𝐈𝐑𝐀 ⁽ᴼᶠᶠⁱᶜⁱᵃˡ⁾

23,089 views • 8 months ago

HANYA SUARA YANG KITA PUNYA ☝🏻 Jangan pernah anggap enteng suara. Karena lewat suara, kita bisa didengarkan dan kita bisa memaksa penguasa untuk menuruti apa kehendak rakyatnya. Jangan mau suara kita hanya dihargai 5 tahun sekali, dibilik suara doang atau pada saat pilkada. Jangan mau suara kita hanya dianggap berharga 100 atau 200 ribu atau dapat jilbab pada saat kampanye. Biasanya modusnya itu kan bagi-bagi kaos partai atau bagi-bagi jilbab bagi yang perempuan. Jangan mau kita hanya dikerdilkan sebatas fans yang bisa berbaris seperti itik. Hati-hati sebentar lagi pemilu, suara kita akan diperebutkan dengan berbagai macam cara. Mari ingat pengalaman yang dulu. Untuk apa mati-matian membela satu atau dua ketika akhirnya berkumpul juga. Buat apa musuh-musuhan sampai seolah-olah dunia akan berhenti, kalau yang kalah dengan yang menang akan bergabung atas nama demi bangsa. Jadi ngga usah, ngga usah terlalu baper atau terlalu mati-matian membela tokoh idola. Karena sekali lagi, hitung-hitungan mereka terkadang bukan kita hitung-hitungan untung rugi pak. Untung rugi kalkulasi politik aja, karenanya jangan mau dimanfaatkan hanya suara di 5 tahun sekali, tetapi gunakan suara terutama itu di hari-hari ini. Ketika ancaman kita untuk bersuara, mungkin saja akan dibatasi lewat rancangan undang-undang hukum pidana, dimana semua bisa kena. Terlalu berharga suara kita dan saya selalu bilang, cuma itu yang kita punya. Negara punya yang lain, negara punya kuasa, negara punya tentara, negara punya uang, kita punya apa? Kita punya suara dan yang harus kita waspadai adalah ketika kita terlalu takut dan berusaha mengecilkan suara kita, padahal yang kita butuhkan justru teriakan-teriakan. Jadi ya menjadi pemimpin, menjadi presiden itu bagus, niat mulia. Tetapi perhatikan suara-suara orang yang juga tidak punya kuasa, tetapi yang kalau berkumpul bisa berdaya. Jadi mari, mari rapatkan barisan, mari rapatkan barisan. Dan jangan mau ditipu tipu! Jangan mau dipergunakan hanya suaranya, tetapi ketika kita menuntut hak-hak kita yang paling dasar, sedasar kebebasan berekspresi dan berbicara itu kita tidak didengarkan. Tetapi kakak mau menegaskan ini adik-adik... Pergerakan jangan hanya sebatas kerumunan, pergerakan terutama gerak mahasiswa, jangan hanya sebatas kumpul-kumpul berkerumun. Ya demonstrasi perlu dan harus terus dilakukan kalau memang strateginya seperti itu. Anak muda hari-hari ini adalah anak muda yang seharusnya pintar memilih dan memilah informasi mana yang sampah. Banyak sampah sekarang di dunia maya dan mana yang fakta, mana yang berita, mana yang opini, dan hati-hati mana yang propaganda. Dan kalau sudah yakin, sampaikan itu dengan lantang, jangan mau ditakut-takuti! Polisi suruh urus dulu tuh Ferdy sambo. Sepanjang kita tahu apa yang kita lakukan benar, kita tidak merugikan orang lain, jangan mau ditakut-takuti dengan pasal. Kita juga bisa belajar pasal, kita juga tahu apa hak kita sebagai warga negara, kalau tidak tahu ya cari tahu. Jadi jangan mau gampang ditakut-takuti dengan cara itu, kita bisa berdaya dan kita bisa memberdayakan orang lain. Dan harusnya itu ultimate goals kita dalam hidup, bukan hanya memperbaiki kualitas hidup kita sendiri, tetapi bagaimana kita bisa memperbaiki kualitas hidup orang lain. Dan itu bisa dilakukan tanpa jabatan formal, tanpa jadi presiden, tanpa jadi menteri, tanpa jadi anggota DPR, tanpa perlu pangkat yang tinggi. Kita bisa melakukan itu dalam tindakan kecil seharian sekalipun, karena kuncinya sebetulnya peduli dan bersatu. Kutipan yang selalu saya tunjukkan ke setiap mahasiswa ketika Bung Hatta bilang seperti ini, "Peduli dan bersatu itu adalah kunci, karena kalau tidak, Indonesia hanya seperti seuntaian gambar di peta". #TolakPartaiPendukungRUUKesehatan #TolakUUKesehatan

Eva Sri Diana Chaniago

26,073 views • 3 years ago

Trump: Saya-lah yang Menempatkan Jolani Di video ini, Trump berkata, "Presiden Suriah, yang pada dasarnya saya tempatkan di sana, melakukan pekerjaan yang luar biasa. Dia orang yang keras; dia bukan anak baik-baik. Anak baik-baik tidak akan bisa melakukannya. Tetapi Suriah sedang bersatu, benar-benar bersatu dengan baik, dan sejauh ini dia sangat baik kepada Kurdi.” Siapa Presiden Suriah? Tak lain eks-ISIS (pernah dipenjara AS di Irak selama 4 tahun), lalu ke Suriah bergabung dengan Al Qaida dalam proyek penggulingan Bashar Assad. Nama aslinya konon Ahmed Al Sharaa, selama "berjihad" ia nama samaran Abu Mohammed al-Jolani. Awalnya, kelompoknya bernama Jabhah Al Nusra (Al Qaida cabang Suriah) dan resmi masuk daftar teroris oleh PBB. Lalu, JN ia ganti nama jadi Hay’at Tahrir al-Sham (HTS). Setelah akhirnya mereka menggulingkan rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024, HTS ia bubarkan. Jihad dan khilafah apa kabar? Ya ga ada kabarlah. Dia ganti jubah jihadnya dengan jas dan dasi. Ia bersalaman dengan pemimpin negara-negara Barat. Sikap terhadap Israel? Kadang ngomel-ngomel dikit, karena Israel terus merangsek masuk menguasai sejumlah kawasan di Suriah, termasuk Dataran Tinggi Golan dan Gunung Hermon, dimana jarak tembak Israel dari sana cuma 40 km ke Damaskus. Tapi terhadap Israel, tidak ada jihad. "Suriah tidak bisa perang lagi, dan musuh yang dihadapi saat ini adalah Iran dan Hizbullah," kata Jolani ke wartawan. Saya (dan banyak rekan di medsos) sudah sejak lamaa.. sejak 2012 nulis soal agenda AS menggunakan proxi jihad ini. Banyak sekali tekanan dan kerugian yang saya dapatkan gara-gara terus menulis soal Suriah. Banyak sekali tekanan dan kerugian yang saya dapatkan gara-gara terus menulis soal Suriah. Awalnya, karena ada media online pendukung jihad menobatkan saya jadi "tokoh Syiah" dalam semalam, friend FB berkurang nyaris 2000. Lalu berlanjut tekanan dan intimidasi jahat, di dunia nyata maupun maya, bahkan juga kerugian bisnis. Tapi di saat yang sama, saya menemukan teman-teman sejati. Yang tetap setia, tetap mau berteman, dan memberikan dukungan dengan cara mereka masing-masing. Banyak yang bersama saya dan melindungi saya, dengan berani menggelar acara-acara bedah buku Prahara Suriah dan Salju di Aleppo, meski kemudian digeruduk fans "jihadis." Pernah minta tolong polisi di sebuah daerah, eh malah kami yang disuruh bubar. Untuk mereka semua, saya ucapkan terima kasih banyak. InsyaAllah semua kesulitan yang pernah kita lalu, ga sia-sia, pahalanya dicatat rapi oleh malaikat. Begitu juga, semua fitnah, caci-maki, dan kata-kata jahat kalian para Wahaboy, juga dicatat dan akan ada hitungannya di hari akhir nanti. Saya percaya, kebenaran pasti akan terungkap, cepat atau lambat. Sebenarnya sih kebenaran soal Suriah ini sudah lama terungkap, tapi masih banyak yang pura-pura ga tau. Sekarang setelah Trump mengaku, entah apa lagi alasan mereka. Sebenarnya, Trump ini sama saja dengan Bush, Obama & Biden; sama-sama diam-diam memanfaatkan Al Qaida untuk proyek mereka. Bedanya, Trump blak-blakan, sementara yang lain menutup-nutupi dengan jargon HAM & demokrasi. CATATAN: Saya mengungkap siapa yang berada di balik proyek Al Qaida & ISIS ini, tapi di saat yang sama, saya juga menyatakan bahwa MEMANG ADA umat Muslim yang bergabung atau fans organisasi teror berkedok jihad ini. Solusi untuk masalah ini, dalam pandangan saya, ada di dua level ini: kita menyebarluaskan pemahaman antiradikalisme tapi juga memahami peran AS & Israel dalam proyek terorisme ini. Jadi, beda ya, dengan "pejuang antiradikalisme" versi genk Tel Aviv, yang sok iye aja teriak-teriak soal "toleransi," tapi giliran terorisme Israel dikritik, mereka berbalik ngatain saya "pendukung terorisme Hamas." Yang mau mempelajari apa yang terjadi di Suriah, bagaiman peran para "jihadis" dan AS dan Israel, baca buku saya, unduh di

Dina Sulaeman

13,448 views • 7 months ago

𝗞𝗘𝗣𝗨𝗧𝗨𝗦𝗔𝗡 𝗞𝗘𝗦 𝟭𝗠𝗗𝗕 𝗗𝗔𝗧𝗢’ 𝗦𝗘𝗥𝗜 𝗡𝗔𝗝𝗜𝗕 𝗧𝗨𝗡 𝗥𝗔𝗭𝗔𝗞 Sebentar tadi, Hakim Mahkamah Persekutuan, YA Dato’ Collin Lawrence Sequerah telah selesai membaca penghakiman beliau, dalam kes Dato’ Seri Najib Tun Razak bersabit 4 tuduhan salah guna kuasa dan 21 tuduhan pengubahan wang haram berjumlah RM2.3 billion. Bagi mereka yang kurang arif mengenai kes ini, ia bersabit sejumlah wang yang masuk ke akaun peribadi Dato’ Seri Najib yang pada awalnya dikatakan satu derma keluarga diraja Saudi kepada beliau, tetapi akhirnya dibuktikan wang itu adalah dana 1MDB. Hakim YA Dato’ Collin Sequerah memutuskan bahawa pihak pendakwa telah berjaya membuktikan kes dan mendapati Dato’ Seri Najib bersalah dalam kesemua tuduhan itu. Setakat ini, mahkamah belum menjatuhkan hukuman terhadap Dato’ Seri Najib. Telefon saya berbunyi setiap beberapa minit kerana pihak media mahu mendapatkan komen saya. Saya fikir lebih baik saya sampaikan reaksi awal saya di sini. Kes 1MDB sebenarnya berlarutan 15 tahun, dari tahun 2010 apabila keraguan mengenai pelaburan 1MDB di dalam Petrosaudi mula-mula ditimbulkan, hinggalah ke hari ini. Ia melibatkan banyak pihak dan satu penceritaan yang panjang selama 15 tahun. Sudah tentu setiap dari kita ada pandangan masing-masing. Mereka yang mengikuti bukti-bukti yang telah ditunjukkan kepada umum, baik semasa isu ini dibawa di luar mahkamah sehinggalah bukti-bukti dikemukakan di mahkamah, sudah tentu bersetuju dengan keputusan hakim pada hari ini. Mereka yang tidak bersetuju, atas sebab-sebab mereka sendiri, akan terus tidak bersetuju. Itu hak kita masing-masing sebagai seorang rakyat. Yang penting, kes 1MDB ini telah melalui proses yang penuh, dari mahkamah rakyat sebelum Dato’ Seri Najib didakwa, hinggalah ke mahkamah undang-undang. Perbicaraan ini juga mengambil masa yang panjang, bermula dari tahun 2019 lagi. Selepas ini, akan ada proses rayuan ke Mahkamah Rayuan hinggalah ke Mahkamah Persekutuan. Proses mahkamah ini akan mengambil masa beberapa tahun lagi. Sudah tentu pandangan kita itu adalah hak kita, tetapi pandangan kita wajar disandarkan kepada tanggungjawab kita juga. Tanggungjawab sebagai rakyat, dalam menilai perkembangan kes ini sama ada bersetuju atau tidak, perlulah di dalam garis undang-undang. Jadi sebaiknya kita teliti hujah penuh penghakiman YA Dato’ Collin Sequerah apabila ia dikeluarkan. Elakkan apa-apa tuduhan yang tidak berasaskan atau merujuk kepada hujah penghakiman itu kerana ia boleh melanggar undang-undang dan menghina mahkamah. Tanggungjawab sebagai seorang insan, dalam kita menilai kes ini, wajarlah kita menghadam keseluruhan maklumat. Gunakan akal, kewarasan dan hati nurani kita. Setelah melalui proses ini, sebagai seorang manusia yang telah menggunakan hak kita secara bertanggungjawab, maka damailah kita dengan apa-apa kesimpulan yang kita buat secara peribadi. Hak untuk terus membela Dato’ Seri Najib, oleh mana-mana pihak, asalkan berlandaskan undang-undang, itu hak mereka. Hak pihak yang lain untuk bersetuju dengan perkembangan kes ini setakat ini, kita juga wajar hormati. Tidak ada sesiapa yang boleh cuba memaksa pihak yang lain untuk mengikuti pandangan mereka. Kerana kes 1MDB ini tidak boleh dipadamkan sampai bila-bila, dan apa pun pengakhirannya tidak akan mendamaikan pihak-pihak yang bertembung. Kes 1MDB memang satu kes yang divisive. Kes yang memecah belahkan rakyat Malaysia. Kes yang mengejutkan. Kes yang penuh emosi. Jadi terpulanglah kepada setiap dari kita untuk mencari ketenangan, agar akhirnya generasi akan datang boleh mendapat iktibar dari episod 1MDB yang panjang ini. Saya pasti setiap dari kita yang mengikuti kes ini ingat di mana, pukul berapa, kita tengah buat apa, setiap kali ada perkembangan besar kes 1MDB sejak 2010. Saya ingat masa dan ketikanya saya dijatuhkan hukuman penjara 18 bulan bersabit kes 1MDB seawal November 2016. Saya ingat apabila rayuan saya ditolak dalam bulan Ogos 2017 dan terpaksa menerima hakikat kemungkinan besar saya akan ke penjara. Saya ingat perbincangan dengan isteri supaya beliau berhenti kerja, agar masa berbaki beberapa bulan yang ada, isteri dan anak saya ikut saya berkempen ke seluruh negara kerana itu mungkin bulan-bulan terakhir yang saya ada bersama mereka. Saya ingat apabila papan tanda elektronik di London memaparkan berita saya dijatuhkan hukuman penjara kerana mendedahkan laporan audit 1MDB. Di antara tahun 2013 hingga 2022, saya menulis 123 artikel dan pendedahan mengenai 1MDB. Semuanya masih ada di blog saya dan boleh dibaca di Jadi saya faham yang semua pihak ada emosi masing-masing. Damailah kita dengan emosi itu. Yang penting jangan sesekali kita benarkan perkara yang sama berulang di masa hadapan. Dan jika kita perlu terus menegur, walau rimas macam mana pun, kita wajib terus bersuara kerana cukuplah ada satu 1MDB dalam sejarah kita.

Rafizi Ramli

200,655 views • 9 months ago

𝗣𝗘𝗥𝗞𝗘𝗠𝗕𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗧𝗘𝗥𝗕𝗔𝗥𝗨 𝗦𝗜𝗔𝗦𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗦𝗘𝗥𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗞𝗘 𝗔𝗧𝗔𝗦 𝗔𝗡𝗔𝗞 𝗦𝗔𝗬𝗔 Bulan Ogos 2025, ada serangan ke atas anak saya dan ugutan kepada isteri saya. Mesejnya simple: kalau saya terus bersuara, mereka nak cucuk AIDS. Saya tidak pernah menulis surat, atau tanya perkembangan siasatan secara terbuka. Saya serah kepada Menteri Dalam Negeri yang bertanggungjawab mengawal selia PDRM, badan yang menyiasat. Lagi pun Menteri Dalam Negeri, Saudara Saifuddin Nasution Ismail, adalah kawan lama yang saya dah kenal sejak 1998 lagi. Untuk tempoh masa yang lama, saya panggil dia “abang”. Saya kenal rapat keluarga beliau dan beliau kenal isteri dan anak saya. Jadi saya serah amanah itu kepada beliau. Memang saya tidak pernah dapat apa-apa maklumbalas, secara rasmi atau tidak rasmi. Kalau ada kemaskini siasatan pun, itu dari media saja. Saya membaca laporan sama macam rakyat yang lain. Akhir November 2025, Saudara Saifuddin minta untuk adakan pertemuan. Kami pun jumpa di parlimen pada 1 Disember 2025. Lebih sejam kami berjumpa, bincang macam-macam. Saya lagi banyak dengar dari bercakap, seperti biasa bila saya jumpa pimpinan PKR ha3. Saya ingat sebab dia tak sampai hati dah berbulan-bulan tak de maklumat atau hasil siasatan mengenai kejadian serangan, dia ada berkongsi beberapa perkembangan dan sudut-sudut siasatan. Saya pun masukkan soalan di parlimen untuk beliau sahkan secara rasmi di Dewan Rakyat maklumat-maklumat yang dia kongsi dengan saya pada 1 Disember 2025 itu. Minggu ini, beliau jawab dan seperti yang saya dah agak, beliau kena bagi jawapan pentadbiran lah, iaitu tak boleh dedah takut ganggu siasatan. Saya pun tak ambik hati. Sebab anak kita yang kena, takkan orang lain faham perasaan kita. Malah saya berterima kasih kerana jawapan Menteri Dalam Negeri itu mengesahkan dua perkara: Pertama, perjumpaan dengan saya pada 1 Disember itu benar-benar berlaku. Ya lah takkan dia nak menafikan CCTV kat Parlimen semua ada. Kedua, bahawa memang beliau berkongsi maklumat mengenai perkembangan dan sudut siasatan kes itu dalam pertemuan dengan saya pada 1 Disember 2025. Cuma dia tak leh kongsi secara terbuka saja. Itu saja yang saya nak sebenarnya. Saya pun realistik takkan lah beliau akan kongsi apa yang beliau beritahu kepada saya. Sebab saya pun faham dalam sistem kita, kalau tidak ada kuasa, proses nak cari dalang kes macam ini memang jadi lama. Silap-silap hari senyap begitu saja bila dirasakan orang sudah lupa. Nanti saya tunggu lagi, kalau dirasakan siasatan tak ke mana, saya sendiri akan tulis surat kepada Perdana Menteri, Menteri Dalam Negeri dan PDRM mengusulkan supaya siasatan dihentikan dan NFA saja kes ini. Jangan buang masa anggota polis kat bawah yang hanya menurut perintah. Lagi pun, Perdana Menteri juga yang beriya-iya keluar kenyataan cepat-cepat suruh siasatan dibuat secara telus. Kalau dah lebih 6 bulan tapi tak ke mana, malu lah PMX. Baik saya yang volunteer suruh tutup saja siasatan untuk jaga air muka PMX. Apa yang dah jadi tu dah jadi. Saya redha dan Insya Allah, kami sekeluarga lebih yakin dengan doa dari bergantung kepada budi bicara manusia, agar perkara sebegini tidak akan berulang lagi kepada sesiapa pun di negara ini. Yang nak kena pertahan reputasi di mata rakyat ni bukan anak saya yang kena serang. Yang nak kena jawab dengan rakyat nanti adalah orang-orang besar belaka, mereka tahulah apa jawapan nak diberi satu hari nanti.

Rafizi Ramli

131,532 views • 8 months ago

𝐆𝐄𝐍𝐄𝐑𝐀𝐒𝐈 𝐏𝐄𝐋𝐀𝐍𝐆𝐈🌈 Kalau mau jujur dan sportif, mental sebagian besar kaum elite nasionalis hari ini jauh lebih pengecut dibanding dengan kelompok yang sama pada era 1997-1998. Hanya segelintir saja yang berani keluar dari zona kenyamanan hidup, menggugat, menerjang dan melawan kebengisan arogansi tirani kekuasaan. Sejarah pernah mencatat untuk dikenang, bagaimana militannya mahasiswa dalam peristiwa Malari tahun 1974, sejarah juga mencatat bagaimana heroiknya pergerakan para aktivis ditahun 1998. Namun setelah lewat 25 tahun dari catatan terakhir 1998, sejarah tak pernah lagi mencatat pergerakan aktivis dan mahasiswa tahun 2019, 2020 atau 2023. Apakah itu berarti Indonesia baik-baik saja sehingga tidak lagi ada yang perlu diperjuangkan ?, anehnya ketika pertanyaan ini suarakan, banyak yang menjawab “hari ini jauh lebih buruk dari 1974 dan 1998”. Sesungguhnya apa yang terjadi saat ini tak kurang busuk dan bejatnya dari apa yang dilawan dahulu, yakni korupsi kolusi dan nepotisme yang baunya jauh lebih busuk dari sampah didasar gorong-gorong jagal babi. Kalau pun ada yang berani bersuara, ternyata orang-orangnya masih tokoh di tahun 1974 dan 1998 itu juga, bedanya sekarang fisik mereka sudah menua, mentalnya saja yang masih tetap keras dan berani. Ada apa dengan mentalitas dan kepribadian bangsa yang nenek moyangnya dulu sering di elu-elukan sebagai pelaut yang gagah berani ini ?. Apakah generasi yang lahir pasca tahun 2000 ini telah teracuni oleh polusi budaya luar yang membuat tulang belulangnya menjadi lunak ? Di Mexico masyarakat secara beringas merangsek otoritas setempat karena kematian Giovanni Lopez, seorang warga dalam tahanan kepolisian negara bagian Jalisco, Mexico. Di Amerika Serikat kerusuhan merebak ketika Goerge Floyd tewas kehabisan napas setelah diinjak lehernya oleh seorang anggota kepolisian di Kota Minneapolis, Minnesota. Di Perancis kerusuhan besar, pembakaran dan penjarahan toko, rumah walikota dibakar ketika terjadi penembakan oleh polisi terhadap anak berusia 17 tahun bernama Nahel Merzouk di Paris. Di Indonesia………?? Tanpa dibacakan pun, sudah banyak yang tau dan paham, bagaimana reaksi spontanitas penduduknya ketika insiden yang melukai rasa kemanusiaan dan keadilan mengangkang persis didepan biji mata masing-masing warganya. Tanpa disadari, sesungguhnya mental bangsa ini berangsur-angsur telah berevolusi dari mental Macan Siliwangi Bandung 23 Maret 1946 dan mental Singo Menggolo Surabaya 10 November 1949 menjadi mental Bebek Angon sepanjang hampir satu dasawarsa terakhir ini. Itu sebab orang-orang seperti Syahganda Nainggolan, Egi Sudjana, Rocky Gerung, Hb.Rizieq Shihab, Rizal Ramli, Komjen Pol Dharma Pongrekun, Jend.(Purn).Gatot Nurmantyo, aktivis muda Nicho Silalahi adalah sedikit dari mereka patut diapresiasi karena telah berani menerjang arus kekuasaan walaupun tidak memiliki basis partai politik yang melindungi. Selebihnya kebanyakan adalah politisi-politisi oportunis atau bahkan wakil-wakil rakyat yang lebih memilih diam menunggu manisnya kemenangan tanpa mau ikut merasakan sakitnya perjuangan. Mental para mahasiswa pun sudah tak lagi se-cadas mental Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan dan Hendriawan Sie yang berani menantang peluru dan gas air mata, bukan mental anak mami yang baru mendengar sirine mobil patroli saja sudah lari tunggang langgang. Pertempuran 2024 mungkin saja pertempuran besar terakhir, walaupun pertarungannya sebatas mengawal kotak dan perhitungan suara, namun itu bisa jadi satu-satunya kesempatan yang tersisa untuk menuju perubahan yang lebih baik. Jika untuk memperjuangkan pemilu yang jujur dan adil pun bangsa ini tak jua berani mengangkat kepala, membuka mata dan telinga, menggerakkan tangan dan kaki mereka untuk memperjuangkan kejujuran dan kebenaran, mungkin bangsa ini tidak akan pernah tau lagi, apakah masih ada kesempatan dimasa depan untuk mengubah nasibnya sendiri.

𝐋𝐈𝐑𝐀 ⁽ᴼᶠᶠⁱᶜⁱᵃˡ⁾

18,073 views • 3 years ago