Video wird geladen...

Video konnte nicht geladen werden

Zur Startseite

"๐—™๐—ฎ๐˜๐—ฒ ๐—ถ๐˜€๐—ป'๐˜ ๐—ท๐˜‚๐˜€๐˜ ๐—ฎ ๐˜„๐—ผ๐—ฟ๐—ฑ, ๐—ถ๐˜โ€™๐˜€ ๐˜„๐—ต๐—ฎ๐˜ ๐—ฏ๐—ฟ๐—ผ๐˜‚๐—ด๐—ต๐˜ ๐˜‚๐˜€ ๐˜๐—ผ๐—ด๐—ฒ๐˜๐—ต๐—ฒ๐—ฟ." #6thGenerationF8th Delapan tahun yang lalu, kita hanyalah orang asing dengan mimpi yang sama. Takdir mempertemukan kita di panggung ini, melewati ribuan jam latihan, tawa yang pecah di belakang panggung, hingga air mata yang jatuh saat satu per satu harus...

26,843 Aufrufe โ€ข vor 3 Monaten โ€ขvia X (Twitter)

0 Kommentare

Keine Kommentare verfรผgbar

Kommentare vom Original-Post werden hier angezeigt

ร„hnliche Videos

Satu sakit, sakit semua. Itulah makna saudara kandung. Dan itulah juga makna sesama anak negeri ini, meski terpisah ribuan kilometer dan puluhan dialek. 26 Desember 2004. Gempa 9,3 SR mengguncang dasar Samudra Hindia. Tsunami menyapu Aceh, menelan lebih dari 170 ribu nyawa dalam hitungan jam. Di saat yang sama, di perantauan Jawa, ribuan mahasiswa Aceh tak bisa tidur. Mereka menangis di kos-kos-an sempit, tak tahu apakah ibu, bapak, adik, kakak masih bernapas. Tapi malam itu juga, ribuan orang Jawa yang tak pernah ke Aceh, yang bahkan tak tahu bedain Meulaboh sama Lhokseumawe, berdiri berjam-jam di Stasiun Gambir dan Senen, membawa kardus bertuliskan โ€œUntuk Saudaraku di Acehโ€. Ada yang menyumbang beras, ada yang menyumbang darah, ada yang cuma bisa menyumbang doa sambil memeluk erat anaknya sendiri. Satu sakit, sakit semua. September 2009. Gempa 7,6 SR menggoyang Padang dan Pariaman. Rumah-rumah bergaya Rumah Gadang yang megah itu runtuh seperti kue kering. Di Jakarta, di Surabaya, di kampus-kampus negeri, mahasiswa Minang yang biasanya sombong dengan rendang dan dendengnya, tiba-tiba jadi pendiam. Mereka tak bisa pulang. Tiket habis. Jalan putus. Tapi malam itu juga, truk-truk berplat B dan D berjejer di pelabuhan Merak, membawa tenda, selimut, mie instan, dan obat-obatan. Sopirnya orang Jawa tulen. Mereka tak diminta. Mereka cuma bilang, โ€œOrang Sumbar lagi susah. Kita bantu.โ€ Satu sakit, sakit semua. Maret 2024, November 2025. Banyaknya banjir bandang dan longsor di Sumatera Utara, di Sumatera Barat lagi. Kampung-kampung di Tanah Karo, di Pesisir Selatan, di Toba, lenyap ditelan tanah. Orang-orang di Jakarta, di Bandung, di Semarang, yang selama ini sibuk mengolok-olok โ€œJawasentrisโ€, tiba-tiba berhenti bicara. Mereka buka dompet. Mereka buka posko. Mereka rela antre berjam-jam di bandara hanya untuk jadi relawan. Tak ada yang bilang, โ€œBukan urusan gue.โ€ Karena saat saudara di ujung barat pulau ini menangis, rasa itu menjalar sampai ke ujung timur, melewati Selat Sunda, melewati gunung-gunung, melewati semua cemoohan โ€œJawa terlalu dominanโ€ yang biasa kita lempar-lemparan di medsos. Satu sakit, sakit semua. Bukan karena darah yang sama. Tapi karena rasa yang sama: rasa yang membuat kita sadar, bahwa garis imajiner bernama โ€œprovinsiโ€ itu tak pernah bisa memisahkan hati yang sudah terlanjur terikat sejak 17 Agustus 1945. Jadi kalau ada yang masih bertanya, โ€œKenapa sih orang Jawa ikut repot kalau Aceh atau Sumatera kena musibah?โ€ Jawab saja dengan kalimat sederhana ini, Karena satu sakit, sakit semua. Itulah makna saudara sebangsa. Bukan karena suku, bukan karena agama, bukan karena pulau. Tapi karena kita terpaksa saling mencintai, dan anehnya, justru karena terpaksa itu, cinta kita tak pernah benar-benar pergi. Meski kadang berisik. Meski kadang saling sindir. Tapi saat bencana datang, kita tetap satu. Satu sakit, sakit semua. Satu bangkit, kita bangkit bersama.

Miss Tweet |

17,556 Aufrufe โ€ข vor 7 Monaten

Hari ini, tanggal 12, adalah hari yang akan selalu kami ingat karena di hari ini, Lee Sangwon bukan lagi seorang trainee. Trainee Lee Sangwon yang selama ini berjuang dalam diam, yang berlatih tanpa henti, yang menahan lelah, ragu, dan takut sendirian, kini telah sampai di garis akhir dari satu perjalanan panjangโ€”dan sekaligus di garis awal perjalanan yang jauh lebih besar. Semua waktu yang kamu habiskan untuk berlatih, semua pengorbanan yang mungkin tak pernah kamu ceritakan, akhirnya terbayar di hari ini. Hari ini kamu berdiri bukan lagi sebagai seseorang yang menunggu kesempatan, tapi sebagai seorang idol yang pantas berada di atas panggung. Idol Lee Sangwon yang siap menunjukkan dunia siapa dirimu, bukan hanya lewat suara dan gerakan, tapi lewat hati, ketulusan, dan kerja kerasmu. Statusmu berubah, tapi satu hal yang tidak akan pernah berubah adalah caramu berjuang dan mimpimu yang selalu kamu genggam erat. Kami ingin kamu tahu, perjalanan ke depan mungkin tidak selalu mudah. Akan ada hari-hari melelahkan, ada saat kamu merasa ragu, ada waktu di mana dunia terasa tidak ramah. Tapi di setiap langkahmu, selalu ada kami yang percaya padamu, yang bangga padamu, dan yang akan tetap berdiri di sisimu. Kamu tidak sendirian. Selamat tinggal trainee Lee Sangwon. Terima kasih karena tidak menyerah, karena bertahan sampai titik ini. Selamat datang idol Lee Sangwon. Tanggal 12 bukan sekadar tanggal debut, tapi bukti bahwa mimpi yang diperjuangkan dengan sepenuh hati pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri. Teruslah bersinar, melangkah dengan yakin, dan jadilah dirimu sendiri. Kami akan selalu mendukungmu, hari ini, esok, dan seterusnya โœจ #ALPHADRIVEONE #ALD1 #์•ŒํŒŒ๋“œ๋ผ์ด๋ธŒ์› #SANGWON #LEESANGWON #์ƒ์›

SANGWON INDONESIA

25,097 Aufrufe โ€ข vor 6 Monaten

Gambaran Amerika yang sebenarnya... Ketika jalan kaki di Kensington, Philadelphia โ€” daerah yang sekarang udah kayak zona zombie apocalypse. Kamera goyang, langkahnya pelan, suasananya sepi mencekam. Di pinggir jalan, trotoar, bahkan di tengah trotoar... manusia-manusia tergeletak kayak mayat hidup. Badan kaku, mata kosong, mulut menganga, tangan bengkok aneh. Mereka bukan lagi โ€œorang miskinโ€, mereka udah jadi korban โ€œzombie drugโ€ โ€” campuran fentanyl sama xylazine (tranq) yang bikin daging busuk dan otak mati pelan-pelan. Yang ngevideoin, namanya Jashon nggak cuma lewat sambil rekam doang. Dia mendekat satu-satu. Dekat satu orang yang lagi ambruk, dia jongkok, sentuh badannya pelan, cek napasnya... โ€œStill breathing?โ€ Lalu dia kasih botol air, pelan-pelan tolong orang itu minum. Pindah ke orang berikutnya, yang badannya udah miring gila di trotoar. Lagi. Cek napas. Kasih air. Kasih suara. Kasih perhatian yang mungkin udah bertahun-tahun nggak mereka dapat dari siapa pun. Tiap langkah dia, bikin kalian merinding. Karena ini bukan satu-dua orang. Ini puluhan. Ratusan. Di siang bolong. Di negara paling kaya di dunia. Sementara Amerika kirim miliaran dolar ke Israel buat โ€œbantuโ€ orang lain, di sini anak-anak mereka, saudara mereka, tetangga mereka lagi mati perlahan di pinggir jalan... dan masyarakat pada pura-pura nggak liat. Ini bukan โ€œhomeless problemโ€. Ini kegagalan total sistem. Ini akibat narkoba yang masuk deras, pemerintah yang kewalahan, dan masyarakat yang terlalu sibuk flexing di sosmed sampe lupa ada โ€œyang dilupakanโ€ di belakang gedung-gedung mewah. Jashon cuma jalan, cek napas, kasih air, dan kasih mereka โ€œsuaraโ€. Tapi di balik itu, dia lagi nunjukin ke kita semua: โ€œIni adalah Amerika yang sebenarnya.โ€

goods stuff

2,390,401 Aufrufe โ€ข vor 1 Monat

#MoreDayswithYou (MDWY) by SUJU Hadiah dari aku untuk SUJU & ELF dalam rangka 19th Anniversary SUPER JUNIOR. Warning: ini tulisan panjang bener. #์Šˆํผ์ฃผ๋‹ˆ์–ด #SUPERJUNIOR SUPER JUNIOR #SUPERJUNIOR_19th_Anniversary Pertama kali mendengar rekaman live MDWY di peluncuran album yang segede keramik itu, aku langsung jatuh hati meskipun saat itu aku belum tahu maknanya. Apalagi setelah diunggah behind the scene taping acara tersebut: SUJU nyanyiin MDWY live dini hari. Kala itu, 2021, aku sedih karena MDWY tampaknya hanya akan ditampilkan sekali saja. Siapa sangka MDWY jadi setlist di sesi akhir SS9. Maka ketika SS9 Jakarta, pas di MDWY, aku gak ambil fancam. Aku refleks nangis terharu dan mendengarkan-menyaksikan member SUJU menampilkan MDWY dengan khidmat. Lagu ini dibuka dengan kalimat yang menggambarkan kesetiaan dalam perjuangan yang tak selalu mudah. #RYEOWOOK & #SIWON mengatakan, Sebagaimana kita berjalan langkah demi langkah, yang tak selalu beralaskan karpet putih. Cukuplah engkau bersamaku, kekasihku, dalam sebuah perjalanan yang tak pernah aku sesali, dalam sebuah takdir yang selalu aku pilih kembali karena keberadaanmu. Sulitnya sebuah perjalanan hidup adalah kewajaran, namun dengan partner yang tepat (sahabat, kekasih), tak akan ada penyesalan yang mengikutinya. #YESUNG & #LEETEUK melanjutkannya dengan kisah tentang bagaimana berjalannya waktu mampu menumbuhkan rasa lekat & cinta, Sebagaimana musim-musim telah berlalu, tatapan kita semakin dalam tertanam & mewujud menjadi rasa. Semakin kuat rasa dekat kita satu sama lain, dan dengan pandangan yang lebih lekat ... #KYUHYUN kemudian menyahut dengan lantang tentang keberadaan dia yang kita cinta dalam perjalanan yang telah berlalu & yang akan datang, ... maka di dalamnya senantiasa aku dapati keberadaanmu dan hanya dirimu semata yang membersamaiku, dalam perjalanan yang lebih jauh, dibandingkan dengan apa yang telah kita lalui. Lantas mengalirlah reff yang selalu menghadirkan dilema di dalam hati kita, antara takut & harap tentang kedatangan dia yang tercinta, Sing it like you ... You ... Sebagaimana di masa yang telah berlalu, kudendangkan indahnya namamu, dan sekali lagi kuucapkan, "I DO", lantas apa jawabmu? Katakan, apa jawabmu? Ketahuilah bahwa hatiku masih teguh & kokoh mencintaimu, sama seperti selama ini, sejak dulu hingga kini, Aku akan menanti jawabmu di penghujung jalan & oleh karenanya, apakah kita akan melangkah lebih jauh? Sungguh rasa harap & takut adalah warna yang wajar dalam perjalanan kehidupan. Rasa harap akan menghadirkan optimisme; sementara rasa takut akan meruntuhkan kesombongan, menyadarkan kita tentang realitas kehidupan, & menumbuhkan ketaatan kepada-Nya lewat doa. #YESUNG & #DONGHAE menegaskan tentang dinamika takut & harap tersebut, Dengan gentar kulangkahkan tapak demi tapak, namun ... ... selalu tergambar keberadaanmu membersamaiku hingga akhir perjalanan. Sekalipun kewalahan menyertai di setiap langkah, lihatlah kembali kepada kita yang telah melangkah sejauh ini. #SHINDONG, #KYUHYUN, dan #EUNHYUK kemudian dengan bersahutan satu sama lain mengatakannya secara lebih kentara, Di antara tebal & mempesonanya kebahagiaan, ... di antara kebahagiaan ... selalu terdapat kesedihan yang mewarnainya, tetapi ... jika engkau mundur selangkah untuk meluaskan pandangan jiwamu, akan tampak sebuah lukisan kehidupan, #RYEOWOOK kemudian memulai kembali rangkaian reff yang sama, ... yang di dalamnya senantiasa aku dapati keberadaanmu dan hanya dirimu semata yang membersamaiku, dalam perjalanan yang lebih jauh, dibandingkan dengan apa yang telah kita lalui. ... Sing it like you ... You ... ... & oleh karenanya, apakah kita akan melangkah lebih jauh? Dan menjelang puncak lagu, #DONGHAE & #RYEOWOOK mengantarkannya dengan menyatakan, Bersamamu, tampak terbentang dalam cakupan pandanganku, keindahan sejati nan abadi yang menghiasi jalan yang akan kita lalui. Aku berharap, ketika kita tiba di akhir perjalanan, ada sosokmu yang membersamaiku, sebagaimana kini, dirimu dan diriku, bersisian satu sama lain. Kemudian, #LEETEUK & #RYEOWOOK memulai puncak lagu, Tak perlu lagi air mata ditumpahkan, karena bersamamu akan selalu penuh dengan tawa. Maka sebagaimana kini, teruslah abadi kehadiranmu di sisiku. Dan terdengarlah pekikan #KYUHYUN dan #YESUNG yang menyayat hati, mengantarkan harmoni indah suara member SUJU mengulang reff yang penuh harap itu, You, only you ... ... Sing it like you ... You ... ... Kunanti jawabanmu di penghujung jalan & oleh karenanya, apakah kita akan melangkah lebih jauh? Hingga #SIWON menutupnya dengan sebuah pertanyaan, Tell me, DO you? Menurutku, lagu ini merupakan ekspresi SUJU kepada ELF yang selama ini membersamai mereka. Ketidakpastian & perubahan besar pola kehidupan umat manusia akibat pandemi, turut menghadirkan kecemasan: seperti apa relasi fans dan idolanya di masa mendatang? Namun lagu ini bisa dimaknai lebih dalam tentang kehidupan. Sebagai ELF, yang pasti usianya relatif matang, lirik MDWY tentu relate dengan kehidupan kita: tentang persahabatan dan/atau pasangan hidup yang pernah, sedang, dan akan terus membersamai hidup kita. Ujian selalu ada, pun dengan asa dan harapan. Kesedihan pasti terjadi, pun dengan kebahagiaan yang pasti lebih mendominasi. Rasa takut & harap yang hadir harus kita arahkan pada orientasi yang tepat, untuk melentingkan perjalanan kita menuju cita-cita terbaik. SUJU tepat sekali menutup lagu ini dengan lirik berupa pertanyaan karena seiring berjalannya waktu, pengalaman hidup akan selalu menantang kepercayaan kita terhadap diri sendiri & orang-orang yang kita kasihi. Pertanyaan dari SUJU di akhir lagu adalah pertanyaan kita kepada selain kita sekaligus pertanyaan dari selain kita kepada kita, tentang komitmen cinta & persahabatan kita: TELL ME, DO YOU? Kalau komitmen dengan SUJU kan jelas, tinggal tabung dan belanjakan uang untuk member SUJU, sampai dompet & rekening kita menipis. WKWKWKWKWK. Lantas bagaimana dengan komitmen kita kepada pasangan hidup, keluarga, & sahabat kita? Sapa mereka, doakan mereka, ucapkan terima kasih kepada mereka dan katakan bahwa kita mencintai mereka. Bahwa kita ingin lebih banyak hari bersama mereka: more days with you, dear my SUJU, my beloved one, my family, dan my friends. Happy 19th Anniversary buat SUJU & still counting, insya-Allaah.

Ahmad Rahma Wardhana

18,333 Aufrufe โ€ข vor 1 Jahr

Ada yang spesial dari lagu tribun milik suporter PSS Sleman. Bukan cuma soal nada atau seberapa keras dinyanyikan, tapi tentang makna di tiap liriknya. โ€œSetiap jejak yang kutinggalkan, menapaki harum kemenanganโ€ Kalimat ini bukan cuma tentang kemenangan di papan skor. Tapi tentang perjalanan panjang yang dilalui bersama klub yang dicintai. Tentang ribuan langkah menuju stadion. Tentang perjalanan kandang ataupun tandang yang melelahkan. Tentang hujan di tribun, suara yang habis karena bernyanyi, dan rasa bangga yang selalu dibawa pulang, apa pun hasil akhirnya. Karena bagi suporter, setiap jejak yang ditinggalkan bersama PSS selalu punya cerita. โ€œSuper Elja, lihatlah, kami datang di sini. Menemani, berjanji, kamu takkan sendiriโ€ Mungkin ini bagian yang paling menggambarkan arti loyalitas sebenarnya. Di saat banyak orang hanya datang ketika tim sedang menang, tribun Sleman justru dipenuhi mereka yang memilih bertahan saat keadaan sulit. Tetap hadir meski kecewa. Tetap bernyanyi meski lelah. Tetap berdiri walau klub sedang tidak baik-baik saja. Sebab mendukung klub bukan soal siapa yang paling sering merayakan kemenangan. Tapi siapa yang tetap tinggal ketika semuanya terasa berat. โ€œBersamamu, semangatku tak akan berhentiโ€ Dan itulah yang membuat lagu ini terasa hidup ketika dinyanyikan ribuan orang bersama-sama. Karena itu bukan sekadar chant tribun. Itu janji. Janji kalau sebesar apa pun masalah yang datang, PSS tidak akan pernah berjalan sendiri selama masih ada suara-suara yang setia bernyanyi di tribun. โ€œDan pastikan kami sโ€™lalu datang melihatmu menangโ€ Sesederhana itu harapan seorang suporter. Datang ke stadion. Bernyanyi selama 90 menit. Mendukung tanpa henti. Lalu pulang dengan rasa bangga karena klub yang dicintainya berhasil menang. Karena sejatinya, sepak bola bukan cuma tentang pertandingan. Tapi tentang rasa memiliki yang membuat seseorang terus kembali, lagi dan lagi, untuk satu nama yang sama: Super Elja. #PSS #BCSxPSS

404Vids

32,569 Aufrufe โ€ข vor 1 Monat

SIMPLE and Cheers to Youth are a perfect portrayal of us who grew up in this cruel world. Dua lagu tentang proses berpikir Woozi sebagai anak muda yang terjebak di kotak kecilnya dan si dewasa dengan perayaan hidup di tempat yang sama. SIMPLE ditulis waktu Woozi masih 20 tahun. Tentang isi kepala anak muda yang terkungkung di proses pendewasaan, anak muda yang lihat dunia kayak labirin raksasa tanpa jalan keluar, yang di dalamnya cuma ada hitam dan putih aja, yang seluruh perniknya terlihat monoton dan membosankan. Pada akhirnya, ini adalah kita di awal perjalanan menuju dewasa, manusia yang bahunya terasa berat banget dengan mimpi sendiri dan ekspektasi orang lain, manusia yang isi kepalanya selalu ramai dan berisik. Kita nggak butuh apa pun, not even happiness. Yang kita perlu cuma sesederhana waktu istirahat yang cukup untuk rebah dan meluruskan kaki yang lelah, sesederhana malam yang tenang, jauh dari bisingnya keributan dunia. Sesederhana ingin hidup berjalan dengan semestinya. Dan Cheers to Youth tentang mereka yang perjalanannya sudah dekat dengan garis akhir pendewasaan. Ini tentang si dewasa yang tetap lelah, resah, dan gelisah akan hidup. Tentang kita yang bahunya berat dengan tuntutan, dengan mimpi yang gagal tercapai, dengan ekspektasi yang dirasa makin sulit tergapai, dengan sapa dan pamit para masalah yang berbeda-beda. Tentang kita yang waktu nyalanya lebih lama dari waktu tidurnya, tentang kita yang selalu penasaran dengan apa itu bahagia. Tapi pada akhirnya hidup akan terus begini, kayak pinata yang di dalamnya penuh dengan bunga juga luka. Sekeras apa pun menghindar, kejutan itu akan terus meletup. Dan lagu ini kayak perayaan untuk diri sendiri bahwa biarpun kita jatuh, terluka, lelah, bosan, tertawa, berbuat salah, menjadi keliru, dan terkadang lupa akan sesuatu.. Toh, ini pertama kalinya kita hidup. Ini pertama kalinya kita menyecap manis dan getirnya hidup. Ini pertama kalinya kita berkenalan dengan dunia. Ini pertama kalinya kita belajar bertahan dan berdamai. Kita nggak bersalah hanya karena sering merasa lelah dan kecewa. Kehidupan pertama kita dengan segala bahagia dan kedukaannya, layak untuk dirayakan. Tiap dengerin 'mereka', ada semacam kelegaan bahwa.. โ€Gue nggak melewati proses ini sendirian. Gue bertumbuh bareng yang lain. Ada banyak makhluk berparu-paru lain yang menghadapi hal serupa kayak gue. Dia mengalami ini. CARATs juga sama.โ€

nasi.

14,250 Aufrufe โ€ข vor 4 Monaten

Ada alasan kenapa banyak orang tidak pernah benar-benar bisa meninggalkan tribun. Karena sebagian hidup mereka tertinggal di sana. โ€œSleman, kota kecil kebanggaanโ€ Bagi banyak orang, itu bukan cuma lirik chant, tapi tentang rumah yang selalu berhasil membuat rindu. Tentang kota kecil yang membesarkan begitu banyak kenangan. Tentang perjalanan menuju stadion yang rasanya tidak pernah membosankan. Tentang ribuan suara yang selalu terdengar lebih tulus ketika dinyanyikan bersama-sama. โ€œDi sudut kaki Merapi, kutanam harapanโ€ Dan benar, di bawah kaki Merapi ini banyak harapan tumbuh bersama PSS. Harapan dari mereka yang sejak kecil hidup bersama suara tribun. Harapan dari orang-orang yang tetap datang walau timnya jatuh berkali-kali. Karena bagi mereka, mendukung PSS bukan soal hasil akhir. Tapi soal menjaga rasa memiliki yang sudah terlalu dalam untuk ditinggalkan. โ€œKutuliskan tawa, tangis, dan kenanganโ€ Sebab di tribun ini, banyak hidup pernah singgah. Ada tawa setelah kemenangan yang tak terlupakan. Ada tangis saat keadaan tidak berjalan sesuai harapan. Ada kenangan tentang orang-orang yang dulu berdiri dan bernyanyi bersama, lalu hari ini hanya bisa dikenang. Dan mungkin itu alasan kenapa chant ini selalu terasa begitu emosional, karena setiap baitnya seperti menyimpan potongan hidup banyak orang. โ€œDi gang dan di ujung jalan, kita rayakanโ€ Karena PSS tidak hidup cuma di stadion. Ia hidup di jalanan kota ini. Di gang-gang kecil yang penuh cerita. Di obrolan larut malam selepas pertandingan. Di setiap orang yang diam-diam menjadikan Sleman sebagai bagian dari hidupnya. Dan mungkin itu alasan kenapa banyak orang tidak pernah benar-benar bisa meninggalkan Sleman, karena sebagian hatinya sudah tinggal di tribun itu. #PSS #BCSxPSS

404Vids

10,146 Aufrufe โ€ข vor 1 Monat

โ€œPOLA YANG TERBACAโ€ Persuasi Ancaman - Risakan (Character Assassination) Ada satu pola yang selalu berulang dalam sejarah pertarungan kebenaran vs kebohongan penguasa. Bukan hanya di satu negara. Bukan hanya di satu zaman. Pola itu sederhana: Ketika pengungkapan kebenaran menyentuh titik kritis, yang diserang bukan substansinya, tapi ORANG yang berani mengajukannya. Tahapannya hampir selalu sama. Pertama, dipersuasi. Dibujuk. Kedua, diancam, dengan berbagai ancaman langsung maupun tidak, fisik, non fisik, hingga metafisik Ketiga, masuk ke tahap berikutnya: Risakan atau penghancuran kredibilitas Melalui kelemahan atau kesalahan di masa lalu (siapa sih orang yang tidak punya kesalahan masa lalu?) Dan jika tidak ada, maka dibentuklah fitnah-fitnah dan pembunuhan karakter (character Assassination). Karena jika publik sudah tidak percaya pada orangnya, maka mereka tidak perlu lagi mengamanka kebohongannya. Ini bukan teori. Ini pola. Hari ini, melalui apa yang terjadi pada Rismon, kemudian apa yang terjadi pada dr Tifa dan Roy Suryo, kita melihat pola itu lagi. Bukan tentang siapa yang benar. Bukan tentang data apa yang valid. Tapi tentang bagaimana perhatian publik digeser: Dari hukumโ†’ ke pribadi Dari substansi โ†’ ke sensasi Dari kebenaran โ†’ ke persepsi Isu-isu personal mulai dimunculkan. Label dilemparkan. Cerita dibangun. Dengan berbagai macam cerita dan fitnah yang dibangun dan terus-meneruskan dijejalkan kepada mindset publik. Bukan untuk menjelaskan. Tapi untuk mengaburkan. Saya ingin kita semua berhenti sejenak, dan bertanya dengan jujur: Kalau semua sudah jelas dan kuat, kenapa tidak dijawab saja jika memang masih ada pembelaan? Tidak cukup 22 Ahli, 127 Saksi, 709 dokumen pendukung untuk pembelaan atas 1 lembar ijazah? Masih perlu dibangun framing dan fitnahan? Kenapa harus berputar ke arah lain? Di titik ini, ini bukan lagi soal satu orang. Bukan soal nama tertentu. Ini soal sesuatu yang lebih besar: Apakah kita masih hidup dalam ruang di mana kebenaran boleh diajukan, dan dijawab dengan data? Atau kita sudah masuk ke fase di mana kebenaran dijawab dengan serangan? Saya tidak meminta Anda percaya pada saya. Walaupun Ilmuwan kelas dunia sekaliber Dr Ing Ridho Rahmadi, sudah memberikan keahlian dan pernyataan sevalid dan sekredibel ini. Saya hanya mengajak Anda menggunakan akal sehat. Lihat polanya. Nilai sendiri. Karena kebenaran tidak pernah takut pada pertanyaan. Yang takut biasanya adalah sesuatu yang berusaha disembunyikan. Dan jika hari ini yang diserang adalah orangnya, bukan pada kebenaran yang diungkapkan, Maka justru di situlah kita harus semakin fokus pada apa yang disampaikan. Saya, dr Tifa akan tetap di sana. Di titik kebenaran itu diletakkan. Tenang. konsisten. Dan tidak bergeser. Karena pada akhirnya, yang akan bertahan bukan suara paling keras, dan tindakan paling kejam. Yang akan bertahan adalah kebenaran yang diridhai Tuhan. Hasbunallah wanikmal wakil, nakmal maula wanikman Nashir La haula wala quwwata ila billahil aliyyil adziim.

Dokter Tifa

19,021 Aufrufe โ€ข vor 3 Monaten

Media sosial kembali dihebohkan dengan sebuah cerita yang bukan hanya memancing emosi, tapi juga mengguncang rasa kemanusiaan. Seorang TikToker membagikan dugaan tindakan tak bermoral yang melibatkan seorang bayi berusia 11 bulan usia yang bahkan belum memahami dunia, namun diduga sudah dijadikan objek seksual fetish dalam perilaku yang menyimpang Terduga pelaku adalah seorang asisten rumah tangga berusia 44 tahun, yang ironisnya sudah memiliki anak dewasa. Namun, alih-alih menunjukkan kedewasaan dan tanggung jawab, justru diduga melakukan tindakan yang sangat tidak pantas saat diberi kepercayaan mengasuh anak majikannya Dalam cerita yang beredar, ia melakukan panggilan video dengan seorang pria tak dikenal. Pria tersebut menunjukkan perilaku tidak senonoh, dan lebih parahnya lagi, diduga meminta agar bayi yang sedang diasuh itu diperlihatkan dalam situasi tersebut Ini bukan sekadar pelanggaran norma... ini adalah bentuk kegagalan moral yang serius!! Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang anak yang bahkan belum bisa berbicara justru terseret dalam situasi seperti ini? Kejadian ini membuka mata kita bahwa ancaman terhadap anak tidak selalu datang dari orang asing di luar sana, tapi bisa hadir dari orang yang justru diberi kepercayaan penuh di dalam rumah Jika benar terjadi, maka ini bukan hanya soal etika, tapi sudah menyentuh ranah hukum yang serius. Aparat penegak hukum harus segera turun tangan, mengusut tuntas, dan memberikan sanksi tegas tanpa kompromi Ini bukan sekadar โ€œkonten viralโ€, ini adalah alarm keras bahwa perlindungan terhadap anak masih memiliki celah yang berbahaya Karena jika kita masih diam, maka kita ikut memberi ruang bagi hal-hal seperti ini untuk terus terjadi!
3:30

Sensitive content

Media sosial kembali dihebohkan dengan sebuah cerita yang bukan hanya memancing emosi, tapi juga mengguncang rasa kemanusiaan. Seorang TikToker membagikan dugaan tindakan tak bermoral yang melibatkan seorang bayi berusia 11 bulan usia yang bahkan belum memahami dunia, namun diduga sudah dijadikan objek seksual fetish dalam perilaku yang menyimpang Terduga pelaku adalah seorang asisten rumah tangga berusia 44 tahun, yang ironisnya sudah memiliki anak dewasa. Namun, alih-alih menunjukkan kedewasaan dan tanggung jawab, justru diduga melakukan tindakan yang sangat tidak pantas saat diberi kepercayaan mengasuh anak majikannya Dalam cerita yang beredar, ia melakukan panggilan video dengan seorang pria tak dikenal. Pria tersebut menunjukkan perilaku tidak senonoh, dan lebih parahnya lagi, diduga meminta agar bayi yang sedang diasuh itu diperlihatkan dalam situasi tersebut Ini bukan sekadar pelanggaran norma... ini adalah bentuk kegagalan moral yang serius!! Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang anak yang bahkan belum bisa berbicara justru terseret dalam situasi seperti ini? Kejadian ini membuka mata kita bahwa ancaman terhadap anak tidak selalu datang dari orang asing di luar sana, tapi bisa hadir dari orang yang justru diberi kepercayaan penuh di dalam rumah Jika benar terjadi, maka ini bukan hanya soal etika, tapi sudah menyentuh ranah hukum yang serius. Aparat penegak hukum harus segera turun tangan, mengusut tuntas, dan memberikan sanksi tegas tanpa kompromi Ini bukan sekadar โ€œkonten viralโ€, ini adalah alarm keras bahwa perlindungan terhadap anak masih memiliki celah yang berbahaya Karena jika kita masih diam, maka kita ikut memberi ruang bagi hal-hal seperti ini untuk terus terjadi!

Never

91,246 Aufrufe โ€ข vor 4 Monaten

Gaes, saya baru saja salat Id di Central Mosque Bari, Italia Selatan. Rasanya unik banget. Di tengah kota pelabuhan tua di pesisir Adriatik ini, saya duduk bersimpuh bersama jamaah dari begitu banyak bangsa. Italia, Maroko, Tunisia, Albania, Pakistan, Bangladesh, Afrika, dan saya dari Indonesia. Sendirian. Bahasa mereka berbeda, warna kulit berbeda, tradisi berbeda, tapi saat takbir berkumandang, semua larut dalam satu kalimat yang sama. Allahu Akbar. Yang menarik, Bari ternyata punya sejarah Islam yang panjang, meski jarang diketahui orang. Pada abad ke-9, kota ini pernah menjadi pusat Emirat Bari (847โ€“871 M), sebuah pemerintahan Muslim yang berdiri di Italia Selatan. Saat itu Bari bahkan menjadi salah satu simpul penting perdagangan dan peradaban Islam di kawasan Mediterania. Jadi, jauh sebelum hari ini ada komunitas Muslim modern di sini, jejak Islam sebenarnya sudah pernah tertanam di kota ini lebih dari seribu tahun lalu. Hari ini, sejarah itu seperti terasa hidup kembali. Di Central Mosque Bari, saya melihat bagaimana Islam hadir sebagai jembatan lintas bangsa. Anak-anak kecil berlarian dengan baju terbaiknya, para orang tua saling bersalaman, jamaah saling mengucap Eid Mubarak dengan logat yang berbeda-beda. Ada sesuatu yang selalu menggetarkan ketika merayakan Idulfitri jauh dari tanah air. Kita jd sadar bahwa umat ini benar-benar satu tubuh, melampaui batas negara. Dari Bari, Italia Selatan, tampak bahwa Islam bukan sekadar identitas geografis. Ia adalah rumah yang bisa ditemukan di mana saja. Eid Mubarak dari Bari. ๐ŸŒ™โœจ

Ismail Fahmi

28,229 Aufrufe โ€ข vor 1 Monat

Uang: Oleh-Oleh Lebaran yang Paling Dirindukan Di balik tradisi silaturahmi dan kebersamaan, ada satu hal sederhana yang selalu dinantikan setiap anak saat Lebaran, uang saku dari para orang tua dan kerabat. Setiap kali Lebaran tiba, suasana rumah selalu berubah menjadi lebih hidup. Sanak saudara berdatangan, meja makan penuh hidangan, dan suara tawa memenuhi setiap sudut rumah. Namun di balik semua tradisi itu, ada satu hal sederhana yang selalu menjadi kenangan paling melekat bagi banyak orang sejak kecil: uang Lebaran. Bagi anak-anak, uang Lebaran bukan sekadar lembaran rupiah yang diberikan oleh orang tua, paman, bibi, atau kakek nenek. Ia adalah simbol kebahagiaan, kejutan, dan rasa diperhatikan. Saat tangan kecil menerima amplop atau uang yang dilipat rapi, ada perasaan gembira yang sulit dijelaskan,campuran antara rasa bangga, senang, dan penuh harapan. Tradisi memberi uang saat Lebaran sebenarnya tidak tertulis dalam aturan agama, tetapi telah menjadi budaya yang hidup di masyarakat. Ia lahir dari semangat berbagi dan memuliakan kebahagiaan di hari kemenangan setelah sebulan menjalankan ibadah puasa. Memberi kepada anak-anak menjadi cara sederhana untuk menanamkan rasa kasih sayang sekaligus mempererat hubungan keluarga. Menariknya, kenangan tentang uang Lebaran sering kali bertahan sangat lama. Banyak orang dewasa masih mengingat dengan jelas bagaimana dulu mereka menghitung uang hasil "berkeliling rumah saudara", menyimpannya di dompet kecil, atau bahkan merencanakan apa yang akan dibeli setelah Lebaran. Ada yang menabungnya, ada yang langsung membelanjakannya untuk mainan, buku, atau jajanan favorit. Seiring waktu, peran pun berubah. Anak-anak yang dulu menerima uang Lebaran, kini menjadi orang dewasa yang memberi. Ada kepuasan tersendiri saat melihat mata anak-anak berbinar ketika menerima amplop kecil yang kita berikan. Momen itu seperti mengulang kembali kenangan masa kecil,hanya saja dari sudut pandang yang berbeda. Pada akhirnya, uang Lebaran bukan soal besar atau kecilnya jumlah yang diberikan. Nilai terbesarnya justru terletak pada makna di baliknya: perhatian, kebahagiaan, dan tradisi berbagi yang membuat hari raya terasa lebih hangat. Karena itulah, di antara berbagai oleh-oleh Lebaran, mulai dari kue, pakaian baru, hingga hidangan khas, uang tetap menjadi oleh-oleh yang paling dirindukan, terutama oleh anak-anak. Bukan sekadar karena nilainya, tetapi karena kenangan manis yang selalu menyertainya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Miss Tweet |

24,045 Aufrufe โ€ข vor 4 Monaten

INDONESIA selalu yang Terbaik ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ Mengeluh, resah memaki hingga mengancam akan meninggalkan negeri ini beberapa kali kita mendengar ungkapan orang yang seolah olah kecewa atas kondisi bangsa sejak beberapa tahun terakhir ini.. ? Gimana yah, mungkin wajar karena mereka belum pernah merasakan bertaruh hidup di negeri orang. Video diatas adalah contoh kecil pengakuan diaspora WNI kita yang sudah puluhan tahun tinggal di negeri orang...kerja tanpa henti harus disiplin tanpa kenal waktu istirahat. Bagaimana rasanya kalo ada WNI yang baru saja punya niat ? Tentu halangannya jauh lebih besar. Menghitung hasil pendapatan perhari dengan kurs rupiah tentu seolah2 nampak menggiurkan woooww sehari dapat USD200 (kurs skr Rp. 3.3 juta ) loohh hanya dengan menjadi driver uber aja. Beberapa hari lalu kebetulan saya mengantarkan anak ke US dan kangen masakan Indonesia lalu memesan Pecel Lele di toko makanan Indonesia kecil pas saya lihat harganya hampir USD 30 hanya utk sepiring pecel lele + nasi ๐Ÿ˜.amazing Biaya hidup yang tinggi di luar sana tentu membuat penghasilan USD 200 menjadi sangat kecil belum lagi biaya2 lainnya yg sdh mahal. Banyak gelandangan yang saya jumpai di trotoar2 toko dari perorangan hingga sekeluarga tentu mereka2 ini adalah orang yang memiliki mimpi yang sama sejak mereka menginjakkan kaki di negeri orang. Bukan berarti salah kita hendak mengadu nasib ke negeri orang tetapi pikirkan kembali dan dengarkan mereka2 yang sudah berpengalaman tinggal di negeri orang (termasuk saya yang pernah mencoba adu nasib) ada yang berhasil tapi prosentasenya sangat kecil harus penuh persiapan dan modal pendidikan yang besar, pengalaman dan yang paling penting "keberuntungan". Percayalah Indonesia selalu menjadi negara terbaik dalam mencari kesempatan hidup tentu dengan cara dan tehnik masing2. JANGAN MENYERAH rezeki di negeri ini sudah Tuhan siapkan buat kita sebagai WNI.. kita ingin saat tua hidup lebih tenang. Dirgahayu ke 80 Indonesia we love you so much ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ

RUDI VALINKA

13,666 Aufrufe โ€ข vor 11 Monaten