Video wird geladen...

Video konnte nicht geladen werden

Zur Startseite

السفر هو الطريقة الصامتة التي تفهم بها الروح نفسها، حوار بين الأمل والهدف، ليس للوصول ولكن لتصبح. “Perjalanan adalah cara sunyi jiwa memahami dirinya sendiri, dialog antara harapan dan tujuan, bukan untuk sampai, tapi untuk menjadi.”

18,251 Aufrufe • vor 11 Monaten •via X (Twitter)

0 Kommentare

Keine Kommentare verfügbar

Kommentare vom Original-Post werden hier angezeigt

Ähnliche Videos

Tanda Ilahi Menunggu tanda dari Allah adalah bagian paling sunyi dari iman. Saat usaha sudah kita kerahkan, doa tak pernah absen, tetapi jawaban belum juga menampakkan diri. Di fase ini, kita tidak lagi bersandar pada kepastian apa pun, selain keyakinan sederhana: Allah tidak pernah lalai akan permohonan hambaNya. Diam bukan hampa, sering kali ia adalah ruang tempat Allah merapikan hati kita sebelum Dia menunjukkan arah. Dalam hidup, tanda itu jarang datang dengan suara keras. Ia bisa berupa pertemuan singkat yang membuka cara pandang baru, kegagalan yang memaksa kita berhenti lalu berbelok, atau rasa tenang yang turun tiba-tiba saat tubuh dan jiwa sama-sama lelah. Bahasa Allah sering samar, tapi bagi hati yang jujur, ia terasa nyata. Tanda ilahi juga tidak selalu dramatis. Kadang ia hadir setelah shalat, dalam ketenangan yang tak bisa dijelaskan. Kadang lewat jalan yang sengaja dimacetkan, agar kita tidak sampai ke tujuan yang salah. “Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat” (QS. Al-Baqarah [2]: 45). Seolah Allah berkata: menunggu tanda ilahi dengan sabar pun adalah ibadah. Menunggu tanda berarti belajar berhenti memaksa hasil. Belajar percaya bahwa Allah tahu kapan kita siap. Bukan hanya kapan kita ingin. Pada akhirnya, tanda dari Allah bukan sekadar jawaban. Ia adalah cara-Nya membesarkan jiwa, melapangkan dada, dan menjaga harapan tetap hidup, bahkan ketika segalanya terasa diam dan kelam. Terima kasih, Yura, untuk lagu yang menemani penantian tanda-tanda ilahi ini. 🙏🏻 Tabik, Nadirsyah Hosen

Nadirsyah Hosen

98,768 Aufrufe • vor 7 Monaten

Ada satu desa di NTT yang cara hidupnya bikin aku mikir “ternyata Indonesia seunik ini.” Namanya Desa Boti, di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Desa ini dihuni masyarakat Suku Boti, salah satu suku tua di Nusa Tenggara Timur. Yang menarik desa ini dipimpin oleh seorang usif atau raja. Tapi jangan bayangkan raja dengan istana besar atau pakaian mewah. Raja Boti, Namah Benu, justru hidup sederhana seperti masyarakat pada umumnya. Masyarakat Boti juga masih memegang erat kepercayaan Halaika dan berbagai aturan adat yang diwariskan turun-temurun. Mereka punya cara sendiri dalam mengatur kehidupan, termasuk sistem kalender yang cukup unik: satu minggu terdiri dari 9 hari. Ada Hari Api, Hari Air, Hari Besi, Hari Dewa Bumi dan Langit, Hari Perselisihan, Hari Berebutan, Hari Besar, Hari Anak-anak, sampai Hari Istirahat. Yang paling menarik buatku adalah adanya Hari Perselisihan. Hari khusus untuk menyelesaikan masalah dan konflik yang terjadi di antara masyarakat. Ada juga Hari Anak-anak, ketika anak-anak diberi ruang untuk bermain dan mengekspresikan kebahagiaannya. Lalu ada Hari Istirahat. Hari yang digunakan untuk menenangkan diri, merefleksikan hidup, dan bersyukur atas apa yang sudah dilewati selama seminggu. Mereka juga punya prinsip hidup mandiri dan tidak serakah. Alam dijaga, bukan dieksploitasi sesuka hati. Di saat kehidupan modern semakin cepat dan semua orang seperti berlomba mengejar sesuatu, masyarakat Boti justru masih mempertahankan cara hidup yang diwariskan leluhur mereka. Menurutku, bagian paling menarik dari Desa Boti bukan cuma soal adanya “raja” atau kalender 9 hari. Tapi tentang bagaimana mereka punya cara sendiri untuk memahami hidup. Mungkin kita yang hidup di zaman serba cepat ini justru bisa belajar sesuatu dari mereka: nggak semua hal harus dikejar. Ada waktunya bekerja, menyelesaikan masalah, bermain, beristirahat, dan bersyukur. Dan ternyata cara hidup seperti itu masih bertahan di Indonesia sampai hari ini.

Catholic 𐕣

11,782 Aufrufe • vor 1 Monat

Semalam, saya dalam kapasitas sebagai Ketua Umum Partai Demokrat menyampaikan sikap pandangan dan sekaligus melaporkan kepada segenap masyarakat Indonesia apa yang tengah kami lakukan menyikapi situasi terkini di tanah air. Partai Demokrat mendukung penuh langkah-langkah yang telah ditetapkan oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto. Tujuannya adalah mencari solusi yang terbaik, meredakan situasi, dan yang paling penting mencegah terjadinya korban jiwa dan kerusakan di berbagai daerah. Dalam kesempatan ini, saya juga menyampaikan duka cita dan bela sungkawa atas meninggalnya almarhum Affan Kurniawan dan sejumlah saudara kita di berbagai kota lainnya. Demokrasi dan kebebasan harus mendapatkan tempat yang baik di negeri ini, tentu diletakkan pada koridor konstitusi, undang-undang dan aturan yang berlaku. Hukum harus ditegakkan dan berlaku untuk semua, serta investigasi terhadap insiden yang telah terjadi harus diungkap secara transparan dan akuntabel. Saya menginstruksikan kepada segenap kader Demokrat untuk menjaga diri, menjaga lisan, jangan menyakiti perasaan masyarakat kita. Pesan saya agar Partai Demokrat menjadi rumah aspirasi yang membuka ruang dialog. Ingatlah, ini rakyat kita sendiri, konstituen yang kita wakili. Kalau bukan karena rakyat, tidak mungkin kita semua ada disini. Sejatinya, suara rakyat adalah suara Tuhan. Pada akhirnya, kita memiliki satu tujuan yaitu mencari solusi terbaik untuk bangsa dan negara dengan menempatkan kepentingan rakyat di atas segala-galanya.

Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)

22,903 Aufrufe • vor 1 Jahr

Cinta Laura dalam sesi TEDxUPH ungkap jika saat ini dengan kemajuan teknologi, justru rasa "bosan" yang dulu ada di diri manusia kian tergerus, "Kalau ada satu hal yang ingin aku bawa kembali ke hidup kita, itu bukan productivity hack, bukan morning routine yang baru, tapi rasa "bosan". Teknologi telah menghapus rasa bosan dari hidup kita. dan aku rasa kita tidak sepenuhnya memahami apa yang telah hilang dari diri kita. Coba pikirkan kapan terakhir kali kamu duduk dalam diam dan benar-benar tidak melakukan apa-apa. Aku pikir, banyak dari kita yang kesulitan untuk mengingatnya.Neurosains modern juga mendukung hal ini. Saat otak tidak terus-menerus dibanjiri informasi baru ia masuk ke kondisi yang berkaitan dengan kreatifitas, memori dan kemampuan menghubungkan berbagai ide. Namun saat ini kita menjadi begitu tidak nyaman dengan ketenangan hingga kita keliru menganggap stimulasi sebagai produktifitas dan distraksi adalah istirahat Mungkin itu alasannya kita tahu begitu banyak tentang hidup orang lain, tetapi justru kesulitan untuk mendengar pikiran kita sendiri. Oleh karena itu sekarang aku selalu menanyakan tiga hal pada diriku sebelum mengambil keputusan besar Apa yang akan tetap aku kejar kalau tidak ada seorang pun yang melihat? Apa yang rela aku jalani, meski aku harus buruk dalam hal itu untuk waktu yang sangat lama? Karena yang terbaik, pasti membutuhkan waktu yang lama. Dan terakhir, siapa lagi yang akan ikut merasakan manfaatnya kalau aku menjadi versi terbaik dari diriku. Ini adalah pertanyaan yang mengubah segalanya. Karena ketika tujuanmu hanya tentang dirimu sendiri pada akhirnya semuanya akan terasa hampa. Ego membuat kita terpisah, tujuan mengubungkan kita"

folkative

33,709 Aufrufe • vor 2 Monaten

siapa yang gak kenal son yejin dan jun jihyun. dua wanita yang menjadi bagian dari ikon aktris korea yang begitu melekat di era 2000-an. mereka berdua pernah dikenal sebagai “nation’s first love” dengan visual yang sejak dulu selalu jadi sorotan. tapi tau gak sih kalau yejin dan jihyun menunjukkan kalau nilai seorang perempuan nggak cuma pada seberapa cantik wajahnya. seperti yang kita tahu, di industri hiburan korea selatan visual memang sering banget mendapat perhatian. wajah cantik, aura yang kuat, penampilan yang memukau, semuanya seolah menjadi bagian penting dari perjalanan seorang aktris. tapi semakin bertambah usia, keduanya justru punya pandangan yang jauh lebih dalam soal kecantikan. bukan tentang bagaimana mempertahankan wajah agar selalu terlihat seperti dulu, tapi tentang bagaimana seseorang menerima perubahan dan menjalani hidup dengan baik. son yejin misalnya. saat menghadiri bifAn pada tahun 2024, dia sempat berbicara tentang perubahan dirinya dan bagaimana cara pandangnya terhadap kecantikan ikut berubah seiring bertambahnya usia. “setiap orang memiliki kecantikan uniknya sendiri saat di usia 20-an tetapi hal itu tidak akan bertahan selamanya. aku sempat berpikir, ‘kenapa dulu aku tidak menikmati kecantikan itu?’ tapi yang lebih penting, aku hanya ingin menua dengan anggun.” yejin sendiri sepertinya sudah sampai di titik di mana dia nggak lagi melihat perubahan sebagai sesuatu yang harus ditakuti. menurutnya, yang lebih penting bukan bagaimana caranya tetap terlihat seperti dulu, tapi bagaimana bisa menua dengan anggun dan menerima setiap perubahan yang datang. nah, pemikiran yang nggak jauh berbeda juga disampaikan oleh jun jihyun. saat ditanya soal julukan “tae-hye-ji” yang merujuk ke kim taehee, song hyekyo dan dirinya, jun jihyun mengungkapkan kalau dirinya nggak percaya seseorang harus memiliki wajah yang cantik untuk memiliki nilai. “aku bersyukur. secara pribadi, aku tidak percaya bahwa seseorang harus memiliki wajah yang cantik. semakin aku bertambah usia, aku merasa bagaimana seseorang menjalani hidup jauh lebih penting daripada apakah seseorang itu terlihat cantik atau tampan. jadi aku tidak terlalu memikirkannya ketika bercermin setiap hari. yang terpenting adalah seseorang harus menjalani hidup dengan baik.” yang membuat mereka terus dikenal sampai saat ini tuh karena kemampuan mereka sebagai aktris dan menurutku, itu jauh lebih keren. visual bisa berubah seiring waktu tapi bakat dan karya yang ditinggalkan mereka berdua di industri hiburan korea selatan nggak akan hilang begitu aja. aku suka banget dengan pemikiran mereka berdua soal ini. kayak mereka sadar kalau kecantikan itu memang ada masanya, tapi nggak berarti setelah itu semuanya selesai. justru ada banyak hal lain yang jauh lebih penting untuk dibawa sampai kita tua nanti. #sonyejin #junjihyun

egha☘︎݁˖

12,798 Aufrufe • vor 1 Monat

KEJAHATAN YG TAK TERLIHAT Kejahatan yg paling kejam, bukan hanya merampas yg telah berada di tangan, tetapi mengambil apa yg seharusnya menjadi bagian, dari tanah yg dipijak, dari laut yg diwarisi, dari hutan yg dititipkan, dari bumi yg sejak dahulu menyimpan kekayaan untuk kehidupan. Yg dirampas bukan sekadar apa yg sudah digenggam ditangan, melainkan hak yg seharusnya diberikan. Bukan sekadar hasil bumi, melainkan masa depan anak negeri. Bukan sekadar kekayaan alam, melainkan kesempatan rakyat untuk hidup lebih layak dan bermartabat. Namun ada kebodohan yg tak lagi tertandingkan, yakni ketika tangan dikosongkan, tapi mereka tak pernah merasa kehilangan. Sebab kebodohan yg paling hakiki bukanlah tdk mengetahui bhw dirinya dirampok, melainkan mengetahui ada yg telah dirampas darinya, namun tdk merasa teraniaya, hanya karena yg dirampas itu belum sempat diterima. Bagaimana mungkin merasa kehilangan, jika sejak lahir tak pernah diberi..? Bagaimana mungkin menuntut kembali, jika hak itu tak pernah diperlihatkan..? Bagaimana mungkin marah kepada pencuri, jika kita diajarkan bhw yg diambil itu memang bukan milik kita..? Padahal kekayaan negeri bukanlah milik segelintir tangan, bukan warisan untuk mereka yg berkuasa, bukan pula hadiah bagi mereka yg paling pandai mengambil kesempatan. Ia adalah amanah yg seharusnya kembali kepada rakyat, kembali dalam bentuk pendidikan yg bermutu, kembali dalam bentuk kesehatan yg layak, kembali dalam bentuk pekerjaan yg bermartabat, kembali dalam bentuk keadilan yg tegak, dan kembali dalam bentuk kehidupan yg lebih sejahtera. Maka jangan hanya bertanya, “Apa yg telah dirampas dariku..?” Tanyakan pula: “Apa yg seharusnya menjadi milikku, tetapi tak pernah sampai ke tanganku..?” Karena terkadang, perampokan terbesar dalam sejarah bukanlah ketika seseorang mengambil apa yg telah kita miliki, melainkan ketika seseorang mengambil apa yg seharusnya menjadi milik kita, sebelum kita pernah memilikinya. Dan tragedi terbesar sebuah bangsa bukan hanya ketika kekayaannya dirampok, tetapi ketika rakyatnya menyaksikan perampokan itu, mengenal siapa yg merampoknya, namun tetap berkata: “Aku tdk kehilangan apa-apa.” Sebab pada saat itu, yg telah dimutilasi dan diamputasi bukan hanya kekayaan negeri, tetapi juga, intelektual, mental, integritas dan kesadaran rakyat atas haknya sendiri.

𝐋𝐈𝐑𝐀 ⁽ᴼᶠᶠⁱᶜⁱᵃˡ⁾

22,661 Aufrufe • vor 1 Monat

"Jangan Resah, Jiwa Saya Bahagia": Pesan Menyejukkan Ustaz Jazir ASP di Penghujung Usia Dunia dakwah Indonesia kembali berduka atas wafatnya sosok visioner, Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan, Ustaz Muhammad Jazir ASP. Namun, di tengah kesedihan ini, sebuah video terakhir beliau beredar dan menjadi penguat bagi kita semua yang ditinggalkan. Meski terbaring lemah dengan alat bantu pernapasan, Ustaz Jazir memberikan "kuliah" terakhir tentang hakikat kematian yang sama sekali jauh dari kata menakutkan. Kematian Bukan Hal yang Mengerikan Dalam rekamannya, beliau secara sadar meminta momen tersebut diabadikan untuk membuktikan bahwa perjalanan menuju Alam Barzakh tidaklah pedih. "Alam Barzakh itu tidak mengerikan, tidak menakutkan, tidak menyakitkan. Jika Izrail datang memanggil... tidak (menggigil ketakutan) seperti itu," ujar beliau dengan tenang. Jasad Boleh Menderita, Tapi Ruh Bahagia Bagian paling menyentuh adalah saat beliau meminta jamaah dan keluarga untuk tidak bersedih melihat kondisi fisiknya yang penuh alat medis. Beliau menjelaskan perbedaan kontras antara penglihatan manusia dan rasa yang dialami ruh: Perspektif Manusia: Melihat raga yang menderita karena sakit dan alat rumah sakit. Perspektif Ruh: Merasakan kebahagiaan dan perjalanan "pulang" yang membahagiakan. "Kalau hari ini saya memburuk, terus mati, jangan resah... Kita melihat dia menderita, tapi ruh dan jiwanya, itu bahagia," pesan beliau. Warisan Keberanian & Ketenangan Ustaz Jazir tidak hanya meninggalkan warisan manajemen masjid Jogokariyan yang mendunia, tetapi juga contoh nyata keberanian menghadapi takdir Ilahi dengan senyuman. Beliau menutup pesannya dengan optimisme menuju keabadian bersama amal-amal salihnya. Sugeng kundur, Ustaz Jazir ASP. Ketenangan wajahmu adalah bukti nyata indahnya akhir yang husnul khotimah. #UstazJazirASP #MasjidJogokariyan #Jogokariyan #KabarDuka #HusnulKhotimah

inilahcom

31,314 Aufrufe • vor 8 Monaten

BACA BENTAR… Keren, anda Mas Tiyo 👍🏻 Di tengah hiruk-pikuk perkuliahan, target IPK, magang, dan rencana masa depan, ada satu ruang sunyi yang jarang dibicarakan: ruang kegelisahan. Kegelisahan tentang arah negara, tentang kebijakan yang terasa jauh dari harapan dan realitas sehari-hari, tentang masa depan yang tampak semakin kompetitif namun tidak selalu terasa adil. Dari ruang sunyi itulah suara Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, muncul. Apa yang ia lakukan bukan sekadar menyampaikan kritik. Ia sedang merepresentasikan kecemasan yang selama ini banyak orang rasakan tapi tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Karena apa? Karena kebodohan yang membuat mereka berpikir bahwa ada yang salah di negeri ini tapi tidak tau cara menjelaskannya bagaimana. Ketika ia berbicara tentang keadaan negara, sebenarnya ia sedang berbicara tentang keresahan generasi: tentang lapangan kerja yang makin sempit, tentang biaya hidup yang terus naik, tentang rasa khawatir apakah kerja keras saja cukup untuk bertahan. Tidak bisa dipungkiri itulah yang dirasakan generasi produktif khususnya Gen Z. Berdiri di posisi Tiyo bukanlah hal yang mudah. Menjadi mahasiswa biasa mungkin lebih tenang. Tidak perlu disorot. Tidak perlu diserang opini. Tidak perlu dituduh macam-macam. Tetapi memilih menjadi juru bicara keresahan berarti siap menghadapi konsekuensi: disalahpahami, dipelintir, bahkan diserang katakternya. Dan di situlah letak keberaniannya, bukan karena ia tidak takut, tetapi karena ia memilih tetap berjalan meski ada rasa takut. Gerakan mahasiswa selalu lahir dari satu hal yang sama: rasa memiliki terhadap negeri ini. Bukan karena merasa paling benar apalagi merasa jagoan agar dinilai keren, tetapi karena merasa terlalu peduli untuk diam. Ketika ada anak muda yang berani bersuara sekeras itu, itu bukan hanya soal politik. Itu adalah ekspresi dari identitas generasi yang tidak ingin masa depannya ditentukan tanpa partisipasi. Sc: adiyasin_

Maria A. Alkaff

36,781 Aufrufe • vor 7 Monaten

SOMEBODY PLEASE HELP HIM! Bismillahirrahmanirrahiim Kadang sejarah tidak runtuh dengan ledakan, tetapi dengan suara yang pelan, rambut yang menipis, langkah yang melambat, dan tatapan seseorang yang tiba-tiba tampak jauh dari dirinya sendiri. Dalam neurosains, tubuh mencatat semua yang tak diucapkan. Kortisol memendekkan telomer, ekor kromosom yang menjadi penanda harapan hidup, Inflamasi kronik mengubah ekspresi gen, dan wajah adalah layar bioskop tempat memori hidup diputar ulang. Rambut gugur bukan hanya genetika, ia simbol mahkota biologis yang perlahan kembali ke tanah. Dalam imunologi klinis, kita mengenal fenomena ketika tubuh menyerang dirinya sendiri. Autoimun berat sering menampakkan tanda yang tak keras suaranya, namun dalam diamnya kita membaca perang dari dalam: •kulit pucat, warna tidak stabil, mudah meradang, •moonface akibat retensi cairan dan efek steroid kronis, •rambut menipis cepat, seperti mahkota yang mulai melepas bebannya, •langkah yang pelan: bukan lemah, tapi seperti tulang yang memikul beban yang dibikin sendiri, •tatapan kosong: brain fog, ketika pikiran lelah berperang dengan segala keadaan yang tak lagi bisa diatur dan dikuasai, •postur sedikit membungkuk, seolah tubuh berkata aku bersikeras membalikkan waktu. Tulisan ini bukan untuk menuduh seorang tokoh sakit. Ini daftar tanda klinis umum, tetapi juga metafor politik tubuh. Karena sering kali sejarah dan biologi memiliki pola yang sama: tubuh yang lelah = kekuasaan yang selesai, wajah yang pucat = cahaya kuasa yang menurun, mahkota rambut yang luruh = era yang selesai. Kekuasaan jarang runtuh dengan kerusuhan. Ia surut dengan keheningan. Dengan hilangnya karisma biologis, dengan publik yang tidak lagi terpikat pada narasi lama, dengan tubuh yang perlahan berubah menjadi cerminan saatnya layar panggung ditutup Kita hidup di titik balik peradaban Nusantara. Gelombang politik bergeser dari visual ke substansi, dari teater kuasa ke audit memori, dari figur tunggal ke kesadaran kolektif. Indonesia sedang memasuki fase Working Prophecy, dimana sejarah tidak hanya dicatat, tetapi dirombak, ditafsir ulang, dan dilahirkan kembali. Ini bukan tentang satu sosok. Ini tentang sebuah era yang menua, tentang medan energi bangsa yang bergerak, tentang cerita yang meminta penulis huruf pertama baru. Mungkin gejala-gejala pada tubuh hanya potongan kecil. Namun bagi yang membaca dengan mata batin, itu terasa seperti frekuensi alam yang berkata lirih: “Bab ini sudah selesai.” Autoimun biologis adalah ketika tubuh memerangi dirinya. Autoimun politik adalah ketika bangsa memerangi ingatannya. Dan di tengah inflamasi sosial itu, kita ditanya: Apakah kita akan terus sakit, atau mulai menyembuhkan diri sebagai satu tubuh bernama Indonesia? Bangsa ini sedang berganti kulit. Dan setiap helai rambut yang gugur di panggung sejarah, adalah tanda bahwa halaman berikutnya menunggu dituliskan. Saya, untuk kesekian kalinya berkata: tolongan diingatkan, kondisinya serius dan perlu perawatan, sebelum semuanya terlambat. Laa haula wala quwwata ilabillah. Salam takzim dr. Tifauzia Tyassuma,

Dokter Tifa

38,359 Aufrufe • vor 8 Monaten

𝗗𝗶 𝗕𝗮𝗹𝗶𝗸 𝗕𝗶𝘀𝘂 𝗣𝗿𝗲𝘀𝗶𝗱𝗲𝗻, 𝗥𝗲𝘀𝘁𝘂 𝗧𝗮𝗸 𝗧𝗲𝗿𝘂𝗰𝗮𝗽 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗦𝗮𝗻𝗴 𝗝𝗲𝗻𝗱𝗲𝗿𝗮𝗹. Banyak pengamat yg keliru menafsirkan keheningan Presiden Prabowo atas penolakan Kapolri jika struktur komando institusinya dibawah Kementerian sebagai keraguan, atau bahkan pembiaran. Namun, dalam kalkulasi politik tingkat tinggi, diam adalah sebuah bahasa. Diamnya Prabowo bukanlah tanda ketidaktahuan, melainkan sebuah persetujuan strategis, sebuah “lampu hijau” yg menyala terang dalam gelapnya koridor kekuasaan. Wacana meletakkan Polri di bawah kementerian seringkali melupakan satu hukum besi birokrasi, yakni “Kekuasaan tidak pernah dengan sukarela memangkas dirinya sendiri.” Jika Polri dilucuti dari struktur langsung di bawah Presiden dan digeser ke bawah Kementerian Dalam Negeri atau kementerian baru, pihak yg mengalami kerugian administratif terbesar bukanlah Kapolri, melainkan Presiden itu sendiri. Polri, dengan rantai komando vertikal yg menjangkau hingga ke desa-desa, adalah instrumen kekuasaan eksekutif yg paling efektif. Ia adalah “tangan” Presiden untuk (dalam tanda petik) menjaga ketertiban, menegakkan hukum, dan mengamankan stabilitas keaman masyarakat. Mengapa dalam tanda petik ? Karena dalam realitas politik yg tak terkatakan Polri juga menjaga stabilitas politik dan kekuasaan Presiden, dan itu terbukti setidaknya dalam dua periode pemilu terakhir. Menempatkan Polri di bawah menteri berarti menciptakan “Portal Birokrasi” antara Panglima Tertinggi dan pasukannya. Bagi seorang Prabowo yg memahami betul arti komando dan kendali, membiarkan Polri lepas dari genggaman langsungnya adalah sebuah kemunduran strategis. Mengapa seorang Presiden mau menyerahkan pedang tertajamnya kepada seorang menteri, ketika ia bisa memegangnya sendiri..? Kapolri dengan ilusi “Pembangkangan-nya” adalah kecerdikan atau mungkin gimmick politik. Penolakan keras Kapolri terhadap wacana tersebut tampak gagah, seolah-olah institusi Polri sedang bertarung sendirian mempertahankan marwahnya. Namun, mari kita bersikap realistis. Dalam struktur ketatanegaraan dan budaya politik Indonesia yg hierarkis, mustahil seorang Kapolri berani “pasang badan” menolak wacana reformasi yg didorong oleh elemen masyarakat sipil dan sebagian parlemen, tanpa jaminan perlindungan dari atas. Jika Kapolri benar-benar bergerak sendiri, ia sedang melakukan bunuh diri politik. Ia harus berhadapan dengan koalisi gemuk Presiden di parlemen, berhadapan dengan sentimen TNI yg mungkin menginginkan keseimbangan kekuatan, dan berhadapan dengan opini publik. Keberanian Kapolri untuk berkata “Tidak” adalah indikator terkuat bahwa di belakang punggungnya, Presiden telah menepuk bahunya. Penolakan itu bukanlah pembangkangan, itu adalah penugasan. Gimmick Politik dan Status Quo Sikap tegas Kapolri hanyalah etalase depan (front-stage) dari sebuah panggung sandiwara. Ini adalah gimmick politik yg dirancang untuk dua tujuan, Pertama sebagai tes ombak, menguji seberapa kuat desakan publik tanpa harus melibatkan Presiden secara langsung. Kedua sebagai penyangga atau buffer, Kapolri menjadi “tameng” yg menyerap kritik, sementara Presiden tetap bersih, menjaga citra sebagai pemimpin yg berada di atas segala polemik, padahal dialah penerima manfaat utama dari status quo tersebut. Pada akhirnya, narasi ini membawa kita pada satu kesimpulan, bahwa keinginan untuk menempatkan Polri di bawah kementerian akan layu sebelum berkembang. Bukan karena Polri terlalu kuat, tetapi karena Presiden tidak memiliki insentif politik sedikit pun untuk melemahkannya. Diamnya Prabowo adalah suara paling lantang yg menegaskan bahwa “Reformasi Polri yg menyentuh perubahan struktur komando tidak akan pernah terjadi di dalam saku safarinya”. Reformasi Polri diperkenankan sepenuh hati para cendekiawan, akademis, aktifis, pemikir politik, pengamat birokrasi dan ahli tata negara, asal tak lebih dari setengah hati Presiden.

𝐋𝐈𝐑𝐀 ⁽ᴼᶠᶠⁱᶜⁱᵃˡ⁾

31,632 Aufrufe • vor 7 Monaten

Catatan Kecil dari Jogjakarta “Sang Surya yang Tetap Bersinar” Dua hari lalu, dalam perjalanan singkat ke Yogyakarta untuk kunjungan keluarga, langkahku terhenti di depan sebuah tempat yang dulu begitu besar dalam dunia kecilku , SD Muhammadiyah 1 Bausasran. Sekolah ini berdiri tahun 1917, satu tahun sebelum Muhammadiyah resmi berdiri pada 1918. Saat kecil, aku belum memahami makna sejarah itu. Tapi hari ini, ketika berdiri lagi di depannya, rasanya seperti berdiri di depan pintu sebuah peradaban pendidikan yang lebih tua dari usiaku, lebih tua dari zaman yang kuhuni. Ketika bersekolah di sana selama 6 tahun masa kecilku, bangunannya masih gedung tua peninggalan pemerintah Hindia Belanda , dibangun untuk anak-anak pribumi. Megah dalam kesunyian, kuno, sakral, dan penuh energi masa silam. Di situlah anak-anak didikan Muhammadiyah ditempa sebelum kelak, beberapa di antara mereka, menjadi tokoh-tokoh besar bangsa. Dan salah satu alumni paling mulianya adalah KH. AR Fachruddin (Pak AR), Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang disegani, dihormati, dan dikenang sebagai sosok bersahaja penuh hikmah. Menyadari bahwa aku pernah duduk dan dididik di sekolah yang sama dengannya menghadirkan rasa haru yang tidak bisa diterjemahkan dengan kata. Bukan soal sejajar dan setara, karena tentu aku tak sehebat beliau, tetapi soal garis sejarah yang diam-diam , ternyata menghubungkan murid kecil ini dengan sosok teladan besar. Aku masih ingat kebiasaan lamaku: menengadah ke langit-langit kelas, memandangi kasau-kasau kayu jati kuno yang beberapa di antaranya ditulisi angka 1917. Ada rasa kagum sekaligus kecil: “Ternyata tempat ini lebih dulu hidup, jauh sebelum aku datang mempelajari huruf pertama.” Namun, perjalanan waktu tak selalu lembut. Gempa besar yang melanda Yogyakarta tahun 2006 meluluhlantakkan bangunan bersejarah itu , runtuh menjadi puing, tanpa bisa diselamatkan. Dan yang kutemui tahun 2025 adalah bangunan baru, struktur baru, cat baru, ruang baru. Tetapi getaran itu tetap sama. Kesuciannya tidak hilang. Kenangannya tidak rubuh bersama tembok-tembok tua itu. Justru ia berdiri lebih utuh: di hati. Di halaman sekolah, aku berbincang sejenak dengan Ibu Supartiningsih, kepala sekolah hari ini, sementara dari kejauhan terdengar latihan marching band. Sekilas, seperti melihat bayangan diri sendiri tahun 1980: seragam gagah berumbai melekat di tubuh kecilku, tongkat komando bergemerincing di tangan, dan langkah maju yang sedikit gugup, namun tetap maju. Aku pernah jadi majorette marching band SD Muhammadiyah ketika itu. Dalam perjalanan pulang, tanpa direncanakan, mulut ini kembali menyanyikan Mars Sang Surya , lagu pertama yang kuhafal tanpa jeda, tanpa lupa. Ternyata lagu itu bukan sekadar hafalan sekolah. Ia adalah simpul memori: optimisme, keberanian, dan keyakinan bahwa kebenaran tidak perlu berteriak , cukup tetap ada. Tetap jujur. Tetap berdiri. Anda bisa mendengar suara saya yang bergetar menyanyikannya, haru dan bangga, menjadi bagian dari sebuah entitas besar, Muhammadiyah. Kunjungan singkat ini bukan nostalgia kosong. Ini pengingat sunyi bahwa nilai, keyakinan, dan keberanian yang ditanam sejak kecil tidak pernah hilang, bahkan ketika gedungnya runtuh atau zaman berubah. Salam Takzim dr.Tifauzia Tyassuma,

Dokter Tifa

23,848 Aufrufe • vor 9 Monaten

Setelah Sisca Saras dengan Pesawat Kertas 365 Hari-nya, ada lagi lagu JKT48 yang viralitasnya keluar fandom. Bahkan kali ini sampai ke fandom sebelah. Dan yap, Pia Meraleo dengan After Rain yang dibawakan di showcase solonya bulan lalu ramai TikTok. Sound lagu ini dipakai oleh fans, normies, dan fandom lain. Teriakan yang tajam dan cengkok khas Pia saat menyanyi membuat lagu After Rain jadi terasa lebih hidup dan kena di hati. Sepertinya tidak berlebihan kalau After Rain menjadi 'lagu-nya' Pia. Perjalanan lagu "After Rain-nya Pia" ini cukup unik. Lagunya viral setelah nyaris satu bulan showcase solo Pia berlangsung. Awalnya fans memakai lagu ini untuk konten no context tentang member atau peristiwa yang membawa mereka masuk di fandom ini. Sebagian besar konten ini berasal dari orang-orang yang kesepian yang akhirnya mendapatkan 'teman' atau mereka yang mencari pelarian karena patah hati. Setelahnya, sound lagu ini dipakai untuk konten perjalanan member dari trainee hingga saat ini. Ada beberapa fanbase yang juga menggunakan lagu ini untuk menceritakan journey oshi-nya. Lewat lagu ini, terlihat jelas bagaimana proses member dari awal, belajar, dan bertumbuh menjadi idol. Perjalanan bertahun-tahun itu dirangkum dengan sangat baik di durasi kurang dari 1 menit itu. Tidak sampai di situ, Zayyan, anggota boyband Kpop Xodiac menggunakan sound ini. Sepertinya ini satu-satunya lagu JKT48 yang ada di TikTok Xodiac. Kita tahu kalau Zayyan tahu JKT48 dan lagu-lagunya, tetapi tidak dengan fansnya. Mungkin ada, tapi tidak semua. Dan yap, responsnya BAGUS! BAGUS BANGET!!! Lewat Zayyan, lagu After Rain Pia ini menyentuh orang-orang yang nyaris kehilangan harapan. Magis! Menarik sekali kalau melihat dari satu lagu 'After Rain' bisa mewakili banyak kalangan; orang-orang yang kesepian, cerita sebuah usaha dan perjuangan, serta harapan seseorang yang kembali dinyalakan. Di sisi lain, tidak ada formula khusus bagaimana member dan lagu JKT48 bisa viral. Sekalinya viral, formulanya tidak bisa di-copy. Ada banyak lagu-lagu JKT48 yang liriknya bagus dan dalam, tetapi baru Pesawat Kertas Sisca dan After Rain Pia yang bisa menembus batas. Keduanya viral dengan cara yang berbeda yang tidak pernah disangkakan. Sisca dan Pia bisa dibilang beruntung, tapi mereka bukan pemula. Keduanya tidak hanya bisa bernyanyi, tidak hanya cinta menyanyi, tetapi juga sangat cakap saat menyanyi. Kemampuan seperti ini tidak lahir dari 1-2 kali latihan, bisa jadi hasil dari konsistensi belajar dan berlatih bertahun-tahun. Di SOLO 3D SHOW berdurasi 1 jam itu, Pia menyanyikan 11 lagu secara open mic. Coba dengarkan kalau tidak percaya, dari awal sampai akhir show terasa sekali energi yang disampaikan Pia. Dan tidak ada yang menyangka kalau dari 11 lagu itu, lagu After Rain menjadi dinamit yang siap meledak. Benar saja, setelah nyaris 1 bulan, Pia dan lagu After Rain-nya jadi terkenal banget. Sekali lagi, Pia dan After Rain jadi bukti kalau cinta, usaha, konsistensi, dan keberuntungan bisa ada di satu momentum. Saat semuanya terjadi, efeknya benar-benar magis. Benar-benar menemnus langit. After Rain yang dinyanyikan Pia tidak sekadar menghibur, tetapi menghidupkan kembali harapan yang nyaris menghilang. Lewat lagu ini, menyerah bukan jadi pilihan. Good job, Pia ❤️

Gigiiih 🍀💎🦖

27,654 Aufrufe • vor 1 Jahr

𝗣𝗔𝗛𝗔𝗠𝗜 𝗣𝗥𝗘𝗦𝗜𝗗𝗘𝗡 𝗣𝗥𝗔𝗕𝗢𝗪𝗢. Presiden Prabowo sudah persilahkan rakyat untuk berekspresi secara serius, tapi sayang, rakyatnya banyak yang tidak juga paham. Tiap kali rakyat teriak minta Prabowo makzulkan Gibran, adili Jokowi dan antek-anteknya, seakan Presiden dapat seperti membalikkan telapak tangan untuk memenuhi tuntutan mereka, “tidak begitu aturan mainnya…”. Jika rakyat jeli, maka mereka akan paham dengan apa yg terlihat dari dicokoknya Noel oleh KPK. Apakah ketika Prabowo berkuasa sebagai Presiden lalu serta merta Prabowo memerintahkan aparat langsung menangkap Noel lantaran dulu Noel pernah ngotot agar Polisi tangkap Prabowo dalam kasus Ratna Sarumpaet…? Tentunya tidak. Prabowo justru malah naikan Noel jadi Wamen hingga sampai-sampai orang mengira Prabowo berhati malaikat yg tak pernah menyimpan dendam. Padahal, semua diputuskan Prabowo karena moralnya Noel sudah sangat mudah dibaca. Hasilnya, dalam hitungan bulan, Noel pun dicokok KPK. Itu satu hal..!!. Hal kedua. Apa yg terlihat dari “tak tersentuhnya” Rismon Sang Pembuka Misteri Ijazah Jokowi oleh aparat hukum..? siapa yang tak kenal Rismon..? Kurang “gila” dan nekat bagaimana Rismon dalam membuat pernyataan di media. Tito, Khrisna Murti, M.Nur Azhar, semuanya Jenderal Polisi, habis “di setan-setanin” oleh Rismon didepan media. Bukan hanya personal Polrinya, namun juga institusi Polri dikritik habis-habisan. Hercules pun ditantang jika ingin menggunakan kekerasan untuk menghadapi dirinya. Rismon bahkan mempersilakan aparat untuk menangkap dirinya. Siapa yg tidak tau Ketum Partai Coklat..? Dengan kekuasaannya, Ketum Parcok pasti dengan mudah dapat membuat Rismon dipenjara. Siapa yg tidak kenal HERCULES..? Panglima GRIB yang memiliki ratusan ribu preman sebagai anak buahnya. Tapi nyatanya…..? apakah Rismon ditangkap aparat..? Apakah Rismon dibunuh Preman..? TIDAK..!! Rismon aman dan baik-baik saja..!!. Jadi siapa yg bisa melindungi Rismon dari dicokok aparat hukum dan dipersekusi preman..? Mikiiirrr….!!!. Hal ketiga. Dulu ketika massa 212 bergerak menuju Monas, berapa banyak pasukan yg dikerahkan untuk menghalangi rakyat dari berbagai wilayah masuk menuju Jakarta. Dari stasiun kereta dihalangi masuk, dari Bus dan Truk disuruh putar balik. Lalu mengapa pada rencana tanggal 25 Agustus 2025 besok rakyat begitu lancar dan mudahnya bergerak berkumpul di Jakarta tanpa ada yang menghalang-halangi…? Memangnya siapa yg mampu melarang pasukan keamanan untuk tidak menghalangi RAKYAT BEREKSPRESI….? Please, cerdaslah sedikit dalam memahami setiap kejadian. Jadi, jika pintu ruang pesta sudah dibuka, tuan rumah sudah mempersilahkan masuk, musik telah dilantunkan dan suguhan telah siapkan dengan begitu lengkapnya, maka cara menghormatinya adalah dengan BERDANSA & MENIKMATI HIDANGAN yang telah disajikan. Selamat berdansa dan bergembira di Pesta Rakyat untuk menyongsong perubahan masa depan yang lebih baik, karena setelahnya Indonesia Akan Terang tanpa antek-antek dan dinasti Mulyono.

𝐋𝐈𝐑𝐀 ⁽ᴼᶠᶠⁱᶜⁱᵃˡ⁾

20,008 Aufrufe • vor 1 Jahr