Sensitive content
This media may contain sensitive content.
Video yükleniyor...
Video Yüklenemedi
Videonya cuma teaser… yang lengkap ada di 😎 Akses stabil, host cantik, dan pengalaman nonton tanpa ribet. Klik sekarang & nikmati LIVE-nya! 🚀 #Hot51Global #LiveShow #Indonesia #JoinNow
134,716 görüntüleme • 7 ay önce •via X (Twitter)
0 Yorum
Yorum bulunmuyor
Orijinal gönderinin yorumları burada görünecek
Benzer Videolar
0:41
Sensitive content
MAS YEBE IS BACK MINT 😭🔥✨ Ini bukan sekadar comeback ini tuh rasanya kayak mantan yang dulu pamit baik-baik, bilang “aku pergi ya, jaga diri kamu baik-baik” terus tiba-tiba nongol lagi di timeline tanpa aba-aba 🫠💔➡️💖 Setelah pamit dari Marapthon Season 3, banyak dari kita yang udah pasrah. Kayak yaudah… mungkin itu akhir cerita. Kita kira kisahnya selesai, tirai ditutup, soundtrack sedih diputar pelan di background hidup kita 🎬😔🎧 Tapi hidup memang suka plot twist yang absurd. Lagi scroll santai, tiba-tiba muncul MAS YEBE lagi di layar. Otak langsung: “LAH??? INI BENERAN ATAU AKU KURANG TIDUR???” 😭🤣 Rasanya tuh campur aduk parah. Sedih ❌ Seneng ❌ Bingung ❌ Semua digabung jadi satu paket emosi premium deluxe edition 🫠✨ Yang dulu sempet nonton sampai akhir pasti ngerti vibe ini. Waktu dia pamit tuh rasanya kayak ada bab yang ditutup. Kayak cerita yang udah selesai, walaupun masih ada banyak tanda tanya yang menggantung di udara 🌫️📖 Dan sekarang tiba-tiba dia muncul lagi. Bukan cuma muncul, tapi bawa aura yang bikin timeline auto rame lagi 🔥 Ini bukan sekadar “balik”. Ini tuh levelnya comeback cinematic universe 😭🎬 Yang dulu sempet bilang: “Kayaknya dia gak bakal balik lagi deh” Sekarang pasti lagi duduk sambil bengong: “EGILUY DIA BENERAN BALIK???” 🤣🤯 Timeline langsung berubah jadi ruang diskusi nasional dadakan. Semua orang punya teori. Semua orang punya pendapat. Ada yang bahagia, ada yang shock, ada juga yang cuma datang buat menikmati chaos seperti biasa 😌🍿 Dan jujur ya… itulah yang bikin semuanya seru. Internet tanpa drama kecil kayak gini rasanya hambar. Feed jadi kayak nasi tanpa lauk. Ada sih tapi kurang greget 🍚😩 Mas Yebe balik bukan cuma bikin nostalgia naik ke permukaan, tapi juga bikin kita inget kenapa dulu kita ngikutin ceritanya dari awal. Ada momen lucu, ada drama, ada plot yang kadang bikin kita mikir keras, tapi di situlah letak serunya 😭✨ Sekarang pertanyaannya cuma satu… Ini awal bab baru? Atau cuma cameo yang bikin kita semua overthinking seminggu ke depan? 🫠📖 Apapun itu, satu hal yang jelas: timeline kita malam ini tidak lagi sama. Mas Yebe balik, emosi netizen langsung full battery 🔋🔥 Drama meter naik, teori bermunculan, dan kita semua ya seperti biasa jadi penonton setia yang gak bisa berhenti scroll 😌📱 Yang dulu ikut nonton sampai akhir Marapthon pasti ngerti rasa ini. Yang baru tau sekarang juga pasti langsung penasaran. Dan yang pura-pura gak peduli biasanya justru yang paling rajin mantau 🤭
Catholic 𐕣
88,121 görüntüleme • 4 ay önce
0:58
Sensitive content
"Halah, cuma karakter 2D fiksi ini, bebas lah mau diapain juga." "Saya tidak pernah dengar suaranya, apalagi beli bantalnya, gesek-gesek [kelamin] saya sambil nonton, saya ga pernah, JADI STOP HIPOKRIT!" Kalimat-kalimat di atas jujur bikin darahku mendidih. Sebagai orang yang hidup di dua dunia sekaligus, yaitu sebagai VTuber dan juga seorang sutradara, opini kayak gitu enggak cuma salah kaprah secara logika, tapi juga nyenggol ranah personal aku. Aku tahu gimana rasanya berdarah-darah bangun persona di balik avatar. Berapa jam yang abis buat persiapan, seberapa terkurasnya energi tiap kali live, dan seberapa nyatanya ikatan yang kebentuk sama penonton. Avatar itu bukan tembok pembatas antara fiksi dan realita. Justru sebaliknya, itu jembatannya. Makanya, pembelaan Dera itu bener-bener enggak masuk akal. Buat yang ketinggalan info, kemarin Dera ini bikin tier list VTuber Indonesia. Masalahnya, ini bukan tier list soal kualitas konten atau skill streaming. Kategorinya beneran seksual secara terang-terangan, bahkan Dera memperlakukan avatar & art vtubernya dengan tidak pantas. Pas komunitas VTuber protes, dia malah bikin live stream "klarifikasi" yang sama sekali gak bikin suasana adem, isinya malah makin ngaco. Di stream itu, argumen dia intinya bilang kalau ini kan cuma karakter 2 dimensi, dia enggak pernah ngelakuin hal aneh-aneh pas nonton mereka, dan malah nuduh netizen yang nonton VTuber tuh sebenernya gooner semua, dan dia yang benar. Dilanjut dengan instagram story dengan isi serupa, video terlampir. Pertama, yang Dera lakukan itu namanya logical fallacy tu quoque, atau dalam bahasa yang lebih membumi: "kamu juga begitu." Argumen "kalian juga gooner" tidak membuat tindakannya jadi benar. Lagipula, banyak sekali vtuber dan viewers yang kontennya jauh dari hal-hal seksual sekarang. Sebagian besar konten VTuber yang beredar sekarang, apalagi di skena vtuber Indonesia, isinya tuh main game bareng penonton, belajar bahasa asing sambil ngasbun, masak-masakan, atau sekadar ngobrol santai tentang hari yang berat. Ada VTuber yang jadiin channel-nya tempat belajar sejarah. Ada yang fokus ke komedi murni. Bahkan ada para v-doctor, baik dokter biasa, dokter gigi, dan dokter hewan, bahas soal kesehatan. Kebanyakan bahkan enggak pernah sekalipun nyentuh topik dewasa, karena memang bukan itu yang ingin mereka bangun. Penonton dateng bukan karena libido. Mereka dateng karena butuh temen ngobrol jam dua pagi, karena pengen ketawa setelah hari yang melelahkan, atau karena ada kreator yang bikin mereka merasa diterima tanpa harus jadi siapa-siapa dulu. Menyamaratakan semua itu sebagai "gooner" bukan cuma salah secara faktual, itu juga penghinaan terhadap jutaan orang yang menemukan sesuatu yang genuine di skena ini. Kedua, soal "cuma 2D." Sebagai sutradara, waktu aku nulis naskah, karakter di atas kertas itu emang fiksi murni. Aku bebas mau matiin karakternya, mau disiksa, atau mau diapain aja, karena mereka enggak punya perasaan, enggak punya jadwal, dan enggak punya penonton yang nungguin tiap minggu. VTuber itu beda. Avatar 2D itu lebih mirip kostum panggung daripada karakter fiksi. Di baliknya ada talent nyata, manusia beneran yang membangun reputasi bertahun-tahun, menanggung konsekuensi psikologis dan finansial kalau nama baiknya rusak, serta punya relasi parasosial yang nyata sama audiensnya. Bedanya sama karakter anime biasa jelas banget. Naruto enggak punya jadwal live streaming. Rem dari Re:Zero enggak bakal bales komentar lu pas lagi mabar. Tapi VTuber itu interaktif dan nyata. Ketika kamu bikin konten seksual tanpa consent atau izin pake identitas mereka, yang kena dampaknya bukan cuma piksel di layar, tapi manusia di baliknya. Ini Namanya Pembunuhan Karakter Orang yang baru pertama kali denger nama si VTuber lewat tier list mesum itu bakal langsung punya persepsi buruk. Mereka bakal inget si VTuber dari cap seksualnya, bukan dari karya, skill, atau konten aslinya. Ini beneran pembunuhan karakter secara harfiah. Lebih parahnya lagi, hal ini memicu normalisasi pelecehan. Penonton yang ngerasa konten begitu "lucu" atau "biasa aja" bakal bawa kebiasaan itu ke mana-mana. Mereka bakal nge-chat mesum di kolom komentar streamer lain, bikin jokes enggak pantes di forum, dan ngerasa itu hal yang wajar Normalisasi itu enggak dateng tiba-tiba kayak meteor; dia menjalar pelan-pelan akibat pembiaran dan kebiasaan. Klaim dia yang bilang "cuma mau membuka mata penonton" juga kocak sih. Mau buka mata soal apa? Sisi gelap parasosial di dunia VTuber? Bahasan itu sih udah sering didiskusiin sama orang-orang dengan cara yang jauh lebih berkelas dan elegan. Membuat tier list seksual cuma ragebait murahan yang dibungkus dengan pembenaran biar kelihatan lebih baik dari orang yang dia hina. Komunitas terbentuk dari apa yang kita normalisasi bersama. Setiap hal yang kita tertawakan, setiap konten yang kita biarkan lewat tanpa reaksi, setiap kreator yang kita pilih untuk didukung atau tidak, itu semua adalah suara. Dan suara-suara kecil itu, kalau cukup banyak yang searah, bisa membentuk seperti apa industri ini di masa depan.
Kalanara Mahardika 🎬✨
315,585 görüntüleme • 1 ay önce

