Video wird geladen...

Video konnte nicht geladen werden

Zur Startseite

๐——๐—ถ ๐—•๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ธ ๐—•๐—ถ๐˜€๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฟ๐—ฒ๐˜€๐—ถ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป, ๐—ฅ๐—ฒ๐˜€๐˜๐˜‚ ๐—ง๐—ฎ๐—ธ ๐—ง๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐—ฐ๐—ฎ๐—ฝ ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—ฆ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—น. Banyak pengamat yg keliru menafsirkan keheningan Presiden Prabowo atas penolakan Kapolri jika struktur komando institusinya dibawah Kementerian sebagai keraguan, atau bahkan pembiaran. Namun, dalam kalkulasi politik tingkat tinggi, diam adalah sebuah bahasa. Diamnya Prabowo bukanlah tanda ketidaktahuan, melainkan sebuah...

31,624 Aufrufe โ€ข vor 6 Monaten โ€ขvia X (Twitter)

0 Kommentare

Keine Kommentare verfรผgbar

Kommentare vom Original-Post werden hier angezeigt

ร„hnliche Videos

๐— ๐—”๐—ง๐—œ๐—ก๐—ฌ๐—” ๐—ก๐—”๐—Ÿ๐—”๐—ฅ & ๐— ๐—ข๐—ฅ๐—”๐—Ÿ ๐——๐—œ ๐—”๐—Ÿ๐—ง๐—”๐—ฅ ๐—ฃ๐—˜๐—ก๐—๐—”๐—๐—”๐—›๐—”๐—ก. Pernyataan Prabowo bahwa โ€œperdamaian hanya tercipta jika semua orang menjamin keamanan Israelโ€ bukan sekadar kekeliruan diplomatik, itu adalah kebangkrutan moral yg paripurna. Ini adalah sebuah lelucon gelap dalam panggung sejarah kemanusiaan, di mana logika diputarbalikkan hingga patah, dan akal sehat dipaksa berlutut di hadapan arogansi kekuasaan. Meminta dunia, dan lebih parah lagi, meminta bangsa Palestina untuk menjamin โ€œrasa amanโ€ bagi Israel adalah sebuah paradoks yg menjijikkan. Bagaimana mungkin sebuah bangsa yg tanahnya dirampas, rumahnya dibuldoser, dan anak-anaknya dibantai, kini dituntut untuk menjadi penjamin tidur nyenyak bagi si perampokโ€ฆ? Ini sama halnya dengan menuntut leher yg tercekik untuk meminta maaf kepada tangan yg mencekik karena telah membuat jemarinya lelah. Logika ini adalah sebuah anomali yg cacat dan konyol. Jika kita menggunakan standar nalar yg sama, mari kita putar waktu ke masa revolusi fisik Indonesia. Bayangkan jika Bung Karno, Sang Putra Fajar, berdiri di hadapan ribuan rakyat jelata yg lapar dan tertindas, lalu berteriak lantang, โ€œSaudara-saudara!, Kita baru bisa damai jika kita menjamin NICA tidur nyenyak!. Kita harus akui kedaulatan Belanda agar mereka merasa aman menjajah kita!โ€. Jika itu yang keluar dari mulut Soekarno, maka ia bukan pahlawan proklamator, ia akan dicatat sejarah sebagai pengkhianat yg meludahi penderitaan rakyatnya sendiri. Kemerdekaan Indonesia tidak diraih dengan menjamin kenyamanan Westerling, tapi dengan mengusir kebiadaban mereka. Menyamakan posisi penindas (okupator) dengan yg tertindas (okupied) dalam satu meja negosiasi yg menuntut jaminan keamanan bagi si kuat, adalah pengkhianatan terhadap konstitusi anti-penjajahan. Pernyataan Prabowo dalam forum internasional adalah bentuk diplomasi yg tidak membumi, yg seolah lupa siapa yg memegang senjata laras panjang dan siapa yg hanya memegang batu. Pemikiran dan logika absurd Prabowo ini merusak tatanan keadilan. Perdamaian tidak akan pernah lahir dari rahim ketidakadilan yg dipoles dengan kata-kata manis. Menuntut jaminan keamanan bagi penjajah sebelum memberikan hak hidup bagi yg dijajah adalah sesat pikir yang fatal. Itu bukan jalan menuju damai, itu adalah jalan menuju perbudakan yang dilegalisasi atas nama โ€œ๐—ฆ๐˜๐—ฎ๐—ฏ๐—ถ๐—น๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€.โ€ Sejarah tidak akan buta. Menjamin keamanan penjajah di atas tangisan korban jajahan adalah titik nadir di mana kemanusiaan kita telah resmi mati suri. Dengan sikap dan pemikirannya, Prabowo bukan hanya telah menyakiti perasaan bangsanya sendiri, namun melukai nilai-nilai kemanusiaan dan moral seluruh insan waras di muka bumi ini.

๐‹๐ˆ๐‘๐€ โฝแดผแถ แถ โฑแถœโฑแตƒหกโพ

43,738 Aufrufe โ€ข vor 6 Monaten

Bagi saya, PIK2 adalah monumen kerja nyata (sekalipun digarap oleh imperialis oligarki swasta), tapi (saat ini) bukan negara dalam negara. Ada batasan tafsir antara โ€œKenyamananโ€ dengan โ€œKedaulatan.โ€ Narasi โ€œNegara dalam Negaraโ€ hanyalah opini subyektif yg dipicu oleh emosional spontan saat melihat keteraturan yg gagal diciptakan oleh birokrasi pemerintah, namun berhasil diwujudkan oleh tangan swasta. Faktanya, secara hukum (de jure) dan fakta (de facto), PIK2 masih di bawah bendera Indonesia. Polisi, pajak, dan izinnya masih produk pemerintah. Jika di sana lebih teratur, lebih mewah, dan lebih disiplin, itu adalah manajemen kawasan komunitas, bukan pemisahan kedaulatan. Sebuah pandangan absurd menganggap keteraturan sebagai pengkhianatan nasional hanya karena sebagian besar orang terbiasa dengan kesemrawutan. PIK2 adalah manifestasi dari โ€œPerjuangan Mewujudkan Impianโ€ oleh sekelompok orang yg bergerak membangunnya sendiri, disaat negara dianggap lambat menyediakan standar hidup yang ideal. Mereka bahkan sama sekali tidak protes, tapi mereka membangun impian. Bahwa didalamnya ada misi jangka panjang, menengah, pendek, keuntungan ekonomi yg besar, rencana politik tersembunyi dan lain sebagainya, itu mungkin-mungkin saja. Tapi perkara PIK2 pada akhirnya terwujud sebagai sebuah โ€œKarya Nyataโ€, itu merupakan kerja real dari pihak-pihak yg mewujudkan impiannya. Bukankah hal yg sama pula yg kini hendak dilakukan Amerika dan Israel terhadap โ€œNew Gazaโ€ melalui konsorsium BoP-nya..? Jadi point pentingnya adalah sebuah โ€œKesadaranโ€. Yakni sadar bahwa โ€œKeteraturanโ€ itu mahal harganya, butuh kerja keras dan pengorbanan. Dalam kasus PIK2, pengorbanan oligarki itu adalah IKN yg dibayar dengan PSN (walaupun pada akhirnya dicabut di era pemerintah Presiden Prabowo), bukan hasil dari rapat-rapat retorik tanpa aksi. Dalam banyak hal, โ€œImpianโ€ dapat diwujudkan dengan spirit berjuang dengan keras dan sungguh-sungguh, termasuk hal-hal yg menyangkut impian membangun hukum, konstitusi, demokrasi serta ekonomi yg madani. Fakta hari ini, PIK2 merupakan produk dari hasil โ€œPerjuangan Mewujudkan Impianโ€ dalam โ€œKeteraturan dan Kemewahanโ€ didalamnya. Ia adalah prasasti fisik yang menampar wajah para pemimpi di siang bolong. Jika pun kelak dikemudian hari impian itu menuju kepada โ€œKedaulatan dan Otoritas Pemerintah Eksklusifโ€, boleh jadi juga akan terwujud, sepanjang intensitas kekuatan semangat yg sama dalam โ€œPerjuangan Mewujudkan Impianโ€ tersebut dengan segala pengorbanannya ditunaikan oleh para pihak yg hendak mewujudkannya. Intinya tidak ada perwujudan impian yg gratis, kecuali impian โ€œbunga tidurโ€ dari para pecundang yg ngelindur. PIK2 sejatinya adalah monumen yang dapat dijadikan tonggak pengingat, bahwa Impian hanya bisa diwujudkan dengan โ€œPerjuangan dan Pengorbananโ€, bukan sekedar omon omon dan omon di medsos, namun enol kosong didunia nyata. Ingat, kekalahan dan keterpurukan itu bukan karena orang jahat itu hebat dan kuat, tapi karena orang baik tidak mau bangkit, kompak, berjuang dan berkorban mewujudkan impiannya.

๐‹๐ˆ๐‘๐€ โฝแดผแถ แถ โฑแถœโฑแตƒหกโพ

28,147 Aufrufe โ€ข vor 3 Monaten

Partai Gerakan Rakyat baru saja mendeklarasikan diri sebagai partai politik pada pertengahan Januari 2026 (bertransformasi dari ormas dengan nama yang sama). Berikut adalah nama-nama dan tokoh kunci di balik partai tersebut : 1. Anies Baswedan (Tokoh Utama/Inspirator) Meskipun dalam struktur partai saat deklarasi statusnya disebut sebagai Anggota Kehormatan (pemegang KTA nomor 0001) dan Tokoh Inspirasi, Anies Baswedan adalah figur sentral dari partai ini. Partai ini secara eksplisit didirikan sebagai kendaraan politik untuk mendukung Anies Baswedan maju kembali sebagai Calon Presiden pada Pilpres 2029. Mantan Gubernur DKI Jakarta dan Calon Presiden pada Pilpres 2024. Basis massa partai ini berasal dari relawan pendukung Anies. 2. Sahrin Hamid (Ketua Umum) Sahrin Hamid adalah figur eksekutor utama yang memimpin struktur partai. Menjabat sebagai Ketua Umum Partai Gerakan Rakyat. Sebelumnya, ia adalah Ketua Umum ormas Gerakan Rakyat. Ia dikenal sebagai mantan juru bicara Anies Baswedan di Pilpres 2024 dan pernah menjabat sebagai Ketua DPW PAN (Partai Amanat Nasional) Maluku. 3. Muhammad Ridwan (Sekretaris Jenderal) Muhammad Ridwan menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) yang mengurusi administrasi dan organisasi partai. Ia sebelumnya juga memegang posisi yang sama saat Gerakan Rakyat masih berbentuk ormas. Perubahan status dari ormas menjadi partai politik diputuskan melalui mekanisme internal (Rakernas) dengan tujuan utama mengonsolidasikan kekuatan relawan menjadi kekuatan politik formal untuk pemilu mendatang. Tak dapat dipungkiri bahwa diresmikannya partai politik Gerakan Rakyat adalah antitesis Prabowo, yakni manifesto Anies Baswedan yg menolak tunduk pada rezim yang sekedar membebek dan melegitimasi manipulasi konstitusi dinasti Jokowi. Gerakan Rakyat adalah ultimatum moral oposisi yg amanah, fatonah dan sadiq, untuk tetap istiqomah menolak hanyut dalam arus pemerintahan yg menjadi bayang-bayang dinasti cacat etika politik. Anies Baswedan memilih jalan terjal oposisi daripada kenyamanan istana yg dibangun di atas reruntuhan integritas. Ini bukan sekadar soal kursi kekuasaan, ini adalah soal menjaga harga diri dan kehormatan demokrasi agar tetap waras. โ€œSebuah garis tegas, bahwa integritas tak bisa ditukar dengan kursi kekuasaan.โ€

๐‹๐ˆ๐‘๐€ โฝแดผแถ แถ โฑแถœโฑแตƒหกโพ

96,611 Aufrufe โ€ข vor 6 Monaten

โ€œPEMERINTAH PRABOWO TIDAK BISA LANGSUNG KERJAโ€ Oleh : Henri Subiakto Kebijakan politik Prabowo dengan menambah atau mengubah ubah nama atau nomenklatur kementerian itu sama saja harus siap membuang waktu penataan hingga bisa sampai satu tahun. Terutama untuk kementerian yang harus membuat struktur baru, atau menyesuaikan dengan struktur kelembagaan baru karena kementerian berubah nama, struktur, atau tupoksi baru. Setelah menteri dilantik, mereka harus membuat regulasi tata kelola yang baru terkait struktur yang sebelumnya tidak ada atau berubah. Kemudian mereka juga harus membuat program kerja baru sesuai struktur yang baru. Tentu saja segera pula membuat anggaran sesuai struktur dan program baru tersebut. Berbarengan dengan itu pemerintah harus melakukan Pemilihan staf eselon atau SDM sesuai aturan. Dari eselon 1 eselon 2 hingga eselon 3, bahkan sampai 4 sesuai tatanan aturan kementerian sekarang. Kemudian karena ada perubahan nama dan lembaga, maka logo, kop surat, website dan berbagai simbol lembaga juga harus diubah sesuai struktur baru. Ini ribet karena harus kordinasi dengan kementerian PAN, Kementerian Keuangan dan Bapenas hingga Setneg. Akan lebih ribet lagi jika tiga kementerian pendukung itu juga mengalami perubahan. Kemudian untuk pemerintah daerah di tingkat provinsi hingga kabupaten kota juga harus menyesuaikan struktur kementerian yang berubah baru itu. Agar Pemerintah Daerah juga mempunyai dinas yang terkait urusan Pemerintahan dan pelayanan yang berubah itu. Ini juga rumit dan butuh dasar regulasi untuk aturan terkait tupoksi dan penganggaran maupun persoalan SDM. Tiap kementerian baru atau yang berubah harus kordinasi dengan kementerian dalam negeri, untuk menyiapkan struktur yg sesuai hingga di daerah. Jadi mengubah struktur kementerian dan kabinet menjadi gemuk itu bukan sekadar menunjuk orang yang akan jadi menteri, dan wakil menteri, tapi memiliki konsekuensi panjang terkait struktur, penganggaran dan SDM hingga di daerah di seluruh Indonesia. Belum lagi terkait kordinasi dengan partner mereka di DPR atau legislatif. Nah untuk itu tentu semakin banyak kementerian yang berubah, semakin butuh waktu dan biaya untuk menyelesaikan persoalan struktur kelembagaan ini. Pada saat perubahan masih berproses, maka sebagian besar ASN di kementerian yg berubah gak bisa langsung kerja. Padahal pemerintah Prabowo dituntut dan diharapkan untuk segera melakukan perbaikan. Melakukan pelayanan. Bahkan Pemerintah dievaluasi dan ditunggu kinerjanya dalam 100 hari, dalam setahun dll. Kebijakan Pemerintah baru mengubah struktur yang begitu banyak tersebut menunjukkan kurang memperhitungkan pengalaman yang tak mudah ini. Karena harus diingat pejabat atau ASN itu harus bekerja sesuai aturan, jika mereka melanggar aturan dan merugikan uang negara maka itu masuk katagori korupsi. Repotnya aturan tupoksi masih yang lama, struktur masih lama, disitulah birokrasi butuh waktu menyiapkan dan menata agar aman tidak melanggar aturan sekaligus tidak masuk perangkap korupsi. Ini bukan masalah sederhana tapi rumit. Beruntung bagi kementerian atau lembaga yang tidak berubah nomenklatur. Makanya mengubah ubah struktur dan nama kementerian itu punya konsekuensi panjang. Pasti butuh wajtu hingga bisa melakukan pelayanan dan kerja untuk publik. Sayangnya Presiden lebih mendahulukan mengakomodasi kepentingan pendukung politik dibanding pertimbangan mendahulukan pelayanan segera pada rakyat dan negara yang harus secepatnya dilakukan. Mengubah ubah kementerian juga akan jadi preseden buruk dan inefisiensi waktu maupun anggaran. Presiden baru di 5 tahun mendatang belum tentu cocok dengan struktur yang diubah sekarang. Maka ini juga bisa memunculkan inkonsistensi pemerintahan-pemerintahan di masa depan. Itulah harga pak Prabowo ingin mengakomodasi atau merangkul banyaknya kekuatan politik di negeri ini.

Henri Subiakto

123,951 Aufrufe โ€ข vor 1 Jahr

๐Œ๐๐†, ๐Œ๐ž๐ง๐œ๐ž๐ ๐š๐ก ๐’๐ญ๐ฎ๐ง๐ญ๐ข๐ง๐  ๐†๐ข๐ณ๐ข & ๐ƒ๐ฎ๐ค๐ฎ๐ง๐ ๐š๐ง ๐๐จ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ค. Kalau tadi siang kita mengulas tentang MBK, maka sebelum malam berganti hari, mari sedikit kita intip tentang MBG. Bayangkan, jumlah 32.000 orang, di atas kertas mereka adalah laskar gizi, juru masak garda depan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, di mata para perancang strategi, mereka adalah investasi. Karena di balik uap nasi dan seragam dapur, ada uniform politik. Di dapur-dapur raksasa itu, aroma yg tercium bukan hanya bawang goreng atau nasi yg baru matang. Ada aroma lain yang lebih pekat, lebih politis yg menyelinap di antara desis kompor dan denting panci. Tiba-tiba, label "pegawai honorer" atau "pekerja kontrak" dirasa tak cukup. Mereka harus dibalut dengan seragam khusus, disematkan lencana Korpri, dan diberi "takhta" bernama ASN. Sebuah lompatan status sosial yg di negeri ini setara dengan memenangkan lotre kehidupan. Siapa yg akan menolak jaminan pensiun dan gaji tetap di tengah ekonomi yg serba tak pasti..?, tidak ada. Dan di situlah letak jeniusnya (atau mungkin liciknya). Sebab dalam kalkulator kekuasaan, angka 32.000 itu tidak pernah berdiri sendiri. Ia adalah hulu ledak dengan daya ganda. Satu seragam ASN bukan hanya mengikat satu jiwa, tapi menyandera satu meja makan keluarga. Asumsikan satu pekerja menanggung atau mempengaruhi empat kepala, ada istri, suami, anak yg baru cukup umur, atau orang tua yg menumpang hidup. Dalam sekejap mata, 32.000 berubah menjadi 128.000 loyalitas yg terkunci. Bukan dengan paksaan senjata, tapi dengan rasa โ€œberutang budiโ€ dan ketakutan klasik akan hilangnya periuk nasi. Namun, jaring laba-laba ini tak berhenti hanya disitu, ia melebar lebih jauh dari sekadar ruang keluarga. Lihatlah ke pasar, ke pengepul telur, ke petani sayur, hingga ke supir boks pengantar katering. Mereka semua kini menjadi gerbong yg ditarik oleh lokomotif yg bernama MBG. Ketika status para juru masak ini dipermanenkan, maka status para vendor dan supplier pun ikut dipatenkan, apalagi tidak ada aturan tender disitu. Para supplier bahan pangan kini paham satu hal, bahwa kelangsungan bisnis mereka bergantung pada kelangsungan program ini. Dan kelangsungan program ini bergantung pada siapa yang duduk di singgasana. Rantai pasok ini tidak lagi sekadar urusan logistik, ia telah bermutasi menjadi rantai komando politik. Pada akhirnya, kita diajak melihat sebuah pertunjukan sulap yg memukau. Di satu tangan, mereka menyuapkan gizi untuk mencegah stunting anak bangsa. Namun di tangan lain, di bawah meja, mereka sedang sibuk merajut jaring pengaman suara untuk mencegah stunting dukungan politik. Di negeri ini, pepatah lama itu menemukan bentuk paling harfiahnya, โ€œTidak ada makan siang yg benar-benar gratisโ€. Karena tagihannya akan selalu datang lima tahun sekali, di bilik suara.

๐‹๐ˆ๐‘๐€ โฝแดผแถ แถ โฑแถœโฑแตƒหกโพ

19,598 Aufrufe โ€ข vor 6 Monaten

Saya sering diprotes karena dulu dianggap ndukung Jokowi, kemudian sejak 2023 berbalik. Iya memang dulu saya bekerja di dalam Pemerintahan. Itu karena sejak 2007 saya masuk di Pemerintah, saat presiden berganti dari SBY ke Jokowi (2014), saya masih ada di pemerintah. Sebagaimana jajaran birokrasi, maka wajib mendukung โ€œPemerintah yang sahโ€ yaitu presiden Ke 7 dengan ikut mensukseskan pemerintahan negara. Pemilu 2014 dan 2019 kami netral, tidak ikut kampanye. Tidak ikut pula dukung mendukung politik. Kami masih di dalam menjadi bagian dari Pemerintah. Sebagamana diketahui Pemerintahan Indonesia saat itu sedang menghadapi kelompok2 yang ingin menurunkan dan mengganti pemerintah, lewat demo berjilid2, ada gerakan 411, 212 hingga demo2 besar ikutan lainnya. Gerakan politik itu banyak dinilai sebagai ancaman terhadap demokrasi, bahkan stabilitas NKRI. Kekuatan pro demokrasi dan pro NKRI menentang dan mengkritisi gerakan2 politik yg menggunakan simbol2 agama. Mereka itu identik jadi gerakan โ€œlawan politikโ€ pemerintah yang sah. Ternyata pemerintahan Jokowi makin kuat dan mampu konsolidasi, kemudian semakin percaya diri. Mulai saat itu kami melihat politik berubah. Jokowi nampak ingin terus berkuasa, dan melakukan berbagai cara agar bisa memperpanjang kekuasaaanya. Salah satu yg dilakukan adalah merangkul musuh, dan menyandera politisi sekelilingnya. Orang yg dulu jadi simbol anti demokrasi, dijadikan mitra politiknya. Partai partai โ€œditundukkanโ€ elitnya. Sebenarnya itu boleh2 saja sebagai strategi pilihan politik. Yang jadi masalah, di dalam senyap ada rekayasa terhadap proses demokrasi. Ada pemaksaan regulasi, dengan cawe cawe mempengaruhi Mahkamah konstitusi. KPU, partai partai politik, para politisi, dan aparat negara dibuat tunduk mensukseskan dan mengikuti skenario politik 2024. Menaikkan dinasti Jokowi. Inilah politik tanpa etika bernegara. Inilah otoritarian berbalut demokrasi. Indonesia seakan kembali seperti sebelum reformasi. Disitu penguasa harus diingatkan. Tata negara demokrasi harus dikembalikan. Marwah lembaga lembaga negara harus kembali ditegakkan. Penyelewengan harus dihentikan. Apa yg dilakukan dua tahun belakangan ini tak hanya merugikan Indonesia, tapi juga membahayakan masa depan. Politik sekarang tanpa malu, terang2an memupuk nepotisme. Anak2, mantu, kerabat difasilitasi dan didorong menjadi pejabat. Seolah lewat โ€œprosedur demokrasiโ€ tapi sebenarnya dilakukan dengan cara2 yg tak layak terjadi jika para pelaku dan pendukung punya hati nurani. Jokowi yang awal 2014 dan 2019 jadi simbol rakyat kecil, simbol demokrasi dan simbol reformasi, berubah menjadi simbol penguasa yg melecehkan demokrasi. Simbol Penguasa yang menyepelekan reformasi. Presiden yg mengabaikan etika dan hati nurani. Jokowi tak hanya menjadi pemimpin politik yang bicaranya tak bisa dipegang. Penuh sandiwara. Dia menyandera partai partai politik dan para politisi korup. Membuat lembaga legislatif dan yudikatif tak bisa mengontrol kekuasaan. Mereka tidak berdaya menghadapi keinginan dan skenario kekuasaan. Jokowi bukan hanya menyiapkan dinastinya untuk meneruskan kekuasaan, tapi juga telah membuat nepotisme itu seolah sesuatu yg wajar, dan tidak melanggar. Padahal KKN (di dalamnya ada Nepotisme) adalah musuh gerakan reformasi. Itu yang kami kritisi dan kami lawan walau harus berseberangan dengan para buzzer, dan pemuja setianya. Ini saya lengkapi dengan video kritikan saya th 2023 saat melihat drama dan rekayasa yg makin nyata.

Henri Subiakto

56,182 Aufrufe โ€ข vor 1 Jahr

Kenapa di negara yang belum maju dan sejahrera, dengan sistem politik yang seolah demokratis, pendapatan atau kesejahteraan politisi di Parlemen itu jauh lebih penting dari yang lain? Perhelatan Sidang Tahunan di Parlemen menunjukkan kemewahan dan kesejahteraan pimpinan dan para anggotanya. Mungkin yang bisa menyamai kesejahteraan dan pendapatan para pejabat politik, anggota DPR RI adalah para petinggi Polri. Kesejahteraan mereka itu kontras jika dibandingkan dengan kesejahteraan para peneliti, para dosen dan atau ilmuwan negeri ini, yang harus mendidik dan memajukan ilmu pengetahuan untuk bangsa besar ini. Kenapa ketimpangan demikkan terjadi? Logika politiknya itu karena, untuk mempertahankan kekuasaan dan efektifnya kebijakan politik pemerintah, penguasa perlu dukungan parlemen dan dukungan โ€œpenegakkan hukumโ€ terutama dari Kepolisian. Disitulah mengapa lembaga lembaga kekuatan utama penopang kekuasaan politik menjadi sangat penting untuk dipupuk dan dirangkul pemerintah agar mengamankan soliditas keberlangsungan politik penguasa. Kalau ilmuwan, peneliti, atau dosen, walau mereka strategis untuk meningkatkan kualitas manusia dan bangsa, namun fungsi mereka tak banyak pengaruh langsung terhadap keberlangsungan politik penguasa. Makanya kesejahteraan merekapun tidak menjadi prioritas. Malah selain anggota parlemen dan polisi, kekuatan keamanan seperti Tentara dan Ormas, itu dalam mempertahankan kekuasaan justru jauh lebih penting dari pada lembaga ilmu dan riset. Kesejahteraan pemegang senjata dan Ormas yang memiliki akar di masyarakat, dinilai lebih strategis dari pada mereka yg kerjanya bergelut dengan pengetahuan, inovasi dan kemajuan. Dari besaran politik anggaran dan pendapatan SDM bisa nampak bagaimana pilihan kebijakan pemerintah berpihak. Siapa yang didahulukan kesejahteraannya itulah wujud kepentingan penguasa pada mereka saat ini. Dalam kondisi seperti itu, logis jika anggota DPR dan pejabat polisi akan menjadi lebih banyak mendukung stabilitas kekuasaan dari pada mengkritisi, mengawasi, dan penegakkan regulasi. Logis pula jika anggota DPR dan polisi yang sejahtera banyak bersyukur pada kondisi saat ini, karena telah mendapatkan berbagai fasilitas kesejahteraan yang tinggi dibanding institusi yang lainnya. Sebaliknya untuk rakyat pada umumnya, dan para pendidik harus lebih banyak bersabar dengan kondisi dan kebijakan negara. Ada pendapat dan sinyalemen terkait ini. Bagi rakyat banyak itu, semakin mereka kurang sejahtera, justru dipandang semakin mudah digerakkan atau dimobilisasi oleh kelompok yang berkuasa. Bagi rakyat yang belum sejahtera, amplop dan program bagi bagi bansos itu menjadi faktor penting untuk menentukan dukungan dan pilihan politik mereka sesuai kepentingan politik si pemberi bansos dan cuan. Mereka mudah dapat dukungan justru ketika rakyat masih banyak yang susah dan merindukan bantuan. Video berikut ini hanya secuil pelengkap gambaran, tentang kesejahteraan, bukan dimaksudkan sebagai representasi keseluruhan.

Henri Subiakto

23,382 Aufrufe โ€ข vor 11 Monaten

KONFLIK JOKOWI VS PRABOWO APA SUDAH DIMULAI? Potensi konflik antara Jokowi vs Prabowo setelah menang Pilpres itu memang besar. Tanda-tanda ke arah itu sudah mulai kelihatan. Konflik rebutan pengaruh adalah kelaziman dalam politik. Sehingga besar kemungkinan akan terjadi drama-drama politik baru, terkait apa yg akan dilakukan Jokowi dan apa pula yg akan dilakukan Prabowo tentu menarik untuk disaksikan. Waktu yg dimiliki Jokowi hanya pendek, tinggal 6 bulan masih berkuasa penuh, maka dalam waktu pendek itu dia harus manfaatkan secara efektif agar dia bisa tetap punya power walau tidak lagi jadi presiden. Sukur-sukur kalau bisa melemahkan Prabowo dan Gerindra. Istana harus segera mewujudkan koalisi besar bersama partai2 yg akan diketuai Jokowi, dengan tidak menyertakan Gerindra di dalamnya. Ini lanjutan strategi politik Pemilu 2024, dimana partai Gerindra dibuat anomali. Ketumnya jadi capres dengan kemenangan suara 58% tapi partainya sendiri perolehan suaranya merosot di bawah 15%. Seakan Pasangan Prabowo Gibran tidak berpengaruh ekor jasnya pada perolehan Gerindra. Malah yang naik drastis justru Golkar. Partai yg sedang jadi sorotan karena ditengarai akan diambil alih oleh โ€œkekuatan Jokowiโ€. Ini juga menyiratkan pesan politik bahwa yg menang Pilpres itu bukan Prabowo, tapi itu kemenangan Jokowi bersama Golkar yg telah mengusung anaknya, Gibran. Kemenangan terjadi karena usaha dan strategi Jokowi yg secara terbuka membela Pasangan Prabowo Gibran dg berbagai cara. Tentu hal ini bagi Prabowo dan Gerindra serta pendukungnya harus menyadari, dan harus terus menghormati, bahkan tunduk pada politik Jokowi. Prabowo aslinya belum tentu menyukai Gibran. Anak Jokowi yg besar karena โ€œdikarbitโ€. Tapi Prabowo terpaksa harus menerima demi bisa memanfaatkan power Jokowi untuk memenangkan Pilpres 2024. Nanti setelah dilantik jadi Presiden RI, tentu Prabowo ingin berkuasa penuh. Gak mungkin mau ada matahari kembar. Disitulah bibit konflik rebutan power antara Jokowi dan Prabowo sulit dielakkan. Sekarang Jokowi tinggal punya waktu 6 bln untuk โ€œmelemahkanโ€ Prabowo. Kita lihat saja drama politik seperti apa yg akan terjadi setelah periode honeymoon politik keduanya selesai. Apa masih tetap akrab saling dukung dengan kesepakatan, atau malah masuk periode saling tikam? Kita lihat saja. Kalau lihat video ini kasihan juga pak Prabowo yg dicuekin Jokowi. Bibit bibit konflik memang sulit terhindarkan. IMHO (Henri Subiakto).

Henri Subiakto

283,711 Aufrufe โ€ข vor 2 Jahren

๐€๐ฉ๐š๐ค๐š๐ก ๐๐ซ๐š๐›๐จ๐ฐ๐จ ๐๐ซ๐š๐ฃ๐ฎ๐ซ๐ข๐ญ ๐“๐๐ˆ ๐’๐ž๐ฃ๐š๐ญ๐ข..? Hal yang paling ditakutkan oleh sirkel politik Jokowi serta pendukungnya dari kekuatan oligarki poros Asia Timur adalah bila Presiden Prabowo โ€˜back to military leadership styleโ€™, dan tidak lagi mengekor pada pendahulunya Sang โ€˜Carpenterโ€™ style. Mereka cemas, jika itu terjadi, bagaimana dengan nasib Fufufafa yang diharapkan akan menggantikan posisi Prabowo..? Mereka galau, bagaimana dengan kelangsungan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang mereka nikmati layaknya pemilik negara kecil didalam bingkai NKRI..? Mereka risau, bagaimana nasib puluhan atau ratusan Proyek Tambang yg telah mereka kooptasi untuk oligarki lokal dan asing..? Mereka takut, bagaimana dengan jebolnya APBN yang mereka korupsi habis-habis lewat proyek abal-abal dan utang luar negeri..? Ada kekhawatiran besar dari kekuatan politik sirkel Jokowi, bahwa Prabowo sebagai mantan Jenderal TNI akan bangkit kesadarannya untuk mewarnai prinsip-prinsip politiknya dengan filosofi Tri Matra TNI, yakni Kuat Berkuasa di Udara (Swa Bhuwana Paksa), Jaya di Laut (Jalesveva Jayamahe) dan Perkasa di Darat (Kartika Eka Paksi). Sebab jika kekhawatiran mereka benar, maka yang mereka takutkan pertama kali dari tindakan Prabowo (layaknya Soeharto yang mempereteli sirkel Soekarno) akan segera amputasi sirkel Jokowi dari elemen kelembagaan Yudikatif dan Hankam. Ini bahaya betul bagi mereka ketika Prabowo melalui mekanisme ketatanegaraan mengganti Kapolri, Jaksa Agung, mengatur penggantian seluruh Komisioner KPK, Ketua MA, Ketua MK dan Panglima TNI dari siapapun yang memiliki kedekatan dengan sirkel Jokowi. Prabowo juga akan berubah sikap dan tidak lagi seperti masih menjadi bawahan Jokowi. Prabowo akan sulit untuk dibawa untuk mencla-mencle, diajak klemar-klemer dan diarahkan untuk banyak omon-omon zonk seperti pendahulunya. Mereka tau betul, jika karakter prajurit TNI Prabowo tersadarkan, lalu move on kepada gaya kepemimpinan militer, maka gaya kebijakannya akan berubah menjadi sat-set (cepat), berpikir praktis (tidak bertele-tele), strategis (terencana, terarah dan terukur), serta bertindak taktis (terampil dan cekatan). Sirkel politik Jokowi tau, jika seorang Jenderal TNI sejati jiwa patriotiknya telah terpanggil, maka ketika berhadapan dengan kepentingan bangsa dan negara, ndak bakal pernah bisa diajak main dengan gaya politik dagang sapi atau politik balas budi, mereka khawatir Prabowo tersadar dari โ€œhypnomunafikโ€ Jokowi, lalu berbalik dan berkata, โ€œtaik kucing dengan kalian semua..!!โ€. Bagi Prajurit TNI sejati, berbakti pada Nusa, Bangsa dan Negara adalah harga mati. Karenanya kedaulatan negara, ideologi negara, konstitusi negara akan diletakan diatas kepentingan politik kelompok dan golongan tertentu. Tapi pertanyaan yg paling mendasarnya adalah, Apakah Prabowo Jenderal TNI sejati atau bukanโ€ฆ? Apakah Prabowo Prajurit TNI yang berjiwa Patriotik atau bukanโ€ฆ? Jika jawabannya bukan, maka tidak akan ada bedanya Prabowo dengan Jenderal-Jenderal terdahulu yang sama sekali tidak mencerminkan sikap Patriotik, mementingkan kekayaan diri dan keluarganya sendiri, tidak mementingkan kepentingan bangsa dan negara serta mudah menggadaikan diri pada kepentingan asing. Jika itu jawabannya, maka sungguh musibah besar bagi bangsa ini. Itu sebabnya, siapa pun yang mendukung pemerintahan Presiden Prabowo, wajib rajin memberikan saran dan kritik dengan harapan dapat didengar dan dijadikan bahan pertimbangan oleh Prabowo. Setelah memiliki kekuasaan yang besar, Prabowo justru memerlukan suara publik yang dapat menjadi penyeimbang pengaruh dominasi politisi sirkel Jokowi yang masih rapat berada disekelilingnya, disamping mendorong Prabowo menjadi lebih berani bersikap tegas. Jadi Publik tak boleh kendor, karena jika sedikit saja lengah, boleh jadi mereka akan menjerumuskan dan menyesatkan langkah kebijakan Prabowo dalam pemerintahannya.

๐‹๐ˆ๐‘๐€ โฝแดผแถ แถ โฑแถœโฑแตƒหกโพ

48,344 Aufrufe โ€ข vor 1 Jahr

Ada yang bilang, kekuasaan merusak. Tapi lebih benar bila dikatakan: kekuasaan membuka siapa kita sebenarnya. Dulu, kita mengenalnya sebagai lelaki sederhana dari Solo. Gaya bicaranya pelan, sering terlihat kikuk, tapi memikat. Ia membangun citra sebagai pemimpin yang lahir dari rakyat, berbicara seperti rakyat, dan berpihak pada rakyat. Tapi hari lalu, lelaki itu duduk di puncak kekuasaan, dan kita seperti mendengar dua suara darinya: satu yang dulu menyapa dengan gaya santun dari Balai Kota, dan satu lagi yang kini membentak dari Istana. Apa yang menjadikan seorang Jokowi berubah demikian drastis? Atau, barangkali, ia tidak berubah sama sekaliโ€”kita saja yang dulu belum cukup mengenalnya. Nilai-nilai tak turun dari langit. Ia dibentuk oleh pengalaman, lingkungan, dan lebih dulu lagi: keluarga. Rumah adalah ruang paling sunyi tempat seseorang belajar apa arti kebenaran, apa makna kejujuran, dan bagaimana bersikap terhadap kekuasaan. Jika seorang anak tumbuh dalam rumah yang memperlakukan kebohongan sebagai cara bertahan hidup, maka besar kemungkinan ia akan menjadikan dusta sebagai alat, bukan aib. โ€“ โ€œThe subconscious mind is formed by observing others, especially during childhood. Most people donโ€™t realize theyโ€™re just replaying a program installed by their family.โ€ Konon, masa kecil Jokowi dekat dengan lingkungan ideologis yang tidak bertumpu pada iman sebagai fondasi nilai. Narasi ini memang tidak pernah dikonfirmasi dengan jujur, tapi juga tidak pernah dibantah dengan tegas. Bukan berarti setiap orang yang tumbuh di sekitar ideologi kiri niscaya kehilangan moral, tidak. Tapi jika dalam rumah itu nilai-nilai agama hanya menjadi tempelan sosialโ€”bukan keyakinan batinโ€”maka โ€œdosaโ€ tak punya tempat dalam logika hidup. Dalam logika itu, yang benar bukan yang jujur, melainkan yang berhasil. Dan kita tahu, Jokowi berhasil. Tapi dengan ongkos mahal: hilangnya kepercayaan publik. Ia pernah berjanji tak akan mengangkat anak dan menantunya dalam politik. Hari ini, satu jadi wakil presiden, satu lagi menuju kursi gubernur. Ia pernah bilang tak akan ikut cawe-cawe soal pilpres. Tapi kita tahu betapa kuat bayangannya dalam setiap putusan Mahkamah Konstitusi, KPU, bahkan dalam framing media. Berbohong bukan lagi kegagalan moral. Tapi metode kekuasaan. Tapi kenapa? Barangkali karena sejak awal ia tidak pernah menganggap kebohongan sebagai bentuk pengkhianatan. Barangkali sejak kecil, dalam rumahnya, kebenaran adalah apa yang berguna. Agama? Mungkin hadir sebagai formalitas. Nilai? Mungkin tak lebih dari strategi. Maka ia pun tumbuh menjadi manusia politik tanpa beban akhlak. Berjanji tanpa niat menepati. Berucap tanpa takut dilangitkan. Kita menyaksikan seorang pemimpin yang tidak hanya ingkar, tapi tak merasa bersalah. Seolah ia tak tahu bahwa kata adalah amanah. Dan barangkali ia memang tak pernah diajari begitu. Dalam dunia di mana iman adalah fondasi moral, berbohong adalah dosa. Dalam dunia tanpa itu, bohong hanyalah taktik. Kita tidak dilahirkan dengan akhlak. Kita menyerapnya. Dan apa yang diserap Jokowiโ€”entah dari rumah, entah dari sejarahโ€”telah membentuknya menjadi sosok yang kini kita kenal: presiden yang tak pernah benar-benar jujur. Dan seperti kata seseorang yang sudah lama berhenti berharap: kita bukan sedang menyaksikan seorang pemimpin yang jatuh, tapi seseorang yang akhirnya memperlihatkan wajah aslinya. Copas pak Ali Syarief - ใ‚ขใƒชใƒปใ‚ทใƒฃใƒชใƒผใƒ•

Ommi de Queen๐Ÿ‘‘

10,814 Aufrufe โ€ข vor 1 Jahr

Menteri Luar Negeri IRAN dan Negara lain, nampak begitu DEWASA dalam perannya sebagai MENTERI yah? Jika dibanding dengan Menteri Luar Negeri indonesia yang nampak seperti AJUDAN presiden daripada sebagai MENTERI Kalau keluar negeri pasti karena dibawa Presiden bukan karena Tanggung jawabnya untuk menentukan arah politik luar negeri negaranya, mungkin isi konstitusi negaranya juga ga dipahaminya, karena kalau paham, dia pasti ga perlu lagi tangan presiden untuk memperkenalkan dirinya, INI MENTERI SAYA pada tiap pertemuan Coba amati Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran, yang menunjukkan aura kepemimpinan dan diplomasi yang sangat mandiri di berbagai panggung internasional. โ€‹Observasi gue mengenai perbedaan "bobot" antara menteri luar negeri suatu negara sering kali berakar pada bagaimana sistem politik dan budaya diplomasi negara tersebut dijalankan. โ€‹Diplomasi Berbasis Kekuatan Ideologis โ€‹Negara seperti Iran, Rusia, atau Tiongkok sering kali menempatkan Menteri Luar Negeri sebagai ARSITEK kebijakan, BUKAN sekadar PELAKSANA. โ€‹Kewenangan Penuh: Tokoh seperti Araghchi atau Sergey Lavrov (Rusia) memiliki mandat yang sangat luas untuk bernegosiasi langsung TANPA harus terus-menerus MENOLEH ke arah pemimpin mereka di setiap langkah kecil. โ€‹Spesialisasi: Mereka sering kali merupakan diplomat karier yang telah puluhan tahun berkecimpung di medan tempur geopolitik, sehingga wibawa mereka terbentuk dari penguasaan materi yang sangat dalam. โ€‹Gejala "Presiden-sial-isme yang Dominan" di Indonesia Saya melihat Menlu Indonesia tampak seperti "ajudan" bisa dijelaskan melalui gaya kepemimpinan di Indonesia: โ€‹Sentralisasi Pencitraan: Dalam politik Indonesia, sering kali Presiden ingin menjadi wajah utama dari setiap kesuksesan internasional. Hal ini membuat menteri-menteri di sekitarnya, termasuk Menlu, sering kali terlihat hanya sebagai pendamping atau pengatur protokol. โ€‹Diplomasi Transaksional: Jika kebijakan luar negeri lebih difokuskan pada investasi (ekonomi) daripada posisi geopolitik yang tegas, maka peran Menlu sering kali tergeser menjadi "pembuka jalan" bagi agenda ekonomi Presiden, sehingga kemandirian politiknya kurang terlihat. โ€‹ Aura dan Protokol Diplomasi โ€‹Video tersebut memperlihatkan Araghchi yang bergerak lincah di PBB, diwawancarai media internasional secara eksklusif, dan melakukan pertemuan bilateral tanpa bayang-bayang presidennya. Ini memberikan kesan bahwa dia adalah pemegang kendali di wilayahnya. โ€‹Di banyak negara maju atau negara dengan ketegangan geopolitik tinggi, Menlu adalah "wajah kedaulatan". โ€‹Sebaliknya, jika seorang Menlu hanya muncul saat mendampingi Presiden dalam kunjungan kerja, maka secara persepsi publik, fungsi strategisnya sebagai penentu arah politik luar negeri akan memudar. โ€‹Refleksi: Tanggung jawab seorang Menteri Luar Negeri seharusnya adalah menerjemahkan kepentingan nasional menjadi aksi nyata di panggung dunia. Jika seorang menteri hanya bertindak sebagai "pengikut", maka diplomasi negara tersebut akan kehilangan daya tawar karena dianggap tidak memiliki otoritas mandiri. โ€‹kalau presiden tidak percaya MENLU seperti sugiono itu belum mampu mengatasi geopolitik luar negeri apalagi menentukan arah kebijakan pada wilayahnya yang dia emban, kenapa masih DIPELIHARA? Karena itu sama saja Prabowo MENGGENDONGIN BEBAN KEMANA-MANA Bukan meringankan Beban, sehingga Presiden tidak dapat memikirkan Persoalan Bangsa dan Negaranya yang lebih luas karena banyak memerankan jadi BABY SITER Menteri-Mentrinya. :: WeKa ::

Wawat Kurniawan (WeKa) ๐Ÿ‡ฒ๐Ÿ‡จ

14,193 Aufrufe โ€ข vor 3 Monaten

Sedikit terkejut membaca beragam komentar di postingan ini. Izinkan saya turut menyampaikan pandangan dari sudut berbangsa dan bernegara yang lebih sehat dan bijak. Kedekatan seorang bawahan dengan pemimpin tidak seharusnya dijadikan bahan hinaan murahan. Menyebut hubungan profesional antara Presiden dan pembantunya dengan istilah-istilah merendahkan atau ejekan personal lainnya bukanlah kritik politik, itu hanyalah bentuk degradasi kualitas diskursus publik. Teddy Indra Wijaya berada di lingkar dekat Presiden karena kepercayaan, loyalitas, dan kapasitas kerja. Dalam banyak pemerintahan di dunia, seorang kepala negara memang memiliki orang-orang kepercayaan yang bekerja sangat dekat dengannya untuk memastikan roda pemerintahan berjalan efektif. Itu hal normal dalam tata kelola kekuasaan modern, dan perannya sebagai Sekretaris Kabinet adalah jabatan resmi dalam struktur negara. Kalau ada yang tidak setuju dengan kebijakan pemerintah, kritiklah kebijakannya. Kalau ada yang meragukan kapasitas pejabat, uji dengan data, rekam jejak, dan kinerjanya. Tapi ketika kritik turun level menjadi ejekan personal dan insinuasi yang melecehkan, maka yang tampak bukan kecerdasan, melainkan ketidakmampuan membedakan kritik substantif dari olok-olok receh. Publik harus sadar bahwa budaya politik yang sehat dibangun dengan argumen konstruktif, bukan penghinaan. Hari ini seseorang dihina karena dekat dengan pemimpin, besok orang lain akan dihina hanya karena berbeda pandangan. Jika itu dibiarkan, maka ruang demokrasi berubah menjadi arena bully massal, bukan tempat adu gagasan. Kita boleh tidak sepakat dengan seseorang, boleh mengkritik keras pemerintah, tetapi tetap ada batas etika dalam berpolitik. Jangan biasakan merendahkan martabat orang hanya karena tidak suka secara politik. Karena ketika kebencian lebih dominan daripada nalar, yang rusak bukan hanya individu yang dihina, tetapi juga kualitas demokrasi kita. Sudah waktunya publik dewasa dalam berpolitik, lawan ide dengan ide, lawan kebijakan dengan argumen, bukan dengan hinaan yang mempermalukan diri sendiri.

Miss Tweet |

149,514 Aufrufe โ€ข vor 3 Monaten

๐’๐ž๐ญ๐ž๐ฅ๐š๐ก ๐๐ž๐ง๐ฒ๐ฎ๐ฌ๐ฎ๐ฉ ๐ƒ๐ž๐ฆ๐จ ๐€๐ง๐š๐ซ๐ค๐ข๐ฌ, ๐๐ซ๐š๐›๐จ๐ฐ๐จ ๐ƒ๐ข ๐†๐ฎ๐ง๐œ๐š๐ง๐  ๐Š๐ž๐ซ๐š๐œ๐ฎ๐ง๐š๐ง ๐Œ๐๐†. Apakah istana, Prabowo Subianto, Partai Gerindra, Fraksi Gerindra DPR/MPR RI tidak mencurigai kegagalan sistemik serentak dalam kasus keracunan ini..? Saya pribadi menilai bahwa intelejen negara tidak bekerja dengan sungguh-sungguh jika tidak melakukan analisis yang mendalam atas kejadian keracunan serentak ini. Coba kita cermati, ada diskrepansi yang sangat besar antara kondisi normal, misalnya ratusan ribu kedai makan atau warung makan yang menjajakan beragam menu makanan setiap harinya, mulai dari skala kaki lima hingga resto menengah dan atas, namun sangat jarang terdengar atau hampir tak pernah terjadi kasus keracunan makanan. Tapi coba bandingkan dengan kejadian saat ini, dimana kasus terjadi secara massal, serentak, dan berulang dalam satu program spesifik, apa tidak mencurigakan..?. Dalam analisis risiko, intelejen harusnya curiga, karena sebuah anomali yang ekstrem sering kali menjadi indikator adanya faktor intervensi yang disengaja, bukan kegagalan acak. Pola yang terkoordinasi secara geografis dan temporal menunjukkan adanya perencanaan dan organisasi yang bekerja secara terarah, sekali lagi, bukan kecelakaan acak. Aksi sabotase selalu memiliki target yang dipilih dengan cermat untuk dampak maksimal. Dalam kasus ini, targetnya sangat strategis dan fokus, yakni program unggulan (flagship) dari pemerintahan Prabowo. Menyerang program ini bukan sekadar menyerang logistik makanan, melainkan menyerang langsung simbol keberhasilan dan citra pemerintahan Prabowo Subianto. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kepada publik bahwa pemerintahan Prabowo tidak kompeten, bahkan dalam menyediakan hal mendasar seperti makanan untuk anak-anak. Korban yang ditargetkan juga anak-anak sekolah. Ini adalah pilihan target yang paling efektif untuk memicu kemarahan publik, kepanikan di kalangan orang tua dan liputan media yang masif. Serangan terhadap anak-anak akan menghasilkan gelombang emosi publik yang jauh lebih besar daripada jika targetnya adalah orang dewasa, sehingga tekanan terhadap pemerintahan Prabowo Subianto menjadi berlipat ganda. Jika zat penyebab keracunan adalah bakteri umum seperti Salmonella atau E. coli, kelalaian masih bisa menjadi penyebab. Namun, jika ditemukan zat kimia yang tidak lazim, racun spesifik, atau bakteri yang telah direkayasa, maka kemungkinan sabotase meningkat secara drastis. Zat seperti ini tidak akan muncul secara alami dalam proses penyiapan makanan yang lalai sekalipun. Jadi pemerintahan Prabowo Subianto sebaiknya segera menghentikan dulu untuk sementara program MBG ini, melakukan kajian ulang, evaluasi sekaligus investigasi terhadap program MBG ini. Jika tidak efektif, sebaiknya program MBG dihentikan permanen, dan lewat instruksi Presiden segera dirancang pengalihan programnya. Sementara itu penyelidikan atas dugaan sabotasenya harus terus diusut secara tuntas, jika terbukti terjadi upaya sabotase, maka penyidikan harus dijalankan hingga menyentuh otak pelakunya. Presiden Prabowo harus membentuk satgas khusus yang independen dan langsung melaporkan perkembangan penyelidikan kepada Presiden atau Menkopolhukam untuk menguak dugaan sabotase ini. Apapun alasannya, ambisi untuk menuju puncak kekuasaan atau kursi jabatan Presiden tidak boleh dibiarkan terjadi dengan cara-cara keji seperti ini. Seret pelakunya dan hukum seberat-beratnya, sekalipun secara politik pernah berkontribusi dalam mengantarkan Prabowo ke kursi Presiden.

๐‹๐ˆ๐‘๐€ โฝแดผแถ แถ โฑแถœโฑแตƒหกโพ

28,589 Aufrufe โ€ข vor 10 Monaten

Hotman Paris kembali pamer kesombongan dan keangkuhan di depan media saat membela mantan Jampidsus Febrie Adriansyah. Dengan gaya songongnya, ia mendikte wartawan agar mempertanyakan kenapa Kapolri tidak meminta izin kepada Presiden Prabowo Subianto terlebih dahulu sebelum menetapkan Febrie sebagai tersangka. Ia bahkan dengan lancang menyebut tindakan Polri tersebut tidak memenuhi "unsur sopan santun dan penghormatan terhadap atasan". โ€‹Ini adalah pembodohan hukum yang sangat fatal dan berbahaya bagi demokrasi! Sejak kapan penegakan hukum dalam kasus pidana korupsi harus memakai urusan "sopan santun" birokrasi atau minta izin restu presiden? UU Kekuasaan Kehakiman dan KUHAP jelas menegaskan bahwa proses hukum tidak boleh diintervensi oleh kekuasaan eksekutif. Menuntut polisi minta izin presiden untuk mentersangkakan seorang aparat yang diduga terlibat korupsi tata kelola batu bara justru merupakan bentuk pelecehan terhadap independensi hukum itu sendiri! โ€‹Ditambah lagi sikapnya yang luar biasa sombong saat menjawab pertanyaan wartawan. Dengan kalimat merendahkan seperti "Tanya kakekmu", "Kalau kau punya otak lu tahu jawabannya", dan menuduh pers sebagai "pengecut", Hotman menunjukkan watak arogansi elit yang antikritik. Dia lupa bahwa kasus dengan barang bukti emas 74 kg dan uang hampir 1 triliun ini menyangkut hajat hidup orang banyak, bukan panggung sirkus untuk ajang pamer keangkuhan personal. โ€‹Rakyat tidak butuh narasi hak istimewa bagi "orang dekat" atau "tangan kanan" penguasa. Di hadapan hukum, semua warga negara berkedudukan sama (equality before the law). Berhentilah mengaburkan substansi perkara megakorupsi ini dengan drama kesopanan elit dan arogansi kata-kata. Hukum harus tetap tegak tanpa perlu tunduk pada restu politik maupun gertakan pengacara selebritas. Video : tribun

kiv z

33,910 Aufrufe โ€ข vor 13 Tagen

๐—ฃ๐—”๐—›๐—”๐— ๐—œ ๐—ฃ๐—ฅ๐—˜๐—ฆ๐—œ๐——๐—˜๐—ก ๐—ฃ๐—ฅ๐—”๐—•๐—ข๐—ช๐—ข. Presiden Prabowo sudah persilahkan rakyat untuk berekspresi secara serius, tapi sayang, rakyatnya banyak yang tidak juga paham. Tiap kali rakyat teriak minta Prabowo makzulkan Gibran, adili Jokowi dan antek-anteknya, seakan Presiden dapat seperti membalikkan telapak tangan untuk memenuhi tuntutan mereka, โ€œtidak begitu aturan mainnyaโ€ฆโ€. Jika rakyat jeli, maka mereka akan paham dengan apa yg terlihat dari dicokoknya Noel oleh KPK. Apakah ketika Prabowo berkuasa sebagai Presiden lalu serta merta Prabowo memerintahkan aparat langsung menangkap Noel lantaran dulu Noel pernah ngotot agar Polisi tangkap Prabowo dalam kasus Ratna Sarumpaetโ€ฆ? Tentunya tidak. Prabowo justru malah naikan Noel jadi Wamen hingga sampai-sampai orang mengira Prabowo berhati malaikat yg tak pernah menyimpan dendam. Padahal, semua diputuskan Prabowo karena moralnya Noel sudah sangat mudah dibaca. Hasilnya, dalam hitungan bulan, Noel pun dicokok KPK. Itu satu hal..!!. Hal kedua. Apa yg terlihat dari โ€œtak tersentuhnyaโ€ Rismon Sang Pembuka Misteri Ijazah Jokowi oleh aparat hukum..? siapa yang tak kenal Rismon..? Kurang โ€œgilaโ€ dan nekat bagaimana Rismon dalam membuat pernyataan di media. Tito, Khrisna Murti, M.Nur Azhar, semuanya Jenderal Polisi, habis โ€œdi setan-setaninโ€ oleh Rismon didepan media. Bukan hanya personal Polrinya, namun juga institusi Polri dikritik habis-habisan. Hercules pun ditantang jika ingin menggunakan kekerasan untuk menghadapi dirinya. Rismon bahkan mempersilakan aparat untuk menangkap dirinya. Siapa yg tidak tau Ketum Partai Coklat..? Dengan kekuasaannya, Ketum Parcok pasti dengan mudah dapat membuat Rismon dipenjara. Siapa yg tidak kenal HERCULES..? Panglima GRIB yang memiliki ratusan ribu preman sebagai anak buahnya. Tapi nyatanyaโ€ฆ..? apakah Rismon ditangkap aparat..? Apakah Rismon dibunuh Preman..? TIDAK..!! Rismon aman dan baik-baik saja..!!. Jadi siapa yg bisa melindungi Rismon dari dicokok aparat hukum dan dipersekusi preman..? Mikiiirrrโ€ฆ.!!!. Hal ketiga. Dulu ketika massa 212 bergerak menuju Monas, berapa banyak pasukan yg dikerahkan untuk menghalangi rakyat dari berbagai wilayah masuk menuju Jakarta. Dari stasiun kereta dihalangi masuk, dari Bus dan Truk disuruh putar balik. Lalu mengapa pada rencana tanggal 25 Agustus 2025 besok rakyat begitu lancar dan mudahnya bergerak berkumpul di Jakarta tanpa ada yang menghalang-halangiโ€ฆ? Memangnya siapa yg mampu melarang pasukan keamanan untuk tidak menghalangi RAKYAT BEREKSPRESIโ€ฆ.? Please, cerdaslah sedikit dalam memahami setiap kejadian. Jadi, jika pintu ruang pesta sudah dibuka, tuan rumah sudah mempersilahkan masuk, musik telah dilantunkan dan suguhan telah siapkan dengan begitu lengkapnya, maka cara menghormatinya adalah dengan BERDANSA & MENIKMATI HIDANGAN yang telah disajikan. Selamat berdansa dan bergembira di Pesta Rakyat untuk menyongsong perubahan masa depan yang lebih baik, karena setelahnya Indonesia Akan Terang tanpa antek-antek dan dinasti Mulyono.

๐‹๐ˆ๐‘๐€ โฝแดผแถ แถ โฑแถœโฑแตƒหกโพ

20,008 Aufrufe โ€ข vor 11 Monaten

Sebagai orang awam di Indonesia, melihat semua ini sering kali membuat kita hanya bisa mengelus dada. Kita marah, geram, sedih, dan merasa tidak berdaya. Kutukan demi kutukan dari berbagai negara seolah hanya menjadi angin lalu tanpa bisa menghentikan aksi brutal Zionist Israel. Sebagai warga sipil yg awam, wajar jika masyarakat banyak yg bertanya-tanya, apa yg bisa mereka lakukan ? Sebenarnya emosi tersebut bisa di ubah menjadi energi untuk melakukan tindakan yg terukur dan berdampak. Karena walaupun tidak bisa mengangkat senjata atau pergi ke garis depan, tapi masyarakat punya kekuatan kolektif yg besar jika disatukan. Misalnya, โ€ข Berdonasi lewat jalur yg dipercaya jujur & mampu menyalurkan bantuan bagi penduduk Palestina. โ€ข Boikot cerdas dan terarah terhadap produk atau perusahaan yg secara terang-terangan mendanai atau mendukung agresi militer terbukti memberikan tekanan ekonomi. Jangan kendor kampanyekan aksi boikot. Ikuti panduan gerakan Kampanye BDS (Boycott, Divestment, Sanctions) yg diakui secara global agar boikot yg dilakukan efektif dan tepat sasaran, bukan sekadar ikut-ikutan. โ€ข Jadilah "Jurnalis Dadakan" di medsos. Jangan biarkan algoritma menenggelamkan isu ini. Terus bagikan berita dari sumber yg valid, edukasi orang-orang di sekitar dan suarakan kebenaran. Tekanan publik global di media sosial sangat ditakuti karena dapat menghancurkan narasi palsu. โ€ข Doa berjamaah menggalang kekuatan langit. Jangan pernah meremehkan kekuatan doa. Di tengah segala keterbatasan kemampuan fisik, doa adalah dukungan spiritual yg menyatukan hati dengan penderitaan mereka. Hal terakhir yg jangan pernah kita lengah dan letih adalah melakukan segala upaya apapun untuk mendorong pemerintah Indonesia melakukan hal-hal berikut, โ€ข Alih-alih bergabung dalam BoP Trump, pemerintah Indonesia harus mendesak PBB dan komunitas internasional agar jangan cuma โ€œOmon-Omonโ€ menetapkan โ€œResolusi Damaiโ€ yg berkali-kali diabaikan Zionist Israel, tetapi mendorong sanksi nyata seperti embargo senjata dan sanksi ekonomi terhadap Israel. โ€ข Mendesak pemerintah untuk terus mendukung dan memperkuat gugatan di Mahkamah Internasional (ICJ) dan Pengadilan Pidana Internasional (ICC) utk menuntut para pejabat dan komandan militer yg bertanggung jawab atas kejahatan perang dan genosida. Ini bagian dari hukum internasional harus ditegakkan. โ€ข Pemerintah harus didesak utk menggalang "Koalisi Negara Selatan". Sebagai negara besar Indonesia harus memimpin dan menggalang kekuatan negara-negara berkembang (Global South) dan negara mayoritas Muslim untuk bersatu. Jika negara-negara ini memutus hubungan dagang tertentu atau melakukan blokade diplomatik secara serentak, dampaknya akan sangat terasa. โ€ข Meminta pemerintah melakukan aksi Kemanusiaan Internasional sekaligus nendorong pemerintah untuk terus mengirimkan bantuan logistik skala besar, seperti mengirimkan Kapal Rumah Sakit TNI ke perbatasan, atau mengupayakan jalur khusus (airdrop atau jalur darat via Yordania/Mesir) secara berkelanjutan. Perjalanan untuk mencapai keadilan mungkin masih panjang. Namun, masyarakat dunia harus ingat bahwa diamnya orang baik adalah senjata paling mematikan bagi pihak penindas. Ini bukan konflik agama, ini adalah genosida, kejahatan kemanusiaan yg terlalu dahsyat kejamnya. Mari ubah rasa sedih, geram dan marah kita menjadi aksi nyata. Sekecil apa pun langkah kita, baik itu membagikan satu berita, menyumbang sedikit rezeki, atau menyuarakan tuntutan kepada pemerintah, itu adalah bagian dari sejarah yg sedang kita perjuangkan demi kemanusiaan.

๐‹๐ˆ๐‘๐€ โฝแดผแถ แถ โฑแถœโฑแตƒหกโพ

11,859 Aufrufe โ€ข vor 5 Monaten

JANGAN BERHARAP BANYAK DENGAN KEPUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI Oleh : Henri Subiakto Hari ini MK akan mulai sidang sengketa Pemilu. Gugatan 01 dan 03 digulirkan. Tp jangan tll berharap bnyk dg putusan MK, krn menurut amatan para ahli di luar penguasa, semua yg terjadi sekarang sdh disiapkan & diantisipasi Jokowi sebagai Kepala Negara, Kepala Pemerintahan dan Kepala Keluarga. Kekuatan politik Jokowi hrs diakui sgt kuat 2024 ini. Tak ayal percaya diri melakukan manuver politik & hadapi semua konsequensi. Kenekadan yg tak pernah diperkirakan lawan apalagi teman yg terlambat memperoleh kesadaran. Aparat hukum seperti polisi, kejaksaan, bahkan KPK konon sdh disiapkan tunduk taat pd Presiden. Parpol & DPR juga sudah dibuat menjadi nurut di bawah pengaruh politik kekuasaan, sehingga praktis tdk ada yg mampu secara signifikan menggoyahkan posisi dan keinginan politik Jokowi. Maka upaya kekuatan politik yg berseberangan dan kecewa pd Jokowi terkait proses Pemilu tidak bisa tidak harus menyesuaikan infrastruktur yg sdh disiapkan yaitu bawa masalahnya ke MK sbg gugatan. Di luar itu utk waktu dekat praktis tdk banyak yang bisa dilakukan. Sebenarnya Hak Angket paling ideal utk mengungkap adanya banyak pelanggaran UU selama persiapan dan pelaksanaan Pemilu. Tapi Hak angket itu rumit, panjang dan banyak kendala serta mudah digagalkan di jalan. Karena partai2 politik & politisi sangat pragmatis, elit elitnya mudah disandera dan diiming imingi reward jabatan. Suka atau tdk suka MK jadi pilihan yg terpaksa paling mudah dilakukan. Terlepas bagaimana nanti hasil putusan, tidak penting bagi gerakan perlawanan. Yang penting sidang MK itu bisa jadi panggung hiburan, jadi panggung hukum untuk mengungkap fakta fakta penyimpangan menurut versi penggugat di persidangan. MK akan jadi Panggung hukum yg terbuka bagi masyarakat luas untuk menyaksikan apa yg terjadi, shg diharapkan bisa jadi sarana edukasi yg membuka mata utk melihat apa yg menurut pihak penggugat sbg bukti bhw sejak awal sebelum pertandingan panitia, wasit, pengawas, aparat keamanan, hingga lapangannya sudah ada aspek kecurangan. Kalau Hak Angket di DPR bisa dihalang2i & diganggu, disabotase, proses hukum di MK lebih aman minimal dr tingkah politisi yg โ€œmasuk anginโ€ berubah2 pandangan. Sidang MK lebih steril dari manuver politisi, drpd pelaksanaan Hak Angket yg terlalu tergantung DPR dan kekuatan politik yang terlibat di lapangan. Sebagaimana sekarang semua yg terlibat proses politik di DPR berpotensi menghambat Hak Angket, sepanjang kepentingan politik mrk punya relasi dg penguasa, shg Hak Angket sulit diharapkan. Mk sidang MK bisa jd ban serep yg ditaruh di depan, untuk kontestasi komunikasi & hukum antara penggugat dg mrk yg ada di kekuasaan. Tentu para penggugat berharap Hakim2 MK sadar, mrk itu wakil2 Tuhan, yg hrs bersikap adil, jujur, bijak & independen dlm menjaga bangsa Indonesia dg konstitusinya. Para Hakim didorong mengembalikan marwah MK dg takut pd Tuhan yg mereka wakili. Bukan takut pd manusia yg sedang memegang kekuasaan. Juga meminta independensi dan integritas para hakim, shg MK bisa kembali mjd intitusi pengadil konstitusi yg dipercaya. Itu yg disuarakan mereka bersama pendukungnya. Terutama MK mengadili kecurangan Pemilu di ranah persoalan pelanggaran UU yg merusak demokrasi. Bukan mengadili persoalan angka2 yg menjadikan MK hanya sbg Mahkamah Kalkulator. Bukan pula mjd alat legitimasi penguat Mahkamah Keluarga. Bila hakim MK itu memiliki keberanian & percaya diri sebagai penjaga konstitusi Indonesia, hasilnya bisa saja menghentikan keinginan politik yg sdh direncakan. Tapi untuk independen spt itu tdk mudah, mengingat para Hakim kemungkinan merasa diawasi, dg dua hakim terancam kriminalisasi. Mk bagaimana hasil akhir keputusan MK, saya pribadi pesimis. Tidak mustahil semua kemungkinan penanganannya sdh diantisipasi dan disiapkan. Berarti besar kemungkinan keputusan MK tak akan mengubah banyak hal, hingga Prabowo Gibran dilantik Oktober nanti.

Henri Subiakto

31,714 Aufrufe โ€ข vor 2 Jahren

Mungkin tagar paling tepat yang harus digaungkan adalah #IndonesiaReset0. Sebab kondisi saat ini benar-benar kritis, indeks harga saham Indonesia anjlok, sektor riel stagnan, UMKM nyaris kolaps, nilai mata uang terus merosot, daya beli ditingkat masyarakat paling bawah melorot..!!. Ini sudah lampu merah, sinyal yang terbaca adalah kondisi gelap gulita. Masyarakat dan kepala-kepala daerah diberbagai wilayah mulai merasa resah dan gelisah dengan situasi keprihatinan ekonomi dan politik negara. Sebenarnya, berbagai elemen masyarakat baik di pusat maupun di daerah, mulanya hampir merata menyatakan bahwa mereka masih optimis dan menaruh harapan besar pada Pemerintahan Prabowo Subianto, bahwa ia mampu memperbaiki krisis nasional yang melanda Indonesia pasca Jokowi lengser. Hanya saja, berikutnya mereka menjadi pesimis ketika Jokowi, kroni dan Nepotisme Dinasti Kekuasaannya masih diberi ruang dalam sirkel pemerintahan Prabowo. Tak ada satupun daerah yang menyatakan membenci, apalagi menentang pemerintahan Prabowo, mereka semua mendukung 100% pemerintahan Prabowo, tapi persoalan yang menjadi kegelisahan, kecemasan serta selalu meruntuhkan kepercayaan mereka di daerah-daerah adalah ketika Prabowo belum juga menunjukan sikap netralitasnya pada tegaknya supremasi hukum atas 10 tahun kekacauan tata kelola pemerintahan selama Jokowi berkuasa. Bahkan untuk persoalan hukum yang paling dasar seperti polemik keabsahan dan legalitas Ijazah Jokowi pun Prabowo belum memberikan sinyal dukungan pada instrumen penegakan hukum agar kebenaran yang hakiki diungkap sejujur-jujurnya. Itu saja persoalan utamanya yg paling mendasar, karena begitu supremasi hukum terhadap pertanggung jawaban tata kelola pemerintahan Rezim Jokowi dituntaskan, maka apapun yang diminta Presiden Prabowo bagi bangsa dan negara, rakyat dengan sepenuh jiwa raga memenuhi seruannya. Saat ini sektor ekonomi, bisnis dan investasi telah merespon dengan amat buruk semester pertama Pemerintahan Prabowo, kini sektor politik nasional pun sudah mulai ikut terguncang. Semoga saja Presiden Prabowo cepat tanggap dalam menyikapi persoalan bangsa dan negara ini dengan tindakan yang tepat, yakni Menghapus Trauma Rakyat Dari Bayang-Bayang Jokowidodo.

๐‹๐ˆ๐‘๐€ โฝแดผแถ แถ โฑแถœโฑแตƒหกโพ

17,119 Aufrufe โ€ข vor 1 Jahr